Save The Nation (7), Menggagas Indonesia Bermartabat: HILANGNYA ASA DI TENGAH RENDAHNYA PENDAPATAN PERKAPITA
Pada pertengahan tahun 1960-an GNP perkapita Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Taiwan nyaris sama, yakni kurang dari 100 dollara US. Cina bahkan jauh lebih rendah, yakni sekitar 50 dollar US perkapita. Namun pada tahun 2005 GNP perkapita Indonesia hanya sekitar 1.260 dollar US, Malaysia 4 kali lebih besar, Korea Selatan 13 kali lebih besar, Thailand 2 kali lebih besar, Taiwan 12 kali lebih besar dan bahkan Cina telah semakin jauh meninggalkan Indonesia. Kini gambaran GNP perkapita Indonesia semakin jauh menurun, yakni hanya 810 dollar US perkapita.
Posisi tingkat pertumbuhan PDB Indonesia di Asean menempati urutan keenam setaleh Kamboja (10,8 %), Vietnam (8,2 %), Singapura (7.9 %) Myanmar (7,0%), dan Malaysia (5,9 %), sedangkan Indonesia pada angka 5,6 %. Dalam kaitan dengan ekonomi, tentu peran perbankan selalu sangat penting. Namun berdasarkan catatan kinerjanya, selama ini arsitektur Perbankan Indonesia (API) selalu bersifat rancu. Pemerintah memberikan arahan yang berubah-ubah, perbankan semakin tidak ramah terhadap rakyat kecil. Sekitar 65 % kepemilikan perbankan swasta nasional ternyata berada di tangan pihak asing. Dana mengalir sedemikian rupa dari daerah di tingkat terendah menuju pusat bisnis. Harap dicatat bahwa fungsi intermediasi perbankan mengalami gangguan fungsi yang serius akibat konsentrasi kredit pada proyek-proyek besar dan tidak menyentuh kebutuhan ekonomi kerakyatan. Dengan demikian struktur usaha berdasarkan kucuran kredit lebih memihak kepada usaha korporasi ketimbang usaha mikro.
Utang luar negeri Indonesia sudah sangat besar hingga nilainya nyaris dengan PDB (2001-2005). Kewajiban pembayaran utang itu dari tahun ke tahun dengan sendirinya menguras devisa. Bunga pinjaman telah terakumulasi hingga menyita 1/3 pembayaran utang sehingga menjadi beban tersendiri pula, dan dalam 20 tahun terakhir cicilan pokok dan bunga utang telah menyedot hampir separo dari pengeluaran rutin dalam anggaran pembangunan.
Pendapatan perkapita di tengah besarnya Hutang Luar negeri, adalah salah satu masalah besar dalam memperjuangkan peningkatan kesejahteraan rakyat. Di tengah kondisi itu gagasan membangun Indonesia bermartabat menjadi sesuatu yang mustahil, apalagi iklim penuh ketergantungan kepada negera-negara besar semakin menjadi-jadi.
Shohibul Anshor Siregar, Koordinator Umum ’nBASIS.

Jadi apa yang bisa kita harapkan dari pemilu 2009?
‘nBASIS: Jika ikut Sri Bintang Pamungkas juga ada manfaatnya karena semangatnya yang mengkoreksi trend buruk demokrasi kita. Tetapi orang-orang ‘nBASIS tidak Golput, akan tetap berusaha mencerahkan diri, keluarga dan mencerahkan orang-orang yang masih bisa dijangkau.
Pemilu ini bukan untuk mempergilirkan kekuasaan di antara orang-orang yang ambisius, tetapi memilih orang yang paling diyakini mampu membawa perubahan lebih baik. Oleh karena itu tidak tergoda money politics dan aktif melawan para pelaku kriminalisasi demokrasi adalah sebuah keharusan. Bagaimana dengan Anda?
desy
April 23, 2009 at 2:43 pm
Anonymous
February 4, 2010 at 7:06 pm