Home » ARTIKEL » Pemilukada Kota Medan 2010: MENAKAR KEKUATAN PASANGAN PERSEORANGAN

Pemilukada Kota Medan 2010: MENAKAR KEKUATAN PASANGAN PERSEORANGAN

AKSES

  • 384,379 KALI

ARSIP


Muhammad Thoriq, Wartawan Waspada Medan, pagi ini, tanggal 2 Maret 2010, melalui surat elektronik,  meminta wawancara seputar kaluklasi kekuatan pasangan perseorangan  dan peluang untuk keluar sebagai pemenang dalam pemilukada kota Medan 2010. Perbincangan soal itu cukup menarik, di tengah harapan adanya model alternatif rekrutmen politik yang lebih demokratis. Sayang sekali hal itu tidak terpenuhi di kota Medan, paling tidak untuk musim ini.

FAKTA yang tidak dapat dipungkiri dalam fenomena politik pemilukada kota Medan tahun 2010 ialah adanya ledakan partisipasi politik yang cukup besar di kalangan elit. Ukuran besarnya partisipasi politik itu didasarkan pada perbandingan jumlah pasangan yang berniat maju dan jumlah pemilih. ‘nBASIS mencatat paling tidak terdapat hampir 50-an orang yang berusaha mendapatkan tiket (partai dan perseorangan) yang akhirnya berhasil mendaftar 9 pasangan perseorangan dan 6 pasangan usungan partai.

Melalui proses veryfikasi administratif dan faktual, akhirnya (mungkin) pasangan perseorangan tersisa cuma 6 pasangan. Kemungkinan besar pasangan partai akan tinggal 5 pasangan dengan catatan Partai Golkar dan Partai Demokrat menjadi tiket bagi Rahudman Harahap – Dzulmi Eldin, dan pertikaian antara Sofyan Tan – Nelly dan Ajib Shah – Binsar Situmorang terselesaikan dengan keberhasilan pasangan yang disebut terakhir memperoleh partai pendukung untuk menggantikan PDS yang bermain ganda.

Sejak awal sudah dipastikan oleh ‘nBASIS bahwa tidak ada satu pasangan perseorangan pun yang berhasil memperoleh dukungan politik penduduk sebagaimana ditentukan oleh peraturan yang berlaku. Indikasinya ialah (1) tidak pernah dilakukan akad politik dengan semua orang yang terdaftar dalam data pendukung pasangan yang diajukan kepada KPUD (2) pasangan calon perseorangan hanya membentuk tim untuk memncari copy KTP pada sumber-sumber penyedia seperti koperasi atau agen-agen khusus yang dibayar bervariasi (3) karena pola seperti disebut pada butir 2 maka terdapat dukungan ganda di antara calon perseorangan itu dan bahkan calon yang maju dari partai politik pun dicatut nama dan KTP-nya (4) pasangan calon selanjutnya menugaskan sejumlah orang bayaran untuk melakukan pemalsuan tandatangan penduduk. Karena itu amat beralasan gugatan warga kepada pihak kepolisian meski dipastikan gugatan ini tidak akan berhasil menggugurkan pencalonan mengingat kualitas kemartabatan demokrasi dan integritas yang bermasalah lembaga independen KPUD.  (5) semua pasangan secara bergerilya melakukan pengawalan veryifikasi administratif dan faktual  agar jajaran KPUD sampai ke PPS meloloskan. Pasangan Rajamin Sirait – Adi Munasip amat tidak masuk akal tak mampu melakukan manuever serupa dengan apa yang dilakukan oleh pasangan perseorangan lainnya. Oleh karena itu tetap tersisa pertanyaan mengapa pasangan ini akhirnya tidak maju.

Dari segi ini angan-angan untuk membangun demokrasi lebih baik ternyata gagal total dengan klausul calon perseorangan. Karena itu pula ‘nBASIS sudah pernah menyerukan 2 opsi terkait calon perseorangan: (1) batalkan semua atau (2) loloskan semua. Opsi mana pun memiliki dasar hukum dan dasar pragmatis (sesuai hukum besi politik yang berkembang).

MENAKAR PELUANG

Apabila calon perseorangan itu berhasil memperoleh akad dari jumlah yang ditentukan sekitar 81.000-an penduduk, maka sesungguhnya jumlah itu sudah hampir sebanding dengan kekuatan satu partai politik yang berhak mengusung satu pasangan. Bayangkan, memiliki tim sukses berkesadaran tinggi dan aktif sebanyak itu, peluang pemenangan sudah begitu dekat. Untuk mencapai kemenangan pasangan ini secara teoritis hanya perlu meminta semua pendukungnya itu membawa antara 6 sampai 7 orang  pendukung baru. Dengan perhitungan jumlah suara sah (dengan mengurangi kemungkinan suara rusak dan golput), capaian perolehan suara sebesar 35-40 % pasti didapat. Namun itu perhitungan teoritis yang tidak mungkin diterapkan di tengah fakta tiadanya satu pasangan calon pun yang mengikuti ketentuan perundang-undangan.

Berdasarkan pengalaman empiris politik yang berkembang dalam pelaksanaan pemilukada sejak tahun 2005, paling tidak ada 7 faktor analisis untuk menakar peluang kemenangan sesuatu pasangan, yakni (1) figuritas (2) networking atau jaringan (3) budegtting atau kemampuan financial (4) trend afiliasi politik masyarakat (5) struktur social masyarakat (6) kemampuan manuever dan (7) hasil survey. Konsep ini diakui dapat dabateble di antara para ahli dan praktisi. Namun keajegannya dalam pengamatan ‘nBASIS selama ini sudah teruji.

Hingga hari ini belum ada hasil survey yang pernah dibuat untuk menelisik kekuatan popularitas dan elektibilitas semua pasangan. Oleh karena itu dalam analisis faktor ini digugurkan.

Dengan menggunakan  ke-6 faktor analisis lainnya, maka kemungkinan pasangan yang akan mengemuka hanyalah Rudolf M Pardede-Afifuddin Lubis. Anehnya, pasangan ini makin dicaci akan semakin menguat. Ada sejumlah bahan cacian yang diarahkan kepada pasangan ini (1) sejarah persekolahan dan perijazahan Rudolf M Pardede yang ssmpai Republik ini bubar pun tak akan berhasil mengingat permasalahan itu sudah teruji diselamatkan oleh 2 (dua) rejim pemerintahan (Mega dan SBY dan sejumlah pejabat Kapolda dan Kajati Sumatera Utara yang menjadi kunci penyelesaian masalah). Dengan terus menerus mencaci pasangan ini akan ada pertumbuhan simpati bukan saja dari kalangan komunitas yang identik dengan Rudolf M Pardede sebagai orang Batak dengan segenap catatan politik tentang itu di kota ini. Mencaci Afifuddin sebagai mesin cuci politik bagi Rudolf M Pardede bahkan dengan menggunakan rambu-rambu sensitif sara juga telah pernah terbukti memperkuat posisi Rudolf M Pardede.

Lagi pula mencaci Rudolf M Pardede soal ijazah ini adalah sesuatu upaya musykil mengingat ia sendiri sudah dilegitimasi tim Irham Buana Nasution (KPUD Sumatera Utara) menjadi anggota DPD. Impossible. Sudah dapat dipastikan bentuk bargaining yang dilakukan oleh KPUD dengan pasangan Rudolf M Pardede-Afifuddin Lubis.

Pasangan yang membayangi mereka adalah Bahdin Nur Tanjung-Kasim Siyo. Namun pasangan ini secara sosial dan politik sudah bermasalah dari awal. Bayangkan Presiden sesbuah organisasi terkuat (Pujakesuma) yang berusia sepuh (pensiun) yang pernah bercita-cita sebagai calon Gubernur, malah hari ini maju secara terbalik. Bahdin yang dulu diposisikan sebagai wakil gubernur hari ini maju menjadi orang nomor satu. Kasim Siyo, menirukan suara-suara sumbang di kalangan komunitas Jawa, dianggap lebih pantas diwakili oleh puteranya (Danu) yang juga seorang politisi yang (sayangnya) belum berhasil masuk ke lembaga legislatif melalui pemilu 2009 dari daerah pemilihan Siantar-Simalungun.

Tidak cukup sampai disitu, Supratikno dan Joko Susilo, keduanya sama-sama ketua Pujakesuma Kota Medan, jelas menambah faktor sulit bagi pasangan Bahdin Nur Tanjung dan Kasim Siyo. Dengan begitu dapatlah disimpulkan kekuatan politik Pujakesuma. Posisi numerical mayority orang Jawa tak berarti sama sekali.

Jika M Arif Nasution – Supratikno benar-benar mampu melakukan penggalangan berdasarkan teori-teori akademis yang lazim dikembangkan di kampus (Arif mantan Dekan FISIPOL USU) sebetulnya mereka bisa berhasil melampaui kekuatan psangan mana pun. Namun, sama seperti yang lain (pasangan perseorangan maupun pasangan partai), M Arif Nasution-Supratikno tidak beranjak dari asumsi-asumsi politik komunal yang untuk sementara tidak mungkin diterapkan lagi mengingat banyaknya titik pengaruh dalam simpul-simpul tersebar.

Dengan kekuatan organisasional dan kedekatan dengan struktur social yang amat menindas saat ini, Delyuzar Harris yang dipasangkan menjadi wakil bagi Indra Sakti Harahap bisa mencuri peluang. Syaratnya ia tetap bisa mempertahankan komunitas yang menjadi kliennya selama ini khususnya di hampir seluruh wilayah Medan Utara. Namun jika tanpa political budget yang mumpuni, semua pasangan, termasuk Indra-Delyuzar akan kandas. Untuk kebutuhan politik kota Medan, kemenangan tidak mungkin dicapai jika satu pasangan tidak memiliki modal antara 50 sampai 100 milyar rupiah, itu pun di luar perhitungan kebutuhan babak kedua. Mengapa begitu besar? Jawabannya ada pada trend politik yang berkembang, yakni politik transaksional.

MAULANA POHAN – ARIF DI BABAK KEDUA

Tampaknya pemilukada kota Medan harus berlangsung 2 babak. Dalam mekanisme itu tampak Maulana Pohan-Arif, Sigit Pramono Asri-Nurlisa Ginting dan Rahudman Harahap-Dzulmi Eldin memiliki rivalitas berimbang. Jika pasangan Maulana Pohan menyadari, dia amat memerlukan dramatisasi untuk merewind memory masyarakat atas kekalahan yang amat ksatria pada tahun 2005. Dengan jumlah perkiraan pemilih sebanyak 1,5 juta Abdillah-Ramli hanya berhasil meghadirkan 780-an ribu pemilih di TPS dan mengantongi kurang lebih 60 % kemenangan dari seoparoh pemilih itu. Itu pun dengan catatan demokrasi yang amat buruk dengan indikasi terlibatnya aparatur pemerintahan mulai dari SKPD sampai kepling, serta pemihakan media massa yang amat tidak sehat. Hari ini aparatur berayun antara pengaruh Maulana Pohan dan Dzulmi Eldin-Rahudman (bukan Rahudman-Dzulmi Eldin, karena Rahudman belum punya tempat di mata mereka).

Ada yang khawatir dengan pengaruh intervensi Syamsul Arifin yang menargetkan Golkar memperoleh kemenangan di sejumlah pemilukada musim ini. Perlu diingatkan, Syamsul Arifin bukan figur berpengaruh lagi untuk perhelatan politik serupa ini. Di kampungnya sendiri, yang dikuasainya 10 tahun, pada saat ia sendiri belum meninggalkan daerah itu secara administratif, dan dengan jabatan barunya sebagai Gubernur Sumatera Utara, ia malah menelan kekalahan amat pahit berhadapan dengan Ngogesa Sitepu. Syamsul Arifin hanya berhasil membawa Asrin Naim, calon Bupati yang diusungnya dengan begitu norak, ke lingkungan pemprovsu.

Salah satu di antara faktor kekalahan Rahudman Harahap-Dzulmi Eldin kelak malah terletak pada kedekatannya kepada Syamsul Arifin yang kekeroposan pengaruh politiknya mengalami peningkatan terus-menerus terlebih setelah dugaan korupsi ratusan milyar di Langkat.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 4,968 other followers

%d bloggers like this: