MENCEGAH RADIKALISASI: TINGKATKAN EMPATI ATAS KESULITAN YANG DIDERITA RAKYAT
RADIKALISASI bersifat eksesif menentang pemerintah akan berkembang pesat jika dalam waktu tertentu core perhatian elit nasional berhenti pada euforia kemenangan. Tidak persoalan apakah pemerintah akan mempertinggi produk retorikanya —apalagi retorika itu bertujuan apologetik— dalam menanggapi berbagai masalah yang berkembang.
Kondisi objektif hari ini, rakyat hanya tak bisa berkompromi dengan tuntutan beban nyata dalam bentuk kesulitan hidup. Oleh karena itu pemerintah wajib mendengarkan secara sungguh-sungguh dan berempati atas kesulitan yang dihadapi oleh masyarakat saat ini. Itulah satu-satunya cara efektif meredakan radikalisasi.
Besarnya jumlah kabinet, tingginya kesan bagi-bagi kekuasaan dan kenaikan gaji Pejabat Negara hanyalah pemicu belaka yang antara lain telah menemukan momentum pada peringatan sumpah pemuda 2009 yang di banyak tempat —termasuk saat peringatan Sumpah Pemuda yang dihadiri oleh Wakil Presiden Budiono— diwarnai oleh demo bahkan tak sedikit yang berbuntut kerusuhan. Keprihatinan yang menumpuk sejak lama memang untuk sementara (tempohari, saat pemilu) telah teredam dengan perhelatan politik tahun 2009 yang terkenal bersifat transaksional (termasuk membeli suara pemilih) itu.
Jangan lupa bahwa, bukan cuma partai politik dan para elit yang mengucurkan dana ke tengah-tengah masyarakat, tetapi incumbent melalui kebijakan populis telah membuat masyarakat secara ekonomis memperoleh tambahan biaya hidup selama beberapa bulan.
Setelah seluruh perhelatan suksesi nasional usai, masyarakat mulai menghadapi masalah konkrit yang belum terpikirkan solusinya oleh pemerintah. Reality Show (pit and proper test di Cikeas) calon menteri yang berujung bagi-bagi kekuasaan di antara partner koalisi tampaknya telah juga menambah kejauhan jarak antara pemerintah dan masyarakat.
Andil Pemerintahan lama
Pada masa kampanye Pilpres 2004 SBY-JK secara tegas menjanjikan penurunan pengangguran menjadi sekitar 8 % dari total penduduk di akhir masa jabatan pada tahun 2009. Tetapi kinerja pemerintahannya ternyata gagal untuk itu. Terutama karena krisis global yang tidak siap dihadapi, maka praktis semakin sulitnya memperoleh kehidupan layak bagi mayoritas rakyat telah menjadi fakta yang tidak dapat disembunyikan.
Lima tahun pemerintahan SBY-JK telah berlangsung dalam rumus 2-1-2 dalam pengertian selama 2 tahun hanya sibuk konsolidasi sambil bongkar pasang kabinet dan mencari persesuaian di antara figur Presiden dan Wakil Presiden yang tak pernah usai. Selama 1 tahun bekerja dengan kebijakan populis bertendensi peninabobokan, dan akhirnya selama 2 tahun terakhir masing-masing sibuk mengambil ancang-ancang untuk maju menjadi Presiden pada pemilu 2009. Itulah gambaran pemerintahan SBY-JK selama 5 tahun lalu. Jadi kesulitan masyarakat hari ini adalah produk dari kealpaan 5 tahun silam itu.
Security Approach
Dalam ketidak-mampuan menjawab tuntutan masyarakat, apalagi ditopang oleh psikologi sebagai kekuatan mayoritas dan dengan potensi kemampuan akomodasi politik di tingkat elit partai, maka dikhawatirkan pemerintah kemungkinan akan menerapkan kebijakan security approach dalam menyikapi radikalisasi yang dapat cenderung meluas. Ini hanyalah pendulum jam yang kembali ke posisi lama, sebagaimana pada masa pemerintahan Orde Baru tempohari.
Sikap represip terhadap radikalisai bisa membuahkan catatan baru yang akan menambah keburukan image Indonesia di mata internasional.
*****
http://www.tempointeraktif.com/hg/nusa/2009/10/28/brk,20091028-204904,id.html
http://berita.liputan6.com/daerah/200910/249132/Demonstrasi.Mahasiswa.Tulungagung.Ricuh
http://antarajatim.com/lihat/berita/19941/demo-mewarnai-peringatan-sumpah-pemuda-di-jatim
http://id.news.yahoo.com/tmpo/20091028/tid-demo-mahasiswa-peringati-sumpah-pemu-5c898dc.html
http://www.indonesiaheadlines.com/index.php?id=608164</
http://www.pontianakpost.com/index.php?mib=berita.detail&id=25357
http://megapolitan.kompas.com/read/xml/2009/10/28/10094831/makna.sumpah.pemuda.bagi.mahasiswa.setia
http://www.arsip.net/id/link.php?lh=BQVSDgYHBAkB
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/280205/
http://e-banten.com/v2/peringatan-sumpah-pemuda-di-warnai-demonstrasi.html

hmmm…. berarti kedepan tampaknya akan ada sebuah pergerakan dari masyarakat yang sifatnya cenderung radikal karena kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat ?? begitu ya kurang lebih maksudnya….
maipura
October 30, 2009 at 9:53 pm
deprivasi relatif tak punya kekuatan penggerak. ketidakpuasan masyarakat adalah indikasi, tp untuk perubahan belum tentu.
nirwan
October 31, 2009 at 8:39 am
Nirwan: HB IX (1966) pernah mengisyaratkan jawaban terhadap keresahan Anda: the leader, the man and the gun. Sejarawan alm Sartono Kartodirdjo (UGM): structural conduciveness saja memang tidak cukup untuk perubahan.
Maipura: Itu sudah rumus yang bisa ditemukan di mana-mana, sepanjang sejarah. Posting ini cuma mengisyaratkan: dalam ketidak-mampuan memberi kesejahteraan rakyat banyak pemerintahan di permukaan bumi ini sering memiilih security approach dan sikap repsesif untuk setiap aspirasi yang berbeda dengan kebijakan pemerintah. Mungkin drama cicak vs buaya yang (untuk sementara) berujung penahahan Bibit dan Chandra sudah dapat disebut proses awal dari situasi yang dikhawatirkan. ‘nBASIS berdo’a agar itu tidak terjadi di Indonesia, dan itu terpulang kepada SBY.
nbasis
October 31, 2009 at 11:22 am
Apa kabar Kang Nbasis?
Numpang woro-woro
Ikuti dan ramaikan Blog Kontes menulis terbaru di penghujung 2009 dan menangkan hadiahnya. Silahkan baca informasi selangkapnya di http://www.indonesiamenulis.com/2009/11/kontes-motivasi-menulis-untuk-blogger.html.
Blogger Indonesia Menulis
October 31, 2009 at 7:19 pm
Sumpah berat Sob…harus baca perlahan-lahan, dengan scrool naik turun
tapi TOP=MarkoTOP.
Small Scale: Seorang anak yang akhirnya dgn tega menghabisi nyawa ayahnya, dikarenakan penindasan mental/fisik yang dilakukan ayahnya-Seperti itu bukan Sob?? CMIIW
robbymilo
November 1, 2009 at 1:43 am
Mas Robbymilo: Maaf, mungkin bahasa yang digunakan posting ini rada susah difahami. “Small Scale: Seorang anak yang akhirnya dgn tega menghabisi …”, ‘nBASIS cuma mampu berdo’a agar Indonesia ke depan lebih baik. Terimakasih.
Kang Blogger Indonesia Menulis: ‘nBASIS, kang bukan Nbasis. Akronim dari Pengembangan Basis Sosial Inisiatif & Swadaya. Semoga sukses rencananya, ya kang!! Terimakasih.
nbasis
November 1, 2009 at 6:08 pm
[...] MENCEGAH RADIKALISASI: TINGKATKAN EMPATI ATAS KESULITAN YANG DIDERITA RAKYAT [...]
Thesis Korupsi: BERHENTI DARI ADU ARGUMEN DI PENTAS POLITIK « 'nBASIS
November 1, 2009 at 10:08 pm
Oh Harus Sob, Indonesia butuh artikel/blog/berita yang tajam. Masukan tajam membuat kita menjadi lebih baik, jangan ragu untuk membuat/memberi masukan yang tajam.
Inget kata guru sastra jama SMA: “Pena lebih tajam dari peluru”
robbymilo
November 1, 2009 at 10:39 pm
[...] MENCEGAH RADIKALISASI: TINGKATKAN EMPATI ATAS KESULITAN YANG DIDERITA RAKYAT [...]
KEPRIHATINAN & PERNYATAAN SIKAP GRUP DISKUSI AKTIVIS 77/78 « 'nBASIS
November 2, 2009 at 12:20 am
[...] MENCEGAH RADIKALISASI: TINGKATKAN EMPATI ATAS KESULITAN YANG DIDERITA RAKYAT [...]
Pemerintah: JALAN PIKIRAN DAN KEPEDULIANNYA « 'nBASIS
November 6, 2009 at 10:58 am