Debat Capres Putaran III: BHINNEKA TUNGGAL IKA
- Gambar di kanan dan kiri yang berada di bawah Gambar Burung Garuda Itu Boleh gonta-ganti, Bhinneka Tunggal Ika Harga Mati.
- Di Wilayah bagian Mana dari Indonesia “masih boleh” diskriminatif dan rasialis?
ATASNAMA bangsa Indonesia yang berpancasila, dan atas nama Bhinneka Tunggal Ika, JK mengingatkan agar tidak rasialis. Bhinneka Tunggal Ika itu abadi. Itulah sebabnya di atas gambar Presiden dan Wakil Presiden ada lambang Burung Garuda Pancasila yang menggenggam kokoh Bhinneka Tunggal Ika itu. Gambar yang di kiri dan di kanan boleh berganti-ganti, tetapi yang di atas itu, Bhinneka Tunggal Ika, harga mati.
Itulah petuah lain dari JK saat giliran berbicara pada urutan ketiga pada Debat Capres Putaran III (terakhir) tadi malam di Jakarta. Debat itu amat bergairah, mendidik dan menyadarkan. Juga membangkitkan semangat 1908, merevitalisasi semangat 1928, menggelorakan heroisme 1945, menyipratkan asa koreksional 1966, memperteguh alam fikiran kritis reformasi dasawarsa lalu.
Sore hari menjelang debat, semua tv dan media memberitakan insiden memalukan. Dari Indonesia Timur orang SBY berteriak lagi untuk sebuah rasialisme yang sudah amat ketinggalan zaman. “Belum saatnya orang Makassar menjadi Presiden”, kata Andi Mallarangeng dengan begitu dungunya. Orang pun protes, mengancam dan terpaksa sakit hati. Begitu besar dampak pernyataan naïf itu kepada Indonesia yang tercatat pernah bersimbah darah untuk Bhinneka Tunggal Ika itu.
Mengapa Andi Mallaranggeng seakan pasti tidak sadar, bahwa di luar kubu SBY yang penguasa partai Demokrat pemenang pemilu 2009 dengan persentase 20 % itu, ratusan juta orang mengerang dengan pernyataan itu. Andi Malarangeng adalah seorang “anak emas” SBY yang sehari-harinya bertugas sebagai Juru bicara kepresidenan. Ia juga petinggi Partai Demokrat.
Apa gerangan kata Cawapres Budiono saat ucapan lantang yang naif itu diteriakkan “di dekat kupingnya” saat mereka sedang berusaha meyakinkan Indonesia bahwa mereka layak memimpin negeri ini? Kita tak tahu. Cawapres Budiono, jawablah itu. Capres SBY, hitunglah jika noktah besar memalukan ini nanti yang membuat kemenangan itu menjadi menjauh sejauh yang tak dapat digapai.
Begitu besar dampak pernyataan naïf itu kepada Indonesia yang dulu telah bersimbah darah untuk Bhinneka Tunggal Ika. Sakit hati itu tak cuma ada di Makassar, karena Makassar itu adalah Indonesia, bagian integral Indonesia. Bagian utuh Indonesia yang sama-sama senasib dan sepenanggungan dengan insan Indonesia di belahan lain.
Cakap seperti itu hanya pernah tercatat dalam sejarah terlontar dari mulut Belanda-Belanda yang tak ihlas Indonesia Merdeka sambil melancarkan politik devide et impera.
Kawan-kawan di seluruh Indonesia, kita perlu beri tahu Andi Mallarangeng. “Hitunglah Indonesia tidak dengan perbandingan kalkulatif menggantang kekuasaan dan keuntungan politik yang ingin kau raih. Hitunglah Indonesia dengan darah nenek-moyangmu, darah ibumu, darah bapamu, darah saudara-saudaramu dan darah kita semua. Kita hanya akan membangun Indonesia tetap jaya tanpa diskriminasi, yang tak sudi biarlah tersingkir dan berhenti disini, sekarang juga. Kemulianmu di sisi SBY dan kekuasaan yang digenggamnya tidak patut membuatmu menjadi musuh bagi bangsamu sendiri”.