MENTERI-MENTERI SONTOLOYO
Pagi ini Metro tv mengulas editorial Media Indonesia tentang mentalitas menteri Kabinet Indonesia Bersatu. Pasalnya, sejumlah menteri menghindar mendampingi JK saat kunjungan ke lokasi pembangunan Bandara Kuala Namu, Sumatera Utara. Sebagai ganti mereka, diutuslah para pejabat eselon II yang dianggap tidak kompeten untuk kunjungan tugas itu.
Dialog interaktif yang diawaki oleh Elman Saragih dan Indra Maulana itu mendapat
sambutan dari berbagai daerah. Seorang penelefon dari Aceh mengingatkan bahwa di satu sisi kepantasan SBY jadi Presiden rupanya di sisi lain amat disayangkan ketika mengetahui ia amat lemah dalam memilih menteri, yang terbukti bahwa para pembantunya hanya terdiri dari orang-orang yang tahunya menjilat ke atas dan tak hirau nasib rakyat. Padahal diketahui sebelumnya ia rajin bongkar pasang menteri.
Penelepon lain melihat kemungkinan antipati rakyat kepada SBY tak terbendung lagi kelak jika penyakit para pembantunya itu (mentalitas inlander, sontoloyo) masih akan dilanjutkan pada Jilid II pemerintahannya bersama Budiono.
Inlander, kata Elman Saragih. Kita perlu menteri yang berorientasi kepada tugas, kata Indra Maulana. Bukan mentalitas buruh kebon. Itu, menurut mereka berdua, yang memungkinkan kerja keras untuk negara dan bangsa, dan pada saat melihat Presiden tidak becus, bahkan mereka tidak akan segan mengundurkan diri. Itu karena menteri itu bukan kalangan pengidap mentalitas inlander sekelas buruh kebon. Itu mereka isyaratkan sebagai jawaban untuk seseorang yang menagis tersedu di ujung telefon sangkin sedih menyaksikan kenyataan meluasnya “inlanderitas” di semua institusi resmi.
Bukan menteri, tetapi lakon “suci” 2 negarawan ini patut ditiru oleh para Menteri. Kenanglah ketika Hatta mengundurkan diri dari jabatan sebagai Presiden. Ia menganggap Soekarno sudah “jahat” dan benar-benar tak faham upaya mengindonesiakan Indonesia yang maju dan berjaya dengan kedaulatannya di tengah pergaulan dunia dengan tanpa cacat dalam mengayomi serta mensejahterakan seluruh rakyatnya yang sudah modar berjuang membela jengkal demi jengkal bumi Indonesia Raya. Begitu juga Hamengkubuwono IX ketika merasakan sudah tidak ada lagi yang perlu dipertahankan dalam jabatan Wakil Presiden saat Soeharto sudah mendefinisikan kekuasaannya bukan sebagai tahta untuk rakyat. Ketika itulah Hamengkubuwono IX merasa negara sudah tak terhindari dari proses degradatif dari keniscayaan tetap menserasikan relasi interaktif the leader, the man and the gun.
Mundur terhormat, itulah sikap “merah putih” yang secara simbolis dikibar-kibarkan dengan sejuta seremoni itu. Itulah makna terdalam dari nilai-nilai kesatria Indonesia yang tercermin dari Lagu Indonesia Raya, dari Lagu Maju Tak Gentar, dari lagu Garuda Pancasila, dan lain-lain yang sering didewa-dewikan dalam simbolisasi seremoni berjuta energi itu.
Banyak bukti, kata penelepon lain. Bahkan beberapa kejadian mutakhir: lupa syairnya (eh Lagu Indonesia Rayanya), jatuh melorot bendera Merah Putihnya (dalam upacara peringatan hari kemerdekaan di suatu tempat), atau runtuhnya teratak di rumah dinas Gubsu Syamsul Arifin yang mengakibatkan gagalnya acara yang direncanakan, dan lain-lain yang serupa, kesemuanya mengindikasikan mentalitas Inlander yang sudah merasuk akibat kepemimpinan feodal.
Ribuan penyelam mengibarkan bendera di bawah permukaan laut. Apa yang hendak mereka katakan? Mereka mungkin takut kehilangan berketerusan dalam sejarah kewibawaan maritim yang harus dikenang dalam makna simbolis phinisi nusantara. Hilanglah ambalat tanpa pengawalan. Hilanglah Sipadan dan Ligitan. Hilanglah ribuan pulau yang belum sempat bahkan diberinama oleh pemilik (Indonesia). Paradox benar dengan kesan yang kita dapat tentang kehebatan angkatan perang (TNI) kita. Apa yang salah? Apa yang tak betul? Taubat siapa yang harus didulukan? Memang begitu kompleks.
Kita tidak mau terpilih menteri-menteri penjilat, kata Elman Saragih menutup dialog.
Menggantang asap? Kalau tak salah, kalimat itu pernah saya dengar.
nirwan
August 19, 2009 at 3:28 am
Bagaimana menggantang asap ya? Tapi itulah bahasa orang-orang tua kita. ha ha
nbasis
August 19, 2009 at 7:38 pm
[...] MENTERI-MENTERI SONTOLOYO [...]
Membangun Indikator: SERATUS HARI PEMERINTAHAN SBY-BUDIONO « 'nBASIS
October 24, 2009 at 6:27 pm
[...] MENTERI-MENTERI SONTOLOYO [...]
Dari Diskusi Bulanan ’nBASIS: UNTUK EFISIENSI DAN EFEKTIVITAS, LIKWIDASI BEBERAPA KEMENTERIAN DAN HAPUSKAN MENKO « 'nBASIS
October 27, 2009 at 12:32 pm
[...] MENTERI-MENTERI SONTOLOYO [...]
Nama-Nama dalam Rekaman: MEANING FULL? « 'nBASIS
November 6, 2009 at 6:50 pm