Home » ARTIKEL » Sebuah Pengandaian Di Tengah Pupusnya Harapan: PEMBERANTASAN KORUPSI ALA UYA KUYA

Sebuah Pengandaian Di Tengah Pupusnya Harapan: PEMBERANTASAN KORUPSI ALA UYA KUYA

AKSES

  • 339,312 KALI

ARSIP

Goodreads


RASA Nasionalismenya tersinggung berat. Pasalnya, setiap saat pergi ke luar negeri, Uya Kuya selalu merasakan pandangan sinis dari orang-orang yang ditemuinya. Ada sikap kurang bersahabat, menuduh dan bahkan mengadili sebagai warga dari sebuah Negara terkorup di Asia Tenggara, dan terkorup nomor 3 di dunia.

“Itu yang saya rasakan dari banyak sorot mata yang ditujukan kepada saya.  Saya seolah dikuliti. Padahal saya ini kan pekerja keras yang tak pernah sedikit pun diuntungkan oleh praktik korupsi dalam bentuk apa pun”, tegas Uya Kuya, sang jagoan hipnotis Indonesia yang sering tampil di layar tv itu.

Maka  Uya Kuya pun merubah scenario kerja dari yang lazim dilakukan “berburu” sasaran. Dengan sedikit koordinasi dengan  pihak penguasa Bandara Soekarno – Hatta, ia pun memulai sebuah perjuangan: memberantas korupsi penuh kesungguhan dan tidak untuk citra.

“Pikir-pikir apa sih missi hidup ini? Aku akan coba berusaha, negeri ini membutuhkan seseorang dengan ketegaran dan yakin sekali rakyat akan mendukungnya. Soal sikap dari instrumen yang lama dan yang baru, tak usah terlalu dipikirkan. Jika ada lead yang kuat membentuk sebuah mainstream, semua itu pasti ngekor aja. Tentu saja sia-sia mengharap Zhu Rongji berdiri di sini, hari ini”, begitu tekad Uya Kuya.

Senin pagi sekitar pukul 09.00 WIB. Kesibukan Bandara sedang akan menanjak ke puncaknya seperti biasa. Ada 3 pejabat Negara yang sedang berjalan dengan kawalan sejumlah pria berotot. Kelihatannya mereka menuju pintu keluar terminal kedatangan. Dengan berjalan agak cepat Uya Kuya mendekat sambil menyapa ramah: “selamat datang  pak. Penerbangannya menyenangkan?

Ketiga pejabat memberi reaksi berbeda, tetapi tetap dalam keadaan was-was. Was-was jika akan dijadikan sasaran oleh Uya Kuya, sebagaimana sering mereka saksikan di tv. Tetapi Uya Kuya tahu persis apa yang harus dilakukan.

“Hari-hati pak, itu ada kulit pisang, katanya mengalihkan perhatian pejabat yang berada paling kiri, dan langsung seperti tersungkur “ke alam bawah sadarnya”. Begitu cepat tindakan Uya Kuya hingga pejabat yang berada di tengah mendadak sontak berhenti dengan posisi tegak hanya karena sebuah simbol kecil berwarna keemasan (Anda tahu itu, pasti) di dada kirinya disentuh Uya Kuya dengan cepat sekali. Dengan sehelai tissue  warna putih pejabat ketiga “diamankan” persis ketika sedesah lidah api kebiru-biruan dari mancis gas kecil mulai membakar dan melalap tissue tipis itu seketika.

“Tidak ada yang jujur di dunia ini. Semuanya pernah berbohong. Tetapi nilai akhlaq paling tinggi tak mengenal bohong. Anda sekarang pada posisi itu. Setuju?”, Uya Kuya memulai, yang disambut dengan tiga jawaban berbeda (yang pertama menjawab “ya” saja dengan nada amat rendah. Yang kedua cuma mampu menganggukkan kepala, dan yang terakhir berucap “betul”).

“Sistem penegakan hukum kita yang amat lemah telah membuat Anda menjadi penguasa zholim, mencuri uang rakyat dan akibatnya Anda sendiri sudah tahu. Sekarang saya hanya ingin membantu Anda bertiga. Hidup sesudah mati akan abadi dan tidak mungkin sorga menyongsong Anda bertiga secara bersama maupun sendiri-sendiri jika tetap dengan habit seperti selama ini: korupsi. Anda membantu membangun sebuah titian kecil menuju sorga untuk Anda sendiri jika memberi jawaban sejujur-jujurnya”.

Semua jawaban rinci ketiga pejabat itu terekam baik oleh kru Uya Kuya dan sudah dalam keadaan siap upload untuk dikirim ke beberapa lembaga nasional dan internasional yang dianggap penting menerima, dan juga untuk sajian utama pada sebuah blog yang dibuat khusus untuk “perang baru melawan korupsi ala Uya Kuya” ini. Bahkan snapshot saat jemari ketiga pejabat itu dengan lincah menandatangani pernyataan tidak keberatan kasusnya dipublikasi juga menjadi bagian penting dari dokumen, yang merupakan antisipasi pemagaran diri Uya Kuya (salah seorang pejabat itu jelas terlihat hanya bisa dan biasa menulis dengan tangan kiri).

“Pagi yang meletihkan”, kata Uya Kuya sambil menyeka keringat di keningnya. Seorang kru rombongan “pasukan perang” anti korupsi ini menyarankan pekerjaan dilakukan berdasarkan peta korupsi nasional. “Sebelum mata hari tergelincir kita harus siapkan peta itu”, kata pria yang rada kerempeng dengan kacamata tebal bertengger di atas hidung.

Uya Kuya setuju, dan tak lama mereka pun sudah memiliki daftar sasaran. Tetapi tiba-tiba Uya Kuya seperti kena hipnotis saat sambil mengunyah sekeping snack hasil industri rumah tangga yang dibawa dari rumah menyaksikan seorang penjaja Majalah TEMPO dengan setengah berteriak melambaikan majalah itu ke arah Uya Kuya, dan berkata: “ini bang, harganya cuma Rp 100.000,- Dimana-mana sudah ludes, sebelum besok diterbitkan kembali. Terbitan yang besok pun belum tentu bisa dapat, ntar keburu disikat lagi. Informasinya khas, dan belum pernah dimuat dan mungkin tak akan pernah dimuat oleh media lain sepanjang sejarah republik ini”. Penjaja itu masih menambah dengan sebuah kalimat merewind memori “boleh jadi, ya boleh jadi, ini akan menjadi kali kedua majalah TEMPO dibredel setelah yang pertama karena pemberitaan eks kapal perang kontroversial yang dibeli pemerintahan Soeharto”.

Uya Kuya meraih majalah itu tanpa kata-kata, dan spontan ia berucap “astagfirullah” sambil memperhatikan indeks yang tertera:

Uya Kuya bangkit dan tanpa kata-kata bergegas sambil meraih daftar yang disiapkan oleh kru bertampang krempeng dengan kaca mata minus yang tebal itu.  Semua kru kelimpungan mengikuti gegas sikap Uya Kuya menuju mobil. Dari raut wajah Uya Kuya kelihatan binarnya semangat, bukan malah rasa takut. Setelah tiada wacana sekitar 15 menit di atas mobil yang melaju dengan kecepatan agak tinggi, Uya Kuya dengan kewibaannya berkata:

“Sekarang missi ini akan kita jalankan terus. Jika ada yang gentar kita persilakan ia cuti saja, dan nanti setelah “perang” ini usai ia boleh kembali bekerja seperti sedia kala dengan sasaran hiburan biasa. Tolong seseorang kontak Teten Masduki, Bang Buyung, Todung Mulia Lubis, OC Kaligis, Bang One, Badan Anti Rasuah, dan semua lembaga Anti Korupsi di Negara Barat dan Timur, termasuk para personil lembaga serupa yang dibubarkan sendiri oleh pemerintahannya karena ketakutan, di negara manapun. Kita ingin kordinasi. Saya ingin kita memperoleh perlindungan hukum yang betapapun itu amat minimum tetapi benar untuk menangani extra ordinary crime ini.   Kita ini stakeholder di negeri ini, jangan ada yang menganggap ini bukan tugas warga negara.

Si kru krempeng ingin memotong pembicaraan, tetapi tak sempat karena Uya Kuya terus “berkhotbah”.

Kalian semua tahu Pansel? Si krempeng nyeletuk: “parsel, ya parsel. Saya tahu. Emang mau kirim sama pak Susno Duaji, Ariel atau siapa, bang?”. “Bukan itu”, sanggah Uya Kuya. Lalu ia “berkhotbah” lagi:

“Antasari di lembaga pemasyarakatan. Bibit dan Chandra agaknya akan menyusul. Panitia seleksi (pansel) sedang asyik dengan pekerjaannya dan dengan spontan pula direspon oleh warga yang ingin menjadi pimpinan KPK”, Uya Kuya meneruskan.

Kemudian Uya Kuya menambahkan lagi: “Telefon lagi tuh semua rekan-rekan pesulap, baik yang menamakan diri mentalis maupun sebutan lain untuk pekerjaan seperti kita. Deddy Corbuzer, Demian,  Rommy Rafael, Limbat, dan lain-lain. Telefon semua. Mereka kita ajak. Mereka kan pemilik sah republik ini juga.  Siapa yang tahu ancaman hukuman untuk missi kita ini jika oleh rezim berkuasa ternyata kelak dianggap menyalahi?  Pasal berapa kita akan dikenakan? Inventaris nama-nama dan telefon mereka yang termasuk bersuara murni dan keras untuk perlawanan terhadap korupsi.

Si tampang krempeng mengkoreksi. “Deddy Corbuzer, Demian, Rommy Rafael, Limbat itu pekerja seperti kita, bang. Bukan ahli hukum dan tak mungkin kita dapatkan pandangan hukum dari mereka”.

Ya, saya tahu itu, jawab Uya Kuya. Mereka partner kita memperluas kolaborasi perlawanan ini. Kita coba berada tetap pada lini terdepan, menjadi lead. dan tanpa teriak-teriak: action, gitu. Saya kira sebelum ke sasaran berikut kita coba singgah di majalah TEMPO sejenak untuk takziah sekaligus acungi jempol kepada mereka di sana. Semua media massa mahir melakukan investigasi seperti ini meski harus disayangkan hanya TEMPO yang untuk saat ini yang mau dan berani ambil resiko”.

[bersambung]

About these ads

8 Comments

  1. kopral cepot says:

    Cerita yg seruuuu … bener kata si abang tukang ngarang … tulisannyah semangkin serius ajah ;)

    Salam buat uya kuya :D

    ‘nBASIS: Serba Sejarah makin asyik.Terimakasih, Kopral.

  2. marno says:

    Cerita ini apa bener…., rekaman dialog Uya Kuya dan rekan-rekan ?
    Atau rekaan karena keberhasilan Uya Kuya membongkar kebohongan pribadi seseorang ??
    Kalau betul, memang dialog Uya Kuya. Mungkin jika Uya kuya membuka jalur dukungan lewat blog di internet, bakal laris. Dan Uya Kuya harus menjadi tenaga konsultan atau apapun bentuknya di lembaga penegak hukum di negeri ini.

    ‘nBASIS: cerita pengandaian tentang kemampuan yang dapat diberikan oleh seorang seperti Uya Kuya dalam pemberantasan korupsi. Ia bisa lebih hebat dari …….”

  3. gunawan orenfield says:

    hehehehe
    mantap juga cerita nya si abg. Tapi bg Tahu tidak kenapa uya uya sangangat di ucil kan apa lagi sama orang yg satu profesi?………

    ‘nBASIS: kita minta mereka semua bersatu, termasuk yang dari Sumatera Utara (Gunawan Orenfield cs). Mungkin itu kan?

  4. ahmad says:

    semangat super buat cerita yang sedikit masuk akal.. kerjakan yang lebih seru lagi bang Uya Kuya.

    ‘nBASIS: Uya Kuya perlu tentukan sikap. ha ha. Terimakasih

  5. [...] tangan riuh gempita, mengalahkan  tepuk tangan “kejujuran” ala realiti show “Uya emang Kuya“… maka tak salah kalo Putu Wijaya bilang “Indonesia adalah tempat yang tepat [...]


    ‘nBASIS:
    its very glad to know you still keep answer the the world

  6. [...] Shohibul Anshor Siregar mengajak “rekreasi” ke sebuah tautan tentang rasa frustrasi yang dalam hingga membuatnya pantas menokohkan figur seperti Uya Kuya pemain hipnotis itu sebagai seseorang yang dianggap mampu melakukan tugas perang melawan korupsi. Tautan itu http://nbasis.wordpress.com/2010/06/29/sebuah-pengandaian-di-tengah-pupusnya-harapan-pemberantasan-k… [...]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 4,926 other followers

%d bloggers like this: