'nBASIS

Pengembangan Basis Sosial Inisiatif & Swadaya

MENCEGAH RADIKALISASI: TINGKATKAN EMPATI ATAS KESULITAN YANG DIDERITA RAKYAT

with 10 comments

DEMO MAHASISWA SETIARADIKALISASI bersifat eksesif menentang pemerintah akan berkembang pesat jika dalam waktu tertentu core perhatian elit nasional berhenti pada euforia kemenangan. Tidak persoalan apakah pemerintah akan mempertinggi produk retorikanya —apalagi retorika itu bertujuan apologetik— dalam menanggapi berbagai masalah yang berkembang.

Kondisi objektif hari ini, rakyat hanya tak bisa berkompromi dengan tuntutan beban nyata dalam bentuk kesulitan hidup. Oleh karena itu pemerintah wajib mendengarkan secara sungguh-sungguh dan berempati atas kesulitan yang dihadapi oleh masyarakat saat ini. Itulah satu-satunya cara efektif meredakan radikalisasi.

Besarnya jumlah kabinet, tingginya kesan bagi-bagi kekuasaan dan kenaikan gaji Pejabat Negara hanyalah pemicu belaka yang antara lain telah menemukan momentum pada peringatan sumpah pemuda 2009 yang di banyak tempat —termasuk saat peringatan Sumpah Pemuda yang dihadiri oleh Wakil Presiden Budiono— diwarnai oleh demo bahkan tak sedikit yang berbuntut kerusuhan. Keprihatinan yang menumpuk sejak lama memang untuk sementara (tempohari, saat pemilu) telah teredam dengan perhelatan politik tahun 2009 yang terkenal bersifat transaksional (termasuk membeli suara pemilih) itu.

Jangan lupa bahwa, bukan cuma partai politik dan para elit yang mengucurkan dana ke tengah-tengah masyarakat, tetapi incumbent melalui kebijakan populis telah membuat masyarakat secara ekonomis memperoleh tambahan biaya hidup selama beberapa bulan.

Setelah seluruh perhelatan suksesi nasional usai, masyarakat mulai menghadapi masalah konkrit yang belum terpikirkan solusinya oleh pemerintah. Reality Show (pit and proper test di Cikeas) calon menteri yang berujung bagi-bagi kekuasaan di antara partner koalisi tampaknya telah juga menambah kejauhan jarak antara pemerintah dan masyarakat.

Andil Pemerintahan lama

demo mahasiswa malang

Pada masa kampanye Pilpres 2004 SBY-JK secara tegas menjanjikan penurunan pengangguran menjadi sekitar 8 % dari total penduduk di akhir masa jabatan pada tahun 2009. Tetapi kinerja pemerintahannya ternyata gagal untuk itu. Terutama karena krisis global yang tidak siap dihadapi, maka praktis semakin sulitnya memperoleh kehidupan layak bagi mayoritas rakyat telah menjadi fakta yang tidak dapat disembunyikan.

Lima tahun pemerintahan SBY-JK telah berlangsung dalam rumus 2-1-2 dalam pengertian selama 2 tahun hanya sibuk konsolidasi sambil bongkar pasang kabinet dan mencari persesuaian di antara figur Presiden dan Wakil Presiden yang tak pernah usai. Selama 1 tahun bekerja dengan kebijakan populis bertendensi peninabobokan, dan akhirnya selama 2 tahun terakhir masing-masing sibuk mengambil ancang-ancang untuk maju menjadi Presiden pada pemilu 2009. Itulah gambaran pemerintahan SBY-JK selama 5 tahun lalu. Jadi kesulitan masyarakat hari ini adalah produk dari kealpaan 5 tahun silam itu.

Security Approach

Dalam ketidak-mampuan menjawab tuntutan masyarakat, apalagi ditopang oleh psikologi sebagai kekuatan mayoritas dan dengan potensi kemampuan akomodasi politik di tingkat elit partai, maka dikhawatirkan pemerintah kemungkinan akan menerapkan kebijakan security approach dalam menyikapi radikalisasi yang dapat cenderung meluas. Ini hanyalah pendulum jam yang kembali ke posisi lama, sebagaimana pada masa pemerintahan Orde Baru tempohari.

Sikap represip terhadap radikalisai bisa membuahkan catatan baru yang akan menambah keburukan image Indonesia di mata internasional.

*****

http://www.metrotvnews.com/index.php/metromain/news/2009/1028/4954/Demo-Mahasiswa-Memperingati-Hari-Sumpah-Pemuda

http://www.tempointeraktif.com/hg/nusa/2009/10/28/brk,20091028-204904,id.html

http://berita.liputan6.com/daerah/200910/249132/Demonstrasi.Mahasiswa.Tulungagung.Ricuh

http://antarajatim.com/lihat/berita/19941/demo-mewarnai-peringatan-sumpah-pemuda-di-jatim

http://id.news.yahoo.com/tmpo/20091028/tid-demo-mahasiswa-peringati-sumpah-pemu-5c898dc.html

http://www.indonesiaheadlines.com/index.php?id=608164</

http://surabaya.detik.com/read/2009/10/28/141251/1230168/475/demo-mahasiswa-malang-tolak-kenaikan-gaji-menteri-ricuh

http://www.metrotvnews.com/index.php/metromain/newsvideo/2009/10/28/93049/Mahasiswa-Tolak-Wapres-Pimpin-Upacara-Sumpah-Pemuda

http://www.pontianakpost.com/index.php?mib=berita.detail&id=25357

http://megapolitan.kompas.com/read/xml/2009/10/28/10094831/makna.sumpah.pemuda.bagi.mahasiswa.setia

http://www.arsip.net/id/link.php?lh=BQVSDgYHBAkB

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/280205/

http://e-banten.com/v2/peringatan-sumpah-pemuda-di-warnai-demonstrasi.html

http://www1.kemenegpora.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=696:adhyaksa-dault-jangan-berangus-demonstrasi-mahasiswa&directory=71

Written by nbasis

October 29, 2009 at 1:40 pm

10 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. hmmm…. berarti kedepan tampaknya akan ada sebuah pergerakan dari masyarakat yang sifatnya cenderung radikal karena kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat ?? begitu ya kurang lebih maksudnya….

    maipura

    October 30, 2009 at 9:53 pm

  2. deprivasi relatif tak punya kekuatan penggerak. ketidakpuasan masyarakat adalah indikasi, tp untuk perubahan belum tentu.

    nirwan

    October 31, 2009 at 8:39 am

  3. Nirwan: HB IX (1966) pernah mengisyaratkan jawaban terhadap keresahan Anda: the leader, the man and the gun. Sejarawan alm Sartono Kartodirdjo (UGM): structural conduciveness saja memang tidak cukup untuk perubahan.

    Maipura: Itu sudah rumus yang bisa ditemukan di mana-mana, sepanjang sejarah. Posting ini cuma mengisyaratkan: dalam ketidak-mampuan memberi kesejahteraan rakyat banyak pemerintahan di permukaan bumi ini sering memiilih security approach dan sikap repsesif untuk setiap aspirasi yang berbeda dengan kebijakan pemerintah. Mungkin drama cicak vs buaya yang (untuk sementara) berujung penahahan Bibit dan Chandra sudah dapat disebut proses awal dari situasi yang dikhawatirkan. ‘nBASIS berdo’a agar itu tidak terjadi di Indonesia, dan itu terpulang kepada SBY.

    nbasis

    October 31, 2009 at 11:22 am

  4. Apa kabar Kang Nbasis?

    Numpang woro-woro
    Ikuti dan ramaikan Blog Kontes menulis terbaru di penghujung 2009 dan menangkan hadiahnya. Silahkan baca informasi selangkapnya di http://www.indonesiamenulis.com/2009/11/kontes-motivasi-menulis-untuk-blogger.html.

    Blogger Indonesia Menulis

    October 31, 2009 at 7:19 pm

  5. Sumpah berat Sob…harus baca perlahan-lahan, dengan scrool naik turun :D tapi TOP=MarkoTOP.

    Small Scale: Seorang anak yang akhirnya dgn tega menghabisi nyawa ayahnya, dikarenakan penindasan mental/fisik yang dilakukan ayahnya-Seperti itu bukan Sob?? CMIIW

    robbymilo

    November 1, 2009 at 1:43 am

  6. Mas Robbymilo: Maaf, mungkin bahasa yang digunakan posting ini rada susah difahami. “Small Scale: Seorang anak yang akhirnya dgn tega menghabisi …”, ‘nBASIS cuma mampu berdo’a agar Indonesia ke depan lebih baik. Terimakasih.

    Kang Blogger Indonesia Menulis: ‘nBASIS, kang bukan Nbasis. Akronim dari Pengembangan Basis Sosial Inisiatif & Swadaya. Semoga sukses rencananya, ya kang!! Terimakasih.

    nbasis

    November 1, 2009 at 6:08 pm

  7. [...] MENCEGAH RADIKALISASI: TINGKATKAN EMPATI ATAS KESULITAN YANG DIDERITA RAKYAT [...]

  8. Oh Harus Sob, Indonesia butuh artikel/blog/berita yang tajam. Masukan tajam membuat kita menjadi lebih baik, jangan ragu untuk membuat/memberi masukan yang tajam.

    Inget kata guru sastra jama SMA: “Pena lebih tajam dari peluru”

    robbymilo

    November 1, 2009 at 10:39 pm

  9. [...] MENCEGAH RADIKALISASI: TINGKATKAN EMPATI ATAS KESULITAN YANG DIDERITA RAKYAT [...]

  10. [...] MENCEGAH RADIKALISASI: TINGKATKAN EMPATI ATAS KESULITAN YANG DIDERITA RAKYAT [...]


Leave a Reply