Home » ARTIKEL » Gunung Merapi: RAHIM, RUMAH DAN KAFAN

Gunung Merapi: RAHIM, RUMAH DAN KAFAN

AKSES

  • 370,893 KALI

ARSIP


  • “Merapi Omahku” (Merapi Rumahku) karya Elizabeth D. Inandak & Heri Dono saya beli di kaki gunung Merapi bulan Maret 2011. Malam inilah buku ini baru saya buka dari bungkus plastik dan mulai membaca secara umum dan sepintas lalu.
  • Saat berkunjung di sekitar kaki Merapi, saya banyak tertegun menyaksikan rumah-rumah penduduk yang berantakan, pohon-pohon yang berubah tampilan karena seperti gosong dan berabu. Saya pun banyak tertegun menyaksikan tempat-tempat yang dulu pernah saya kunjungi di sekitar ini sudah banyak berubah.
  • Merapi adalah sebuah fakta yang banyak dibubuhi mitos, dan itu merupakan bagian dari Yogyakarta dan barangkali juga Indonesia.

KETIKA Panitia Ulang Tahun ke 7 (2011) Forum Komunikasi Warga Jawa Sumatera Utara (FKWJ-SU) memutuskan mengundang Sri Sultan Hamengku Buwono X (Sultan) dalam acara puncak yang akan diselenggarakan di Lapangan Cononco Pasar Ujung Batu, Kabupaten Padanglawas,  saya diminta sebagai salah seorang di antara beberapa pengurus inti untuk berangkat ke Yogyakarta menyampaikan permohonan itu kepada Sultan.  Rapat yang memutuskan itu memiliki alasan sederhana. Pertama, saya pernah tinggal beberapa tahun di Yogyakarta. Kedua, saya adalah salah seorang pensehat organisasi ini yang relatif lebih aktif dibanding para penasehat lain. Saya sendiri tidak ikut dalam rapat tentang masalah ini dan hanya satu hari sebelum keberangkatan ke Yogyakarta Ketua Umum FKWJ-SU memberi tahu rencana ini kepada saya.

Maka sebelum pertengahan bulan Maret 2011 kami pun berangkat. Ketika tiba di Yogyakarta pada hari Minggu, saya baru tahu bahwa surat permohonan resmi kepada Sultan masih belum dibuat. Surat yang sudah dikirimkan lewat badan usaha kurir hanyalah permohonan audiensi, dan itu pun baru disampaikan ke kantor Gubernur DIY Jum’at sore, dua hari sebelumnya. Informasi ini saya ketahui setelah mengecek di kantor badan usaha kurir yang digunakan, di Yogakarta.

Setelah Senin pagi bertemu dengan petugas di sekretariat Sekda Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), saya pun menjadi tahu bahwa urusan baru dimulai. Mereka sudah mencatatkan surat FKWJ-SU dalam agenda surat masuk dan sekaligus memberitahu aliran normal surat itu hingga tiba saatnya nanti mendapat respon dari pejabat berwenang yang ditunjuk.  Saya gunakan kesempatan pertemuan itu untuk memaparkan secara rinci agenda acara yang sudah kami setting dalam rangka Ulang Tahun ke 7 FKWJ-SU Tahun 2011 dengan harapan pihak yang akan menerima pendelegasian untuk menerima delegasi kami dapat faham.

Sembari menunggu proses itulah saya bersama beberapa orang berangkat ke Kaliurang, daerah wisata yang amat dekat dengan lokasi Gunung Merapi yang terkenal itu.  Desa-desa yang disebut-sebut mendapat timpaan bencana terparah, kami usahakan untuk  kunjungi.

Rahim, Rumah dan Kafan. Elizabeth D.Inandiak dan Heri Dono menuliskan kalimat yang sekaligus menjelaskan identitas buku mereka pada sampul belakang. Begini kata mereka:

Merapi Omahku membeberkan mitos Beringin Putih, kisah persahabatan antara manusia dan alam yang diuji lewat godaan dan pengorbanan. Mitos itu bukan sekadar dongeng. Ya memang, bumi Merapi adalah rahim, rumah dan kafan.

Sebelum kalimat di atas itu, pada bagian paling atas sampul belakang “Merapi Omahku” tertulis ucapan amat filosofis dan sekaligus memperingatkan, yang pernah diucapkan oleh Mbah Maridjan, sang Juru Kunci Merapi. Begini katanya:

Kalau orang pinter diberi satu, akan minta dua. Kalau orang bodoh diberi satu, akan disyukuri (Mbah Maridjan, 1996).

Nah, kemana arah dan maksud ungkapan Mbah Maridjan itu? Kiranya bolehlah ditafsirkan sesuai pengenalan tentang lakon hidup Mbah Maridjan yang kerap sekali seusai mengucap sesuatu lantas menutup mulutnya sedemikian rupa atau kecenderungan umum alam fikiran orang-orang di sekitar ini. Bagi saya sendiri kalimat itu lebih bermakna penggambaran perbedaan watak manusia yang dibedakan oleh ilmu dan pengetahuannya yang tak jarang begitu berdampak kepada sistem dan kehidupan. Orang bodoh mungkin cepatlah pasrahnya dan karena sadar tak memiliki apa-apa lebih cenderung nrimo dan bersyukur meski yang ia dapatkan malah jauh lebih kecil dari hak normatifnya. Hak normatifnya ini pun ia tak penrah tahu karena orang pintar tak pernah memberi tahunya atau sekaligus dibiarkan tidak usah tahu saja agar jangan repot kemudian. Entahlah, Mbah Maridjan.

