Home » ARTIKEL » SEPARATISME (?)

SEPARATISME (?)

AKSES

  • 376,691 KALI

ARSIP


PRRI PERMESTA: KENANGLAH SOEMITRO DJOJOHADIKOESOEMO

Banyak hikmah yang wajib kita pelajari dari sejarah negeri ini. Sebutlah PRRI Permesta,  mengapa terjadi dan bagaimana memelihara keutuhan bangsa ini tanpa mengabaikan perlindungan terhadap warga negara dan mensejahterakannya


SoemitroPENULIS asing, dan pada umumnya kalangan yang berlatar belakang karir militer, banyak yang menuduh PRRI Permesta itu hanyalah gerakan politik separatisme (pemisahan diri) yang didasarkan pada unsur sakit hati yang berbau kedaerahan pula. Lama saya percaya pendapat itu, hingga suatu saat  harus menulis sebuah makalah untuk keperluan tugas akademik. Saya ingat Dr RZ Leirissa pernah menulis tentang hal ini, dan ia termasuk  di antara sejumlah kecil orang di Indonesia yang menolak pendapat simplistis tentang PRRI Permesta.

Saya temukan Sumitro Djojohadikoesoemo, ayah dari Jenderal Prabowo prabowo subiantoSubianto, ada di situ. Maka kalau PRRI Permesta itu gerakan yang tak lebih dari pemberontakan kesukuan, maka suku manakah gerangan yang akan dibela dan diatasnamakan oleh Begawan Ekonomi itu? Bergabung dengan PRRI orang tua ini jelas mengambil resiko besar. Dalam satu acara tv swasta Nasional baru-baru ini dengan wajah yang mengharukan Prabowo Subianto menuturkan penderitaan yang dialami oleh keluarga mereka yang tak ubahnya pengungsi (refuge) yang berpindah dari satu ke lain negara, dan dengan kesulitan yang amat serius untuk mempertahankan hidup.

Ada kegamanangan di antara para elit nasional ketika Bung Karno dinilai sudah semakin mementingkan sesuatu yang bukan bangsa secara keseluruhan. Harus ada menara tertinggi di kawasan Melayu, dibangunlah Monas. Harus ada Mesjid terbesar di kawasan rumpun Melayu, dibangunlah Istiqlal. Harus ada ini, harus ada itu dan harus terbaik di antara negara-negara di sekitar. Rakyat dimamah terus dengan pidato-pidato politik dan dikatakan revolusi belum selesai. Ada tuduhan megalomania, dan tuduhan mengabaikan hakekat perjuangan memerdekakan Indonesia. Lupa membangun Indonesia, dengan rakyat yang sejahtera dan berdaulat.

Mengisis kemerdekaan yang direbut dengan susah payah dan penuh pengorbanan ternyata tidak mudah. Sesama saudara seperjuangan pun bertengkar. Banyak pertengkaran amat serius, bukan hanya dalam bentuk pecahnya dwitunggal dengan mengundurkan dirinya Bung Hatta sebagai Wakil Presiden.

PRRI Permesta adalah salah satu bentuk ketidak-cocokan di antara para pendiri bangsa itu.  Biasanya sejarawan memberi catatan stigmatif kepada gerakan berdarah ini. Memang dalam pesta besar pasti besar kemungkinan pecahnya sebuah piring atau cangkir. Dalam PRRI Permesta tentu saja ada cacat cela, tetapi tidak perlu menghilangkan fakta tentang gagasan besar pemakmuran negeri, sebuah interupsi besar yang membuat bangsa ini pernah bergolak.

Federalisme atau Otonomi Daerah

amien raisRiyaas Rasyid adalah seorang pemikir terkemuka selain M.Amien Rais berkenaan dengan upaya memajukan Indonesia dengan penempatan unitarianisme pada proporsi yang tak perlu mengganggu laju dan kreativitas daerah mengembangkan kemampuannya sepenuh-penuhnya tanpa harus komando tunggal Jakarta. M.Amien Rais menyebut federalisme, yang terbukti amat asing bagi banyak orang, terutama para tokoh dan pemikir yang berlatar belakang militer. Dengan gagasan itulah M.Amien Rais pernah disudutkan sebagai agen Amerika, dan popularitas politiknya pun merosot tajam.

