'nBASIS

Pengembangan Basis Sosial Inisiatif & Swadaya

Ucup Kelik: KHAWATIR PUTARAN KEDUA (KPK)

with 2 comments

ucuk kelikTanpa bantuan ramalan paranormal atau dukun, dan tanpa survei berbiaya mahal, kelompok inilah yang sedari awal konsisten melukiskan Indonesia kontemporer sebagai interaksi di antara Megawati, SBY dan JK. Acara-acara Parodi politik komikal yang mendidik dan koreksional. Kali ini tampaknya mereka sedang menolak propaganda pilpres satu putaran. Akankah hasilnya seakurat yang sudah-sudah?

Rhytim khas menjadi daya tarik khusus ketika mengiringi lagu Buka Topengmu, dengan vokal yang cukup serasi. “Buka dulu topengmu. Agar kulihat wajahmu. Tapi buka dulu topengmu..”  Dari lagu ini sudah begitu jelas parodi politik yang “diotaki” Effendi Gozali  ini ingin menenelanjangi kedok politik.

DALAM acara tadi malam bersama teman-temannya termasuk Effendi Gazali,  Ucup Kelik mendiskusikan berbagai topik di layar tv dengan gaya khas: kelakar tetapi menggigit. Katanya, KPK itu (sekarang) akronim dari Khawatir Putaran Kedua. Ini tentu terkait dengan gerakan kubu SBY-Budiono yang dihandle oleh Denny JA dan jaringannya. Dengan dalih penghematan uang rakyat, mereka membiayai gerakan propaganda pilpres satu putaran, tentu dengan  jumlah yang sangat besar pula. Pilpres Putaran Kedua memang  telah dalam hitungan yang amat mengkhawatirkan bagi SBY-Budiono, dan itu seolah sudah di depan mata.

Awalnya mereka mengutip berbagai pemberitaan media untuk dikomentari, sampai mendiskusikan aspek effendi ghozalikomunikasi politik dari kampanye pilpres bersama seorang pakar dalam bidangnya. Satu hari sebelumnya mereka juga menghadirkan seorang ahli statistik (PhD holder) yang memberi tips untuk membaca hasil survei dari aspek metodenya. Bagi pakar ini survei politik paling banyak peluang menyimpang, baik oleh faktor sampling error maupun non sampling error. Non sampling error itu, ya termasuk ketidak-mauan. Meski pun tidak melulu aspek integritas, survei politik itu selalu terbuka untuk error-error yang lain. Juga kemaren malam, kelompok ini membela Budiono yang disebut-sebut beristerikan seorang beragama Katholik. Kira-kira Effendi Gazali berucap: jika pun betul tidak ada manfaatnya untuk diributkan karena untuk pencapresan faktor agama itu tidak mutlak diiringi oleh kemampuan. Jika tidak benar malah itu black campaign yang buruk.

Effendi Gozali dalam sebuah sumber disebutkan memang memiliki penilaian bersifat negasi atas propaganda pilpres satu putaran yang didasarkan pada hasil survey berbagai lembaga itu. Menurutnya hasil survei  tidak sama dengan kondisi nyata masyarakat. Banyak sekali permasalahan terkait populasi survei, sehingga indikator hasil survei yang begitu tinggi terhadap salah satu pasangan calon presiden tidak bisa dijadikan tolok ukur pilpres satu putaran.

“Dengan kajian komunikasi politik, saya beranggapan pemilu akan berjalan dua putaran. Banyak sekali masalah dalam populasi penelitian survei, contohnya, saja daftar pemilih tetap (DPT). Tidak ada yang tahu proses DPT di Indonesia, bagaimana mungkin survei dilakukan jika DPT-nya bermasalah,” kata Effendi.

Menurutnya, perolehan suara SBY hanya berasal dari daya tarik semata. Ditinjau dari program-program yang ditawarkan SBY-Boediono, belum ada sesuatu yang baru untuk menarik minat masyarakat memilih pasangan itu (http://www.primaironline.com).

Celetukan khas Ucup kelik  muncul saat mereka mencoba membincangkan klarifikasi Presiden SBY atas pernyataannya yang dianggap sudah diterjemahkan orang di luar konteks mengenai KPK. Beberapa hari lalu SBY berkunjung ke harian Kompas, dan dalam salah satu pembicaraan di sana terberitakanlah SBY memiliki kekhawatiran eksistensi KPK yang begitu kuat hingga tidak dapat dikendalikan. Selain itu juga muncul pemberitaan tentang perintah Presiden SBY kepada BPKP untuk mengaudit biaya KPK.

Dalam masa kampanye yang sibuk pencitraan ini tentu besar sekali kekhawatiran SBY jika pemberitaan mengenai dirinya dalam kaitan KPK itu menjadi bumerang. Maka Mensesneg Hatta Rajasa pun melakukan tindakan, memberi klarifikasi kepada media dengan begitu tergugup-gugup.

Jika dicermati kinerja politik di balik acara-acara yang dipasarkan oleh kelompok itu di layar tv, banyak pengakuan harus diberikan. Kelompok inilah yang sejak awal konsisten mengindikasikan Megawati, SBY dan JK dalam percaturan rivalitas politik di Indonesia kontemporer. Dalam acara mereka juga dihadirkan tokoh representasi (sosok pengganti) Gus Dur (Gus Pur), Habibi (Habudi), dan lain-lain. Tetapi dalam karya mereka itu ingin diterjemahkan bahwa interaksi di antara tiga tokoh inilah Indonesia kontemporer. Mereka tak meramal, dan tak mereka hasilkan itu dari survey berbiaya besar, malah dari pekerjaan yang menghasilkan uang secara kreatif.

Acara Ucup dan rekan-rekan cukup menghibur, ringan tetapi informatif. “Buka dulu Topengmu. Agar kulihat wajahmu. Tapi buka dulu topengmu…..”

Written by nbasis

June 27, 2009 at 6:26 pm

2 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. semoga pilpres berlangsung satu kali

    Stop Dreaming

    July 1, 2009 at 9:09 am

  2. Harapan itu ada pada setiap pasangan dan mereka yang menang. Terimakasih

    nbasis

    July 7, 2009 at 12:43 pm


Leave a Reply