Home » ARTIKEL » PIRING PORSELIN KEMBAR KUNO BUATAN CINA WARISAN SEORANG OBZITER

PIRING PORSELIN KEMBAR KUNO BUATAN CINA WARISAN SEORANG OBZITER

AKSES

  • 396,465 KALI

ARSIP


Sutan Pane, pemilik piring porselin kembar,  tak pernah menyadari benda seni  kuno buatan China miliknya mengandung nilai seni dan sejarah yang tinggi. Warisan benda kuno ini didapat ayahnya, Saroga Pane, seorang obziter, dengan memenangkan lelang yang diselenggarakan oleh Pemerintah Belanda di Sumatera Barat saat akan hengkang dari daerah itu tahun 40-an;

WARISAN PANE (1)CHINA terkenal dengan karya tembikar dan porselin yang bernilai seni sangat tinggi. Itu sudah tersebar ke hampir seluruh penjuru dunia, sudah lama sekali. Cerita tentang itu pun diperkirakan bakal tiada habis-habisnya, dan bahkan semakin hari cenderung akan semakin eksklusif di tangan komunitas yang mengkhususkan diri pada penelusuran dan perburuan benda-benda kuno. Komunitas ini mengembangkan sendiri keahlian tidak saja untuk mengidentifikasi, tetapi juga kajian mendalam atas nilai dan kaitan sejarah. Benda-benda kuno itu akan semakin eksklusif  nilainya jika di dalamnya sudah bercampur kepercayaan-kepercayaan magis yang diwarisi dari leluhur.

Adalah Sutan Pane, pemilik piring porselin kembar antik. Piring kembar itu adalah warisan orangtuanya. SemWARISAN PANE (2)ula ia tak pernah begitu hirau terhadap piring kembar itu, kecuali sekadar menyimpannya sebagai warisan dari orangtua yang perlu dihargai apa adanya. Lama ia letakkan piring kembar itu di tempat yang tak istimewa hingga pada suatu saat ia membaca berita lelang dari Eropa tentang benda serupa. Diperbandingkannya piring kembar miliknya dengan gambar-gambar piring porselin yang dilelang. Betapa terkejutnya ia membaca harga terjual yang amat fantastis. ”Waktu itu saya ingat satu piring antik kuno yang berasal dari China laku terjual dengan harga 135 milar rupiah”, kenang Pane sambil menegaskan bahwa secara umum karakteristik piring yang terjual itu masih berada di bawah kualitas piring kembar miliknya. Mulai saat itu ia pun mengistimewakan warisan itu dengan peningkatan pengamanan. Apa keistimewaan piring kembar milik Pane? Tentu pemahaman atas ketinggian nilai peradabanlah yang paling pas menilainya.

Di atas kedua piring ada lukisan ganda yang bisa dilihat dari sisi yang berbeda dengan teknik pembuatan yang sangat tinggi. Dari satu sisi gambar akan terlihat mirip istana kerajaan yang terletak di pinggir danau dengan 9 buah rumah yang mirip tempat tinggal para pembantu dan pengawal kerajaan. Jelas sekali terlihat sebuah menara yang tinggi di sekitar istana yang terletak di kaki gunung itu. Sedangkan di pinggir danau terlihat 7 ekor burung bangau sedang mencari makan (masing-masing 3 ekor pada piring pertama dan 4 ekor pada piring kedua). Di balik kedua piring terdapat aksara China kuno, yang menurut Sutan Pane, sepanjang yang pernah dicaritahunya, tak banyak orang di Medan yang faham maknanya.

DATA TEKNIS PIRING”Mungkin saya akan seperti seorang anak kelas 3 SD yang sedang menerengkan rumus perkalian di depan seorang professor jika saya coba menerangkan nilai seni dan sejarah piring kembar ini. Oleh karena itu lebih baik saya tak usah berkomentar, karena saya tahu itu urusan para ahli dan terutama para pewaris peradaban itu (China)”, tegas Pane ketika ditanya tentang ketinggian nilai seni dan sejarah piring kembar miliknya. Pane  semakin yakin hal itu, terutama ketika akhir tahun 90-an yang lalu terjadi ketegangan antara dirinya dengan sekelompok orang yang menyatakan ingin membeli piring kembar itu seharga 80 milyar. Mereka berasal dari Jakarta dan membawa seorang suhu yang mengetahui persis data piring kembar tanpa melihatnya, jelas Sutan Pane.

Asal Warisan

Ayah Sutan Pane adalah seorang Obziter jalan dan jembatan yang bekerja di Sumatera Barat. Sutan Pane yang adalah putera bungsu dalam keluarga itu pada suatu hari diberi ayahnya almarhum Saroga Pane dua piring porselin buatan China. Semula dianggaonya sebagai hiasan belaka yang mirip dengan benda-benda dagangan yang  banyak ditemukan di pasaran. Apalagi orang tuanya hanya memesankan ”simpanlah kedua piring ini, satu saat berguna untukmu”.

Ayah Sutan Pane memperoleh piring itu dari sebuah acara lelang yang diselenggarakan oleh Pemerintah Belanda di Sumatera Barat sekitar tahun 40-an. Saat itu Belanda sedang bersiap-siap hengkang dari daerah itu karena informasi akan masuknya tentara Jepang sudah begitu pasti. Ayahnya memenangkan lelang dengan cara mengeluarkan seluruh koceknya ditambah dengan kocek pinjaman dari teman-temannya yang sama-sama hadir dalam acara pelelangan.

About these ads

1 Comment

  1. misra says:

    saya ada juga nih. kemana ya saya jual nya. cuma bergambar naga timbul 2 minggu yng lalau kami temukan

    ‘nBASIS: bagus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 4,990 other followers

%d bloggers like this: