Home » ARTIKEL » MUHAMMADIYAH DAN POLITIK

MUHAMMADIYAH DAN POLITIK

AKSES

  • 372,968 KALI

ARSIP


KITA mau bikin seberapa panjang atau seberapa ringkas cerita tentang Muhammadiyah dan politik ini? Itu bisa saja, karena Muhammadiyah dan politik memiliki cerita khusus dan akan tetap menarik serta hangat untuk dibincangkan.

Mustahil Muhammadiyah buta politik. Tetapi, rame-rame menjadi pendukung partai politik tertentu dengan menggunakan fasilitas Muhammadiyah dan mengerahkan segenap sumberdayanya untuk itu? Ah, ini yang hitung-hitungannya perlu matang. Tak mudahlah ya.

Saat terjadi ketegangan Muhammadiyah dan Pemerintah seputar pemberlakuan asas tunggal pada tahun 1985, lobby Lukman Harun dan Prof.Dr.Ismail Sunny tercatat amat efektif. Muhammadiyah tidak dibawa ke jurang oleh Lukman Harun. Muhammadiyah tidak digadaikan ke pemerintah oleh Prof.Dr.Ismail Sunny. Kedua tokoh ini menjembatani kebekuan kedua belah pihak dengan sukses dan bagi Muhammadiyah capaian kedua kadernya itu amat dipujikan.

Ketika Amien Rais menilai perjuangan politik praktis melalui partai amat diperlukan, maka ia pun direlakan oleh Muhammadiyah untuk meninggalkan jabatannya sebagai Ketua Muhammadiyah. Lakon itu begitu jujur, dan jika hingga kini banyak orang Muhammadiyah yang menganggap Amien Rais itu tetap sebagai panutan yang patut didukung, tentulah hal itu sebuah fakta yang rujukannya hanyalah sejarah dan peran-peran strategis dalam langkah bersama membangun bangsa.

Melihat permasalahan ini secara jujur, bijak dan tak berlebihan, memang perlu.

About these ads

2 Comments

  1. Effan Zulfiqar says:

    Apa yang dilakukan Lukman Harun, Prof Ismail Sunny dan Prof Amien Rais sejarah telah mencatat. Bagaimana mereka bisa membunuh “syawat” kekuasaan tanpa harus “menggadaikan” Muhammadiyah padahal mereka sebenarnya “bisa” untuk melakukan itu. Di sinilah perbedaan antara kader sejati dan kader karbitan yang hanya mencari “hidup” dan “popularitas” dalam Muhammadiyah. Yang terjadi kini Muhammadiyah telah menjadi “komoditi” yang laris manis apalagi menjelang pesta Pemilu. Mereka yang menjabat pimpinan di level ranting hingga wilayah terlibat dalam kepentingan politik praktis. Dalam perhelaan politik lokal hal itu semakin terlihat secara “telanjang” Muhammadiyah di seret-seret untuk mendukung salah satu calon. Bahkan tidak jarang akhirnya melahirkan konflik di internal organisasi. Saya pernah melihat sendiri pengurus tingkat ranting dan cabang terlibat aktif untuk memenangkan salah satu calon. Kalaupun kemudian ternyata yang mereka dukung kalah total karena memang yang bersangkutan tidak punya nilai jual. Dalam Pilkada keterlibat pengurus begitu jelas, bahkan terbetik kabar Muhammadiyah “dijual” kepada Calon Kepala Daerah dengan sejumlah “Hepeng”. Fakta ini sesuatu yang tidak terbantahkan. Alasan yang selalu dikedepankan oleh pengurus bila ditanya mengapa harus mendukung salah satu calon kepala daerah. Jawaban yang sering muncul : “untuk” menyelamatkan dan membesarkan orgnaisasi”. Padahal yang ingin diselematkan dan dibesarkan adalah “kantong” dan “kepentingan” diri pribadi pengurus sendiri. Memang tidak ada jaminan bahwa warga Muhammadiyah akan memilih si A atau B. Substansinya bukan soal memilih si A atau si B. Bila itu yang dilakukan oleh pengurus sesungguhnya mereka sudah menjual dan menggadaikan Muhammadiyah untuk kepentingan diri pribadi dan segelintir orang di organisasi. Senyatanya memang bila orang Muhammadiyah yang menduduku jabatan sebagai pengurus tidak melakukan hal-hal yang sifatnya politik praktis, karena bagaimanapun Muhammadiyah memiliki ideologi yang jelas, sedangkan dunia politik ideologi bersifat “pragmatis” dan sepanjang itu memberi keuntungan akan tetap dianggap benar dalam politik. Padahal bagi Mummadiyah jelas tidak demikian halnya ada kaidah dan norma yang membatasinya. Lalu apakah Muhammadiyah akan terus dijual dan digadaikan untuk kepentingan yang bersifat pragmatis? Kita berharap tidak demikian halnya, siapa saja orang Muhammadiyah termasuk pengurus boleh bermain di dunia politik dan itu sah-sah saja tapi tidak menarik-narik dan melibatkan organisasi Muhammadiyah sebagaimana yang terjadi dalam kasus Pilkada.

    ‘nBASIS: memang amat tidak sederhana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 4,941 other followers

%d bloggers like this: