Archive for June 2009
KISAH PONARI SANG PENYELAMAT INDONESIA
Catatan Kecil Dari Debat Cawapres Putaran II
Do you still remember of Ponari story? Ponari is one of contemporary unlucky and hopless of Indonesian boys. Although finally may be he got the bright future by some kind of magical factor or, let say, a syncretism way happened to him, it doesnt mean that something done of making sense in fact. Normally, people like him absolutely cannot stand on his own feet and absolutely its will be an only small sign of the total history of this country and will be forgetten soon. So can anybody calculate what kind of Indonesia future will be better, more than everybody can say easily? I am afraid Indonesia will goes no where and everybody only can hope God blessed.
PONARI namaku: Mohammad Ponari. Umurku baru sembilan tahun. Rumahku di Indonesia, di Jawa. Aku orang Jawa, Indonesia. Keluarga kami keluarga miskin. Kehidupan begitu susah buat kami, hingga pada suatu hari aku nyaris tersambar petir yang meninggalkan sebongkah kecil batu ajaib. Aku selamat dari bahaya itu sekaligus beruntung karena ternyata batu itu membuatku jadi sakti. Itulah titik awal perubahan hidup keluarga kami.
Debat Cawapres Putaran II: JAGALAH AGAR TIDAK PECAH KONGSI
Inilah hasil dari sebuah interaksi sosial politik yang melukiskan pencarian identitas sebuah bangsa. Di satu pihak masyarakat menuntut kandidat Presiden dan Wakil “berkelahi” untuk ditonton. Di pihak lain selera yang semakin rendah itu sesungguhnya telah menjauhkah rakyat dari visi masa depan. Kondisi ini dikhawatirkan dapat menyebabkan terbangunnya model seleksi kepemimpinan nasional yang akan selalu memberi jalan mudah bagi kemenangan figur yang paling lihai dalam memainkan peran “lain yang difikirkan, lain yang diucapkan dan lain pula yang dikerjakan”.
HANYA Mohammad Ali lah seorang petarung di panggung penjagalan yang mampu mengakomodasi dua hal yang bertentangan sekaligus pada saat bersamaan —menghabisi lawan tanding di atas ring dan memuaskan penonton yang haus hiburan. Meski sebagai legenda jagal di atas ring sepanjang masa, Mohammad Ali adalah news maker yang pintar, cermat, dan efektif serta intimidator ulung yang menjengkali semua lawan-lawannya dengan kata-kata melemahkan hingga merasa tak berdaya di hadapannya. Ia beda dengan dua petarung yang pernah mengalahkannya Joe Freizer, George Foreman. Ia juga bukan Tyson yang kekuatan tinjunya luar biasa, di atas rata-rata.
BPKP PERIKSA KPK: KENAPA RUPANYA?
BADAN yang dijuluki superbody KPK kini menjadi sorotan kembali. Bukan karena adanya kejutan baru dari institusi yang mengartikulasi pandangan permusuhan terhadap korupsi sebagai extra ordinary crime itu. Sorotan muncul dari BPKP yang disebut-sebut mendapat perintah dari SBY untuk mengaudit KPK.
Alkisah tererberitakanlah bahwa Presiden memerintahkan Kepala BPKP mengaudit KPK. Tetapi buru-buru diralat, bukan begitu. Bukan begitu. Sebelumnya juga terberitakan kecemasan Presiden SBY terhadap KPK yang tidak dapat dikendalikan (lagi). Ini diliput dari kunjungan SBY ke Harian Kompas belum lama ini. Tetapi, sebagaimana telah luas diketahui, Mensesneg Hatta Rajasa memberi penjelasan. Bukan begitu. Bukan begitu.
‘nBASIS berpendapat se-superbody apa pun KPK itu kiranya ia tak pernah dibayangkan kebal hukum. Apa, atau bagaimana bentuk pertanggungjawabannya kepada publik perlulah diperjelas. Perlu transparansi, akuntabilitas, dan memang ia harus menjadi komponen kuat dalam proses good governance. Kecuali jika dari awal ia memang dimaksudkan hanya untuk kepentingan artifisial politik belaka.
PREDIKSI PILPRES SATU PUTARAN
BANYAK cara untuk memprediksi pemenang dalam setiap pemilihan langsung. Semakin sempurna (cakupan) variable perhitungan, maka akan semakin tinggi derajat keakuratannya. Di luar apa yang diketahui oleh publik saat ini, jajak pendapat atau survey hanyalah salah satu di antara sejumlah faktor kompleks dalam membuat prediksi hasil pilpres 2009. Dominasi opini pembuat survey diakui begitu kuat, sehingga ada anggapan otomatis pemenang adalah pasangan nomor 2 (SBY-BUDIONO). Opini pembuat survey itu sendiri terasa seolah sudah lebih kuat dari kewibawaan ilmiah surveynya sendiri.
Dari berbagai faktor tinjauan pasangan SBY-BUDIONO memang harus diakui memiliki keunggulan dibanding 2 pasangan lainnya. Pertanyaannya, terpulang kepada kemampuan pasangan ini meraih 50% lebih suara sesuai dengan ketentuan perundang-undangan?
Ucup Kelik: KHAWATIR PUTARAN KEDUA (KPK)
Tanpa bantuan ramalan paranormal atau dukun, dan tanpa survei berbiaya mahal, kelompok inilah yang sedari awal konsisten melukiskan Indonesia kontemporer sebagai interaksi di antara Megawati, SBY dan JK. Acara-acara Parodi politik komikal yang mendidik dan koreksional. Kali ini tampaknya mereka sedang menolak propaganda pilpres satu putaran. Akankah hasilnya seakurat yang sudah-sudah?
Rhytim khas menjadi daya tarik khusus ketika mengiringi lagu Buka Topengmu, dengan vokal yang cukup serasi. “Buka dulu topengmu. Agar kulihat wajahmu. Tapi buka dulu topengmu..” Dari lagu ini sudah begitu jelas parodi politik yang “diotaki” Effendi Gozali ini ingin menenelanjangi kedok politik.
DALAM acara tadi malam bersama teman-temannya termasuk Effendi Gazali, Ucup Kelik
mendiskusikan berbagai topik di layar tv dengan gaya khas: kelakar tetapi menggigit. Katanya, KPK itu (sekarang) akronim dari Khawatir Putaran Kedua. Ini tentu terkait dengan gerakan kubu SBY-Budiono yang dihandle oleh Denny JA dan jaringannya. Dengan dalih penghematan uang rakyat, mereka membiayai gerakan propaganda pilpres satu putaran, tentu dengan jumlah yang sangat besar pula. Pilpres Putaran Kedua memang telah dalam hitungan yang amat mengkhawatirkan bagi SBY-Budiono, dan itu seolah sudah di depan mata.
Debat Capres Putaran II: AVILIANI, BICARALAH
DEBAT Capres
Putaran II telah terlaksana. Meski sudah terjadi perubahan, tetap saja masyarakat merasa belum puas. Orang tidak mau debat ini hanya sekadar pemenuhan jadwal; jika dapat menjadi uji visi, misi serta kedalaman pengetahuan dan penguasaan Capres terhadap Indonesia, setidaknya melalui pembahasan topik yang dijadikan tajuk debat. Jika tidak dalam posisi sebagai moderator, Aviliasi yang lembut dan penuh persuasi, pasti dapat amat menohok kepada ketiga Capres jika akan membahas kebijakan pengentasan kemiskinan dan pengangguran. Aturan main membatasi, dan Aviliani tentu tidak dalam wewenang merubah itu.
Arbi Sanit pernah mengatakan: “target pengurangan jumlah orang miskin dan pengangguran sulit dicapai. Alasannya, prosentase APBN untuk program itu
tidak besar. Sekitar 70 % APBN masih untuk belanja rutin seperti gaji pegawai. Bantuan sejumlah Rp 150 ribu per bulan tidak sebanding dengan kenaikan harga kebutuhan pokok saat ini. Ada niat untuk membantu orang miskin tapi tidak terhindar dari eksploitasi politik, pemanfaatan pengaruh, katanya. Pemerintah hingga kini masih melakukan program politis dan tidak menyelesaikan persoalan kemiskinan dan pengangguran secara nyata. Program-program dan langkah-langkah yang dilakukan sekedar untuk pencitraan positif pemerintah. Coba cek berapa yang dapat BLT dan apa mereka juga datang ke (rumah Presiden Yudhoyono di) Cikeas, ke Gubernur DKI saat Lebaran? ujarnya.
Debat Capres Putaran II: JIKA DEBAT SATU-SATUNYA PENENTU TERHADAP KEPUTUSAN MEMILIH


MEGA hanya dapat berharap putaran kedua debat Cawapres Prabowo Subianto mampu menguasai kembali forum. Penampilannya tadi malam tidak menunjukkan penguasaan masalah dan keterampilan berdebat. Jika KPU masih akan menampung gagasan-gagasan masyarakat yang menginginkan debat itu semakin egaliter, bagi Megawati hal itu pastilah sebuah malapetaka besar.
Debat Capres Putaran II: TAK SEKADAR NINA BOBO BERI IKAN
BERIKAN ikan? Bagus itu. Tetapi alangkah lebih bagusnya jika yang diberi itu pancing, beri perahu dan lalu dorong ia mampu membela diri dengan semua perangkat hidup itu. Itulah semestinya Indonesia. Kita perlu kemandirian, bermartabat. Proses pelembagaan dan pelestarian kemiskinan adalah fungsi dari tindakan-tindakan karitatif itu, dan semua itu tidak sesuai dengan kemadirian yang harus ditegakkan oleh Indonesia.
Tidak ada perubahan dalam tujuan negara dan bangsa kita sejak diproklamirkan tahun 1945. Kita wajib mengakui bahwa semua yang diperintahkan oleh konstitusi itu belum dapat tercapai. Jumlah warga miskin di Indonesia saat ini mencapai 35 juta dengan ukuran (BPS) konsumsi 2100 kalori.
Debat Capres Putaran II: LAPORAN KEBIJAKAN DAN APOLOGI
SBY mengakui masih banyak yang belum dilakukan oleh pemerintahannya. Tetapi ia menjanjikan pertumbuhan 7 % sebagai prasyarat untuk gerak ekonomi baru di negeri ini. Angka ini terlalu kecil dibanding dengan capres lain. kubu Mega berani dengan target dua digit, JK mematok angka 8 %. SBY sadar 60 % kemiskinan ada di daerah pedesaan. Oleh karena itu pembangunan pedesaan dan pengangguran harus mendapat perhatian. Juga penguatan otonomi daerah.
Sektor riel diperhatikan, infrastruktur juga. Kendalikan inflasi, kewirausahaan ditingkatkan. Program pro rakyat harus lebih nyata, hingga nanti daya beli masyarakat semakin kuat.
Apa yang selama ini kita kerjakan sudah terbukti menurunkan angka kemiskinan. Pengangguran juga turun. Ini hasil dari program populis. Memang ada mis-management, tetapi itu tidak berarti program dihentikan.
Debat Capres Putaran II: GOTONG ROYONG
MEGAWATI ingin gotong royong. Dalam semangat gotong royong itulah ia melemparkan sejumlah tuntutan politik. Politik anggaran harus dirubah, jangan lagi lebih mementingkan biaya aparatur dibanding biaya publik. Kedaulatan pangan tidak sama dengan swasembada pangan. Jika rakyat memang ingin diberdaulatkan, fokuslah kepada pertanian, kelautan dan perikanan. Itu tak boleh sekadar retorika belaka, karena harus terlihat dalam kebijakan anggaran. Juga diperlukan perencanaan tata ruang, karena lahan pertanian untuk pangan saat ini tidak mendapat perlindungan undang-undang. Alih-fungsi lahan begitu mengancam.
Petani juga memerlukan kepastian tentang kebutuhan atas air serta informasi terkait seperti cuaca dan pasar.
Debat Capres Putaran II: MEGA NORMATIF, SBY TEPAT WAKTU DAN JK BERIMPROVISASI
BELAJAR dari masyarakat, debat putaran kedua untuk para Capres ini semakin disempurnakan dalam banyak hal. JK jelas menangkap aspirasi itu dan mewujudkannya melalui improvisasi dalam debat. Maka berubahlah debat ini di tangannya. Makin seru, makin hidup dan makin menghibur.
NIRWAN RESAHKAN SESUATU TENTANG BUDIONO
Spesialis Iran dengan pendekatan baru, sarjana komunikasi dengan
kekhususan investigative reporting ini sudah beberapa tahun lalu studi lanjut di IAIN. Ya di IAIN. Orangnya gagah, lebih banyak memberi respon dengan tak hanya
senyum, melainkan juga tawa kecil. Bahkan seperti mengejek (bagi orang yang tak mengenalnya dekat). Tidak indoktrinatif, amat cair dan elegan —yang terakhir ini saya tak sepenuhnya yakin (lagi) karena makin sering dan menyukai kesendirian, ia banyak berubah. Media menguasasinya. Memang belum, ia belum sampai menderita penyakit “pakar teori komunikasi yang sulit berkomunikasi”. Mungkin sesaat lagi dia akan ke sana, dan tanpa dia sadari ia akan kehilangan banyak karena itu.
SOL (2)
INILAH MEREKA
Blog Humbahas membuat tautan ke ‘nBASIS dan saya temukanlah 2 gambar yang mengingatkan saya terhadap kekhawatiran tentang nasib masyarakat sekitar proyek. Sampai sejauh ini bagi saya SOL Sarulla hanyalah uang, minus urusan rakyat. Mental korporatokratik yang mengitari kita begitu dominan.
Debat Cawapres (7)
jatidiri bangsa: KONFLIK SOSIAL, KESENJANGAN SOSIAL, FREKUENSI KECELAKAAN TRANSPORTASE

Debat Cawapres (6)
JATIDIRI BANGSA:
MARI BERCERMIN PADA KONFLIK, KESENJANGAN SOSIAL DAN FREKUENSI KECELAKAAN
SIMAK visualisasi berikut. Saya akan mengajukan pertanyaan setelah itu”. Lalu Komaruddin Hidayat diam sampai visualisasi kerusuhan di berbagai tempat di Indonesia itu selesai. Pertanyaannya pun mengalir.
“Apakah yang menyatukan Indonesia? KTP? Status pemilikan bersama teritori kepulauan Indonesia? Agama? Pancasila? Prestasi pemimpin bangsa? Atau kerumunan (anak-anak) bangsa yang amat mudah terpecah belah?
Komaruddin Hidayat menginginkan penjelasan para cawapres tentang faktor yang paling dominan untuk konflik di Indonesia dan bagaimana agenda peningkatan jatidiri bangsa dalam pikiran mereka. Walau dengan senyum amat manis, wajah Komaruddin Hidayat terkesan tak puas dengan semua jawaban.
Visualisasi kedua tentang fakta kesenjangan sosial ditampilkan. Kembali senyap. Memecah keheningan itu Komaruddin Hidayat menggugat. Indoktrinasi Bung Karno dan Pak Harto ada catatan kekurang-berhasilan. Ketuhanan tanpa keadilan jelas tak bisa. Ruang budaya kita telah diisi oleh bangsa asing. Pancasila berhenti sebagai kertas dan dalam pidato. Bagaimana membumikan Pancasila terbukti amat sulit.

