Archive for November 2008
PEMILUKADA
TANPA KONTRAK POLITIK YANG LUHUR
PENGGABUNGAN KEKUATAN DENGAN PASANGAN TERSISIH
PASTI SIA-SIA PADA PILKADA PUTARAN KEDUA
Tanpa kontrak politik bersifat terbuka tidak maksimal menarik dukungan dari pasangan tersisih untuk menghadapi pilkada putaran kedua di Dairi, Langkat dan Palas. Pasalnya, masyarakat hanya akan memandang penggabungan kekuatan itu tak lebih dari kongkow-kongkow money politic. Pasangan tersisih paling banter membawa diri dan segelintir anggota keluarganya, tak mampu mengarahkan jaringan yang mendukungnya pada putaran pertama. Oleh karena itu mengikat pasangan tersisih harus dibarengi kontrak politik yang mengakomodasi kepentingan terluas dari masyarakat.
Saatnya Parpol Berhijrah
“Parpol sebaiknya hijrah atau pindah dari tradisi pengutamaan kampanye bombastis yang sarat potensi pembodohan ke model kontrak politik yang memposisikan rakyat sebagai stakeholder yang berdaulat”. Demikian Shohibul Anshor Siregar pada diskusi bertajuk “Kendala Parpol Dalam Pemilu Bermartabat”, bertempat di Sekretariat ‘nBASIS Jalan Karyawisata no 46 Pangkalan Masyhur Medan , Rabu.
PEMILU 2009 DAN POTENSI KONFLIK DI DAERAH
Karena Sumatera Utara baru saja melaksanakan Pemilihan Gubernur, ditambah lagi dengan Pilkada di 7 Kabupaten yang berlangsung Oktober lalu, yang kesemuanya itu penuh dengan catatan ketegangan politik yang bersumber dari apa yang dapat disebut “kriminalisasi demokrasi”, maka tingkat ketahanan masyarakat Sumatera Utara dalam menghadapi segala kemungkinan buruk dalam Pemilu 2009 diperkirakan cukup kuat untuk tidak terseret ke arena konflik yang serius.
Mekarkan Sumut 10 Provinsi
PEMERINTAH harus mengambil alih kewenangan bersifat proaktif dalam hal pemekaran wilayah dengan paradigma perkuatan NKRI untuk peningkatan nyata kemampuan Negara dalam mewujudkan kesejahteraan seluruh warga. Hal itu akan memerlukan tidak saja perubahan undang-undang, melainkan juga filosofi kepemerintahan. Selama ini pemekaran itu lebih sebagai ajang perebutan kekuasaan di antara elit lokal yang diikuti dengan situasi rawan konflik horizontal. Bahkan lebih buruk lagi, para inisiator pemekaran sering diposisikan sebagai tokoh separatisme.
GALUH Penentu Kemenangan Pilkada Putaran Kedua Langkat
Jika bergabung ke kubu Ngogesa-Budiono (Karo-Jawa), pasangan yang didukung tidak akan mudah diblack-campaign dengan (misalnya) isyu “anti Melayu”, betapapun sesungguhnya isyu itu bisa amat efektif untuk pemenangan kubu Asrin -Legimun.
Pengaruh etnisitas amat lumrah pada setiap pemilihan langsung, dan di Langkat pasti akan mengalami eskalasi yang cepat memasuki putaran kedua. Jika Ngogesa-Budiono berhasil menarik dukungan GALUH, secara teoritis kalangan Angkola, Batak dan Mandailing juga dengan mudah dapat digarap. Tentu tidak harus dibayangkan 100 %, sebagaimana halnya kalangan etnis Karo diyakini pasti akan ada yang mendukung Asrin-Legimun meskipun hanya Ngogesa Sitepu lah satu-satunya orang Karo yang ada dalam pentas terakhir. Meskipun menurut data resmi menempati urutan terakhir dalam perolehan suara, namun pasangan GALUH yang merupakan kombinasi Melayu (Fanrizal Darus) dan Angkola/ Batak/ Mandailing (Ustaz Parluhutan Siregar) amat potensil menjadi penentu kemenangan bagi pasangan yang maju dalam Pilkada putaran kedua Langkat yang dijadwalkan 13 Desember mendatang.