Mbah Maridjan kerap mengklaim dirinya orang bodoh. Tetapi ia tidak sedang menjatuhkan martabatnya saat berucap seperti itu. Mbah Maridjan ini lain, mungkin lebih tepat disebut sinis terhadap keanehan-keanehan akibat “kepintaran” yang disaksikannya setiap hari, termasuk dengan orang-orang yang pernah bertemu dengannya dalam kaitan maslah kegunung-Merapian.

Terus terang, sukarlah bagi saya memahami isi buku ini karena minimnya basis pengetahuan budaya dan alam fikiran Jawa. Karena itu saya ingin hanya mengutip beberapa kalimat dalam buku ini yang saya anggap penting. Jika pun saya imbuhi dengan komentar-komentar tambahan, itu tak bermakna deklarasi bahwa saya tahu seluk-beluk tentang Mbah Maridjan dan Gunung Merapinya itu.

Di kejauhan malam, dari arah Utara gunung yang tertutup tebal selimut lumut, terdengar jeritan lelah dan tarikan nafas panjang. Itulah jeritan manusia berbelalai gajah.Jeritan yang memanggil malam, jeritan seorang pengemis yang yang bahkan tidak tahu cara mengemis. Ia menggelantung di pohon gajah, makanannya akar-akar yang menggelantung ke langit bagaikan do’a, minumnya getah berwarna cokelat keemasan yang dikejauhan tampak merembes dan dari kulit kayu bagaikan orang yang terluka (hlm 11).

Itu penuturan tetang mitos yang sudah lama diperpegangi. Tetapi, sebagaimana dikemukakan pada salah satu halaman buku ini, sejumlah orang amat percaya bahwa penggambaran itu hanya mungkin didapatkan oleh orang yang batin dan telinganya dapat mendengarkannya. Memang hal itu mungkin saja terwujud untuk menjadi semacam ibrah, agar orang sudi membuka telinga dan mata batinnya supaya ia mampu mendengar apa-apa saja, bahkan hal-hal yang membuatnya akan merasa takut jika mendengarnya dan melihat sesuatu yang mesti membuatnya takut karenanya. Ini sebuah lukisan tentang hidup dan kehidupan yang jamak berlangsung dengan interaksi yang amat kerap tak sedap dan saling tindas, malah, dalam sebuah sistem yang begitu kuat dan semakin kuat.

Gunung Merapi adalah sebuah ancaman. Ini jika dilihat dari fakta bahwa ia seringkali mengantar prahara dan kematian. Bahkan sejak kejadian pertamakalinya tanggal 4 Agustus 1672 sebagaimana dicatat oleh Dr HJ De Graaf tahun 1940 (hlm54-55). Tetapi Merapi tak selalu harus dilihat dari sisi prahara itu. Mbah Maridjan telah memilih bersamanya dan bersujud di ambang kematian hingga orang menemukan juru kunci terkenal itu dalam posisinya terakhir. Banyak yang tak senasib, tetap hidup meski tak beranjak dalam serbuan muntahan erupsi panas Merapi.

Kata-Kata Bijak. Buku ini banyak mengungkap perikehidupan Mbah Maridjan. Nukilan beberapa ungkapan penuh makna banyak dikutip. Ini misalnya:

Buah yang kamu pungut di bawah pohon terasa manis dan masak, sebaliknya yang kamu petik dari pohon dengan menyogoknya pakai tongkat bambu akan terasa pahit (hlm 43).

Memang kesabaran amat penting. Tetapi kini itu seakan tak diperlukan lagi. Ada dorongan sistem yang memaksa para petani memanen salaknya untuk dipasarkan segera. Itu sebuah contoh saja.Ada pula pisang bertandan-tandan yang kini menjadi gorengan yang tak lagi semanis keaslian jika dipanen saat yang tepat. Proses pematangan lewat pengkarbitan menjadi kebiasaan, dan bahkan mekanisme yang dipaksakan. Itu sudah menjadi pilihan dalam sebuah keniscayaan tampaknya.

Ketinggian dan keunikan pandangannya terhadap pemimpin dilukiskan lewat ungkapan Mbah Maridjan berikut ini:

Orang-orang mengenakan sepatu tetapi tidak bertopi. Saya berjalan bertelanjang kaki namun kepala saya selalu saya lindungi karena kepala adalah bagian terhormat dari tubuh manusia. Bukankah dia yang memerintahkan kaki-kaki kita untuk melangkah? (hlm 43).

Ya, Mbah Maridjan memahami pemimpin dalam sosok yang amat mulia dan seperti hubungan kaki dan kepala, tidaklah mungkin ada instruksi kepada si kaki untuk menabrakkan diri (kaki itu) ke sebuah batu besar karena itu bukan watak si kepala. Mbah Maridjan sangat setia kepala Sultan, dan kita akhirnya bukan tidak tahu apakah ia memiliki pemahaman yang berbeda tentang pemimpin-pemimpin yang lain.

Begitu terus ada cerita macam-macam, berita bahaya dari perkiraan Dokter Gunung. Di tempat saya ini, ada surat kabar yang isinya tempat ini harus diamankan, karena bahaya, dan orangnya harus diungsikan. Terus saya menulis surat kepada Kanjeng Sinuwun (sebutan Sultan), saya mohon begini: “Saya mohon kebijaksanaannya, supaya Kinahrejo aman-tentram, tidak diusik-usik oleh pemerintah, untuk pindah. Juga mohon pada Tuhan di Kinahrejo diberi keselamatan.

Sinuwun juga setuju dan dhawuh (bertitah): “Kalau tidak saya yang menyuruh pergi… jangan pergi”. (hlm 70-71).

Sebagai Juru Kunci Gunung MerapiMbah Maridjan adalah orang yang menjadi pemimpin utama dalam setiap ritus pemberian seajen. Dalam seuah do’a tercermin pula kesetiaannya kepada Sultan, demikian: “Kami setia pada Tuhan, Sri Sultan, dan Gung Merapi”. (hlm 57).

Sultannya adalah Sultan Hamengku Buwono IX. Buku ini juga melukiskan tentang kesetiaan Mbah Maridjan kepada pemberi amanah. Tahun 2006 letusan terjadi dan banyak korban berjatuhan.  Konon awan panas pun bejatuhan dekat rumah Mbah Maridjan. Saat itu ia malah pergi ke masjid kecil di dusun Kinahrejo untuk sholat. Padahal penduduk sudah berlarian menyelamatkan diri.

Kemudian datanglah peringatan terakhir dari Sultan Hamengku Buwono X menyuruh Juru Kunci untuk turun dari gunung. Tetapi Mbah Maridjan tetap menolak dengan menyatakan, peringatan itu dari Gubernur, bukan dari Sultan. Kata Mbah Maridjan, Sultannya adalah Sultan Hamengku Buwono IX yang telah menunjuk dia sebagai Juru Kunci Merapi (hlm 75).

Jadi, jika Sultan juga tidak bisa memberi perintah kepadanya, maka tak heran pada musibah tahun 2006 ia juga tak bergeming dengan himbauan Wapres Jusuf Kalla, bahkan Presiden SBY.

Wakil Presiden Jusuf Kalla menganjurkan Mbah Maridjan untuk diturunkan (catat: “diturunkan”) dari gunungnya dan ditempatkan di sebuah hotel berbintang lima supaya tahyul rakyat yang berbahaya itu bisa dibereskan. Tapi sia-sia. Lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sendiri mendatangi lereng Merapi. Sehari sebelumnya Mbah Maridjan malah meninggalkan dusun Kinahrejo dan naik untuk bertirakat selama tiga hari berturut-turut di pos labuhan pertama, cukup dekat dengan puncak. (hlm 74).

Data Buku. Merapi Omahku diterbitkan tahun 2010 oleh Babad Alas (Yaysan Lokaloka), Yogyakarta dengan ISBN 978-979-18015-4-6. Tebal 91 halaman, buku ini dibagi ke dalam sepuluh bagian, termasuk prakata dari Sindhunata. Selaian Elizabeth D.Inandiak dan Heri Dono sejumlah nama disebutkan dalam tim kerjasama penerbitan buku ini di antaranya K.R.T.Cokro Dipuro dan Yanis Cahyo selalu Juru huruf Jawa, Agustinus Ismurjilah sebagai Juru Pustaka dan Hari Wahyu & Asep Surya Wijaya sebagai Juru Design.

About these ads

3 Comments

  1. Muhamad Lukman says:

    Sebagai manusia yang bertuhan seharusnya tidak mengabaikan sifat nrimo dan pasrahnya kepada Sang Khaliq. Tetapi dalam hidup beragama seharusnya juga tetap nerima akan kemajuan ilmu dan tekhnologi yg berkembang.

    ‘nBASIS: memang rumit juga ya

  2. Muhamad Lukman says:

    Sebagai manusia yang bertuhan seharusnya tidak mengabaikan sifat nrimo dan pasrahnya kepada Sang Khaliq. Tetapi dalam hidup beragama seharusnya juga tetap nerim akan kemajuan ilmu dan tekhnologi yg berkembang, karena itu juga tuntunan agama. (luq_man_kla_x)

    ‘nBASIS: memang rumit juga ya

  3. Muhamad Lukman says:

    Tuntunan dan ajaran agama adalah no: 1. Karena existansi hidup manusia hanyalah hamba, sedangkan eksistansi Tuhan adalah yg Maha Sempurna. Mengamalkan ajaran agama adalah ibadah, jadi kalau semuanya berakar dari ibadah tentu saja tidak ada suatu kerugian dalam menjalani kehidupane dewe-dewe.

    ‘nBASIS: itu kesimpulan yang bagus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 4,937 other followers

%d bloggers like this: