Aku semakin bingung. Maka kutulis pada akun FB-ku demikian “Jika terorisme itu adalah perlawanan terhadap ketidak-adilan, maka alasan apa yang dimiliki oleh dunia untuk tetap menunggu tak adil?” Kususul dengan 2 puisi untuk Abu Bakar Ba’asyir dan Susno Duadji. Indonesia harus diselamatkan, dan aku melengkapi semua keresahan ini dengan puisi ketiga.
PUISI ABU BAKAR BA’ASYIR
Andai sudah ada yang temukan ta’rif terorisme itu.
Andai sudah ada yang mampu memaparkan seluk beluk tuduhan teror dan perburuan manusia yang sedang mewabah itu.
Maka kuyakin kita semua tak akan berhenti meneteskan air mata.
Dan dapat kupastikan bahwa dengan sendirinya moncong senjata pun akan enggan memuntahkan peluru.
Dan kupastikan kita akan dapat memahami kembali makna sebuah kata yang hilang: “damai”
Dan aku yakin sepenuhnya kau tak merasa perlu membenci aku.
Aku yakin sepenuhnya Tuhan tak pernah tidur.
Puisi Susno Duadji: LANGIT RUNTUH DI KEPALAKU
berkali-kali
langit itu telah berkali-kali runtuh di kepalaku
aku merasakan tak ada lagi ketinggian di atas kepalaku
aku tak sedang mengeluh
aku pun tahu
tak memikul langit yang runtuh ini sendirian
aku tahu
anak dan isteriku tak akan mengampuniku selamanya
tatkala kepalaku
tak kuat memikul langit runtuh
jangan
jangan
cucuku yang manis dan lucu itu
kuharamkan menyaksikan kepalaku tak kuat
menjunjung langit runtuh
aku kakekmu
yang sudah berjanji
takkan mundur
satu saat kelak di masa zamanmu meminta
wartakanlah kepada siapa saja
kepada angin
kepada burung
kepada para kuli yang ingin bebas
bahkan kepada para iblis sekalipun
bahwa di sini
di republik ini
ada seorang Susno Duadji
yang berjanji
dan itu kakekmu
dengarkan kakek berkata jujur
seseorang terpercaya dengan kewibawaan yang tak dibuat-buat mencatatkan dengan tegas
sambil bertanya kepada dunia
“kau tahukah mengapa Tuhan mengabadikan Fir’aun dalam kitab suci?”
dan kini aku mampu menirukan
jawaban yang kuterima darinya
“itu supaya kau tak gentar menggebrak Fir’aun versi zamanmu”
Ya Allah
tak ke gunung aku mencari keadilan
tak kata dewa dan dewi yang kunanti di sinii
yang kutahu Dikaulah Yang Maha Tinggi itu
Jika kelak hujan reda dan sungai mengering
gelap malam pun pasti berganti
tibanya mentari pagi menyingsing yang tak terhentikan
maka di hadapanku kini
kugapai ridhoMu ya Allah.
PUISI ANAK INDONESIA
Berilah aku sebuah buku
Yang aku akan sangat ingin membacanya
Karena menceritakan sebuah negeri
Yang tak mau berbohong
Yang tak mau zholim
Yang tak mau mengeluh
Yang tak mau menyembunyikan tangan di bawah
Yang tak mau korupsi
Yang tak mau kehabisan tenaga
Yang tak mau menutup mata
Yang tak mau tidur
Yang tak mau berdosa
Berilah aku sehelai kecil catatan
Yang aku akan sangat ingin mempertahankannya
Tentang sebuah negeri
Yang merasa malu diperdaya
Yang merasa malu berpangku tangan
Yang merasa malu menangis
Yang merasa harus lebih baik mati jika harus tak adil
Berilah aku setetes tinta
Yang warnanya tak pernah pudar
Yang bisa mewarnai jagad raya
Untuk kutuliskan di langit
Untuk menandai kegagalanku berharap
Berilah aku kesempatan
Yang akan membuatku tak akan lagi menyesal seumur hidup
Yang akan membuatku memperoleh barang seserpih rasa bangga
Karena telah merasakan jantungmu berdegup keras
Saat rakyatmu tak lagi makan
Shohibul Anshor Siregar




[...] (Puisi Anak Indonesia, Shohibul Anshor Siregar) [...]
[...] kutuliskan sesuatu dan kuulangi disini dengan maksud aku bukan cuma sedang berbicara kepada Kopral Cepot, [...]
[...] (Puisi Anak Indonesia, Shohibul Anshor Siregar) [...]
…….puisi sikapsamin…….
beratus tahun…kami dijajah
beratus tahun…kami dijarah
bahkan terfitnah…ditanah terfitrah
air-mata kami…kering sudah
keringat kami…terkuras sudah
yang tersisa tinggalah
denyut-denyut aliran-darah
yang makin menggelegak…membuncah
yang siap tercurah
mempertahankan tanah tumpah-darah
tanah terfitrah
atas ketetapan al illah
enyahlah engkau…enyahlah
segala bentuk penjajah..penjarah
bahkan…agama jahiliyah
catatan:
nBASIS yth,
silahkan dikoreksi/dilengkapi
dan bila berkenan diberi judul yg sesuai
hanya ini sekedar goresan uneg-uneg
salam…JASMERAH
‘nBASIS: Puisi Sikapsamin. Hanya itu yang dapat ‘nBASIS sarankan untuk judul puisi yang bagus di atas. Terimakasih telah memberi sumbangan pemikiran filosofis yang menambah semangat anak bangsa untuk bangkit.
[...] (Puisi Anak Indonesia, Shohibul Anshor Siregar) [...]