Home » ARTIKEL » Seputar Kontroversi tentang Sebutan Batak: SEBAIKNYA AZHARI “DILAWAN” DENGAN DATA

Seputar Kontroversi tentang Sebutan Batak: SEBAIKNYA AZHARI “DILAWAN” DENGAN DATA

AKSES

  • 384,568 KALI

ARSIP


Temuan riset Antropolog Ichwan Azhari tentang eksistensi Batak yang dipublis ke media pekan lalu akan menjadi kontroversi berkepanjangan terutama di kalangan orang Batak. Bagaimana pun juga, Ichwan Azhari telah meruntuhkan mitos yang dipegang teguh sekian lama, dan penjelasannya  tentang Batak sebagai julukan yang konon stigmatif cukup mengguncang.

Namun saya sebagai orang Batak sangat berkeinginan untuk secara dewasa menerimanya, dan satu-satunya jalan untuk “melawan” Ichwan Azhari hanyalah data. Hanya saja Ichwan Azhari dalam menginterpretasi data-data tersedia harus secara cermat membedakan kepentingan data intelijen dan data ilmiah para akademisi. Khusus untuk Indonesia, dan terlebih Batak, data untuk kepentingan lain tentu masih mungkin tersedia, yakni kepentingan missionaris. Itu amat penting bagi ilmuan di negara-negara bekas jajahan.

Dalam komponen akademisi saja masih perlu dipilah antara yang mengabdi kepada kepentingan penguasa dan yang mengabdi untuk kepentingan ilmiah semata. Ilmu sosial telah mencatat keajegan pengabdian “pelacuran” terhadap penguasa betapa pun zalimnya, dan begitu penguasa zalim itu runtuh secepat kilat pula ilmuan sosial tertentu membentengi diri antara lain dengan mencerca penguasa yang baru diruntuhkan.

Tetapi saya yakin Ichwan Azhari berjalan dalam koridor ilmiah yang objektif. Juga saya yakin bahwa sebagai ilmuan sosial tentu ia pun akan amat terbuka dengan sanggahan, karena itu menjadi bagian dari integritas seorang ilmuan.

Distorsi. Tahun 2008 saya pernah menulis tentang Sisingamangaraja XII, dan pada akhir tulisan itu saya nyatakan bahwa dalam konteks Pahlawan Nasional asal tanah Batak ini H Mohammad Said, pendiri Harian Waspada, termasuk orang pertama dari kalangan intelektual Indonesia yang mencoba merintis pendekatan baru dalam menuliskan segala sesuatu tentang diri sendiri (bangsa Indonesia) yang eks jajahan. Di belakang H Mohammad Said mungkin kita bisa mencatat Aqib Suminto. Kini Ichwan Azhari muncul seolah melakukan debunking (penjungkirbalikan) pemahaman paradigmatik yang dianut selama ini. Ini dapat disebut meneruskan rintisan para pendahulu tersebut.

Apa yang dilakukan oleh Uli Kozok, seorang ilmuan asal Jerman, adalah sesuatu keistimewaan pula. Ia memberi suatu perspektif baru tentang perang Batak dan uniknya, karena ia berasal dari Jerman, bahkan sekampung halaman dengan IL Nommensen, missionaris paling berhasil di Tanah Batak.

Baik Mohammad Said, maupun Aqib Suminto, Ichwan Azhari dan Uli Kozok adalah intelektual yang memberi sesuatu yang berbeda kepada masyarakat di tengah kesadaran besarnya distorsi (penyimpangan) tentang sejarah dan pemahaman tentang jati diri sebagai bangsa bekas jajahan.

Temuan Ichwan Azhari. Sebagai identitas etnik sebutan Batak ternyata tidak berasal dari orang Batak sendiri. Orang luar, yang oleh Ichwan Azhari disebut secara halus “para musafir barat”, telah berusaha mengkonstruksi makna baru yang berbeda dengan apa yang pernah disarankan oleh HN van Der Tuuk, misionaris Belanda yang lama bermukim di Tanah Batak sebelum kedatangan IL Nommensen.

Temuan Ichwan Azhari menunjukkan bahwa pengukuhan nama Batak terjadi sekitar tahun 1860-an saat misionaris Jerman yang datang ke tanah Batak.

Ichwan Azhari adalah ilmuan sosial muda dari Unversitas Negeri Medan (Unimed) yang sebelum mengungkapkan temuannya terlebih dahulu melakukan riset mendalam di Jerman. Ia telah memeriksa arsip-arsip yang ada di Wuppertal, Jerman, baik yang tersimpan dalam pustaha (tulisan tangan asli Batak dalam aksara Batak) maupun bahan-bahan lainnya.  Sebuah institusi penting KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde atau the Royal Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies) di Belanda juga telah memberinya keleluasaan untuk risetnya. Dia juga mewawancarai sejumlah pakar Kebatakan di Belanda dan Jerman seperti Johan Angerler dan Lothar Schreiner.

Shohibul Anshor Siregar, Koordinator Umum ‘nBASIS

About these ads

46 Comments

  1. Amri Munthe says:

    Ah… ada-ada saja si Ichwan Azhari..
    Kok yang diteliti tentang Batak tahun 1860-an, masa di mana Raja Sisingamangaraja XII sedang bertahta dan IL Nommensen sedang berekspansi penyebaran misi injilinya.
    Apa sebelum masa misionaris Jerman seperti IL Nommensen, orang Batak dan entitas istilah “BATAK” belum eksis.
    Wikipedia dan banyak blog di internet yang mencatat bahwa Batak sudah ada ribuan tahun sebelum abad ke 18 atau 19. Gimana sih?

    ‘nBASIS: nah, justru di situ letak keistimewaannya. ha ha

  2. Nirwan says:

    Yang marah itu, 99% (tolong dibuktikan) adalah “batak” Toba ya, yang mendukung itu 99% (tolong dibuktikan juga) mandailing, phakpak, karo “dan lain-lain” …

    Prof Bungaran Simanjuntak pun meragukan validitas dan keakuratan data-data di Jerman itu … Lha Prof, data yang benar, valid, reliable n akurat itu yg mana?

    Ichwan Azhari pun pasti disebut “Melayu”. Abis tu, Ichwan pasti kena tuduh “Dalle” hahahaha ..

    ‘nBASIS: soal marah, silakan saja ya selagi masih dianggap produktif. ha ha. soal beda pendapat ya mari tanya guru masing-masing dan periksa bahan bacaan masing-masing. soal Ichwan tak ada yang harus disesali. namanya ilmuan, masak orang Londo saja bikin macam-macam kok wong disini bisa “telan” 100 %? Ikhwan Azhari Indonesia 100 %, dan Kopral Cepot bilang ia juga belum jelas apakah Melayu atau apa, sesuai Perret. Ha ha.

  3. kopral cepot says:

    Sambil baca posting ini … gogling menu tulisan ini “Desertasi Daniel Perret menyimpulkan bahwa baik istilah Batak maupun Melayu bukanlah label etnik, tetapi label budaya (civilized and uncivilized) .. Label Melayu dan Batak menurut Dr.Perret muncul bersamaan pada abad 16.”

    Sebelum “dilawan” dng data biasanyah marah2 dlu :D

    ‘nBASIS: Tks infonya, Kopral. Tukang Ngarang gak marah, malah ngejekin. ha ha. puas dia dengan menyebut “dalle”. Kopral tahu artinya?

  4. Usup Supriyadi says:

    :shock:

    janganlah marah marah dulu ya, kopral… ^^

    banyak hal yang harus saya pelajari soal “Batak” dan memang, banyak juga teman “Batak” saya juga banyak yang tidak terlaru paham tradisinya… tapi saya senang, saya belajar dikit-dikit bahasanya, tariannya, dan leluconnya… :mrgreen:

    ‘nBASI: Kang Us kita sekarang sudah punya seorang Batakolog baru: Kopral Cepot. Kita belajar sama dia. ha ha

  5. nbasis says:

    Setelah pemuatan posting di atas ‘nBASIS telah menerima respons dari Ichwan Azhari. Ia menganggap penting para pembaca tidak menerima sepotong-sepotong penjelasannya.

    “Hasil penelitian sedang saya siapkan dalam bentuk buku sambil melihat respons berbagai kalangan atas pers release saya, memperbaiki mana yang perlu, merevisi mana yang salah, menajamkan mana yang kurang tajam”, paparnya.

    Karena itu ‘nBASIS menganggap penting naskah asli Press release Ichwan Azhari dicantumkan menyertai posting ini. Terimakasih.

    Pers Release: BATAK SEBAGAI NAMA ETNIK DIKONSTRUKSI OLEH JERMAN DAN BELANDA

    Batak sebagai nama etnik (suku) ternyata tidak berasal dari orang Batak sendiri, tapi diciptakan atau dikonstruksi oleh para musafir barat dan kemudian dikukuhkan oleh misionaris Jerman yang datang ke tanah Batak sejak tahun 1860 an. Dalam sumber-sumber lisan dan tertulis, terutama di dalam pustaha (tulisan tangan asli Batak) tidak ditemukan kata Batak untuk menyebut diri sebagai orang atau etnik Batak. Jadi dengan demikian nama Batak tidak asli berasal dari dalam kebudayaan Batak melainkan sesuatu yang diciptakan dan diberikan dari luar.

    Demikian dikatakan sejarahwan dari Unimed, Ichwan Azhari yang mengakhiri penelitiannya selama 2 bulan pada arsip misionaris di Wuppertal, Jerman atas biaya Dinas Pertukaran Akademis (DAAD) pemerintah Jerman.

    Selain meneliti arsip misionaris Jerman, Ichwan juga melengkapi datanya ke arsip KITLV di Belanda, mewawancari sejumlah pakar ahli Batak di Belanda dan Jerman seperti Johan Angerler dan Lothar Schreiner.

    Kata Batak menurut Ichwan, awalnya diambil para musafir yang menjelajah ke Sumatra dari para penduduk pesisir untuk menyebut kelompok etnik yang berada di pegunungan dengan nama bata . Tapi nama yang diberikan penduduk pesisir ini berkonotasi negatif bahkan cenderung menghina untuk menyebut penduduk pegunungan itu sebagai kurang beradab, liar, dan tinggal di hutan.

    Pada sumber-sumber manuskrip Melayu klasik yang ditelusuri Ichwan, seperti manuskrip abad 17 koleksi Leiden juga ditemukan kata Batak di kalangan orang Melayu di Malaysia, sebagai label untuk penduduk yang tinggal di rimba pedalaman semenanjung Malaka. Dalam manuskrip itu, saat Malaka jatuh ke tangan Portugis (1511), Puteri Gunung Ledang yang sangat dihina dan direndahkan oleh teks ini, melarikan diri ke hulu sungai dan dalam teks disebut : ”masuk ke dalam hutan rimba yang amat besar hampir dengan negeri Batak. Maka diambil oleh segala menteri Batak itu, dirajakannya Puteri Gunung Ledang itu dalam negeri Batak itu.”

    Tidak hanya di Malaysia, di Filipina juga penduduk pesisir menyebut penduduk pedalaman dengan streotip atau label negatif sebagai Batak. Untuk itu menurut Ichwan, cukup punya alasan dan tidak mengherankan kalau peneliti Batak terkenal asal Belanda bernama Van der Tuuk pernah risau dan mingingatkan para misionaris Jerman agar tidak menggunakan nama Batak untuk nama etnik karena imej negatif yang terkandung pada kata itu.

    Di Malaysia dan Filipina penduduk yang diberi label Batak tidak mau menggunakan label merendahkan itu menjadi nama etnik mereka. Di Sumatra Utara label itu terus dipakai menurut Ichwan karena peran misionaris Jerman dan pemerintah kolonial Belanda yang memberi konstruksi dan makna baru atas kata itu.

    Dalam penelitiannya di arsip misionaris Jerman di Wuppertal sejak bulan September 2011, Ichwan Azhari melihat para misionaris sendiri awalnya mengalami keragu-raguan untuk menggunakan kata Batak sebagai nama etnik. Hal ini dikarenakan kata Batak itu tidak dikenal oleh orang Batak ketika para misionaris datang dan melakukan penelitian awal.

    Para misionaris awalnya menggunakan kata bata sebagai satu kesatuan dengan lander, jadi bata lander yang berarti tanah batak, merupakan suatu nama yang lebih menunjuk ke kawasan geografis dan bukan kawasan budaya atau suku. Di arsip misionaris yang menyimpan sekitar 100 ribu arsip berisi informasi penting berkaitan dengan aktifitas dan pemikiran di tanah batak sejak pertengahan abad 19 itu Ichwan menemukan dan meneliti puluhan peta, baik peta bata lander yang dibuat peneliti Jerman terkenal bernama Junghuhn, maupun peta-peta lain sebelum dan setelah peta Junghuhn dibuat.

    Peta-peta yang diteliti Ichwan memperlihatkan adanya kebingungan para musafir barat dan misionaris Jerman untuk meletakkan dan mengkonstruksi secara pas sebuah kata Batak dari luar untuk diberikan lepada nama satu kelompok etnik yang heterogen yang sesungguhnya tidak mengenal kata ini dalam warisan sejarahnya. Dalam peta-peta kuno itu kata Bata Lander hanya digunakan sebagai judul peta tapi di dalamnya hanya nampak lebih besar dari judulnya nama-nama seperti Toba, Silindung, Rajah, Pac Pac, Karo dimana nama batak tidak ada sama sekali. Dalam salah satu peta kata Batak di dalam peta digunakan sebagai pembatas kawasan Aceh dengan Minangkabau.

    Kebingungan para misionaris Jerman untuk mengkonstruksi kata Batak sebagai nama suku juga nampak dari satu temuan Ichwan terhadap peta misionaris Jerman sendiri yang sama sekali tidak menggunakan judul bata lander sebagai judul peta dan membuang semua kata batak yang ada dalam edisi penerbitan peta itu di dalam laporan tahunan misionaris. Padahal sebelumnya mereka telah menggunakan kata batak itu.

    Kata Batak yang semula nama ejekan negatif penduduk pesisir kepada penduduk pedalaman dan kemudian menjadi nama kawasan geografis penduduk dataran tinggi Sumatra Utara yang heterogen dan memiliki nama-namanya sendiri pada awal abad 20 bergeser menjadi nama etnik dan sebagai nama identitas yang terus mengalami perubahan.

    Setelah misionaris Jerman berhasil menggunakan nama Batak sebagai nama etnik, pihak pemerintah Belanda juga menggunakan konsep Jerman itu dalam pengembangan dan perluasan basis-basis kolonialisme mereka. Bahkan dalam penelitiannya Ichwan menemukan nama Batak digunakan sebagai nama etnik para elit yang bermukim di Tapanuli Selatan yang beragama Islam. Dalam sebuah majalah yang diterbitkan di Kotanopan, Tapanuli Selatan, tahun 1922 oleh pemimpin orang-orang Mandailing seperti Sutan Naposo, Gunung Mulia dll, mereka menggunakan kata Batak sebagai identitas, bahkan nama media mereka diberi nama Organ dari Bataksche-Studiefonds dan uniknya mereka tidak menggunakan marga Mandailing mereka di belakang nama.

    Saat Keresidenan Tapanuli yang dibentuk pemerintah Belanda berjalan, identitas Batak antara Tapanuli Utara dan Tapanuli Selatan memasuki atmosfir baru dimana Batak diidentikkan oleh orang-orang Tapanuli Selatan sebagai orang Tapanuli yang beragama kristen dan mereka yang di selatan menolak untuk disebut sebagai bagian dari Batak. Tapi penolakan yang berlatar agama dan politik itu tidak menghilangkan konstruksi misionaris Jerman dan kolonial Belanda yang lebih dulu masuk dan menyebut mereka bagian dari Batak.

    Di Tapanuli Utara sendiri, dikalangan orang Batak juga terjadi pergumulan pemikiran berkaitan dengan identitas kata Batak ini. Di arsip misionaris Jerman Ichwan juga menemukan tulisan-tulisan tangan dan penerbitan pemikir awal Batak yang mencoba merumuskan apa itu Batak menurut orang Batak sendiri. Tapi bias misionaris dan kolonial nampak dalam pergumulan orang Batak ini.

    Konsep dari misionaris Jerman yang semula menggunakan kata Batak untuk kelompok masyarakat yang tinggal di kawasan Tapanuli Utara saja, menurut Ichwan, dipakai Belanda lebih lanjut untuk menguatkan cengkraman ideologi kolonial mereka. Perlahan-lahan konsep Batak itu mulai meluas dipakai Belanda termasuk sebagai pernyataan identitas oleh penduduk di luar daerah Toba.

    Peneliti Belanda juga kemudian merumuskan konsep sub suku batak dalam antropologi kolonial yang membagi etnik Batak dalam beberapa sub suku seperti sub suku Batak Toba, Batak Mandailing, Batak Karo, Batak Simalungun serta Batak Pak Pak. Menurut Ichwan, konstruksi Belanda ini sama sekali tidak diperkenalkan apa lagi dipakai para misionaris Jerman selama lebih 50 tahun keberadaan mereka di tanah batak.

    Dalam antropologi di Indonesia moderen konsep sub suku Batak made in Belanda itu kemudian di copy Payung Bangun dalam buku Manusia dan Kebudayaan Indonesia yang diedit Koentjaraningrat. Konsep sub suku batak merupakan konstruksi konsep kolonial yang dalam perjalanan sejarah berikutnya terbukti tidak tepat dan ditolak sendiri oleh kelompok-kelompok etnik yang dikenakan label Batak tersebut.

    Kini orang Karo, Pak Pak, Simalungun serta Mandailing menolak disebut Batak yang dikonstruksi antropologi kolonial. Peneliti dari generasi baru Perancis, Daniel Perred yang baru-baru ini menerjemahkan disertasinya dalam bahasa Indonesia (2010), menurut Ichwan juga melihat adanya kesulitan dalam menggunakan konsep Batak sebagai nama etnik. Untuk itu jalan yang dipakai Perred adalah menggunakan kata Batak sebagai konsep kultural atau budaya ketimbang nama kelompok etnik. Boleh jadi menurut Ichwan ini juga merupakan konstruksi baru yang dirumuskan Perred.

    Ichwan menyimpulkan bahwa kata Batak baik sebagai sebuah pernyataan dan ekspresi identitas, sebagai nama suku dalam konsep antropologi ataupun sebagai nama kawasan kultural dan geografis akan terus mengalami perubahan makna dan interpretasi baik dikalangan akademisi maupun dikalangan mereka yang disebut atau menyebut diri sebagai Batak.

  6. [...] Betapapun, menegakkan kebenaran dalam sejarah bangsa kita adalah urusan kita semua. Dan bagi para intelektual, kontroversi apapun maka sebaiknya DILAWAN DENGAN DATA… [...]

  7. Humala says:

    Artikel yang menarik, mungkinkah si Azhari sudah membaca pustaha-pustaha “Batak”? kalo belum berarti tidak sah, dengan mengatakan kata “batak” itu sesuatu yang direkayasa oleh orang luar untuk diberikan label kepada penduduk pedalaman tanpa membaca pustaha-pustaha batak. Menarik pula untuk diteliti

    kalo dibilang identitas “Batak” itu sesuatu yang diberikan oleh bangsa asing, apakah sodara-sodara kita dari Toba itu (yang notabene paling getol dengan kebatakannya) harus menanggalkannya dan mencari identitas yang baru? Ato cukup dengan bilang sekarang hanya suku Toba saja? Bagaimana kita yang parselatan? Mungkin baiknya kita bilang kita ini Suku Sipirok ato Suku Angkolanya saja,tanpa embel2 batak biar ga ada identitas budaya kita yang didikte orang-orang barat hehehe

    Kalo diliat artikelnya Ichwan Azhari (dan mungkin peneliti yang lain) bahwa kata “Batak” itu identik dengan hal-hal yang merendahkan, berarti mesti diberikan penghargaan pula buat para leluhur orang “batak” yang secara sukarela mengambil nama “Batak ” sebagai identitas pembeda dengan suku tetangganya. Sehingga dengan menggunakan identitas “batak” seolah-olah mengatakan kepada mereka yang katanya “berbudaya” itu, “Ya kami Batak, inilah kami”.

    Masalah identitas suatu suku bangsa, memang menarik. Banyak sebenarnya identitas itu yang diberikan oleh orang yang berada diluar suku bangsanya dan mungkin tidak tahu menahu asal sejarahnya. Seperti suku Betawi, apakah mereka tahu bahwa kata betawi itu berasal dari Batavia yang sebenearnya merupakan suku bangsa Germanic yang bermukim di Belanda? Ato sejak kapan penduduk Jawa menamakan dirinya sendiri suku bangsa Jawa? Orang dayak? Atau bangsa Indonesia sendiri secara keseluruhan? Kata “indonesia” sendiri pun bukan orang dari kepulauan nusantara ini yang “menciptakannya”. Mestinya individu-individu yang sangat anti dengan apapun yang diberikan atau diciptakan oleh orang Barat/Kolonial menolak kata “Indonesia” ini dan menggantinya dengan yang baru sehingga nama Negara ini akan berubah menjadi Republik Nusantara atau mungkin Kedatuan Nusantara biar pas rasa anti baratnya hehehehe.

    Mengenai distorsi, ga ada yang paling mendistorsikan pemahaman sejarah selain MO Parlindungan hehehe

    ‘nBASIS: Sebetulnya sebelum Ichwan Azhari Perrez (Perancis) sudah lebih dahulu menghasilkan karya disertasi mengenai hal yang identik dengan pokok bahasan posting ini dan sedikit banyaknya telah diceritakan oleh Usman Pelly dalam tulisannya pada harian lokal Medan Juli tahun ini. Melalui penelitiannya (1990-1993) Perrez menghasilkan (1995) sebuah buku berjudul La Formation d’un Paysage Ethnique: Batak & Malais de Sumatra Nord-Est. Kini (April 2010) buku itu sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Kolonialisme dan Etnisitas: Batak dan Melayu di Sumatra Timur Laut. Saat ini kita belum dapat memperbandingan keduanya (seberapa besar persamaan dan perbedaan sorotannya), karena buku Ichwan Azhari masih dalam proses penyempurnaan.

    (1) Sepanjang mengikuti penjelasan Ichwan Azhari dalam press releasenya belum lama ini, tampak ia dalam masa dua bulan penelitiannya sudah melakukan penelaahan arsip misionaris di Wuppertal, Jerman dan arsip KITLV di Belanda. Juga mewawancarai sejumlah pakar ahli Batak di kedua negara itu seperti Johan Angerler dan Lothar Schreiner. Jika terdapat ”Pustaha-Pustaha Batak” lainnya yang memiliki informasi berbeda dengan sumber yang diakses Ichwan Azhari, tentu itu amat menarik.

    (2) Menurut hemat saya rekayasa dari luar masih terlalu dini untuk dituduhkan saat ini dan dasar tuduhan itu amat lemah. Tetapi ada baiknya juga ditelaah kutipan berikut, mungkin bermanfaat:

    Batak dalam Tanda Kutip
    Lubabun Ni`am

    PADA Juni 1993, Daniel Perret, seorang Prancis dengan kemampuan cakap berbahasa Indonesia datang kepada antropolog senior Universitas Negeri Medan Profesor Usman Pelly. Perret datang membincangkan rancangan riset doktoralnya yang prestisius sekaligus sensitif mengenai identitas “Batak” dan Melayu sepanjang periode kolonialisme. Sejak 1990 sampai 1993, dia menggelar penelitian lapangan dengan cakupan wilayah Indonesia timur laut–di mana manipulasi identitas “Batak” dan Melayu dibangun untuk kepentingan para kapitalis perkebunan.

    Juli lalu, dalam forum diskusi buku di Medan, Perret kembali dengan sumringah. Usman Pelly–jebolan University of Illnois, Amerika Serikat, dengan disertasi Urban Migration and Adaptation in Indonesia: A Study of the Minangkabau and the Mandailing Batak Migrants in Medan, North Sumatra–pun melihat Perret tak hanya kembali dengan gelar doktornya. Perret, lanjut Usman, tegas mengusung kesimpulan betapa dikotomi “Batak” dan Melayu merupakan strategi kolonialisme pemerintah Belanda. Buku inilah karya Perret yang dimaksud.

    Buku ini lebih dahulu meluncur di Prancis pada 1995 dengan judul La Formation d’un Paysage Ethnique: Batak & Malais de Sumatra Nord-Est. Penerbitnya Ecole francaise d’Extreme-Orient (EFEO), satu badan penelitian bergengsi milik Prancis yang bergerak di ranah ilmu sosial (antropologi, arkeologi, filologi, sastra, dan sejarah) untuk kawasan Timur Jauh, termasuk Indonesia. Pada 1952, sejarawan Louis-Charles Damais adalah orang yang kali pertama membuka cabang EFEO di Jakarta. Sejak itu, peneliti-peneliti EFEO rancak menyelusup ke bagian barat Indonesia.

    Semula Daniel Perret mengajukan riset ini sebagai disertasi doktornya di Ecole des Hautes Etudes en Sciences Sociales (Paris) pada 1994. Dari dinding kampus tersebut, nama filsuf Jacques Derrida, yang tersohor dengan konsep dekonstruksinya, tercatat sebagai seorang guru besar yang sangat berpengaruh. Tatkala Perret merampungkan risetnya, Institut National des Langues et Civilisations Orientales, Prancis, mengganjarnya dengan Penghargaan Jeanne Cuisinier.

    Pengaruh konsep dekonstruksi Derrida terekam kuat di sekujur buku ini. Biarpun tak memberi banyak ruang pada bahasan teoretis, bahkan nama dan karya Derrida pun tak ditemukan dalam daftar pustaka, Perret menuliskan karyanya secara dekonstruktif. Perret bergerak dari kegelisahan Rita Smith Kipp, profesor antropologi University of Michigan, AS, yang dalam Beyond Samosir: Recent Studies of the Batak Peoples of Sumatra (1983) sempat “mengakui” begini: ”Sebagai ahli tentang Indonesia dan antropolog, kita nilai berguna dan bahkan perlu adanya kategori ‘Batak’ serta subkategorinya. Kategori dan subkategori itu melambangkan sebuah kepakaran tertentu, memungkinkan untuk melabel pengetahuan kita…. Kita menciptakan orang ‘Batak’.” Inilah yang dikatakan Perret sebagai manipulasi identitas “kelompok etnis”.

    Perret sedemikian berhasrat untuk menggugat bangunan ilusif Barat semacam itu. Perret memahami benar bahwa, sebagaimana di Afrika, konsep “kelompok etnis” merupakan alat yang diciptakan dan digunakan oleh pemerintah kolonial untuk mengontrol penduduk lokal. Dalam konteks ini, “Batak” dan Melayu merupakan entitas sosial yang bergantung satu sama lain, berinteraksi dalam hal pengolahan lahan bahkan sampai berkeluarga, sejak setidaknya akhir milenium pertama Masehi hingga akhir abad ke-19.

    Baru pada paruh pertama abad ke-19, kata Perret, orang Barat mengutarakan pandangan dan menciptakan peta mereka berdasarkan serentetan perbedaan yang dianggap mendasar antara penduduk pesisir (Melayu) dan pedalaman (Batak). “Batak” adalah the others yang dianggap membahayakan Belanda dalam memperoleh konsesi dari para penguasa lahan, yakni sultan-sultan Melayu. Islamisasi orang-orang pedalaman, salah satunya, dianggap akan mengacaukan proses kolonisasi Sumatra, terutama lantaran Belanda juga tengah gencar-gencarnya menggulung gerilya prajurit-prajurit Aceh di saat bersamaan.

    Untuk itu, label dan “kesadaran” etnis ditumbuhkan, sampai-sampai memecahkan Perang Sunggal (1872), perang saudara antara etnis “Batak” dan Melayu. Sebutan “Batak” dikapling menurut batasan geografis, yakni mereka yang tinggal di pedalaman dan lereng pegunungan Bukit Barisan. Mereka inilah yang dalam literatur Barat disebut sebagai “etnis” kanibal dan kasar. Sebuah label etnisitas yang kini mengeram di kesadaran awam, yang sejatinya terus bertahan bahkan ketika masa kolonialisasi Belanda telah tamat lebih dari setengah abad silam. “Batak” yang kita kenal kini sejatinya label budaya hasil konstruksi kolonial.

    Karena itu, jangan heran ketika Anda menemui kata “Batak” yang diapit tanda kutip di sekujur halaman buku ini. Di titik itulah, pemahaman semiotik kita tentang “objek etnis” Batak terbangun, justru dari karya dekonstruktif dengan pendekatan sejarah. Buku Perret ini berhasil mendudukkan diri sebagai riset antropologi-historis seputar identitas “Batak” dan Melayu termutakhir yang monumental dibandingkan studi para etnolog Sumatra sebelumnya.

    Sayang, Perret tak begitu saja “menyerang” para ahli etnografi dan pelaku kolonialisasi. Kelakuan mereka, dalam pandangan Perret, “tidak selalu berarti telah menciptakan satuan-satuan fiktif atau nama-nama secara acak, tetapi memberi kesempatan untuk memetakan gerakan pasang-surut berkaitan dengan identitas, yang dipastikan telah ‘menghidupkan’ berbagai jejaring dan ruang sepanjang zaman yang diteliti di sini”. Argh, seperti itulah!

    Puncak kata, saya rasa tak berlebihan bila kita menakar Daniel Perret dan “monumen” ini sedalam tarikan nafas Edward Said dalam buku Orientalisme-nya, “…mereka telah memahat suatu bidang kajian dan sekumpulan gagasan yang pada gilirannya menciptakan komunitas cendekiawan yang silsilah keturunan, tradisi-tradisi, dan ambisi-ambisinya bersifat intern bagi ranah kajian itu sendiri, bahkan bersifat cukup ekstern untuk menjadi prestise umum.” Prestise intelektual yang mendekonstruksi dikotomi budaya “Batak” dan Melayu.”

    (3) Konon Amerika sendiri pun bukanlah nama yang diputuskan sendiri oleh orang Amerika untuk dirinya. Begitu juga ”Moro” di Filipina. Karena itu identitas kebatakan sesuai konsepsi diri yang ada saya kira tidak perlu menjadi surut pada diri orang Batak dan pendukung kebudayaan Batak di manapun, dan kapan pun. Silakan saja diteruskan dengan gegap-gempita.

    (4) Dalam kajian Ichwan Azhari dan pendahulunya dalam kasus ini, Perret (Perancis), malah tidak ada pendahulu yang menobatkan nama Batak itu untuk dirinya, melainkan orang lainlah yang berusaha mengkonstruksi yang dalam istilah kedua ilmuan ini disebut ”musyafir Barat”.

    (5) Jika demikian tidak ada sesuatu yang patut diresahkan, biarkan saja sejarah berbicara apa adanya.

    (6) MO Parlindungan? Ha ha. Jadi teringat kegandrungannya mengucap ”Sony boy !!!!”

  8. Monang says:

    sejak kapan ya bangsa yang bermukim di panyabungan, kotanopan, pakantan dan sekitarnya menyebut suku bangsanya sendiri mandailing? kok ga ada penelitian tentang hal ini? pustaha-pustaha ada ga yang menyebut-nyebut “mandailing”? kok ga ada literatur2 kuno melayu yang pernah menyebut-nyebut tentang ‘bangsa mandailing” yang konon bukan batak dan berasal dari turunan Iskandar Zulkarnaen? Knapa ga ada yang membahas kekaburan dan ketidakjelasan penamaan bangsa mandailing? Bangsa sipirok ato angkola? Apa ada yang pernah membahas tentang asal-usul penamaan sipirok atau angkola? Saya pengen tau istilah apa yang dipake orang melayu jaman bahela untuk menyebut penduduk yang bermukim-mukim di panyabungan, kotanopan, pakantan dan sekitarnya tersebut sewaktu sebelum memeluk Islam.

    yang saya tangkap, sepertinya penelitian si Ichwan Azhari ini ingin kembali merekonstruksikan kembali memori-memori purba bahwa kata “batak” itu adalah hal yang memalukan, merendahkan, tak beradab, kanibal dan merupakan hasil rekonstruksi orang-orang misionaris demi lancarnya kristenisasi…dengan kata lain si Azhari ini ingin mengatakan penduduk yang sekarang berada di kabupaten Tobasa, Humbahas, Taput, dulunya adalah orang yang ga punya identitas diri, ga punya kebudayaan, ga beradab . Dan kesan yang saya tangkap sepertinya menjadi Kristen itu berarti sama dengan penjajah dan misionaris sepertinya orang yang harus disalahkan atas pembetukan identitas-identitas ini.

    Memang beginilah nasib bangsa Indonesia dalam merenungi sejarah atau identitasnya, salah satunya bangsa “Batak” . Apakah harus kita orang Batak masakini meninggalkan nama “batak” ini dengan identitas baru sebagai bangsa Toba, atau Bangsa Tapanuli? agar tak dicap oleh suku-suku tetangganya sebagai suatu suku bangsa yang didikte atau disuapi oleh bangsa Barat?

    ‘nBASIS: (1) Banyak hal memang selalu terbuka untuk telaahan, dan barangkali pula banyak di antaranya yang belum diketahui kejelasannya atau masih dalam taraf penelaahan para ahli yang memberikan waktunya untuk itu. (2) Kalau saya sendiri lebih mudah mengatakan bahwa masalah-masalah itu bukan tidak ditelaah. (3) Peran missionaris di Tanah Batak juga tidak luput dari telaahan.Aqib Suminto dan Uli Kozok telah memberi waktunya untuk itu dan menghasilkan sesuatu: suka atau tidak suka. (4) Saya ingi mengatakan kepada diri saya sendiri “Tetaplah dalam Batak, dan Batak itu keren”. Itu pula yang secara optimis saya tawarkan. Ha ha. (5) Apakah pak Monang ini Senior bermarga Naipospos yang bermukim di Hutatinggi?

  9. Monang says:

    Wah semoga karya ilmiah si Ichwan Azhari ini dibentuk menjadi suatu buku, sehingga menambah literatur kita tentang kebudayaan kita, dan ada baiknya pula si Ichwan Azhari ini kita beri marga, biar mempererat hubungan “Batak” dan Melayu…mungkin marga Siregar?

