CICAK VS BUAYA: BUTUH PRASYARAT KETEGARAN SEORANG PEMIMPIN
KITA semua ingat awal konflik ini. Kita semua sedang berfikir, berusaha mereka-reka akhir dari konflik ini. Kita semua (mungkin ada juga yang tidak) semakin ragu apakah akan semakin baik ataukah akan semakin buruk catatan negeri ini tentang korupsi.
Extra Ordinary Crime, itu korupsi. Jika JAPOLHA (Jaksa, Polisi, dan Hakim) bisa berfungsi baik, lalu untuk apa kita membentuk KPK? Itulah pertanyaan pertama. Jadi JAPOLHA tidak boleh kecil hati, meski kehadiran KPK adalah tamparan amat kasar terhadap wajah ketiga lembaga penegak hukum itu.
Tetapi apalah gunanya sebuah lembaga seperti KPK dibentuk jika hanya akan dipergilirkan di antara orang-orang yang tidak memiliki komitmen. Cobalah beri sebuah argumen, mungkinkah KPK mendapatkan figur terpercaya dengan komitmen yang kuat memberantas korupsi di tengah kondisi tiadanya lembaga yang steril dari korupsi? Darimanakah caranya KPK akan mendapatkan aparatur agar lembaga itu dapat bekerja baik? Inilah pertanyaan yang barangkali saja tak mungkin dijawab di Indonesia.
Ragulah bersama saya, barangkali KPK itu bukan lembaga sungguh-sungguh untuk pemberantasan korupsi. Ragulah bersama saya bahwa jika pemimpin negeri ini tidak memiliki ketegaran dan kebersihan, percumalah berbicara tentang korupsi.
sebuah lembaga negara yang lahir “prematur” dari kekecewaan atas lembaga-lembaga negara pada akhirnya hanya sebatas “Komisi Pemuas Kekecewaan” yang distir jadi “Komisi Pemuas Kepentingan” menjelma jadi “Komisi Pemuas Kekuasaan” dan “Komisi Pemuas Keserakahan”.
Jadi meragukan juga produk2 REFORMASI 98 itu apa?
Salam
kopral cepot
October 14, 2009 at 2:27 am
Semua pelesetan ini dan yang lain mengindikasikan pesimisme publik yang dalam.
Saya setuju, reformasi ‘98 (politik, hukum dan ekonomi) tampaknya belum berhasil atau kita harus nyatakan gagal.
nbasis
October 14, 2009 at 7:31 pm
[...] CICAK VS BUAYA: BUTUH PRASYARAT KETEGARAN SEORANG PEMIMPIN [...]
Thesis Korupsi: BERHENTI DARI ADU ARGUMEN DI PENTAS POLITIK « 'nBASIS
November 1, 2009 at 10:41 pm
[...] CICAK VS BUAYA: BUTUH PRASYARAT KETEGARAN SEORANG PEMIMPIN [...]
KEPRIHATINAN & PERNYATAAN SIKAP GRUP DISKUSI AKTIVIS 77/78 « 'nBASIS
November 3, 2009 at 5:21 pm
[...] CICAK VS BUAYA: BUTUH PRASYARAT KETEGARAN SEORANG PEMIMPIN [...]
Pemerintah: JALAN PIKIRAN DAN KEPEDULIANNYA « 'nBASIS
November 6, 2009 at 11:11 am
[...] CICAK VS BUAYA: BUTUH PRASYARAT KETEGARAN SEORANG PEMIMPIN [...]
Rekomendasi Tim-8: JANGAN CUMA BERHENTI MENDESKRIPSIKAN “PUNCAK GUNUNG ES” « 'nBASIS
November 15, 2009 at 9:12 pm
[...] CICAK VS BUAYA: BUTUH PRASYARAT KETEGARAN SEORANG PEMIMPIN [...]
Nasib Negara dalam balutan Political Will Kerdil: INDONESIA « 'nBASIS
November 23, 2009 at 7:28 pm