Archive for September 2009
EARTHQUAKE IN WEST SUMATRA
The earthquake struck Indonesia again. At 17:15 pm yesterday, an earthquake centered in the 57 KM southwest of Padang Pariaman 71 km depth at the center of the earth. Reported more than 75 people died and is predicted to increase.
Several buildings in Padang city and surrounding areas fell to the ground, and the also dark. In addition to the electrical network is lost to the area, disconnected telephone network confirmed.
Earthquake vibrations can be felt this time until the area of Jambi, Pekanbaru, Malaysia and Singapore. The shock of the first earthquake magnitude 7.6 aftershock SR and SR magnitude 6.2 caused some of the road in the city of Padang split.
The citizens have not dared enter the house for fear of the tsunami was much less when heavy rain hit the city of Padang.
Ajie Karim: KALI INI MAU JADI EKSEKUTIF PUNCAK (?)
- Gagal jadi Anggota Legislatif belum tentu tak bisa sukses meraih kursi eksekutif. Tetapi tentu ia harus memetik pelajaran dari pengalaman pahit dalam pemilu legislatif beberapa bulan lalu ;
- Suka atau tidak, kehadiran anak muda ini dalam bursa pencalonan Walikota Medan 2010 akan begitu penting, terutama karena potensinya dilihat dari aspek figuritas dan sumberdaya (budgetting), meski tak begitu kuat dalam hal networking;
- Sebagai pemula dalam politik Ajie Karim membutuhkan konsultan yang bukan kelas hipokrit atau “panglima talam”.
SEORANG “raja” advertising di kota ini belakangan mulai disebut-sebut akan ikut meramaikan bursa pencalonan Walikota Medan melalui Pemilukada 2010. Kesan pemilikan dan penguasaan sumberdaya yang mumpuni menjadi salah satu faktor kuat dalam popularitas politiknya. Dialah Ajie Karim, seorang anak muda yang konon adalah pewaris BENSATRA AVERTISING yang dirintis orangtuanya sejak bertaraf home industry kecil-kecilan pada tahun 1984.
Dari Diskusi Bulanan ‘nBASIS: KEINGINAN MELAKSANAKAN PEMILUKADA SECARA SERENTAK DI 24 KAB/KOTA PENUH ANCAMAN SERIUS TERHADAP DEMOKRASI
Keinginan Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) dan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara untuk menjadwalkan Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) di 24 kabupaten/kota secara serentak tahun 2010 lebih merupakan kehendak murni para status quo daripada pembangunan demokrasi secara bermartabat. Tidak ada keinginan naik kelas dalam berdemokrasi.
Tidak ada yang tidak tahu bahwa pemilukada sejak tahun 2005 (khususnya di Sumatera Utara) penuh kecurangan dan amat memerlukan mekanisme kontrol dari semua lapisan masyarakat. Makin massal akan makin curang, sebab social control pasti semakin lemah. Analoginya, jika pesta semakin besar akan semakin besar pula kemungkinan insiden pecah piring dan cangkir. Jika pesta lebih kecil peluang mengeliminasi sampai nol persen amat mungkin. Kesalahan dan pelanggaran besar akan dianggap kecil bahkan disepelekan (seperti selama ini) dalam sebuah pesta besar. Sebaliknya kesalahan kecil saja akan dianggap dosa besar di sebuah pesta kecil.
SEBERAPA MUDAH DAN SEBERAPA SULIT MENGALAHKAN INCUMBENT?
-
Incumbent memiliki keunggulan dalam hal popularitas dan elektibilitas, namun itu bukan tidak mungkin dipatahkan oleh pesaing bahkan oleh pendatang baru dalam dunia politik
-
Apa yang membuat incumbent John Hugo Silalahi kalah dan alm M.Saleh Harahap bahkan tidak mampu memperoleh dukungan partai, adalah kisah-kisah menarik tentang incumbenitas yang gagal. Memperbanyak calon juga menjadi strategi incumbent untuk memuluskan kemenangan seperti terjadi pada Pemilukada Deliserdang yang memecahkan mitos sebagai Bupati pertama yang mampu menjabat selama 2 periode
-
Hal-hal mengenai figuritas, networking dan budgetting akan sangat menentukan di samping kemampuan mengantisipasi buruknya perundang-undangan, keberpihakan atau ketidak-profesionalitasan pelaksana, kondisi sosial ekonomi masyarakat yang rawan money politic, dan budaya transaksional yang parah
Karena dia sudah punya jejak rekam yang dapat ditelaah di atas kertas maupun di lapangan secara empiris, dan di tengah buruknya pelaksanaan pemerintahan di hampir semua level saat ini, maka secara asumtif boleh dikatakan bahwa mengalahkan incumbent dapat menjadi sesuatu yang amat mudah dalam pemilukada. Bahkan (secara asumtif pula) “menyeretnya langsung ke penjara” pun bukanlah sesuatu hal yang mustahil. Memang, dibanding dengan kompetitor lain, semua incumbent sudah berada di depan dalam hal popularitas dan elektibilitas, termasuk karena aksesibilitasnya terhadap seluruh mata rantai pemerintahan serta simpul-simpul kekuatan sosial politik.
ACEH (Pesan Untuk Koeza M: SESISIR PISANG SALEH)
Tadi malam tiba-tiba pada jalur facebook muncul sapaan ramah dari seseorang, namanya Koeza M. Ia mantan aktivis kampus dan sekarang tampaknya lebih gandrung di organisasi kepemudaan.
Minal ‘Aidin wal Faizin. Mohon Maaf Lahir dan Bathin, Pak. Selamat Hari Raya Idulfithri 1340 H. Begitu bunyi sapaannya. Selepas memberi jawaban untuk sapaan yang santun itu, saya menjadi teringat Aceh, karena Koeza M mengatakan akan merayakan Idulfithri 1340 H di kampungnya, Aceh.
Ada perasaan sedih memikirkan Aceh (mungkin ini perasaan yang amat subjektif belaka). Perasaan sedih itu begitu mendalam, bahkan mendorong saya untuk menulis lagi dan mengirimkannya kepada Koeza M:
ANCAMAN KRIMINALISASI PEMILUKADA
Posting ini bukan tulisan baru, sudah pernah dimuat pada harian lokal (Medan) tahun 2007 yang lalu. Tim ’nBASIS menilai perlu diterbitkan untuk mengingatkan kembali masyarakat Sumatera Utara akan kemungkinana besar perulangan scenario buruk kriminalisasi demokrasi pada Pemilukada di Sumatera Utara tahun depan dan tahun berikutnya.
Sampai tahun ini (2007) telah diselenggarakan Pilkada untuk sebagian besar kabupaten dan kota di Provinsi Sumatera Utara. Kabupaten dan kota yang akan Pilkada dalam waktu tidak lama lagi tinggal beberapa saja seperti Padangsidempuan, Deliserdang dan Langkat. Sebagaimana telah menjadi bahan pembicaraan publik di daerah ini, pada awal tahun 2008 untuk pertamakalinya dilaksanakan Pemilihan Gubernur Sumatera Utara secara langsung (Pilgubsung). Dari diskusi terbatas ‘nBASIS (Pengembangan Basis Sosial Inisiatif & Swadaya) pertengahan Juli 2007 secara khusus menyoroti Pilgubsung 2008. Diskusi seri ketiga setelah April yang membahas adanya 38 figur yang berpeluang maju dan diskusi Agustus 2007 yang membahas pengerucutan figur dari 38 menjadi 24, secara khusus membahas tingkat ancaman terhadap proses pelaksanaan Pilgubsung itu sendiri.
Pemulung Berhari Raya: SOLIDARITAS YANG AMAT LANGKA
Oleh: Feri Nofirman
Lebaran tinggal 3 hari lagi pak, kata istri Pak Tolong dengan penuh harap kepada suami tercintanya. Pak Tolong dengan sungguh-sungguh menjawab “ya buk itu benar”. Kalau dingat-ingat sampai sekarang, anak–anak kita si udin, si Mina, si Upik dan si Buyung (yang paling bungsu) sudah hampir 4 kali lebaran tak pernah kita ganti bajunya.
Ya Udah, bu. Doakan bapak dapat rezeki dalam waktu 2 hari ini. Insya Allah bapak penuhi semuanya. Jangankan pakaian baru buat mereka, untuk ibu juga nanti Bapak belikan biar tambah manis.
Prof.Dr.Ir.Meneth Ginting, MADE, Mantan Bupati Karo: MASYARAKAT HARUS MEMBUAT CIRI SENDIRI
-
Kota Medan Berubah Atau Ambruk;
-
Gugatan ‘nBASIS Berusia 5 Tahun;
-
Inilah Catatan dokumentasi ’nBASIS dari Dialog Tokoh Tahun 2005;
DALAM bayangan saya, bagaimana sebenarnya Kota Medan sebagai ibukota Sumatera Utara, bisa menjadi sebuah kota metropolitan. Bila saya membayangkan, pastilah saya kemudian membandingkannya dengan kota-kota lain di seluruh dunia.
Yang saya ingat adalah setiap kota yang saya kunjungi selalu mempunya ciri khas tertentu yang membedakannya dengan kota-kota lain. Kita tidak usahlah bercerita tentang heterogenitas komposisi sosial budaya di Kota Medan, karena itu memang kenyataannya. Tapi bagaimana menyimbolkan suatu keragaman dalam spesifikasi tertentu. Sehingga ini membuat ketika orang luar, baik lokal, regional maupun luar negeri, datang dan menyaksikannya, akan selalu membawa memori tertentu yang akan diceritakannya kepada keluarga, teman dan lingkungannya.
MAULANA MENJAWAB
-
Kota Medan Berubah Atau Ambruk;
-
Gugatan ‘nBASIS Berusia 5 Tahun;
-
Inilah Catatan Dokumentasi ‘nBASIS dari Dialog Tokoh 2005;
SUNGGUH luar biasa sambutan para tokoh masyarakat terhadap pertemuan ini. Dan saya (Maulana Pohan, red) sendiri menyadari bahwa pertemuan-pertemuan seperti ini mestilah secara rutin dan periodik diberlakukan dalam pemerintahan mendatang.
Ada beberapa pokok pikiran yang coba saya tangkap dan kemudian saya ingin membagi pendapat saya ini kepada masyarakat luas.
KOTA MEDAN HARUS DISELAMATKAN
-
Kota Medan Berubah Atau Ambruk;
-
Gugatan ‘nBASIS Berusis 5 Tahun;
-
Inilah Catatan Dokumentasi ‘nBASIS dari Dialog Tokoh Tahun 2005;
PENGANTAR DIALOG
Pertama-tama saya mohon maaf karena harus terlambat hadir dalam pertemuan ini. Saya terkendala oleh kemacetan lalulintas dari kampus tempat saya mengajar yang sebetulnya jaraknya tidak begitu jauh dari tempat pertemuan kita saat ini. Saya menyadari, bahwa belakangan ini kemacetan lalu lintas telah menjadi alasan apologetik yang semakin lazim di tengah masyarakat kita, baik dikemukakan secara jujur maupun sekadar melindungi diri dari kecaman. Kali ini saya memang benar-benar terlambat karena telah terjebak di sekitar wilayah inti kota.
Ir. Indra Sakti Harahap, Ketua P3MBI Sumatera Utara: KOTA MEDAN MESTI SEHAT
-
Kota Medan Berubah Atau Ambruk;
-
Gugatan ‘nBASIS Berusia 5 Tahun;
-
Inilah Catatan dokumentasi ’nBASIS dari Dialog Tokoh Tahun 2005;
BARANGKALI saya sebagai orang muda, hanya ingin Kota Medan ini maju. Tapi maju dalam
pengertian “kota sehat” yang dalam pengertian sehat seluas-luasnya. Artinya dari segi moralitas, kebijakan, ekonomi, politik, budaya dan seterusnya. Kami akan mendukung seorang pemimpin bila dalam landasan visinya ia akan menuju kota sehat tadi.
Dari semua pembicaraan terdahulu terkesan kuat ekspresi keinginan untuk berubah. Dari kanan ke kiri saya merasakan keinginan untuk berubah itu semakin kuat dan semakin meluas pula meski pun akan selalu mendapat reaksi dan tantangan. Tetapi itulah masyarakat, yang saya yakin tidak akan pernah berhenti seperti air mengalir.
Pdt Eben Ezer Siagian: CUMA PEMIMPIN AGAMA YANG BISA MENGALAHKAN PREMAN
-
Kota Medan Berubah Atau Ambruk;
-
Gugatan ‘nBASIS Berusia 5 Tahun;
-
Inilah Catatan dokumentasi ’nBASIS dari Dialog Tokoh Tahun 2005;
SAYA sangat setuju dengan pendapat Bapak Bachtiar Ibrahim yaitu menyertakan kaum ulama. Saya kira pengertian ulama yang dimaksudkan oleh beliau tadi tidak terbatas pada satu agama tertentu saja (Islam). Jadi kelompok pendeta juga termasuk di sana.
Saya ambil contoh. Selama ini terhdap daerah-daerah tertentu dengan tingkat kerawanan yang sudah masuk garis merah kepolisian, akibat perkelahian dan kerawanan daerah tersebut. Nah, ketika polisi dan pemerintah sudah menyerah, barulah para ulama dan pendeta diikutsertakan untuk meredam konflik. Memang akhirnya konflik dapat diredam.
Ir. Basrah Nazir, Sekretaris Asosiasi Pengusaha Restoran Kota Medan: HAMPIR 33 % USAHA KECIL MENENGAH BANGKRUT
-
Kota Medan Berubah Atau Ambruk;
-
Gugatan ‘nBASIS Berusia 5 Tahun;
-
Inilah Catatan dokumentasi ’nBASIS dari Dialog Tokoh Tahun 2005;
SAYA ingin lebih fokus kepada pengembangan ekonomi kecil dan menengah. Kalau kita lihat memang ada pertumbuhan ekonomi di Medan, tapi bagi golongan yang mana? Saat ini saya bisa meatakan justru dengan orientasi kawasan inti kota dan pembangunan infrastruktur ekonomi untuk masyarakat dan pebisnis kelas atas, justru mematikan pelaku ekonomi kecil dan menengah.
H. Bahctiar Ibrahim, Mantan Anggota MPR RI, Mantan Ketua PW Muhammadiyah Sumut: ASPEK RELIGIOSITAS DARI PEMERINTAHAN
-
Kota Medan Berubah Atau Ambruk;
-
Gugatan ‘nBASIS Berusia 5 Tahun;
-
Inilah Catatan dokumentasi ’nBASIS dari Dialog Tokoh Tahun 2005;
SAYA ingin menekankan pada aspek religiositas dalam pembangunan, pemerintahan, dan kebijakan. Walau pun Pemerintah Kota sering melakukan kegiatan keagamaan, menyumbang mesjid, menggaji ustadz, nadzir, sampai penggali kubur, tapi luar biasa rusaknya moral keagamaan kita.
Saya mengingatkan akan prinsip-prinsip dasar pemerintahan untuk mengelola masyarakat seperti yang dipesankan oleh Rasulullah Muhammad SAW. Prinsip pertama yaitu ulama bi al-ilmi, yaitu ilmunya ulama. Jadi, ulama itu diikutsertakan dan bukannya dikooptasi untuk kepentingan pemerintah atau penguasa. Kini kita lihat, pemerintah menggunakan ulama hanya ketika ada kejadian-kejadian tertentu, seperti kerusuhan, atau ketika pemerintah akan melaksanakan acara besar keagamaan seperti Maulid Nabi. Nah, disuruhlah para ulama untuk mendoa di situ.
HM Soetardjo, Mantan Anggota DPRD Kota Medan, Pelaku Sejarah Angkatan 66: TIDAK SEMUDAH ITU MENGUBAH SITUS SEJARAH
-
Kota Medan Berubah Atau Ambruk;
-
Gugatan ‘nBASIS Berusia 5 Tahun;
-
Inilah Catatan dokumentasi ’nBASIS dari Dialog Tokoh Tahun 2005;
SEBAGAI salah satu pelaku sejarah, saya prihatin, sedih sekaligus bingung. Kok begini masyarakat dan pemko Medan memperlakukan sejarah. Contoh kecilnya Lapangan Merdeka itu. Kok sekarang jadi tak lapang lagi?
Saya bukan tidak memahami modernisasi dan pertumbuhan ekonomi, tapi apakah pantas bila Lapangan Merdeka yang begitu kuat nilai historisnya dihabiskan begitu saja demi sebuah simbol kemewahan yang kapitalistis? Yang saya tahu, proses untuk mengubah situs-situs sejarah tidak semudah itu. Jangankan di Indonesia, di luar negeri saja, yang betul-betul ideologinya berlainan dengan kita, sejarah itu dikelola tanpa meninggalkan bentuk aslinya. Itu kan ada prosedurnya.