    Salam Kenal ‘nBASIS, saya bukan Senior bermarga Naispospos di Hutatinggi, saya hanya Junior dari rumpun NAIRASAON Parjakarta

    ‘nBASIS: sama-sama berharap, dan memang ia berjanji sedang finalisasi karyanya itu. Ia (mungkin) lebih suka Nairasason daripada Lottung. Nanti kita tawarkan, sebagaimana orang Balige pernah memberi marga Siahaan kepada Edward Bruner peneliti dari Inggeris, dan Marpaung kepada Usman Pelly “our brother from Minang. Suzan Rogers tampak senang sekali di Sipirok sehubungan diberi Siregar (ha ha). Salam kenal, sukses di perantauan (Jakarta).

  10. frian says:

    qta g bleh lngsng marah dulu,
    tp saya harap paK ichwan menunjukkan data2 yang telah di teliti itu ke publik,agar publik khusus nya orang batak tidak resah atas pernyataan pak ichwan ini…………………
    terima kasih……

    nBASIS: terimakasih sarannya

  11. Agus Rumapea says:

    Apapun motivasinya, pendapat saya biarkan si ichwan berpendapat, semoga dia bisa mempertanggungjawabkannya sebagai seorang akedemisi yang bermoral.

    Bagi kita yang benar2 BATAK, silahkan menanggapinya dengan cara yang objectif pula. Bagi yang “banci”, oportunis batak, yang dikala perlu jadi batak, kala dicibir jadi melayu, yah silahkan pula tidak ikut2an memberi penekanan seakan2 pemikiran ichwan sudahlah satu2nya kesimpulan, seperti yang dilakukan nBASIS dalam setiap memberi tanggapan atas setiap koment di blog ini.

    Bagi saya pribadi, apakah saya disebut etnic Batak, ataukah, etnic Toba, atau Samosir, yang penting adalah Filosofi Sosial, nilai2 hidup, semangat juang, kesadaran komunal, dan lain-lain dari suku saya telah teruji. Walaupun mungkin benar kami orang gunung, yang katanya barbar, tetapi setidaknya di Indonesia tercinta ini, suku kami benar-benar diperhitungkan.
    Horas Bangso Batak!
    Horas

    ‘nBASIS: Keinginan kuat untuk membantah Ichwan Azhari semoga tidak menjadi larut ke lain sisi di luar kehendak menyajikan data yang diperlukan.

  12. [...] dalam mengsikapi temuan Ichwan Azhari di serukan oleh Pak Shohibul Anshor Siregar, Koordinator Umum ‘nBASIS, menurut beliau ,  Ichwan Azhari bahkan sebelumnya sejarawan Mohammad Said, maupun Naqib Suminto [...]

  13. [...] dalam mengsikapi temuan Ichwan Azhari di serukan oleh Pak Shohibul Anshor Siregar, Koordinator Umum ‘nBASIS, menurut beliau ,  Ichwan Azhari bahkan sebelumnya sejarawan Mohammad Said, maupun Naqib Suminto [...]

  14. THE SIMPLE WORD of THE WISE MAN said:

    “Masa ada sih orang yang mau menyandang gelar/sebutan yang diberikan orang lain untuk merendahkan apalagi menghina.”

    1. Anton (terserang Polio, dan akhirnya pincang), dia selalu memperkenalkan dirinya sebagai “Anton Mangkunegara” sebagai nama aslinya
    2. Linda seorang PSK, setiap dia melintas di gang tempat dia tinggal oang-orang selalu mencibir dan meneriaki Linda dengan sebutan “Linda L***e, P***k”, dll. Tapi dia hanya akan mau menoleh bila dipanggil dengan nama pemberian orang tuanya yaitu “Linda Maharani.”

    Apakah Ichwan Azhari termasuk THE WISE MAN ??? he he he,,,

    ‘nBASIS: mungkin ia tak butuh penyematan status itu

  15. Hesperonesia says:

    Batak sudah ada setidaknya 8.000 tahun yang lalu
    silahkan check

    http://hesperonesia.wordpress.com/

    ‘nBASIS: terimakasih atas informasinya

  16. roy batak israel tupang says:

    cukup 2 kata.. fuck ichan azhary,padang pantek

    ‘nBASIS: Padang itu bisa nama sebuah kota di Sumatera Barat. Rem emosimu. Itu tak bermanfaat bagi peradaban suku paling terbelakang sekali pun

  17. roy batak israel tupang says:

    nBASIS sma aj loe padand pancilok

    ‘nBASIS: Dengan cara seperti ini bagaimana kamu bisa menjadi penyumbang pikiran yang baik untuk sebuah masalah? Emosimu memperkenalkanmu sebagai seseorang yang sebetulnya tak boleh masuk dalam forum seperti ini. kau bisa melempar batu besar ke atas kepalamu tegak lurus, dan tunggu grafitasi. selesai urusanmu

  18. wakhinuddin says:

    Artikelnya membuat konflik dan provokatif …..

    ‘nBASIS: Itu tergantung pada yang membaca. Tetapi tak ada maksud provakatif di sini.

  19. mega malindo says:

    Kita orang batak harus berbangga hati atas penelitian Ichwan Azhari ini,tetapi dia salah sampai jauh-jauh ke jerman untuk mencari apa arti kata Batak. Arti kata batak itu berbeda dengan kata Me-layu atau Malai,melayu itu adalah sebuah sebutan atau gelar sementara kata batak adalah sebuah nama yaitu nama sebuah pohon kayu yaitu kayu batak yang menurut sejarahnya kayu batak tersebut hanya ada tumbuh di tanah batak yang dubuat oleh nenek moyang orang batak menjadi tongkat bahasa bataknya tuk-hot kayu batak yang dibuat menjadi tukkot Sisia lagundi.

    Menurut sejarah tongkat inilah tuk-hot kebesaran para Mangaraja batak dulu Ciri-ciri kayu batak kurang lebih sebagai berikut:

    1.Pohonnya paling besar berdiameter 20 cm.
    2.Setinggi 2 s/d 2.5 meter tidak bercabang pangkalnya kebawah lebih besar.
    3.Daunnya kecil seperti daun JIOR.
    4.Kulit pohonny tipis.
    5.Bagian tenngah dlm kayu warna hitam,bagian luar putih getahnya merah

    Menurut legenda ke saktian dari pada tongkat Sisia lagundi ini hampir menyerupai tongkat nabi musa.Maka arti Batak adalah tuk-hot yang maksudnya tuk itu sampai dan hot itu adalah tetap.Maka ada umpasa Batak mengenai tukhot ini.Tuat na dolok martukkot si sia lagundi pinukka di parjolo diulahon na di pudi.

    Menurut adat batak dulu hanya ada dua Tuho parngoluan orang batak secara garis besar yaitu:
    1.Poda ni agama Mulajadi Nabolon.
    2.Poda ni tuk-hot si sia Lagundi.

    Menurut sejarah nenek moyang orang batak ada terjadi masa kegelapan pertama dan kedua di tanah batak.Masa kegelapan pertama yaitu masa meletusnya gunung Toba atau rentetan letusan kesekian kali setelah letusan gunung toba yang maha dasyat yg terjadi 70.000 thn yg lalu setelah ada peradapan manusia di kaki bukit tuba itu.Mengakibatkan peradapan bangsa batakpun punah termasuk tukhot SI Sia Lagundi tersebut.Masa kegelapan kedua orang batak yaitu masa datangnya kepercayaan parmalim.Dimana saat itu sesama bangsa batak tidak dapat lagi duduk bersama melaksanakan pegelaran adat batak dalihan natolu.Karena kepercayaan malim yang datang dari mesir mengharamkan daging babi sementara adat batak dalihan na tolu tidak dapat di laksanakan tanpa daging babai atau lomok-lomok.

    Sementara kata Malai menurut bahasa batak Ma dan kata dasar Lai yang artinya sbb: Lai artinya dauk-dauk meleleh atau lebur,hilang tak berguna.Lailai terdapat pada ekor ayam yang selalu mengarah kebawah,tidak ada gunanya malah menjadi gangguan utk berjalan dan berkelahi.Kata melai dalam bahasa indonesia MELAYU atau MA-LA-YU atau jadi Layu.Jadi kata-kata melayu itu dalam bahasa batak adalah sebuah sebutan bahwa yang bersangkutan sudah meninggalkan marganya dan adatnya sehingga tidak lagi orang batak.

    Orang batak yang meninggalkan tanah batak atau kampung halamannya dpt di bagi tiga golongan:
    1.Borhat tu tano parserahan(atau membuat perkampungan bar mangombang.
    2.Borhat mangaratto.
    3.Borhat gabe malai.

    ‘nBASIS: tingkat kesahihan ungkapan-ungkapan seperti ini yang membuat orang (akademisi) mencari sumber lebih terpercaya sampai ke lain-lain tempat. ia tak cukup “menelan” begitu saja pemahaman yang ada dalam dalam masyarakat yang ia teliti.

  20. mega malindo says:

    pendapat para sejarawan atau antropologi yang menyatakan adanya suku atau ras melayu tua dan melayu muda kelihatan ini tidak begitu akurat.Karena setahu saya yang di katakan Melayu itu atau suku melayu itu adalah suatu melting vote.yaitu perkumpulan dari berbagai suku yang di ikat dengan berbahasa melayu,berpakaian melayu dan beradatkan adat melayu ber Agama Islam dan mayoritas tinggal di tepi pantai.Inilah ciri-ciri melayu.Jadi dimana manapun sewaktu-waktu bisa saja terjadi penambahan warga pada kelompok suku melayu.Sebagai contoh bangsa Dayak di kalimantan apa bila dia kawin dengan malayu dan masuk islam dia otomatis sudah mengakui dirinya suku melayu atau dayak yang masuk islam dia selalu tidak lagi mengakui dirinya suku dayak tapi sudah menjadi melayu.Demikian juga batak apa bila dia sudah menjadi beragama islam meninggalkan marganya dan adatnya adat batak otommatis dia sudah mengakui dirinya suku melayu.Kalau perubahan ini dapat di artikan melayu muda,apakah suku dayak dan batak tadi yang masih tetap mempertahankan adat agama dan marganya dapat di katakan melayu tua.Karena sementara ciri-ciri suku melayu sudah jelas seperti di atas tadi.

    ‘nBASIS: begitukah?

    ‘nBASIS:

  21. mega malindo says:

    sebelum datangnya Pengaruh Kesultanan Aceh tanah Alas sudah mengenal yang namanya sistem Kerajaan yang di mulai dengan kerajaan mbatu bulan yang di dirikan oleh Raja lembing anak dari Raja lotung dari Tanah Samosir Laut yang di ikuti oleh berdirinya kerajaan Bambel, dan kerajaan mbiak moli. Berbeda dengan daerah inti Kesultanan Aceh Darussalam yang memimpin setiap Mukim adalah Ullebalang, Di Tanah Alas dan Gayo Lues tidak mengenal sistem Mukim melainkan Kejuruan yang masing-masing kejuruan di perintah oleh Geuchik yang langsung bertanggung jawab kepada Sultan di ibu kota kerajaan Banda Aceh. pada masa Sultan Iskandar Muda Tanah Alas di bagi menjadi Dua kejuruan yakni kejuruan Bambel dan Kejuruan Mbatu bulan yang masing-masing kejuruan telah mendapatakan Cap Sikureung dari Kesultanan Aceh Darussalam selain cap sekureung Sultan Iskandar Muda juga memberikan sebuah Bawar Pedang(sejenis Tongkat komando).
    Ada sebahagian pendapat orang bahwa bangsa batak atau sub suku toba tidak pernah ada kerajaan.Tetapi menurut keterangan diatas jelas kerajaan Mbatu bulan di kutacane didirikan oleh raja lembing anak dari Raja Lotung dari tanah Samosir laut.berarti jauh-jauh hari sebelum ada kerajaan di tanah karo atau kerajaan karo keturunan lotung sudah membuat kerajaan sampai melalui tanah karo.

    ‘nBASIS: tingkat kesahihan ungkapan-ungkapan seperti ini yang membuat orang (akademisi) mencari sumber lebih terpercaya sampai ke lain-lain tempat. ia tak cukup “menelan” begitu saja pemahaman yang ada dalam dalam masyarakat yang ia teliti.

  22. mega malindoIni Satu Lagi Bukti Bahwa Mandailing Adalah Batak Posted by: tobadreams on: 22 September, 2008 In: batak itu keren | Pustaha 155 Komentar BATAK MANINGGORING Assalamoe alaikoem Kami jang bertanda tangan dibawah ini: Radja Mangatas Soetan Soripa says:

    Hubungan Suku Gayo Aceh dan Suku Batak
    Kerajaan Lingga atau Linge (dalam bahasa gayo) di tanah Gayo, menurut M. Junus Djamil dalam bukunya “Gajah Putih” yang diterbitkan oleh Lembaga Kebudayaan Atjeh pada tahun 1959, Kutaraja, mengatakan bahwa sekitar pada abad ke-11 (Penahunan ini mungkin sangat relatif karena kerajaan Lamuri telah eksis sebelum abad ini, penahunan yang lebih tepat adalah antara abad ke 2-9 M), Kerajaan Lingga didirikan oleh orang-orang Batak Gayo pada era pemerintahan Sultan Machudum Johan Berdaulat Mahmud Syah dari Kerajaan Perlak. Informasi ini diketahui dari keterangan Raja Uyem dan anaknya Raja Ranta yaitu Raja Cik Bebesan dan dari Zainuddin yaitu dari raja-raja Kejurun Bukit yang kedua-duanya pernah berkuasa sebagai raja di era kolonial Belanda.

    Raja Lingga I, yang menjadi keturunan langsung Batak, disebutkan mempunyai 6 orang anak. Yang tertua seorang wanita bernama Empu Beru atau Datu Beru, yang lain Sebayak Lingga, Meurah Johan dan Meurah Lingga, Meurah Silu dan Meurah Mege.

    Sebayak Lingga kemudian merantau ke tanah Batak leluhurnya tepatnya di Karo dan membuka negeri di sana dia dikenal dengan Raja Lingga Sibayak. Meurah Johan mengembara ke Aceh Besar dan mendirikan kerajaannya yang bernama Lamkrak atau Lam Oeii atau yang dikenal dengan Lamoeri dan Lamuri atau Kesultanan Lamuri atau Lambri. Ini berarti kesultanan Lamuri di atas didirikan oleh Meurah Johan sedangkan Meurah Lingga tinggal di Linge, Gayo, yang selanjutnya menjadi raja Linge turun termurun. Meurah Silu bermigrasi ke daerah Pasai dan menjadi pegawai Kesultanan Daya di Pasai. Kesultanan Daya merupakan kesultanan syiah yang dipimpin orang-orang Persia dan Arab.

    Meurah Mege sendiri dikuburkan di Wihni Rayang di Lereng Keramil Paluh di daerah Linge. Sampai sekarang masih terpelihara dan dihormati oleh penduduk.

    Penyebab migrasi tidak diketahui. Akan tetapi menurut riwayat dikisahkan bahwa Raja Lingga lebih menyayangi bungsunya Meurah Mege. Sehingga membuat anak-anaknya yang lain lebih memilih untuk mengembara.

    DINASTI LINGGA

    1. Raja Lingga I di Gayo

    Raja Sebayak Lingga di Tanah Karo. Menjadi Raja Karo
    Raja Marah Johan (pendiri Kesultanan Lamuri)
    Marah Silu (pendiri Kesultanan Samudera Pasai), dan
    2. Raja Lingga II alias Marah Lingga di Gayo 3. Raja Lingga III-XII di Gayo 4. Raja Lingga XIII menjadi Amir al-Harb Kesultanan Aceh, pada tahun 1533 terbentuklah Kerajaan Johor baru di Malaysia yang dipimpin oleh Sultan Alauddin Mansyur Syah. Raja Lingga XIII diangkat menjadi kabinet di kerajaan baru tersebut. Keturunannya mendirikan Kesultanan Lingga di kepulauan Riau, pulau Lingga, yang kedaulatannya mencakup Riau (Indonesia), Temasek (Singapura) dan sedikit wilayah Malaysia.

    Raja-raja di Sebayak Lingga Karo tidak terdokumentasi. Pada era Belanda kembali diangkat raja-rajanya tapi hanya dua era 1. Raja Sendi Sibayak Lingga. (Pilihan Belanda) 2. Raja Kalilong Sibayak Lingga

    ‘nBASIS: tingkat kesahihan ungkapan-ungkapan seperti ini yang membuat orang (akademisi) mencari sumber lebih terpercaya sampai ke lain-lain tempat. ia tak cukup “menelan” begitu saja pemahaman yang ada dalam dalam masyarakat yang ia teliti.

  23. mega malindoIni Satu Lagi Bukti Bahwa Mandailing Adalah Batak Posted by: tobadreams on: 22 September, 2008 In: batak itu keren | Pustaha 155 Komentar BATAK MANINGGORING Assalamoe alaikoem Kami jang bertanda tangan dibawah ini: Radja Mangatas Soetan Soripa says:

    Ini Satu Lagi Bukti Bahwa Mandailing Adalah Batak
    Posted by: tobadreams on: 22 September, 2008
    In: batak itu keren | Pustaha 155 Komentar
    BATAK MANINGGORING
    Assalamoe alaikoem
    Kami jang bertanda tangan dibawah ini:
    Radja Mangatas
    Soetan Soripada Panoesoenan
    Mangaradja Panoesoenan
    Soetan Koemala Boelan
    Soetan Singa Soro Baringin
    Mangaradja Panobaoenan
    Mangaradja Soetan Solengaon
    Mangaradja Goenoeng Sorik Marapi
    Soetan Pandapotan
    Mangaradja Solompoon
    Mangaradja Moeda Panoesoenan
    Mangaradja Iskandar Panoeroenan
    Soetan Bintang Pandapotan
    Patoean Koemala Boelan
    Masing masing radja panoesoenan (kepala koeria) di:
    Pakantan Lombang
    Pakantan Doeali
    Oleoe
    Tamiang
    Msnambin
    Kota Nopan
    Panombangan
    Maga
    Pidoli Boekit
    Kota Siantar
    Panjaboengan Djoeloe
    Panjaboengan Tonga
    Goenoeng Baringin
    Gewezen Kepala Koeria di Goenoeng Toea
    Semoeanja dalam lingkungan onderafdeling Groot en Klein Mandailing, Oelo en Pakantan, afdeling Padang Sidempuan, Residentie Tapanoeli, menerangkan dengan sesoenggoehnja bahwa bangsa dari pendoedoek Mandailing itoe ia-lah bangsa “Batak”, sedangkan agamanja sebahagian besar “Islam” dan sebahgian ketjil sekali agama “Christen” ia-itoe dalam koeria Pakantan Lombang, Pakantan Boekit dan Kota Siantar.
    Nama Mandailing itoe boekanlah nama bangsa akan tetapi nama negeri (loehak).
    Demikianlah soepaja terang akan adanja.
    Diperboeat dalam kerapatan radja2 Mandailing di Kajoe Laoet tanggal 18 Agustus 1922.
    Kami jang menerangkan
    (tanda tangan)
    BATAK sebenarnja boekan nama negeri ataoe nama agama, melainkan nama satoe bangsa di Indonesia tinggal di Residentie Tapanoeli..
    Nama MANDAILING boekan nama bangsa, tetapi nama satoe loehak di Tapanoeli – Selatan mendjadi Batak Mandailing
    ——————————————————————-
    Tulisan di atas merupakan salinan dari dokumen aslinya yang lengkap dengan tanda tangan para radja-radja Mandailing yang memberi pernyataan. Dapat dilihat di buku “AHU SISINGAMANGARAJA” karangan Prof. Dr. WB Sidjabat (Penerbit: SInar Harapan Jakarta, cetakan ketiga 2007, halaman 463).
    Mauliate

    ‘nBASIS: Hal yang tidak Anda jelaskan ialah paparan Prof WB Sidjabat ketika memberi narasi mengantarkan bab pembahasan masalah ini. Ini adalah bagian dari upaya pemaksaan Belanda terhadap masyarakat Mandailing waktu itu. Orang sekarang mestinya wajib bertanya: untuk apa raja-raja di Mandailing memerlukan pernyataan seperti ini? Juga perlu bertanya siapa yang diuntungkan oleh mobilisasi seperti ini, selain jika mereka memang ingin membuat pernyataan mengapa memilih bahasa selain Mandailing? Karena itu pernyataan ini tidak memiliki kekuatan apa pun untuk menegakkan klaim bahwa Mandailing itu bagian dari Batak (kalau pun misalnya, sekali lagi, misalnya, Mandailing itu bagian dari Batak). Pembuktian di ranah ini tidak dengan ilmu (maaf) “tipu-tipu”. Ada displin ilmu lain yang kompeten untuk itu

  24. AHMAD ASWAN WR SE says:

    Orang batak pasti marah dengan pengungkapan sejarah yang dianggap tidak relevan menurut keadaan sekarang, kata batak sekarang sangat dibanggakan oleh orang batak, tapi karena orang batak sudah banyak yang berpendidikan tentu seharusnya dapat menerima hasil penelitian ilmiah seperti Icwan Azhari maupun ilmuan lainnya, saya percaya benar bahwa kata batak memang bukan dari orang batak sendiri, melainkan pengucapan orang lain untuk identitas orang yang masih primitif dan hidup dipegunungan kala itu, oleh karena itu, orang belanda pun lama baru menggunakan istilah itu karena menjaga ketersinggungan orang orang primitif yang belakangan akhirnya memakai identitas batak, padahal dulunya mereka sangat tersinggung apabila di sebut orang batak, sungguh sangat berbeda dgn saat sekarang kata batak sangat dibanggakan oleh yang saat ini menjadi identitas sebagai suku batak.

    ‘nBASIS: banyak kisah serupa pernah terjadi. semula konon Moro itu adalah sebutan stigmatif. kini ia menjadi sebuah simbol perlawanan yang selalu dirujuk dalam analisis konflik-konflik internal dalam sebuah bangsa.

  25. zefrizal says:

    Bisa jadi eksistensi entitas etnik “batak” berasal dari luar. Mungkin ada kaitannya dengan penyebutan indonesia. James logan ilmua inggris yg telah sampai di singapuara waktu itu mengindentifikasi kita sebagai Indonesia dg melihat budaya dan oucupasi kita.

    ‘nBASIS: Daniel Perret dan Ichwan Azhari memang menjelaskan teori inisiatif “para musyafir” itu.

  26. mega malindoIni Satu Lagi Bukti Bahwa Mandailing Adalah Batak Posted by: tobadreams on: 22 September, 2008 In: batak itu keren | Pustaha 155 Komentar BATAK MANINGGORING Assalamoe alaikoem Kami jang bertanda tangan dibawah ini: Radja Mangatas Soetan Soripa says:

    Hubungan Suku Gayo Aceh dan Suku Batak
    Kerajaan Lingga atau Linge (dalam bahasa gayo) di tanah Gayo, menurut M. Junus Djamil dalam bukunya “Gajah Putih” yang diterbitkan oleh Lembaga Kebudayaan Atjeh pada tahun 1959, Kutaraja, mengatakan bahwa sekitar pada abad ke-11 (Penahunan ini mungkin sangat relatif karena kerajaan Lamuri telah eksis sebelum abad ini, penahunan yang lebih tepat adalah antara abad ke 2-9 M), Kerajaan Lingga didirikan oleh orang-orang Batak Gayo pada era pemerintahan Sultan Machudum Johan Berdaulat Mahmud Syah dari Kerajaan Perlak. Informasi ini diketahui dari keterangan Raja Uyem dan anaknya Raja Ranta yaitu Raja Cik Bebesan dan dari Zainuddin yaitu dari raja-raja Kejurun Bukit yang kedua-duanya pernah berkuasa sebagai raja di era kolonial Belanda.

    Raja Lingga I, yang menjadi keturunan langsung Batak, disebutkan mempunyai 6 orang anak. Yang tertua seorang wanita bernama Empu Beru atau Datu Beru, yang lain Sebayak Lingga, Meurah Johan dan Meurah Lingga, Meurah Silu dan Meurah Mege.

    Sebayak Lingga kemudian merantau ke tanah Batak leluhurnya tepatnya di Karo dan membuka negeri di sana dia dikenal dengan Raja Lingga Sibayak. Meurah Johan mengembara ke Aceh Besar dan mendirikan kerajaannya yang bernama Lamkrak atau Lam Oeii atau yang dikenal dengan Lamoeri dan Lamuri atau Kesultanan Lamuri atau Lambri. Ini berarti kesultanan Lamuri di atas didirikan oleh Meurah Johan sedangkan Meurah Lingga tinggal di Linge, Gayo, yang selanjutnya menjadi raja Linge turun termurun. Meurah Silu bermigrasi ke daerah Pasai dan menjadi pegawai Kesultanan Daya di Pasai. Kesultanan Daya merupakan kesultanan syiah yang dipimpin orang-orang Persia dan Arab.

    Meurah Mege sendiri dikuburkan di Wihni Rayang di Lereng Keramil Paluh di daerah Linge. Sampai sekarang masih terpelihara dan dihormati oleh penduduk.

    Penyebab migrasi tidak diketahui. Akan tetapi menurut riwayat dikisahkan bahwa Raja Lingga lebih menyayangi bungsunya Meurah Mege. Sehingga membuat anak-anaknya yang lain lebih memilih untuk mengembara.

    DINASTI LINGGA

    1. Raja Lingga I di Gayo

    Raja Sebayak Lingga di Tanah Karo. Menjadi Raja Karo
    Raja Marah Johan (pendiri Kesultanan Lamuri)
    Marah Silu (pendiri Kesultanan Samudera Pasai), dan

    2. Raja Lingga II alias Marah Lingga di Gayo 3. Raja Lingga III-XII di Gayo 4. Raja Lingga XIII menjadi Amir al-Harb Kesultanan Aceh, pada tahun 1533 terbentuklah Kerajaan Johor baru di Malaysia yang dipimpin oleh Sultan Alauddin Mansyur Syah. Raja Lingga XIII diangkat menjadi kabinet di kerajaan baru tersebut. Keturunannya mendirikan Kesultanan Lingga di kepulauan Riau, pulau Lingga, yang kedaulatannya mencakup Riau (Indonesia), Temasek (Singapura) dan sedikit wilayah Malaysia.

    Raja-raja di Sebayak Lingga Karo tidak terdokumentasi. Pada era Belanda kembali diangkat raja-rajanya tapi hanya dua era 1. Raja Sendi Sibayak Lingga. (Pilihan Belanda) 2. Raja Kalilong Sibayak Lingga

    ‘nBASIS: dengan tayangnya komentar ini tentu kita harapkan pendapat dari semua pembaca. sejarah memang lebih baik dibiarkan bicara senriri utuk kebenaran yang sejati. terimakasih.

  27. mega malindoIni Satu Lagi Bukti Bahwa Mandailing Adalah Batak Posted by: tobadreams on: 22 September, 2008 In: batak itu keren | Pustaha 155 Komentar BATAK MANINGGORING Assalamoe alaikoem Kami jang bertanda tangan dibawah ini: Radja Mangatas Soetan Soripa says:

    Menurut riwayat Hamparan Perak salah seorang putera dari Sisingamangaraja bernama Tuan Si Raja Hita mempunyai seorang anak bernama Guru Patimpus pergi merantau ke beberapa tempat di Tanah Karo dan merajakan anak-anaknya di kampung–kampung: Kuluhu, Paropa, Batu, Liang Tanah, Tongging, Aji Jahe, Batu Karang, Purbaji, dan Durian Kerajaan. Kemudian Guru Patimpus turun ke Sungai Sikambing dan bertemu dengan Datuk Kota Bangun.

    Menurut Datuk Bueng yang tinggal di Jl. Kertas Medan dia mempunyai dokumen tua dalam bentuk lempeng–lempeng. Menurut trombo yang ada padanya Raja–raja 12 Kuta (Hamparan Perak) adalah :
    Dinasti Sisingamangaraja I, setelah menghilang dari Bakkara.

    1. Sisingamangaraja, bernama aseli Mahkuta alias Manghuntal. Lahir di Bakkara, dibesarkan di Istana Raja Uti VII (Pasaribu Hatorusan) di Singkel, menjadi raja Batak di Bakkara paska menumpas pemberontakan memerintah di tahun 1540-1550 M. Mempunyai dua anak, yang pertama adalah Manjolong, menjadi Sisingamangaraja II di Bakkaara dengan gelar Datu Tinaruan atau Ompu Raja Tinaruan memerintah 1550 s.d 1595 dan yang kedua adalah:

    2. Tuan Siraja Hita, Di sana ia memperoleh tiga orang anak. Anak yang nomor dua menjadi raja di Kerajaan Pekan. Yang bungsu menjadi raja di Kerajaan Balige, Toba dan yang tertua bernama Patimpus alias Guru Patimpus.

    3. Guru Patimpus, masuk Islam dan pada tanggal 1 Juli 1590, mendirikan kota Medan. Puteranya adalah, (1) Benara, Raja di Benara (2) Kuluhu, Raja di Keluhu (3) Batu, pendiri kerajaan Batu, (4) Salahan, Raja di Salahan (5) Paropa, Raja di Paropa (6) Liang, Raja di Liang Tanah (7) Seorang gadis yang menikah dengan Raja Tangging (Tingging) (8) Janda yang menetap di Aji Jahe (9) Si Gelit (Bagelit), Raja di Kerajaan Karo Islam Sukapiring, daerah antara Medan sampai ke pegunungan Karo (10) Raja Aji, yang menjadi perbapaan Perbaji, (11) Raja Hita yang menjadi raja di Durian Kerajaan, Langkat Hulu (12) Hafidz Tua dengan panggilannya Kolok, tidak menjadi raja tapi ulama dan Hafidz Muda dengan panggilannya Kecik yang menjadi pengganti Guru Patimpus di Kerajaan Medan.

    4. Raja Hafidz Muda

    5. Raja Muhammadsyah putera Hafidz Muda, makamnya terletak di dekat makam puteranya Masannah, daerah Petisah Medan. Mempunyai tiga putera. Yang pertama adalah Masannah yang dikenal dengan Datuk Saudagar, dia menetap di Pulau Bening dan keturunannya berada di sana. Makamnya di samping makam ayahnya Muhammadsyah yang disebut ‘Makam Melintang’, anak yang kedua adalah Pangeran Ahmad yang keturunanya menetap di Petisah, Medan dan yang ketiga adalah Raja Mahmud yang menjadi pengganti Raja Muhammadsyah. Saat ini pusat kerajaan yang meliputi 2/3 dari kerajaan Patimpus dipindahkan ke Terjuan. Dia dimakamkan di sana. Raja Muhammadsyah memperlua kerajaan ke kawasan baru yang bernama Kuala Bekala dan Terjun. Kedua daerah ini kemudian disebut Marhom Muhammadsyah Darat.

    6. Raja Mahmud putera Muhammadsyah, mempunyai dua putera mahkota. Pertama Pangeran Ali dan yang kedua Pangeran Zainal yang memilih tinggal di Klambir Tunggal dan kuburannya ada di sana.

    7. Raja Ali putera Mahmud, memindahkan ibukota ke kawasan Buluh Cina. Kerajaan mulai makmur dengan perdagangan. Penghasilan kerajaan berasal dari ekspor lada besar-besaran ke Penang/Melaka. Mempunyai satu putera mahkota, Banu Hasyim dan satu puteri, Bujang Semba yang menikah dengan Sultan Panglima Mangedar Alam dari Kesultanan Deli. Masuknya pengaruh kekuatan Aceh dan orang-orang melayu yang berciri khas India Dehli. Kesultanan Deli sendiri didirikan oleh Sri Paduka Gocah Pahlawan Laksamana Khoja Bintan.

    8. Raja Banu Hasyim putera Ali, menikah dengan puteri Manyak, kakak dari Datuk Sunggal Amar Laut. Dia memperluas kerajaan sampai ke kawasan Kampung Buluh. Mempunyai tiga anak. Pertama adalah Sultan Sri Ahmad, yang kedua adalah Sri Kemala, puteri yang menikah dengan Sultan Osman I dari Kesultanan Deli dan yang ketiga adalah Sri Hanum, seorang puteri yang menikah dengan Pangeran Kesultanan Langkat, Musa.

    9. Sultan Sri Ahmad putera Banu Hasyim. Pusat kerajaan di pindahkan ke Pangkalan Buluh. Kerajaan Karo Islam mulai tergeser karena menguatnya Kesultanan Deli yang didukung oleh pihak Imperium Kesultanan Aceh. Sultan pernah menerima tamu bernama John Anderson pada tahun 1823. Kerajaan Islam Karo akhirnya takluk ke Kesultanan Deli dan Sultan akhirnya masuk menjadi pembesar Kesultanan Deli yang bergelar Datuk Panglima Setia Raja Wazir XII-Kota. Pemerintahannya di bawah Kesultanan Deli akhirnya dipindahkan ke Hamparan Perak. Dia meninggal dalam usia 119 tahun

    10. Datuk Adil

    11. Datuk Gombak

    12. Datuk Hafiz Harberhan

    13. Datuk Syariful Azas Haberham. Riwayat Hamparan Perak ini pernah disalin ke dalam bahasa Belanda dalam “Nota Over De Landsgrooten van Deli”, juga dalam “Begraafplaatsrapport Gementee Medan 1928″

    ‘nBASIS: APAKAH KEDUA SEJARAH DI ATAS MASIH BELANDA ATAU PENJAJAH YANG MENGKONFIRASIKAN.APAKAH ABAD 2-9 SUDAH ADA BANGSA PENJAJAH DI ACEH SANA YANG MENYATAKAN KERAJAAN LINGGA DIDIRIKAN OLEH ORANG-ORANG BATAK GAYO

    ‘nBASIS:dengan tayangnya komentar ini tentu kita harapkan pendapat dari semua pembaca. sejarah memang lebih baik dibiarkan bicara senriri utuk kebenaran yang sejati. terimakasih.