Syukur ada Riyaas Rasyid. Ia mempersiapkan sofware dalam nama Otonomi Daerah, yang dia sendiri menyebutnya proyek canggih. UU nomor 22 tahun 1999 adalah wujudnya. Gagal secara terhormat dalam perjuangan ini, Riyaas Rasyid pun menggap tak bermanfaat lagi untuk duduk sebagai menteri, lalu memngundurkan diri.

Harus dicatat bahwa baik Riyaas Rasyid maupun M.Amien Rais telah sama-sama berusaha keras, termasuk mendirikan dan membangun partai, namun hasilnya belum tercapai. Dukungan rakyat terlalu kecil untuk partai riyaas rasyidyang mereka dirikan dan komandokan sendiri. Riyaas Rasyid tak memiliki banyak uang untuk membangun partai yang besar, begitu juga M.Amien Rais. Gagasan besar tanpa aparat dan infrastruktur politik yang bisa diandalkan untuk memperjuangkannya, tentulah akan menjadi sebuah pemikiran belaka. Harapan satu-satunya hanyalah kesadaran generasi ke depan yang bersedia mengapresiasi gagasan mereka. Riyass Rasyid adalah seorang pamong yang menjadi professor di lingkungan pendidikan dinas Departemen Dalam Negeri, sedangkan Amien Rais bisa menjadi contoh tipikal orang kampus masuk dunia politik praktis dalam sejarah Indonesia kontemporer.

Mengapa Riyass Rasyid akhirnya mengundurkan diri dari jabatan Menteri? Gus Dur  (Presiden) tidak berkenan  mendiskusikan semua gagasannya dan di antara puluhan  peraturan pelaksanaan yang dituntut oleh UU Otonomi Daerah Nomor 22 tahun 1999 itu, pemerintah hanya menunjukkan inisiatif untuk membuat beberapa saja di antara yang dibutuhkan itu. Terjadilah pengutukan nasional, hingga endingnya dianggap tepat untuk merevisi UU Nomor 22 Tahun 1999. Dapat dibayangkan bahwa kekuatan rezim lama yang berfikiran sentralistis begitu kuat desakannya, karena mereka memang merasakan keterasingan dalam era otonomi di bawah UU Nomor 22 tahun 1999. Karena itu terbitlah UU baru Nomor 32 tahun 2004. Dalam UU Otonomi yang baru, hakekat otonomi sudah dipangkas hingga mungkin tersisa 30 % saja.

Dalam sebuah seminar yang diselenggarakan oleh Keluarga Besar PII (Pelajar Islam Indonesia, sebuah organisasi pelajar dan mahasiswa yang berbeda dari yang lain-lain karena menolak asas Tunggal Pancasila tahun 1985) di Medan gus durbeberapa tahun lalu, secara ekstrim Riyass Rasyid mempertanyakan untuk apa pemerintahan jika tidak mampu melindungi hak-hak rakyat dan apalagi mensejahterakannya. Dalam otonomi Daerahlah (UU 22 Tahun 1999) hal itu dijabarkan dalam pengaturan yang serius. Keseriusan mensejahterakan rakyat secara berdaulat dan cerdas itu tidak mengancam terhadap keutuhan NKRI sama sekali.

Jangan Dukung Yang Neolib

Kini tahun 2009 Indonesia akan memilih Presiden dan Wakil Presiden yang akan diberi mandat memerintah untuk periode 2009-2014. Aspirasi daerah amat sepi dalam perhelatan ini. Iklim ini amat sejalan dengan pemangkasan potensi aspirasi daerah sebagaimana pola pembangunan partai yang amat oligarkis.

Beberapa bulan lalu misalnya, tidak ada suara protes yang memadai ketika Menteri BUMN Sofyan Djalil akan memprivatisasi beberapa BUMN termasuk PTPN. Alasannya efisiensi. Padahal dalam kondisi seperti ini masyarakat seyogyanya melakukan bargaining politik kepada ketiga pasangan agar kebun yang luas dan menghasilkan besar sekali uang dari daerah (Sumatera Utara) dapat dibagi adil dengan pusat. Siapa yang bukan neolib pasti bersedia berkompromi tentang bagi hasil PTPN.  Pasangan yang paling mengakomodasi kepentingan masyarakat, itu yang pantas didukung. Itu sebagai contoh kecil saja.

Catatlah dengan sedih, bahwa Meneg BUMN Sofyan Djalil  ingin memprivatisasi BUMN ini dengan maksud perolehan uang lebih besar. Jika DATAalasan efisiensi dan maksimasi profit, tentu saja negara pun (Indonesia) bisa kita tawarkan kepada dunia untuk diurus oleh sebuah badan khusus yang terdiri dari orang-orang paling profesional dan paling rasional dari berbagai negara di dunia, dan dijamin bisa membuat negeri ini lebih menghasilkan dan dijamin pula tanpa korupsi. Prinsip korporatokrasi tentu dapat saja menghalalkan itu, dan perasaan nasionalisme mempertahankan hak-hak tradisonal sebuah bangsa dalam konteks ini dapat dianggap kuno oleh agen-agen neo liberalisme.

Prabowo Subianto tampaknya tidak berfikir merujuk pemikiran ayahandanya Soemitro Djojohadikoesoemo. Dari latar belakang dan basis pemikiran para Capres/cawapres saat ini, kemungkinan besar SBY juga tidak akan tertarik, apalagi Mega. Seyogyanya JK akan lebih mudah memahami dan meneruskan gagasan itu berhubung latar belakang sebagai pengusaha.

Kita tidak tahu apakah Debat Capres yang diselenggarakan KPU nanti akan membuka pembahasan ke arah itu. Anies Baswedan, dia saya kira yang SYAMSUL ARIFINditunjuk sebagai moderator untuk topik Otonomi daerah. Bagaimana menurut Anda, Anies? Untuk memperbesar manfaat debat ini, alangkah baiknya jika anda rekomendasikan KPU secara khusus memberi waktu kepada M.Amien Rais dan Riyass Rasyid berbicara tentang agenda rakyat yang terkendala ini. Gubernur Sumatera Utara Syamsul Arifin pun kiranya wajib hadir dan menyampaikan tawaran konsep bagi hasil yang adil dari keuntungan PTPN yang ada di daerah ini.

Kenanglah Soemitro Djojohadikoesoemo.

About these ads

2 Comments

  1. nirwan says:

    aih. :D

    ‘nBASIS:
    mendesis pun ada manfaatnya. terimakasih

  2. nora says:

    Wow.. aku nggak pernah tau kalau Ketua Pimpinan Yayasan Perguruan tempatku bersekolah punya sejarah kayak gini.
    Well, aku tau M Amien R. pasti punya peranan dalam sejarah Indonesia, tapi jujur, belom pernah skalipun aku punya niatan untuk tau lebih jauh ttg itu..
    Hemm.. say thanks to my history teacher aja deh yang udah ngasih ujian praktek presentasi ttg PRRI.. XD

    ‘nBASIS: Bukan cuma mbak Nora yang mengalami keterkejutan serupa. Seorang bekas murid M.Amien Rais pada Madrasah Mu’allimin Yogyakarta pernah dengan penuh keheranan dan bertanya “bukankah M.Amien Rais yang lokomotif reformasi itu guru saya sewaktu Mu’allimin Yogyakarta?” ‘nBASIS menjawab “tanyalah sendiri, mungkin ya”. Ha Ha Ha.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 4,940 other followers

%d bloggers like this: