Home » ARTIKEL » HARI INI ADA 4 WAWANCARA: PAK HARTO PAHLAWAN KITA

HARI INI ADA 4 WAWANCARA: PAK HARTO PAHLAWAN KITA

AKSES

  • 365,154 KALI

ARSIP

Goodreads


[Bagian Kedua dan Empat Tulisan]

Ini bukan masalah hitam putih. Tidak sesederhana itu. Jika saya bercerita kepada Anda tentang kehebatan sebuah koran, itu kan saya seolah mengatakan koran Anda tidak sebaik koran yang saya ceritakan. Lagi pula bagaimana melihat Soeharto menjadi penanggungjawab sebuah daftar dosa panjang dalam kedudukan sebagai pion kecil di tengah kepentingan dunia yang amat meniscayakan?

Membiarkan masalah Timor Timur tanpa kejelasan sikap dan solusi adalah seperti menaruh kerikil di dalam sepatu. Itu kata BJ Habibie suatu ketika dalam wawancara kepada sebuah media nasional. Tetapi lebih menarik lagi ketika BJ Habibie menjawab Najwa Shihab: “Jika semua orang bisa menjadi Pahlawan, itu artinya tidak ada pahlawan”.

Siapa yang lebih memaksa Indonesia harus merebut Timor Timur tempo hari dan setelah berperang sekian lama dengan korban manusia dan material yang tak terhingga pada kedua belah pihak tiba-tiba saja harus diajukan sebuah referendum yang hasil akhirnya menjadi kekuatan hukum yang diakui dalam dunia internasional bahwa Indonesia dengan legowo harus mengakui kenegaraan dan kemerdekaan Timor Timur di bawah kepemimpinan Xanana Gusmao? Bagaimana kisah ketergulingan Bung Karno dengan secarik kertas berisi Surat Perintah Sebelas Maret yang mengukuhkan pak Harto menjadi penguasa baru berordekan dirinya sendiri sambil mengutuk semua masa lalu yang dipaksakan sebagai Orde Lama penuh kutukan? Bagaimana kisah ketergulingan pak Harto yang bukan cuma karena Akbar Tandjung tak mau lagi melanjutkan jabatan kementeriannya di bawah kepemimpinan Pak Harto dan yang dengan sejumlah pengorbanan yang mencatatkan berbagai peristiwa menyedihkan tak cuma untuk mahasiswa dan etnis Cina yang tak sedikit mengalami penderitaan?

Kepergian Presiden Mesir Anwar Sadat ke dekat wilayah Bendungan Aswan setelah terguling, dan saat berkumandang lagu “Wind of Change” dari Scorpion untuk menandai perubahan besar di Uni Sovyet di bawah kepemimpinan Mikhail Gorbachev, bukanlah dua cerita yang ditentukan sendiri sebagaimana halnya penguasa kuat Ferdinand Marcos meninggalkan Malachanang dengan sebuah kesedihan yang diametral dengan masa kegemilangan kekuasaan mereka yang “dipertuhankan”. Lukisan-lukisan sempurna sineas Amerika dengan sajian seperti Green Zone Matt Damon setidaknya sudah memberi penyangkalan bahwa Saddam Husein bukanlah musuh sesungguhnya bagi rakyat Irak.

Katakanlah Iran di tangan Ahmadinejad setelah para pemimpin sebelumnya pernah mempermalukan Amerika, akan terus menerus berusaha memberi bukti bahwa Amerika itu selalu keliru. Klarifikasi sejarah dan politik dunia sedang tergantung di Iran dalam kaitannya dengan “tangan berdarah” Amerika. Boleh saja Israel terus dengan niat buruknya sepanjang masa, tetapi itu hanyalah memperjelas wajah ganda Amerika yang pernah dan tampaknya akan terus menerus memperbaharui jejaknya di mana saja sepanjang tata dunia tetap tunduk pada ketidak adilan yang diinginkannya.

Silang pendapat tentang pengajuan gelar Pahlawan Nasional kepada Pak Harto tak bisa dibendung. Anhar Gonggong tampaknya bukanlah seorang yang sentimentil ketika melakukan penyanggahan-penyanggahan kepada orang-orang yang setuju dengan rencana ini. Jika Partai Golkar menilai hal itu sesuatu yang amat pantas, fahami pulalah tatkala kecenderungan Partai Demokrat untuk menundanya.

Tetapi pak Harto bukanlah sebidang kain yang bisa dengan mudah diidentifikasi keberwarnaanya sebagai putih atau hitam. Tidak sesederhana itu. Pak Harto adalah kompleksitas zaman untuk Indonesia dan kemungkinan saja ada orang yang dengan amat cepat bisa membuat daftar hitam yang lebih panjang ketimbang daftar putih, dan begitu pula sebaliknya.

Tetapi alangkah menyedihkannya buat SBY dengan usulan pemuliaan bagi pak Harto dengan penekanan makna kelebihan Jenderal Besar (bintang 5) ini dalam hal kepemimpinan. Strong Leadership sebagai sebuah ideal type harusnya menjadi keterangan yang definisinya begitu membebani bagi SBY.

Sebuah usul cerdas tak urung muncul di tengah silang pendapat ini. Dirikanlah sebuah perguruan tinggi dengan spesialisasi kajian tata kota untuk mengenang Ali Sadikin. Dirikanlah sebuah institusi besar yang kelak menghubungkan ingatan orang kepada Jenderal Soedirman. Dalam semua peluang memberi apresiasi, tentukanlah sikap bijak untuk pak Harto. Ia tidak sendirian “melukis” apa yang akhirnya disebut sebagai “Soeharto” di negeri yang patut diduga amat sangat dicintainya. Jika mengikuti cara berfikir BJ Habibie, kepahlawanan bukan sesuatu yang mesti diobral. Jika menirukan Kaka dan Bimbim dari Slank, kepahlawanan itu bukanlah komoditi kepentingan dalam perpolitikan.

Shohibul Anshor Siregar

[wawancara dengan Budiman Pardede, jurnalis di Medan]

kpk menahan syamsul arifin

semua pemuda saat ini adalah pahlawan sungguhan

pak harto pahlawan kita

About these ads

4 Comments

  1. kopral cepot says:

    “anak cucu soeharto janganlah kau terus bersembunyi … karena bapak eyangmu adalah pahlawan negeri ini” begitulah kira2 nanti kedepan

    ‘nBASIS:pada saat yang sama resistensi tak akan pernah surut.

  2. [...] HARI INI ADA 4 WAWANCARA: PAK HARTO PAHLAWAN KITA [...]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 4,934 other followers

%d bloggers like this: