Debat Capres Putaran I: SATU KATA, SATU DUNIA,YANG BELUM TENTU SATU KEBENARAN
Bagi kalangan yang pesimis debat ini adalah bentuk penjara media dan kemunafikan sosial yang bercampur aduk dalam sistem politik yang masih mencari bentuk. Memang banyak orang puas, tetapi bukan karena substansi, melainkan karena jadwal telah terpenuhi sesuai ketentuan. Jika zaman Orde Baru sebuah paradigma terbentuk karena sentralisme yang bersumber tunggalkan Pak Harto, kini semua pihak berkolaborasi seolah-olah untuk membangun sebuah kesia-siaan.
Satu putaran Debat Capres 2009 Putaran I telah dilangsungkan. Ke depan sudah dijadwalkan putaran-putaran berikutnya. Ini mandatory speech yang menghibur, tetapi sekaligus mencemaskan.
Dari pelaksanaan tadi malam, debat itu kiranya hanyalah sebuah seremoni yang lebih menunjukkan kekuasaan kapitalisme dalam tangan-tangan efektif raksasa media massa. Kerajaan baru yang memaksa dan memojokkan sejumlah besar manusia pada satu sudut, mengendalikannya sesuai kebutuhan akumulasi kapital. Tetapi siapa yang bisa keluar dari genggaman media? Rasanya sudah tak benar jika tak bersandar ke media. Adalah cerita bohong jika ingin meraih kemenangan politik tanpa bersandar kepada media. Media berbuat sesukanya, mengendalikan fikiran sambil meraih keuntungan besar dari situ. Begitulah kira-kira.
Media memfasilitasi secara apik kemunafikan. Ini sisi yang lain. Media memasarkan kebohongan dan membuat rakyat menikmati karena akhirnya menjadi amat terbiasa dengan kebohongan itu. Mungkin ada tahapan perkembangan sebuah negara ketika dirasakan media bukan sebagai alat pengawasan publik, melainkan bagian dari sistem pembenaran.
Dalam keniscayaan media ini, sebetulnya politik masih bisa meraih keuntungan luas, terutama yang bisa disumbangkan bagi rakyat banyak. Designlah Debat itu menjadi sebuah debat sungguh-sungguh, sehingga namanya sesuai dengan pekerjaannya. Dengan begitulah Mega menjadi tahu diri, begitupun SBY dan JK. Masing-masing mereka akan menunjukkan fakta dan data tentang sesuatu yang mereka keluhkan sebagai kenaifan rival-rival mereka. Karena keluhan itulah, didorong oleh ketidak-sabaran melihat kedunguan orang yang disaingi, dan ditambah lagi retorika ingin berbakti kepada negara dan bangsa, kemunculan seseorang capres menjadi keniscyaan dalam pentas yang digelar.
Riggs memperkenalkan teori masyarakat prismatik. Apa yang ideal sebagai yang dicita-citakan gambarannya mulai jelas. Tetapi bentuknya terpecah-pecah, tak utuh dan seterusnya. Ada perbedaan kata hati dengan realitas yang harus dijalani. Double talk sering menjadi realitas. Si bolis na burju (Syetan berpura-pura baik), itulah wujud yang lazim di pentas politik.
Bisa saja seseorang terlihat sudah maju, misalnya sudah memiliki banyak uang, menjadi pejabat dan memiliki mobil mewah. Mobil mewah sebagai salah satu simbol kemajuan ternyata tidak diikuti oleh prilaku mengemudi yang masih tak berubah tanpa disiplin.
Orang boleh menjadi tokoh publik yang terpilih melalui perhelatan politik. Tetapi prilakunya masih tunduk pada rumus-rumus lama, di antaranya dukun masih dianggap sebagai penentu langkah.
Bagi perokok berat, tanyalah kata hati betapa ingin berhenti sekarang juga. Tetapi mengapa tak juga berhenti? Akal dan pikiran jelas menerima bahaya rokok, tetapi kapan berhentinya? Semua tahu korupsi musuh nomor satu negara dan bangsa, tetapi pernahkah akan berhenti? Bagaimana caranya?
Possibly related posts: (automatically generated)
- Debat Capres Putaran I: JK PASTIKAN “POMPA” KEMANDIRIAN NASIONAL
- Debat Capres Putaran I: TUTUR SBY YANG KOMPREHENSIF DAN SANTUN
- Debat Capres Putaran I: MEGAWATI TIDAK MAU UU TIPIKOR ASAL JADI
- Debat Capres Putaran I: SEBUAH TRAGEDI PEMBANTAIAN SENYAP BUAT SBY
- Debat Capres Putaran I: INDONESIA SELESAI DALAM TIGA JARGON
- Debat Capres Putaran I: SANDIWARA ORANG-ORANG GAGAL
- DOUBLE TALK TENTANG KORUPSI
- NEGARA RAMAH KORUPSI
- INDONESIA 2009-2014
[...] Debat Capres Putaran I: SATU KATA, SATU DUNIA,YANG BELUM TENTU SATU KEBENARAN [...]
DIALOG UANG « 'nBASIS
November 6, 2009 at 8:08 pm