  28. mega malindoIni Satu Lagi Bukti Bahwa Mandailing Adalah Batak Posted by: tobadreams on: 22 September, 2008 In: batak itu keren | Pustaha 155 Komentar BATAK MANINGGORING Assalamoe alaikoem Kami jang bertanda tangan dibawah ini: Radja Mangatas Soetan Soripa says:

    baca blog saya:

    http://bataksisialagundi.blogspot.com/

    ‘nBASIS: Oh bahan yang sama (lagi). Ketika pertamakali Anda ajukan pendapat tentang ini, ‘nBASIS memberi tanggapan “Hal yang tidak Anda jelaskan ialah paparan Prof WB Sidjabat ketika memberi narasi mengantarkan bab pembahasan masalah ini. Ini adalah bagian dari upaya pemaksaan Belanda terhadap masyarakat Mandailing waktu itu. Orang sekarang mestinya wajib bertanya: untuk apa raja-raja di Mandailing memerlukan pernyataan seperti ini? Juga perlu bertanya siapa yang diuntungkan oleh mobilisasi seperti ini, selain jika mereka memang ingin membuat pernyataan mengapa memilih bahasa selain Mandailing? Karena itu pernyataan ini tidak memiliki kekuatan apa pun untuk menegakkan klaim bahwa Mandailing itu bagian dari Batak (kalau pun misalnya, sekali lagi, misalnya, Mandailing itu bagian dari Batak). Pembuktian di ranah ini tidak dengan ilmu (maaf) “tipu-tipu”. Ada displin ilmu lain yang kompeten untuk itu”. terimakasih

  29. mega malindoIni Satu Lagi Bukti Bahwa Mandailing Adalah Batak Posted by: tobadreams on: 22 September, 2008 In: batak itu keren | Pustaha 155 Komentar BATAK MANINGGORING Assalamoe alaikoem Kami jang bertanda tangan dibawah ini: Radja Mangatas Soetan Soripa says:

    ‘nBASIS: Anda kelihatannya semakin melenceng dari pokok masalah yang anda buat sendiri dengan judul.Seputar Kontroversi tentang Sebutan Batak: SEBAIKNYA AZHARI “DILAWAN” DENGAN DATA.Dengan kata-kata klaim bahwa Mandailing itu bagian dari Batak (kalau pun misalnya, sekali lagi, misalnya, Mandailing itu bagian dari Batak). Pembuktian di ranah ini tidak dengan ilmu (maaf) “tipu-tipu”. Ada displin ilmu lain yang kompeten untuk itu”.dan paparan Prof.WB.Sijabat. mau di jawab apa (ini membingungkan)
    Banyak comentara saya di media ini tentang itu termasuk lewat blognya Juara Ginting yang menyatakan KARO ITU BUKAN BATAK.Disitu saya jelaskan jangankan karo keturunan batak saya sendiri Batak toba belum tentu keturunan langsung si Raja Batak.Dan demikian juga Karo atau mandailing belum tentu keturunan si raja karo atau si raja mandailing. saya setuju klem anda
    Pokok masalah sesuai judul ini adalah apakah BATAK itu sebutan atau sebuah penamaan ? itulah intinya.Maka saya kutiplah beberapa sejarah tulisan di atas seperti:
    1.Raja Lingga I, yang menjadi keturunan langsung Batak, disebutkan mem-
    punyai 6 orang anak Penahunan ini mungkin sangat relatif karena ke
    rajaan Lamuri telah eksis sebelum abad ini, penahunan yang lebih tepat
    adalah pada antara abad ke 2-9 M), Kerajaan Lingga didirikan oleh
    orang-orang Batak Gayo.
    2.Buku berjudul Sistim Bermasyarakat Bangso Batak tulisan Sabam Wesley
    Adanya sebuah perjanjian bangsa cina yang di pimpin oleh Jenderal
    ANG TZE dengan para tetua-tetua batak atau para mangaraja batak
    yang di abadikan dengan sebuah alat spritual bernama OGUNG atau
    GONG di Aceh atau ANG TZE yang sampai sekarang masih ada di Aceh
    menurut ahli sejarah Klenteng di KLENTENG KWANG TEK KONG.dan ke
    jadian perjanjian ini dilakukan sekitar 1.400 tahun yang lalu

    Apakah sejarah Hubungan Suku Gayo Aceh dan Suku Batak di atas dan perjanjian jenderal Ang Tze ini yang ada kata-kata Batak, belanda penjajah yang berada di nusantara ini baru berkisar 400 tahun lamanya atau Jerman Yang mengajari atau ICHWAN AZHARI atau anda yang tipu-tipu ?

    Sebelum kepercayaan Malim atau Parmalim datang yaitu sekitar 500=600 tahun yang lalu ke tanah batak dimana mulai pada saat itulah adanya tersusun Tarombo dan marga Batak.secara perhitungan katanyan dari siraja batak sampai saat ini baru berkisar 25 generasi atau usia batak sekitar 600 tahun Namun sebenarnyaJauh-jauh hari atau ribuan tahun sebelum kepercataan MALIM sudah ada kepercayaan batak lain dan adat batak yang namanya kepercayaan Mulajadi Nabolon dengan adatnya TUHO PARNGOLUON NI BATAK dan kemudian adat DALIHAN NA TOLU.baru masa kepercayaan Malim atau Parmalim yang nama adatnya SUHI NI AMPANG NA OPAT.Baca kembali Blog.saya di atas.

    Kayu Batak itu sampai saat ini masih ada tumbuh di tanah batak tetapi sekarang penamaannya berubah menjadi nama dengan nama fungsiny di sebut kayu SI ALAGUNDI.Sebenarnya nama kayu itu adalah kayu Batak yang dibuat menjadi TUKHOT atau TUKKOT SI SIA LAGUNDI (SI SIA LAGOGO)
    Perkembangan jaman kemudian kata batak mulai indetik dengan label budaya.“Desertasi Daniel Perret menyimpulkan bahwa baik istilah Batak maupun Melayu .
    Kesimpulannya kata-kata BATAK bukanlah sebuah julukan atau sebutan namun itu adalah sebuah penamaan.

    ‘nBASIS: terimakasih masukan Anda

  30. mega malindoIni Satu Lagi Bukti Bahwa Mandailing Adalah Batak Posted by: tobadreams on: 22 September, 2008 In: batak itu keren | Pustaha 155 Komentar BATAK MANINGGORING Assalamoe alaikoem Kami jang bertanda tangan dibawah ini: Radja Mangatas Soetan Soripa says:

    nBASIS: Anda kelihatannya semakin melenceng dari pokok masalah yang anda buat sendiri dengan judul.Seputar Kontroversi tentang Sebutan Batak: SEBAIKNYA AZHARI “DILAWAN” DENGAN DATA.Dengan kata-kata klaim bahwa Mandailing itu bagian dari Batak (kalau pun misalnya, sekali lagi, misalnya, Mandailing itu bagian dari Batak). Pembuktian di ranah ini tidak dengan ilmu (maaf) “tipu-tipu”. Ada displin ilmu lain yang kompeten untuk itu”.dan paparan Prof.WB.Sijabat. mau di jawab apa (ini membingungkan)
    Banyak comentara saya di media ini tentang itu termasuk lewat blognya Juara Ginting yang menyatakan KARO ITU BUKAN BATAK.Disitu saya jelaskan jangankan karo keturunan batak saya sendiri Batak toba belum tentu keturunan langsung si Raja Batak.Dan demikian juga Karo atau mandailing belum tentu keturunan si raja karo atau si raja mandailing. saya setuju klem anda
    Pokok masalah sesuai judul ini adalah apakah BATAK itu sebutan atau sebuah penamaan ? itulah intinya.Maka saya kutiplah beberapa sejarah tulisan di atas seperti:
    1.Raja Lingga I, yang menjadi keturunan langsung Batak, disebutkan mem-
    punyai 6 orang anak Penahunan ini mungkin sangat relatif karena ke
    rajaan Lamuri telah eksis sebelum abad ini, penahunan yang lebih tepat
    adalah pada antara abad ke 2-9 M), Kerajaan Lingga didirikan oleh
    orang-orang Batak Gayo.
    2.Buku berjudul Sistim Bermasyarakat Bangso Batak tulisan Sabam Wesley
    Adanya sebuah perjanjian bangsa cina yang di pimpin oleh Jenderal
    ANG TZE dengan para tetua-tetua batak atau para mangaraja batak
    yang di abadikan dengan sebuah alat spritual bernama OGUNG atau
    GONG di Aceh atau ANG TZE yang sampai sekarang masih ada di Aceh
    menurut ahli sejarah Klenteng di KLENTENG KWANG TEK KONG.dan ke
    jadian perjanjian ini dilakukan sekitar 1.400 tahun yang lalu

    Apakah sejarah Hubungan Suku Gayo Aceh dan Suku Batak di atas dan perjanjian jenderal Ang Tze ini yang ada kata-kata Batak, belanda penjajah yang berada di nusantara ini baru berkisar 400 tahun lamanya atau Jerman Yang mengajari atau ICHWAN AZHARI atau anda yang tipu-tipu ?

    Sebelum kepercayaan Malim atau Parmalim datang yaitu sekitar 500=600 tahun yang lalu ke tanah batak dimana mulai pada saat itulah adanya tersusun Tarombo dan marga Batak.secara perhitungan katanyan dari siraja batak sampai saat ini baru berkisar 25 generasi atau usia batak sekitar 600 tahun Namun sebenarnyaJauh-jauh hari atau ribuan tahun sebelum kepercataan MALIM sudah ada kepercayaan batak lain dan adat batak yang namanya kepercayaan Mulajadi Nabolon dengan adatnya TUHO PARNGOLUON NI BATAK dan kemudian adat DALIHAN NA TOLU.baru masa kepercayaan Malim atau Parmalim yang nama adatnya SUHI NI AMPANG NA OPAT.Baca kembali Blog.saya di atas.

    Kayu Batak itu sampai saat ini masih ada tumbuh di tanah batak tetapi sekarang penamaannya berubah menjadi nama dengan nama fungsiny di sebut kayu SI ALAGUNDI.Sebenarnya nama kayu itu adalah kayu Batak yang dibuat menjadi TUKHOT atau TUKKOT SI SIA LAGUNDI (SI SIA LAGOGO)
    Perkembangan jaman kemudian kata batak mulai indetik dengan label budaya.“Desertasi Daniel Perret menyimpulkan bahwa baik istilah Batak maupun Melayu .
    Kesimpulannya kata-kata BATAK bukanlah sebuah julukan atau sebutan namun itu adalah sebuah penamaan.

    ‘nBASIS: terimakasih masukan Anda

  31. Posted by: tobadreams on: 22 September, 2008 In: batak itu keren | Pustaha 155 Komentar BATAK MANINGGORING Assalamoe alaikoem Kami jang bertanda tangan dibawah ini: Radja Mangatas Soetan Soripa says:

    SEJARAH BATAK – I
    SEJARAH BATAK – I

    Permulaan Generasi Pertama Manusia

    Tersebutlah dalam kitab-kitab suci bangsa Timur Tengah bahwa Adam, yang dianggap sebagai manusia pertama dan Nabi pertama, mulai mengembangkan generasinya bersama Siti Hawa, Nenek Moyang Manusia yang ditemukan kembali setelah didamparkan di daerah India dari Surga.

    Generasi berikutnya mulai melahirkan beberapa kelompok Bangsa.

    Bangsa Semetik kemudian menurunkan Bangsa Arab dan Israel yang selalu berperang. Khabarnya perpecahan kedua bangsa ini dimulai sejak Nabi Ibrahim.

    Bangsa Syam yang kemudian dikenal sebagai ras Aryan, menurunkan Bangsa Yunani dan Roma yang menjadi cikal bakal Eropa (Hitler merupakan tokoh ras ini yang ingin memurnikan bangsa Aryan di samping Bangsa Braminik yang chauvinistik dan menjadi penguasa kasta tinggi di agama Hindu), Nordik, Patan, Kaukasian, Slavia, Persia (Iran), dan India Utara (semisal Punjabi, Kashmir dan Gujarat) berkulit putih serta bule-bule lain sebangsanya.

    Bangsa Negroid menurunkan bangsa Afrika dan beberapa bangsa berkulit hitam lainnya di dunia seperti Bangsa Dravidian (India berkulit Hitam), Papua, Samoa, Aborigin di Autralia, Asmat, dan bangsa lain yang hidup di kepulauan Polinesia, Samudera Pasifik.

    Bangsa Tatar menurunkan Ras Mongoloid yang terdiri dari bangsa Mongol; Cina, Korea, Uzbek, Tazik, Kazakh, Kazan di Rusia, bangsa Nomad penghuni Kutub Utara dan Selatan bermata sipit, Hokkian yang menjadi Konglomerat dan Mafia di Indonesia serta Bangsa Maya, Suku Indian, dan lain sebagainya yang menjadi penduduk asli benua Amerika dan yang kedua; Ras Austronesia, yang menyebar di Madagaskar, Afrika, Batak; Proto Malayan dan Neo Malayan; Melayu, Jawa dan lain-lain.

    Penyebaran populasi manusia terjadi paska “Tsunami” pertama atau dikenal sebagai Banjir Bah di jaman Nabi Nuh AS. Di jaman ini pula ada sebuah komunitas manusia yang konon mempunyai tinggi badan 15-30 meter punah ditelan banjir karena kesombongannya. Peneliti antropologi Amerika di awal abad 20 menemukan kembali bangsa ini di pedalaman Afrika, namun lokasinya dirahasiakan oleh pihak militer yang tertarik untuk mengambil sampel komunitas ini untuk rekayasa gen tentara AS. Penelitian juga diarahkan untuk menghidupkan kembali Bangsa Dinosaurus, sejenis binatang purba, yang juga mati tenggelam karena tidak sempat dan tidak ‘muat’ dimasukkan di kapal Nabi Nuh.

    73.000-30.000 SM
    Penduduk nomaden mendiami sekitar pegunungan Batak, yang meledak membentuk danau Toba, keberadaan mereka berdasarkan penggalian sejarah.

    3000-1000 SM (Sebelum masehi)
    Bangsa Batak yang merupakan bagian dari Ras Proto Malayan hidup damai bermukim di perbatasan Burma/Myanmar dengan India. Beberapa komunitas tersebut yang kemudian menjadi cikal-bakal bangsa adalah kelompok Bangsa Karen, Toradja, Tayal, Ranau, Bontoc, Meo serta trio Naga, Manipur, Mizoram. Tiga yang terakhir ini sekarang berwarga negara India. Adat istiadat mereka dan aksesoris pakaian yang dimiliki sampai sekarang masih mirp dengan pakaian Batak, misalnya pernik dan warna ulos.

    Sifat dominan dari ras ini adalah kebiasaan hidup dalam splendid isolation di lembah lembah sungai dan di puncak-puncak pegunungan. Mereka sangat jarang membuat kontak bersifat permanen dengan pendatang yang berasal dari komunitas lainnya misalnya komunitas yang berada di tepi pantai, pesisir, yang saat itu banyak dipengaruhi oleh ideologi yang berbeda dengan mereka, misalnya Hinduisme (Yang disinyalir sebagai ajaran turunan dari agama Nabi Nuh AS), Zoroaster, Animisme gaya Yunani dan Romawi, dan juga paham-paham baru seperti Buddha, Tao, dan Shintoisme

    Sifat tersebut masih membekas dan terus dipertahankan oleh orang-orang Batak hingga abad 19M. Sampai saat ini, diperkirakan suku bangsa yang berasal dari ras ini masih mempertahankan kebiasaan ini, terutama Bangsa Tayal, bangsa pribumi di Taiwan, Orang-orang Bontoc dan Batak Palawan penghuni pertama daerah Filipina.

    1000 SM
    Bangsa Mongol yang dikenal bengis dan mempunyai kemajuan teknologi yang lebih tinggi berkat hubungan mereka yang konsisten dengan berbagai bangsa mulai bergerak ke arah Selatan. Di sana, keturunan mereka menyebut dirinya Bangsa Syan dan kemudian menciptakan komunitas Burma, Siam (Thai) dan Kamboja yang kemudian menjadi cikal-bakal negara.

    Ras Proto Malayan mulai terdesak. Ketertutupan mereka menjadi bumerang karena teknologi mereka tidak up to date. Sebagian dari mereka kemudian mulai meninggalkan daerah-daerah tersebut, menempuh perjalanan untuk mencari daerah baru bahkan ke seberang lautan, di mana mereka akan menikmati hidup dalam ‘splendid isolation’ kembali.

    Bangsa Bontoc bergerak ke daerah Filipina, Bangsa Toraja ke Selatannya, di Sulawesi. Di Filipina, Batak Palawan merupakan sebuah suku yang sampai sekarang menggunakan istilah Batak. Saudara mereka bangsa Tayal membuka daerah di Kepulauan Formosa, yang kemudian, beberapa abad setelah itu, daerah mereka diserobot dan kedamaian hidup mereka terusak oleh orang-orang Cina nasionalis yang kemudian menamakannya Taiwan.
    Yang lain, Bangsa Ranau terdampar di Lampung. Bangsa Karen tidak sempat mempersiapkan diri untuk migrasi, mereka tertinggal di hutan belantara Burma/Myanmar dan sampai sekarang masih melakukan pemberontakan atas dominasi Suku Burma atau Myanmar yang memerintah.

    Selebihnya, Bangsa Meo berhasil mempertahankan eksistensinya di Thailand. Bangsa Naga, Manipur, Mizo, Assamese mendirikan negara-negara bagian di India dan setiap tahun mereka harus berjuang dan berperang untuk mempertahankan identitas mereka dari supremasi bangsa Arya-Dravidian, yakni Bangsa India, yang mulai menduduki daerah tersebut karena over populasi.

    Bangsa Batak sendiri, selain terdampar di Filipina, sebagian terdampat di kepulauan Andaman (sekarang merupakan bagian dari India) dan Andalas dalam tiga gelombang.

    Yang pertama mendarat di Nias, Mentawai, Siberut dan sampai ke Pulau Enggano. Gelombang kedua terdampar di muara Sungai Simpang. Mereka kemudian bergerak memasuki pedalaman Pulau Andalas menyusuri sungai Simpang Kiri dan mulai mendirikan tempat di Kotacane. Komunitas ini berkembang dan membuat identitas sendiri yang bernama Batak Gayo. Mereka yang menyusuri Sungai Simpang Kanan membentuk Komunitas Batak Alas dan Pakpak. Batak Gayo dan Alas kemudian dimasukkan Belanda ke peta Aceh.

    Mainstream dari Suku bangsa Batak mendarat di Muara Sungai Sorkam. Mereka kemudian bergerak ke pedalaman, perbukitan. Melewati Pakkat, Dolok Sanggul, dan dataran tinggi Tele mencapai Pantai Barat Danau Toba. Mereka kemudian mendirikan perkampungan pertama di Pusuk Buhit di Sianjur Sagala Limbong Mulana di seberang kota Pangururan yang sekarang. Mitos Pusuk Buhit pun tercipta.

    Masih dalam budaya ‘splendid isolation’, di sini, Bangsa Batak dapat berkembang dengan damai sesuai dengan kodratnya. Komunitas ini kemudian terbagi dalam dua kubu. Pertama Tatea Bulan yang dianggap secara adat sebagai kubu tertua dan yang kedua; Kubu Isumbaon yang di dalam adat dianggap yang bungsu.
    Sementara itu komunitas awal Bangsa Batak, jumlahnya sangat kecil, yang hijrah dan migrasi jauh sebelumnya, mulai menyadari kelemahan budayanya dan mengolah hasil-hasil hutan dan melakukan kontak dagang dengan Bangsa Arab, Yunani dan Romawi kuno melalui pelabuhan Barus. Di Mesir hasil produksi mereka, kapur Barus, digunakan sebagai bahan dasar pengawetan mumi, raja-raja tuhan Fir’aun yang sudah meninggal. Tentunya di masa inilah hidup seorang pembawa agama yang dikenal sebagai Nabi Musa AS.

    1000 SM – 1510 M
    Komunitas Batak berkembang dan struktur masyarakat berfungsi. Persaingan dan Kerjasama menciptakan sebuah pemerintahan yang berkuasa mengatur dan menetapkan sistem adat.

    Ratusan tahun sebelum lahirnya Nabi Isa Al Masih, Nabi Bangsa Israel di Tanah Palestina, Dinasti Sori Mangaraja telah berkuasa dan menciptakan tatanan bangsa yang maju selama 90 generasi di Sianjur Sagala Limbong Mulana.

    Dinasti tersebut bersama menteri-menterinya yang sebagian besar adalah Datu, Magician, mengatur pemerintahan atas seluruh Bangsa Batak, di daerah tersebut, dalam sebuah pemerintahan berbentuk Teokrasi.
    Dinasti Sorimangaraja terdiri dari orang-orang bermarga Sagala cabang Tatea Bulan. Mereka sangat disegani oleh Bangsa Batak di bagian Selatan yang keturunan dari Tatea Bulan.

    Dengan bertambahnya penduduk, maka berkurang pula lahan yang digunakan untuk pertanian, yang menjadi sumber makanan untuk mempertahankan regenerasi. Maka perpindahan terpaksa dilakukan untuk mencari lokasi baru. Alasan lain dari perpindahan tersebut adalah karena para tenaga medis kerajaan gagal membasmi penyakit menular yang sudah menjangkiti penduduk sampai menjadi epidemik yang parah.

    Perpindahan diarahkan ke segala arah, sebagian membuka pemukiman baru di daerah hutan belukar di arah Selatan yang kemudian bernama Rao, sekarang di Sumatera Barat. Beberapa kelompok di antaranya turun ke arah Timur, menetap dan membuka tanah, sekarang dikenal sebagai Tanjung Morawa, daerah di pinggir Kota Medan.

    Satu kerajaan lain yang berdiri di era ini adalah Kerajaan Hatorusan yang didirikan oleh Raja Uti di Sianjur Mula-mula. Pusat kerajaan kemudian dipindahkan ke Barus dan Singkil. Raja Uti adalah cucu langsung Si Raja Batak dari anaknya Guru Tatebulan.

    200 SM-150 M
    Orang-orang Mesir (masa Ramses) mengunjungi tanah Batak, tepatnya, Barus untuk membeli kapur barus. Sumber-sumber sejarah Yunani, misalnya dari Ptolomeus abad ke-2 SM mengatakan bahwa kapal-kapal Athena telah singgah di kota Barus pada abad-abad terakhir sebelum tibanya tarikh Masehi.

    Ptolomeus membicarakan Barus sebanyak lima kali di dalam laporannya dengan pandangan negatif terhadap penduduk pribumi Sumatera, khususnya orang Batak yang dikatakannya sebagai orang-orang kanibal (Wolters hal. 9; Krom h. 57-59).

    Begitu pula rombongan kapal Fir’aun dari Mesir telah berkali-kali berlabuh di Barus antara lain untuk membeli kapur barus (kamper), bahan yang sangat diperlukan untuk pembuatan mummi. Mereka adalah orang-orang Arab pra-Islam Funisia, Kartago yang sekarang menjadi Libya dan Mesir, Afrika Utara.

    100 SM
    Sementara itu di pedalaman Batak, Sianjur Mula-mula, beberapa kerajaan huta telah berdiri. Tahun 100 SM Kerajaan Batahan Pulo Morsa eksis. Kerajaan ini memakai sistem raja na opat atau raja berempat yang terdiri; Pulo Morsa Julu, dengan Raja Suma Hang Deha, Pulo Morsa Tonga, Raja Batahan Jonggi Nabolon, Pulo Morsa Jau dengan Raja Situan I Rugi-rugi dan Pulo Morsa Jae dengan Raja Umung Bane. Kerajaan ini bertahan selama 24 keturunan.

    450 M
    Daerah Toba telah diolah dan dikelola secara luas oleh rakyat kerajaan tersebut. Mereka yang dominan terutama dari kubu Isumbaon, kelompok marga Si Bagot Ni Pohan, leluhur Annisa Pohan, menantu SBY, Presiden pilihan langsung pertama RI. Di daerah ini bermukim juga kaum Tatea Bulan yang membentuk kelompok minoritas terutama dari marga Lubis.

    Sebagian dari Lubis terdesak ke luar Toba dan merantau ke Selatan. Sebagian lagi menetap di Toba dan Uluan hingga kini. Keturunannya di Medan mendirikan banyak lembaga sosial terutama Pesantren Modern Darul Arafah di Pinggiran Kota Medan.

    Di daerah Selatan kelompok marga Lubis harus bertarung melawan orang-orang Minang. Kalah. Perantauan berhenti dan mendirikan tanah Pekantan Dolok di Mandailing yang dikelilingi benteng pertahanan.
    Mereka kemudian berhadapan dengan bangsa Lubu, Bangsa berkulit Hitam ras Dravidian yang terusir dari India, melalui Kepulauan Andaman berkelana sampai daerah muara Sungai Batang Toru. Bangsa Lobu tersingkir dan kemudian menetap di hutan-hutan sekitar Muara Sipongi. Bila di India Bangsa Arya meletakkan mereka sebagai bangsa terhina, ‘untouchable’; haram dilihat dan disentuh, maka nasib sama hampir menimpa mereka di sini. Saudara Bangsa Lubu, Bangsa Tamil migrasi beberapa abad kemudian, dari India Selatan, membonceng perusahaan-perusahaan Eropa dan membentuk Kampung Keling di Kerajaan Melayu Deli, Medan.

    497 M
    Para pengikut parmalim menyakini bahwa tahun 497 M atau 1450 tahun Batak, merupakan tahun kebangkitan pemikiran keagamaan di kepemimpinan Raja-raja Uti. Raja Uti dinobatkan sebagai Tokoh Spiritual Batak dan Rasul Batak

    502-557 M
    Orang-orang Cina datang ke Barus. Orang Cina mengenal Barus dengan istilah P’o-lu-shih yang berarti pelabuhan peng-expor kapur. Sebuah itilah yang berasal dari kata Cina yang berarti harum: “P’o-lu” (Drakard 1993:3). Dalam teks-teks Cina pada zaman Dinasti Liang (502-557), saat itu, kapur dikenal dengan nama “obat salap dari P’o-lu atau Barus” atau P’o-lu-shih.

    600-700 M
    Pada abad ke-7, utusan dagang kerajaan Barus Hatorusan berangkat dari Barus menuju ke Cina membicarakan perdagangan bilateral antara Sumatera dan Cina (Wolters 33).

    600-1200 M
    Komunitas Batak di Simalungun memberontak dan memisahkan diri dari Dinasti Batak, Dinasti Sori Mangaraja di pusat. Mereka mendirikan Kerajaan Nagur. Mereka ini keturunan Batak yang bermukim di Tomok, Ambarita dan Simanindo di Pulau Samosir. Di kemudian hari Kerajaan Nagur di tangan orang Batak Gayo mendirikan kerajaan Islam Aceh.

    Simalungun merupakan tanah yang subur akibat bekas siraman lava. Siraman lava dan magma tersebut berasal dari ledakan gunung berapi terbesar di dunia, di zaman pra sejarah. Ledakan itu membentuk danau Toba. Orang Simalungun berhasil membudidayakan tanaman, selain padi yang menjadi tanaman kesukaan orang Batak; Pohon Karet.

    Hasil-hasil pohon karet tersebut mengundang kedatangan ras Mongoloid lainnya yang mengusir mereka dari daratan benua Asia; orang-orang Cina yang sudah pintar berperahu pada zaman Dinasti Swi, 570-620 M. Di antaranya Bangsa Yunnan yang sangat ramah dan banyak beradaptasi dengan pribumi dan suku bangsa Hokkian, suku bangsa yang dikucilkan di Cina daratan, yang mengekspor tabiat jahat dan menjadi bajak laut di Lautan Cina Selatan.

    Kolaborasi dengan bangsa Cina tersebut membentuk kembali kebudayaan maritim di masyarakat setempat. Mereka mendirikan kota pelabuhan Sang Pang To di tepi sungai Bah Bolon lebih kurang tiga kilometer dari kota Perdagangan. Orang-orang dari Dinasti Swi tersebut meninggalkan batu-batu bersurat di pedalaman Simalungun.

    Di daerah pesisir Barat, Barus, kota maritim yang bertambah pesat yang sekarang masuk di Kerajaan Batak mulai didatangi pelaut-pelaut baru, terutama Cina, Pedagang Gujarat, Persia dan Arab. Pelaut-pelaut Romawi Kuno dan Yunani Kuno sudah digantikan oleh keturunan mereka pelaut-pelaut Eropa yang lebih canggih, dididikan Arab Spanyol. Islam mulai diterima sebagai kepercayaan resmi oleh sebagian elemen pedagang Bangsa Batak yang mengimpor bahan perhiasan dan alat-alat teknologi lainnya serta mengekpor kemenyan komoditas satu-satunya tanah Batak yang sangat diminati dunia. Islam mulai dikenal dan diterima sebagai agama resmi orang-orang Batak di pesisir; khususnya Singkil dan Barus.

    600-700 M
    Sriwijaya menjajah Barus. Sementara itu laporan Cina yang lain mengatakan bahwa Sriwijaya pada abad ke-7 dan 8 merupakan kerajaan ganda satu diantaranya ialah Barus (Wolters 9). Diyakini lokasi strategis Barus dan volume perdagangan di wilayah tersebut membuat kerajaan Hatorusan terlibat dalam pertikaian politik dengan kerajaan Sriwijaya dari Sumatera Selatan dan Jawa, sehingga saling menganeksasi.

    Hubungan Barus dengan Sriwijaya dibicarakan di dalam kitab Sunda lama “Carita Parahyangan” yang mengatakan bahwa Barus merupakan daerah taklukan dari Raja Sanjaya, raja Sumatera dari Sriwijaya yang berkuasa di Jawa dan mendirikan candi Borobudur (Krom 126).

    850 M
    Kelompok Marga Harahap dari Kubu Tatea Bulan, bekas populasi Habinsaran bermigrasi massal ke arah Timur. Menetap di aliran sungai Kualu dan Barumun di Padang Lawas. Kelompok ini sangat hobbi berkuda sebagai kendaraan bermigrasi.

    Karena ini, dalam jangka waktu yang singkat, sekitar dua tahun, mereka sudah menguasai hampir seluruh daerah Padang Lawas antara Sungai Asahan dan Rokan. Sebuah daerah padang rumput yang justru sangat baik untuk mengembangbiakkan kuda-kuda mereka.

    Sebagian dari kelompok marga ini, melalui Sipirok, menduduki daerah Angkola dan di sini tradisi mengembala dan menunggang kuda hilang, mereka kembali menjadi komunitas agraris. Sementara di Padang Lawas mereka menjadi penguasa feodalistik dan mulai memperkenalkan perdagangan budak ke Tanah Batak Selatan.

    851 M
    Laporan Sulaiman pada tahun 851 M membicarakan tentang penambangan emas dan perkebunan barus (kamper) di Barus (Ferrand 36).

    Ahli sejarah menemukan bukti-bukti arkeologis yang memperkuat dugaan bahwa sebelum munculnya kerajaan-kerajaan Islam yang awal di Sumatera seperti Peurlak dan Samudera Pasai, yaitu sekitar abad-9 dan 10, di Barus telah terdapat kelompok-kelompok masyarakat Muslim dengan kehidupan yang cukup mapan.

    900 M
    Marga Nasution mulai tebentuk di Mandailing. Beberapa ratus tahun sebelumnya, sejak tahun-tahun pertama masyarakat Batak di sini, disinyalir saat itu zaman Nabi Sulaiman di Timur Tengah (Buku Ompu Parlindungan), perbauran penduduk dengan pendatang sudah menjadi tradisi di beberapa tempat, khusunya yang di tepi pantai.
    Penduduk dataran tinggi, para pendatang di pelabuhan Natal dan Muaralabu (dikenal dengan sebutan Singkuang atau Sing Kwang oleh ejaan Cina), dan terutama elemen-elemen bangsa Pelaut Bugis dari Sulawesi, yang singgah sebelum berlayar berdagang menuju Madagaskar, telah berasimilasi dengan penuh toleransi dengan bangsa Batak.

    Para pendatang tersebut dengan sukarela interaksi dan menerima adat Dalihan Natolu agar dapat mempersunting wanita-wanita setempat setelah puluhan tahun di tengah laut. Datu Nasangti Sibagot Ni Pohan dari Toba, seorang yang disegani saat itu, menyatukan mereka; campuran penduduk peribumi dan pendatang tersebut, membentuk marga Nasution.

    Sementara itu perebutan kekuasaan terjadi di Pusat Pemerintahan Kerajaan Batak, martua Raja Doli dari Siangjur Sagala Limbong Mulana dengan pasukannya merebut wilayah Lottung di Samosir Timur. Percampuran keduanya membentuk kelompok Marga Lottung Si Sia Marina, yang terdiri atas; Situmorang, Sinaga, Nainggolan, Pandiangan, Simatupang, Aritonang dan Siregar.

    Ibnu Rustih, mengunjungi Barus kurang lebih pada tahun 900 M, menyebut Fansur, nama kota di Barus, sebagai negeri yang paling masyhur di kepulauan Nusantara (Ferrand 79).

    902 M
    Ibn Faqih, mengunjungi Barus, melaporkan bahwa Barus merupakan pelabuhan terpenting di pantai barat Sumatera (Krom 204).

    1050 M
    Karena minimnya peralatan medis, epidemik melanda daerah Lottung kembali. Masyarakat Lottung Si Sia Marina berhamburan ke luar dari wilayah tersebut menuju daerah yang “sehat”. Akibatnya, kelompok Marga Siregar terpecah dua menjadi Siregar Sigumpar dan Siregar Muara, keduanya bermukin di Toba.

    1070-1120 M
    Kemasyhuran Barus juga mengundang imigran asing bermukim dan berdagang serta menjadi buruh di beberapa sentral industri. Sebuah inskripsi Tamil bertarikh 1088 M dari zaman pemerintahan Kulottungga I (1070-1120) dari kerajaan Cola menyebut Barus terletak di Lobu Tua, dan banyak orang Tamil tinggal di kota ini sebagai saudagar dan pengrajin (Krom 59-60).

    Guru Marsakkot Pardosi, Salah satu Dinasti Pardosi di Barus menjadi Raja di Lobu Tua, Barus. Nenek moyangnya berasal dari Tukka, Pakkat di Negeri Rambe yang datang dari Balige, Toba.
    Pada permulaan abad ke-12, seorang ahli geografi Arab, Idrisi, memberitakan mengenai eskport kapur di Sumatera (Marschall 1968:72). Kapur bahasa latinnya adalah camphora produk dari sebuah pohon yang bernama latin dryobalanops aromatica gaertn. Orang Batak yang menjadi produsen kapur menyebutnya hapur atau todung atau haboruan.

    Beberapa istilah asing mengenai Sumatera adalah al-Kafur al-Fansuri dengan istilah latin Canfora di Fanfur atau Hapur Barus dalam bahasa Batak dikenal sebagai produk terbaik di dunia (Drakard 1990:4) dan produk lain adalah Benzoin dengan bahasa latinnya Styrax benzoin. Semua ini adalah produk-produk di Sumatera Barat Laut dimana penduduk aslinya adalah orang-orang Pakpak dan Toba.

    1200-1285 M
    Kerajaan Nagur tetap eksis di hulu sungai Pasai. Marah Silu, Raja huta Kerajaan Nagur, mantan prajurit/pegawai Kesultanan Daya Pasai saat itu, masuk Islam dan mengganti namanya menjadi Sultan Malik Al Shaleh. Di atas puing-puing kerajaan Nagur tersebut, sang Raja, yang asli Batak Gayo, berhasil melakukan ekspansi dan mendirikan Kerajaan Samudera Pasai sekaligus menjadikannya sebagai Sultan pertama.
    Kerabat Sultan Malik Al Shaleh, yakni Syarif Hidayat Fatahillah merupakan tokoh yang mendirikan kota Jakarta dan menjadi Sultan Banten (Emeritus) dan ikut serta mendirikan Kesultanan Cirebon. Dia, yang dikenal sebagai Sunan Gunung Jati, adalah tokoh yang berhasil menyelamatkan penduduk pribumi dari amukan bangsa Portugis.

    Sultan Malik Al Shaleh sendiri lahir di Nagur, di tanah Batak Gayo. Dia adalah mantan prajurit Kesultanan Daya Pasai, sebuah kerajaan yang berdiri di sisa-sisa kerajaan Nagur atau tanah Nagur. Nama lahirnya adalah Marah Silu. Marah berasal dari kata Meurah yang artinya ketua. Sedangkan Silu adalah marga Batak Gayo.

    Sepeninggalannya (1285-1296) dia digantikan oleh anaknya Sultan Malik Al Tahir (1296-1327). Putranya yang lain Malik Al Mansyur pada tahun 1295 berkuasa di Barumun dan mendirikan Kesultanan Aru Barumun pada tahun 1299.

    Dinasti Batak Gayo di Kesultanan Aru Barumun adalah sebagai berikut:
    1. Sultan Malik Al Mansyur (1299-1322)
    2. Sultan Hassan Al Gafur (1322-1336)
    3. Sultan Firman Al Karim (1336-1361), pada era nya banyak bertikai dengan kekuatan imperialis Jawa Majapahit. Di bawah panglima Laksamana Hang Tuah dan Hang Lekir, pasukan marinir Aru Barumun berkali-kali membendung kekuatan Hindu Majapahit dari Jawa.
    4. Sultan Sadik Al Quds (1361). Wafat akibat serangan jantung.
    5. Sultan Alwi Al Musawwir (1361-1379)
    6. Sultan Ridwan Al Hafidz (1379-1407). Banyak melakukan hubungan diplomatik dengan pihak Cina
    7. Sultan Hussin Dzul Arsa yang bergelar Sultan Haji. Pada tahun 1409 dia ikut dalam rombongan kapal induk Laksamana Cengho mengunjungi Mekkah dan Peking di zaman Yung Lo. Dia terkenal dalam annals dari Cina pada era Dinasti Ming dengan nama “Adji Alasa” (A Dji A La Sa). Orang Batak yang paling dikenal di Cina.
    8. Sultan Djafar Al Baki (1428-1459). Meninggal dalam pergulatan dengan seekor Harimau.
    9. Sultan Hamid Al Muktadir (1459-1462), gugur dalam sebuah pandemi.
    10. Sultan Zulkifli Al Majid. Lahir cacat; kebutaan dan pendengaran. Pada tahun 1469, kesultanan Aru Barumun diserang oleh Kesultanan Malakka, atas perintah Sultan Mansyur Syah yang memerintah antara tahun 1441-1476. Kota pelabuhan Labuhanbilik dibumihanguskan dan Angkatan Laut Kesultanan Aru Barumun dimusnahkan.
    11. Sultan Karim Al Mukji (1471-1489)
    12. Sultan Muhammad Al Wahid (1489-1512). Gugur dalam pertempuran melawan bajak laut Portugis.
    13. Sultan Ibrahim Al Jalil (1512-1523) ditawan dan diperalat oleh Portugis.

    1292-1302 M
    Sultan Marah Pangsu Pardosi naik tahta, memerintah di Barus Hulu yang mencakup beberapa negeri diantaranya Negeri Rambe, menggantikan ayahnya Sultan Mualif Pardosi, (700-710 H). Kakeknya Sultan Kadir Pardosi merupakan turunan pertama, dari Dinasti Pardosi, dari Tukka, yang masuk Islam.
    Dinasti Pardosi sejak dahulu kala sampai abad ke-19 adalah:
    1. Raja Kesaktian (Bermarga Pohan di Toba)
    2. Alang Pardosi pindah ke Rambe dan mendirikan istana di Gotting, Tukka
    3. Pucaro Duan Pardosi di Tukka
    4. Guru Marsakot Pardosi di Lobu Tua
    5. Raja Tutung Pardosi di Tukka, berselisih dengan Raja Rambe di Pakkat.
    6. Tuan Namora Raja Pardosi
    7. nnnXXXXnnnn…. Ada gap yang lama, beberapa raja di fase ini tidak terdokumentasi
    8. Raja Tua Pardosi
    9. Raja Kadir Pardosi (Pertama masuk Islam)
    10. Raja Mualif Pardosi
    11. Sultan Marah Pangsu Pardosi (700-an Hijriyah)
    12. Sultan Marah Sifat Pardosi
    13. Tuanku Maharaja Bongsu Pardosi (1054 H)
    14. Tuanku Raja Kecil Pardosi
    15. Sultan Daeng Pardosi
    16. Sultan Marah Tulang Pardosi
    17. Sultan Munawar Syah Pardosi
    18. Sultan Marah Pangkat Pardosi (1170 H)
    19. Sultan Baginda Raja Adil Pardosi (1213 H)
    20. Sultan Sailan Pardosi (1241 H )
    21. Sultan Limba Tua Pardosi
    22. Sultan Ma’in Intan Pardosi
    23. Sultan Agama yang bernama Sultan Subum Pardosi
    24. Sultan Marah Tulang yang bernama Sultan Nangu Pardosi (1270 H).

    1292 M

    ‘nBASIS: terimakasih masukan Anda

  32. Posted by: tobadreams on: 22 September, 2008 In: batak itu keren | Pustaha 155 Komentar BATAK MANINGGORING Assalamoe alaikoem Kami jang bertanda tangan dibawah ini: Radja Mangatas Soetan Soripa says:

    BASIS: Anda kelihatannya semakin melenceng dari pokok masalah yang anda buat sendiri dengan judul.Seputar Kontroversi tentang Sebutan Batak: SEBAIKNYA AZHARI “DILAWAN” DENGAN DATA.Dengan kata-kata klaim bahwa Mandailing itu bagian dari Batak (kalau pun misalnya, sekali lagi, misalnya, Mandailing itu bagian dari Batak). Pembuktian di ranah ini tidak dengan ilmu (maaf) “tipu-tipu”. Ada displin ilmu lain yang kompeten untuk itu”.dan paparan Prof.WB.Sijabat. mau di jawab apa (ini membingungkan)

    Banyak comentara saya di media ini tentang itu termasuk lewat blognya Juara Ginting yang menyatakan KARO ITU BUKAN BATAK.Disitu saya jelaskan jangankan karo keturunan batak saya sendiri Batak toba belum tentu keturunan langsung si Raja Batak.Dan demikian juga Karo atau mandailing belum tentu keturunan si raja karo atau si raja mandailing. saya setuju klem anda

    Pokok masalah sesuai judul ini adalah apakah BATAK itu sebutan atau sebuah penamaan ? itulah intinya.Maka saya kutiplah beberapa sejarah tulisan di atas seperti:

    1.Raja Lingga I, yang menjadi keturunan langsung Batak, disebutkan mempunyai 6 orang anak Penahunan ini mungkin sangat relatif karena kerajaan Lamuri telah eksis sebelum abad ini, penahunan yang lebih tepat adalah pada antara abad ke 2-9 M), Kerajaan Lingga didirikan oleh orang-orang Batak Gayo.

    2.Buku berjudul Sistim Bermasyarakat Bangso Batak tulisan Sabam Wesley Adanya sebuah perjanjian bangsa cina yang di pimpin oleh Jenderal ANG TZE dengan para tetua-tetua batak atau para mangaraja batak yang di abadikan dengan sebuah alat spritual bernama OGUNG atau GONG di Aceh atau ANG TZE yang sampai sekarang masih ada di Aceh menurut ahli sejarah Klenteng di KLENTENG KWANG TEK KONG.dan ke jadian perjanjian ini dilakukan sekitar 1.400 tahun yang lalu

    Apakah sejarah Hubungan Suku Gayo Aceh dan Suku Batak di atas dan perjanjian jenderal Ang Tze ini yang ada kata-kata Batak, belanda penjajah yang berada di nusantara ini baru berkisar 400 tahun lamanya atau Jerman Yang mengajari atau ICHWAN AZHARI atau anda yang tipu-tipu ?

    Sebelum kepercayaan Malim atau Parmalim datang yaitu sekitar 500=600 tahun yang lalu ke tanah batak dimana mulai pada saat itulah adanya tersusun Tarombo dan marga Batak.secara perhitungan katanyan dari siraja batak sampai saat ini baru berkisar 25 generasi atau usia batak sekitar 600 tahun Namun sebenarnya Jauh-jauh hari atau ribuan tahun sebelum kepercataan MALIM sudah ada kepercayaan batak lain dan adat batak yang namanya kepercayaan Mulajadi Nabolon dengan adatnya TUHO PARNGOLUON NI BATAK dan kemudian adat DALIHAN NA TOLU.baru masa kepercayaan Malim atau Parmalim yang nama adatnya SUHI NI AMPANG NA OPAT.Baca kembali Blog.saya di atas.

    Kayu Batak itu sampai saat ini masih ada tumbuh di tanah batak tetapi sekarang penamaannya berubah menjadi nama dengan nama fungsiny di sebut kayu SI ALAGUNDI.Sebenarnya nama kayu itu adalah kayu Batak yang dibuat menjadi TUKHOT atau TUKKOT SI SIA LAGUNDI (SI SIA LAGOGO)

    Perkembangan jaman kemudian kata batak mulai indetik dengan label budaya.“Desertasi Daniel Perret menyimpulkan bahwa baik istilah Batak maupun Melayu.

    Kesimpulannya kata-kata BATAK bukanlah sebuah julukan atau sebutan namun itu adalah sebuah penamaan.

    ‘nBASIS: terimakasih masukan Anda. semoga lebih memperjelas masalah

  33. . says:

    Maaf di hamu Rajakku di atas selalu penyebutan saya” anda”.Sementara hamu Tulang saya,Karena dainang yang melahirkan saya adalah br.Regar.Dan saya pun keturunan LOTTUNG atau LOU-TUNG (NAGA dari TIMUR) haha…ha.
    Ciri-ciri keturunan Lottung cendrung berbeda dengan marga-marga lain seperti saragih,hutagalung,nasution.dari penampilan postur tubuh.Mungkin mereka-mereka ini keturunan dari India sana sementara kita lottung dari MONGOLIA atau VIETNAM

    ‘nBASIS: terimakasih

  34. Sahala Sianturi says:

    Baatar.bahasa mongol artinya pahlawan

    ‘nBASIS: Apa kaitannya dengan topik bahasan kita ini? Apa maksudnya Baatar itu Batak? Ini semakin mendukung Ichwan Azhari bahwa Batak itu konstruksi dari luar

  35. Sahala Sianturi says:

    http://bataksisialagundi.blogspot.com/

    Di dalam blog saya ini ada saya singgung mengenai kerajaan BUR-BUR di sekitar Asia tengah. Apakah ini kerajaan Mongol yang menyuruh para pasukannya untuk mencari kayu Batak atau kayu Baatar. yang artinya kayu pahlawan.Yang dibuat menjadi tongkat (TUK-HOT SI SIA LAGUND)I.Di mana sampai saat ini istilah itu masih berlaku kalau ada orang Batak yang kuat mengangkat sesuatu di juluki SI SIA LAGOGO.

    ‘nBASIS: tentulah penulis sendiri yang pertamakali dimintai jawaban tentang hal itu. Data dan sumber mana yang digunakan untuk keterangan itu. Saya tidak berpretensi menidakkan atau mengiyakan.

  36. SAHALA SIANTURI says:

    Menyangkut legenda atau sejarah asal usul suatu suku atau penaman di dalamnya memang tidak terjadi dengan terkonstruksi begitu saja.Tidak sama seperti kita mempertanyakan siapa pencipta mobil tahun berapa di ciptakan,apa arti mobil dan kenapa di ciptakan mobil.

    Kasus ini sama saja apa bila anda di tanya kenapa anda di lahirkan ke dunia ini dan kenapa nama anda si anu.
    Bisa saja Batak itu asal katanya Baatar dari Mongol dan sebahagian batak adalah keturunan Mongol kan tidak ada yang salah.
    Dan saya menilai tulisan Ichwan Azhar,Juara Ginting dan judul yang anda buat ini sangat sepi dari dunia akadimisi dan jauh dari ilmiah.
    Di lain dialog Ichwan Azhari menyatakan bahwa kata-kata batak sudah di pergunaan pada abat 11.baca tentang Tuan ku Rao.
    Kasus batak tidak berbedah jauh dengan kasus suku-suku lain seperti minang,jawa,dayak bugis,aceh,melayu dll.Semua ini misteri dan tidak terjawab apa artinya.Jadi kalau saya melihat yg membuat tulisan ini sama saja seperti orang yang membawa mobil tanpa setir.
    Tahun yang lalu saya bertemu dengan tokoh Melayu dari Riau di Hotel Aston di Pontianak kami sma2 sarapan pagi dalam rombongon itu juga ada Ray Sahitapi.
    Dalam cerita kami akhirnya nyerempet dengan sejarah dan saya katakan mungkin kerajaan siak ada hubungannya dengan batak dan kerajaan pagaruyung dengan alasan karena ada nama nenek moyang kami si boru nasiak bagi,Dan istana pagaruyung di buat namanya istana Silindung Bulan.Dia melakukan bantahan dan argumen saat itu.Terakhir saya jawab.Bagi saya melihat sejarah dan budaya kita di indonesia ini sy melihat persamaannya saja bagaimana persamaan itu kita kembangkan menjadi nilai-nilai pemersatu.Karena kesatuan NKRI dan Panca sila tidak cukup sakti untuk mempersatukan negara ini.Tanpa kita sadari hanya bahasa saja yg mempersatukan kita yaitu bahasa indonesia selain.Seperti melayu kan hanya agama saja yg satu adatnya kan lain-lain demikian juga pakaiyan adatnya dan bahasanya semua berbeda.Batak saja persamaannya sudah mulai sepi tinggal hanya marga saja.
    Kenapa saya menceritakan persamaan di atas atau hubungan di atas karena saya rindu akan persatuan bangsa kita ini,bagaimana adanya hubungan masa-masa lalu itu kita gali kita kembangkan menjadi bahan pemersatu di negara ini .
    Teakhir saya bilang saya bukan akademisi sekolah SMP pun saya hampir tidak tamat tahun 1980 saya sudah merantau.tetapi kenapa sekarang saya bisa duduk di hotel ini dan menjadi pemilik Tambang PT MEGA MALINDO.ya saya yakin karena saya orang batak beradatkan adat batak dan pengaruh dari budaya batak itu sangat besar di dalam mengembangkan kehidupan peradapannya
    .500 orang jawa dI satu tempat dan orang batak 50 orang pasti orang bataknya yg lebih terkenal saya bilang.Dan kita -kita yang memikirkan budaya coba kita gali apa misteri semua ini dan kita kembangkan.
    HORAS..

    ‘nBASIS: terimakasih

  37. SAHALA SIANTURI says:

    Komentar saya di Karo (harus)Batak

    L.Ginting yang kita bahas ini adalah KENAPA KARO HARUS BATAK ? Atau KARO BUKAN BATAK.Bukan KENAPA KARO HARUS TOBA atau KARO BUKAN TOBA.
    Menyangkut adat istiadat saya yakin di dalam rumpun Batak Karo sendiri belum tentu semua seragam,sama dengan Batak Toba semua adat di Toba belum tentu semua sama.Itulah sebabnya setiap pada saat adat Batak itu mau di laksanakan harus terlebih dahulu di lakukan pembahasan Agar seragam,di buat rumusannya agar pelaksanaannya tidak tercela.Itulah yang di sebut MARTONGGO RAJA.

    Kalau anda pernah ke Jakarta orang2 kita batak di sana mati2an mempromosikan Batak.Asal dia bisa memetik gitar atau suaranya sedikit bagus.Dia tidak mau bernyanyi meminjam lagu bahasa orang lain.Akhirnya lagu bahasa Batak itu di kenal dan disukai semua orang.
    Kami di perantawan ini membaca Judul yang dibuat JUARA GINTING di atas merasa sedih dan miris.Tidak pantas seorang akademisi melontarkan tiori-tiori yg demikian.Sebenarnya J.Ginting sudah sepatutnya memposisikan diri sebagai pembangun atau pelestari budaya kita Budaya Batak.Masa lebih bernilai pengamen dari dia.
    Kita melihat saat ini batak secara umum sudah jauh tertinggal dari berbagai sendi kehidupan.Tidak lagi seperti batak-batak kita dulu yang terkenal,seperti Jenderal Nasution,Panggabean, Simatupang,A E.Manihuruk TD Pardede, sampai uang pun di tanda tangani orang batak Arifin Siregar.Dulu selalu saya bilang sama orang jawa uang yang kau pegang itu paman saya yang buat, kalau dia tidak tanda tangan uang itu tidak laku.
    Tetapi sekarang bila kita membayangkan daerah kita,kita semua malu, semua sudah Jawa yang lebih terkenal padahal thn 80 an jawa itu bagi orang batak adalh hatoban(kuli) tetapi sekarang jawa sudah menjadi raja di tanah Batak
    Untuk itu mari kita bersatu semua Batak.
    Batak Toba,Karo,Simalungun,Pakpak,Mandailing,Gayo,Akkola. Kita buat bendera kita Bendera BATAK MENGGUGAT, menggugat bagaimana peradapan,ekonomi,politik dan budaya lain lebih maju di tanah kita TANAH BATAK.Jangan di dengar ocehan J.Ginting dan ICHWAN AZHARI itu.
    Baru-baru ini saya ada melakukan perjalanan dari Brastagi ke Silalahi dolok sanggul,Parapat dan ke Siantar Lubuk Pakam.Ada dua hal yang unik saya lihat di sana Kok masih ada Ratusan ribu hektar DI tengah-tengah kota HTI dan Perkebunan apakah itu masih kebanyakan Inti atau sudah semua Plasma.Kalau masih lebih banyak Inti kelihatannya sudah sangat tidak layak.Karena saat ini populasi batak sudah sangat pesat.
    Jadi pada kesempatan ini bagi kita semua batak ada dua point yang mendasar yg harus di kerjakan’
    1.Harus Orang Batak yg menjadi Raja di Tanah Batak.
    2.Semua Perkebunan dan HTI sudah harus menjadi plasma Sera

    ‘nBASIS: terimakasih masukannya.

  38. Fadmin Malau says:

    Umumnya, nama seseorang, nama satu daerah bukan seseorang atau penduduk daerah itu yang memberi namanya. Nama seseorang pasti bukan seseorang itu yang memberi namanya, biasanya orangtuanya, kakeknya atau siapa saja, bukan yang pemilik nama. Kata Batak dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia juga arti kata Batak bukan dikatakan nama satu suku.

    ‘nBASIS: Terimakasih

  39. selwabatu says:

    benar dikatakan bang Iwan , Aksara tertua adalah Aksara Mandailing , dan peradaban tertua di Mandailing. Silsilah Raja Batak baru 25 Generasi. memang Istilah pertamakali di perkenalkan Oleh Vandertuk. Menurut bang Robet Sibarani Ahli Antropoligii Lungistik Aksara tertua Mandailing. Waktu Dia melakukan pemetahan Bahasa.. Jadi Thesis bang Iwan dan bang Robet berhubungan sekali

    ‘nBASIS: terimakasih

  40. Tengku Eduart Zhein
    April 2nd, 2013 pada 17:51
    @Mega Malindo
    bahasa batak yg berkembang sekarang bukan bersal dari bahasa toba yg dari samosir,bahkan aksara mandailing adalah aksara paling tua serta bahasa yg paling tua adalah bahasa mandailing,bagaimana anda menaggapinya???

    SAHALA SIANTURI
    April 4th, 2013 pada 18:33
    Temuan itu sah2 saja,demikian juga hamka dulu dalam tulisannya menyatakan bahwa sisinga mangaraja asalnya dari Tanah minang.Tetapi yg mengejutkan istana pagaruyung disebut juga istana silindung bulan dan lumbung padinya di sebut Nantinjo lauit.Kata2 silindung hampir tidak ada di pakai di sumatra barat apakah nama kampung atau nama gunung atau sungai itu setahu saya adalah nama kampung orang batak toba.Demikian juga Nantinjo kalau tidak salah nama ini adalah nama salah seorang nenek moyang orang toba. yaitu anak putri dari Guru Tatea Bulan.Nama2 anaknya ialah.anak laki2
    1.Mangaraja Sumba.
    2.Sariburaja
    3.Mangaraja Limbong
    4.Mangaraja Sagala
    5 .Silau Raja.
    Putrinya 1.Siboru Pareme
    2.Siboru Paromas
    3.Siboru Biding Laut
    4.Siboru Nantinjo
    Maksudnya bisa saja dulu Bangsa Batak sudah menyebar sampai ke sumatra bagian selatan atau barat.Dan kemudian gunung toba itu meletus kedua kali setelah ada peradapan manusia disana dan punah sisa2nya yg hidup termasuk yg tinggal didaerah lain kembali menetap di kaki gunung toba itu sebahagian lagi tidak pindah.Dari sejarah di atas dapat kita menyimpulkan pendapat dari Hamka ada kebenarannya.
    Setelah letusan gunung Toba Pertama setalah ada peradapan Manusia disana keturunan Mangaraja sumba yang kembali ke tanah Batak yaitu dari keturunan
    Mangaraja Tuan Sori Anak laKI2
    1.Datu Pargomgom
    2.Datu Pejel
    3.Tuan Sorbadibanua
    Anak perm..1. Siboru Tuan Inang (kemungkinan menetap di
    Tanah Minang)
    2.Siboru Nasiak Bagi (kemungkinan kerajaan
    Siak)
    Setelah letusan gunung toba pertama yang kembali dari daerah Aceh ketanah batak yaitu keturunan dari Ompu Tuan Mangalas yaitu TUAN PAKPAK ULU.Keturunannya yaitu
    1.Tuan Pakpak
    2.Tuan Jangga Tano
    3.Tuan Sori Naga

    4.Tuan Ambualas
    5.Mangaraja Ambe
    Putri 1.Siboru Haro
    2.Siboru Menta
    3.Siboru Enggan.
    Si Boru Haro inilah yang mungkin kawin dengan pendatang dari india sana dan membuat Kerajaan di antara aceh utara ,tengah dan timur tetapi kerajaan itu kalah perang dgn bangsa cina dan mereka membuat perkampungan baru didaerah pengunungan Tanah Karo sekarang tetapi yg kesana rombongan itu bukan hanya bangsa batak saja ada juga India Tamil hindustan,cina Dll.
    Jadi temuan aksara di atas itu sah-sah saja.

    .Bisa saja mandailing itu bukan ketunan langsung dari Mangaraja Batak.Karena memang tidak semua keturunan orang batak adalah se ibu se bapak.Sesuai adat nenek moyang orang batak dulu sebelum ada adat dalihan natolu.Yaitu yang disebut adat.TUHO PARNGOLUON NI BATAK.Jadi banyak orang2 atau suku lain yang di adopsi atau yang mengikut adat batak.siapakah orang batak atau bangsa batak itu yang sebenarnya?Bangsa batak adalah bangsa yang memakai bahasa batak tulisan batak adat batak,tempat tinggal tanah batak dan bemarga marga batak.
    Dan siapakah yang di sebut orang batak dulu yang bukan orang batak atau batak MALAI adalah mereka yang di hukum usir dari pusat tanah batak yang tidak malaksanakan Hukum Partukkoan,kawin melanggar adat,kawin dengan orang asing suami atau isteri tidak barsedia memakai marga batak,tidak mengakui agama .MULAJADI NABOLON.Hal ini dapat kita buktikan dengan arti kata MA_LAI yg artinya jadi dauk_dauk sehingga tidak dapat di pergunakan.Contoh ekor ayam jago yang melengkung menyapu tanah disebut bahasa bataknya LAILAI.

    Alkisah,setelah Mangaraja,mangaraja Batak selesai melakukan partukkoan di SAMON yaitu di pusuk buhit sekarang.Hasil keputusan partukkoan itu perlu di sampaikan kepada para pomparannya agar tetap mempertahankan adat,yaitu adat dalihan na tolu dari pengaruh sileban yang di keluhkan orang batak yang bertempat tinggal jauh dari pusat tanah batak di Toba yang sudah mulai di datangi bangsa asing.Guru Tatea Bulan mengadakan perjalanan ke arah selatan tanah batak.Di dalam perjalanan itu dia bertemu dgn seorang ibu bersama suaminya orang Hindustan yang membuat marganya melalui garis keturunan ibu,namnya Siboru Tuan Inang yang dulu di usir karena kawin dengan seorang pembantunya.Siboru Tuan Inang. Siboru inang ingin balas dendam kepada Tatea Bulan,tetapi tatea bulan tidak meladeninya kejadian ini menjadi legenda di daerah yang di sebut Daerah Minang Kabau.Kemudian guru tatea bulan menjelaskan kepada orang batak yang di jumpainya tentang adat batak,dan menceritakan siapa sebenarnya siboru tuan inang.Dalam perjalanan Tatea Bulan melihat ada satu kampung menumbuk daun-daunan dan di tanya untuk apa itu,di jawab katanya untuk PULI ,daun itu adalah daun TADATADA yg di gunakan mereka untuk mengawetkan mayat. Kemungkinan kisah ini di temui oleh Tatea bulan di daerah mandailing.Dan Tatea Bulan pun meminta bibitnya untuk di tanam maka di tanamlah tanaman tadatada itu di tanah batak toba. sejak itulah timbul satu UMPASA.SADA MANUAN TADATADA,SUDE NAMPUNA PULI.SAHALAK MANDOK HATA SUDE NAMPUNA ULI.
    Tentang pengawetan mayat ini tidak ada di temukan di dalam budaya batak.

    ‘nBASIS: terimakasih.

  41. Suprie says:

    Karangan karangan manusia semua…Alkitab dan alquran saja yang dipercaya milyaran manusia banyak salahnya. Sebelum ada bukti yang konkrit lebih baik kita percaya kepada leluhur kita daripada orang lain yang tidak jelas kepentingannya. Tujuan nenek moyang menurunkan sejarah pada anak cucunya sudah pasti untuk kebaikan.

    ‘nBASIS: Bagus. Bagus pendapatnya. Gali terus (kebenaran) agar tak cuma sekadar berpendapat. Itu penting. Karena pendapat yang argumentatif akan menuntun, tak seperti pendapat sembarangan yang cuma bisa membuat orang tersenyum pahit dan getir

  42. Hulu Balang says:

    untuk membuktiikan pemberian nama BATAK anda pergi ke Jerman dan lebih percaya dengan sumber orang Eropa yang tidak jelas…mengapa anda tidak melakukan ekspedisi langsung ke Pulau Samosir hanya 3 jam dari Medan ekspedisi anda hanya habiskan uang negara dengan lebih mempercayai sumber yg tak jelas yg notabene bukan suku batak,.hanya untuk baca tulisan ULI KOZOK anda pergi ke Jerman maka sebagai Orang Batak yg Cerdas saya Katakan anda itu sarjana Karbitan berani mengungkap Fakta yg bukan dari objeknya secara langsung namun anda lebih percaya dengan sumber yg tidak jelas.

    ‘nBASIS: tampaknya ini bukan bidang Anda ya. terimakasih telah menambah variasi pendapat-pendapat awam tentang masalah ini.

  43. bonatua says:

    senang rasanya sebagai orang Batak.Batak itu unique sehingga menarik untuk diteliti.Mungkin bisa meliihat kuburan yg terbuat dari batu kuno yang ada di Samosir.Dimana pada saat Misionaris belum datang ke Tanah Batak.
    Mo tanya nich.Kenapa ada kata “TAPANULI” untuk wilayah2 diluar Tanah Melayu yah?

  44. Hartono Siswono, PhD says:

    Hebat benar melakukan penelitian besar dalam 2 bulan. 2 bulan itu berarti 60 hari saja. Luar biasa dan meragukan. Itu saja komentarku.

  45. Faisal Bin Manap says:

    Horas…ma dihita saluhutna BANGSO BATAK. Barita sian sikkola gerep. Kenapa kita BANGSO BATAK,tidak dapat mengatakan,kebenaran yang sebenar-benarnya tentang HABATAHON. tiada siapapun manusia yang dapat membuat nama BATAK , selain orang BATAK itu sendiri./OPPUTTA SIJOLO-JOLO TUBUI,ai marmula do sude taringot ni HABATAHON, Kalau tentang BATAK tidak ada yang tersembunyi,segalanya di terangkan tentang isi BUMI DAN LANGIT.jadi kita orang BATAK jangan heran tentang pendapat-pendapat orang-orang melayu-melayu/minang-minang yang tidak jelas asal usulnya sebelum datangnya ke percayaan ke NUSANTARA. Orang-rang ini sebenarnya,tidak senang melihat ke satuan kita BATAK. Kenapa dia tidak mencari asal usul nenek moyang mereka,dari mana asal usulnya,MALAYU dan MINANG, Jadi berita yang dibuat orang-orang ini, lebih busuk dari pada bangkai yang sudah berulat. Jadi kita BANGSO BATAK, harus mengetahui kebenaran yang sebenar-benarnya. Sian pakkataion ni jolmai tarida do rohana,sian parulaon ni jolmai tarida do pangalahona. jadi kita biarkan dia ber koak-koak,sampai serupa cacing kepanasan biar dia sampai mampus kering, Kalau melayu degan manang ini tidak akan dapat sejarah orang BATAK. Biarpun tujuh kali dia lahir ke bumi ini,berumur seribu tahun/1000 tahun Baru mati,dia tidak akan dapat mengetahui tentang asal usul BATAK. Tentang orang MANDAILING,yang tidak mengaku orang BATAK, Itu memang benar,karna di orang memakai adat BATAK/DALIHAN NA TOLU DAN MARGA BATAK, tapi dia orang tidak memahami arti sebenar DALIHAN NA TOLU, MANAT MARDONGAN TUBU, SOMBA MARHULA-HULA, ELEKMA NANG DOHOT MARBORU, Kalau saya berjumpa orang mandailing di prantauan,horas lae aha do marga muna, lubis,boru ahado ni alap muna boru lubis, jadi kalau begilah jadinya, ini bukan orang BATAK,banyak orang-orang mandailing yang kawin satu marga,nasution sama nasution, pulungan sama pulungan,harahap sama harahap, jidi orang-orang ini, sudah terkeluar dari pada BATAK,bukan di keluarkan. Jadi kita orang batak harus mengetahui,namanya BATAK,karna apa ada BATAK,untuk apa itu BATAK.semua orang mengetahui kelahiran itu sama, kehidupan itu berbeda-beda,dan ke matian itu sama, alai molo di HABATAHON, sudedo di paboa tuhita BANGSO BATAK,sian mulana sahat tu ujung na. Bukkulan na di ginjang parasaran ni borong-borong, Bulan na di ginjang pardomuan ni si malolong. Horas…ma sian hami na tinggal di tano parse rahan.

  46. batak tulen says:

    ambigu kata batak itu,punya batak arti. sejatinya memang etnis yang ada di sumatra utara masing-masing mempunyai hubungan jika dilihat dari sisi budaya kekerabatan. nama batak sendiri berasal dari penyebutan orang luar sedangkan orang asal sumatra utara sebagian besar tidak mau disebut batak karena mempunyai cerita dan sejarah tersendiri. seperti halnya karo dengan kerajaan ARU, simalungun dengan kerajaan NAGUR yang mengkoloni sebagian besar pantai timur sumatra dan sebelum kehancuran dari 2 kerajaan tersebut mereka merupakan suatu kerajaan yang cukup besar yang mengontrol jalur perdagaan di selat malaka menurut catatan cina sekitar abad 4-6 masehi, setelah itu mereka di koloni oleh kerajaan aceh dan merubah penamaanya seperti deli, serdang, atau asahan. yang menarik disini adalah menurut sumber cina ciri khas dari orang-orang kerjaan nagur mempunya rajah/tato di muka dan tubuh , jika dilihat dijaman sekarang orang-orang di wilayah nagur yang terletak di pantai timur sumatra utara tidak ada budaya rajah/tato di muka atau badan, apakah hancur budaya tersebut dikala penyerangn dari kerajaan luar seperti aceh atau chola dari india ?? , berbeda kisah dari pantai barat sumatra utara yang punya kisah kerajaan sendiri mulai dari kota barus, sibolga, sorkam dan lainya punya penguasa, dan cukup tua kisahnya jauh sebelum cerita siraja batak muncul. jadi jika ada pendapat disertai dengan bukti sejarah seperti peninggalan tulisan musafir luar yang pernah berkunjung ke sumatra utara patut di jadikan perhatian sebagai bahan rujukan kedepan mengenai penamaan kata batak yang oleh beberapa pengunjung luar disebut pedalaman yang pagan(dulu mungkin benar), kafir dan kanibal(dulu mungkin benar) dan tidak berbudaya ????……. yang pasti jika dilihat dari budaya semua suku di sumatra utara mempunyai hubungan…..
    salam :
    dukungan saya juga buat provinsi tapanuli !!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 4,968 other followers

%d bloggers like this: