Home » ARTIKEL » OBSESI GATOT PUJO NUGROHO

OBSESI GATOT PUJO NUGROHO

AKSES

  • 396,398 KALI

ARSIP


GPN memandang semua ini sebagai sebuah proses mendorong perubahan. Ini hanyalah sunnatullah (hukum alam), tegasnya. Dalam perubahan itu tak ada sesuatu apa pun kecuali kebajikan. Kebajikan pasti berbuah kebajikan lain, itu pasti.

Seperti hendak memberi catatan penutup tahun, tanggal 27 Nopember 2011 yang lalu Gatot Pujo Nugroho (GPN) dalam sebuah perbincangan untuk publikasi sebuah media elektronik berdurasi satu jam, dengan lugas bercerita kepada saya tentang banyak hal. Satu hal yang saya anggap patut menjadi pemikiran lanjut dan diskusi serius dari perbincangan itu ialah obsesi GPN sebagai figur yang saat ini paling bertanggungjawab untuk pencapaian visi pembangunan Sumatera Utara.

Menurut saya, kini GPN telah tak hendak memikirkan banyak hal kecuali parameter-parameter yang jujur dan objektif tentang totalitas kinerjanya selama menjadi pengemban estafet amanah yang ditinggal. Ini memang sebuah transisi yang dapat sangat membingungkan bagi siapa saja yang di dalamnya GPN dianggap harus mampu menjelaskan secara lugas. Itu tak bisa hanya dengan kata-kata atau instrumen-instrumen konvensional seperti baliho megah. Obsesi menjadi seorang yang harus dicatat karena kinerjanya meski sebagai “gubernur tak penuh”, itulah ringkasnya.

Akan sangat masuk akal bagi siapa saja bahwa dengan obsesi dan kinerja itu GPN akan mempertimbangkan matang-matang keputusan politik untuk kontinuitas kekuasaannya periode berikut. Tentu jika akan terealisasi segera rencana aneh pemerintah merubah sistem pemilukada dengan memangkas hak-hak rakyat (untuk mengembalikan supremasi legislatif seperti Orde Baru), proses pengorbitan pun akan berbeda pula. Saya lihat GPN memikirkan itu semua lumat-lumat.

Tripel P. Tak lama lagi (Agustus 2013), masa jabatan GPN akan berakhir. Apa yang sudah diperoleh, dan apa yang belum sempat (bahkan) untuk dibicarakan serius olehnya sudah amat perlu ditunjukkan. Disparitas menjadi masalah klasik, GPN tahu warisan klasik itu. Pantai Barat dan Pantai Timur telah didesign berbeda nasib, bahkan sejak zaman kolonial. Pemerintahan yang silih berganti tak berdaya meski telah menggencarkan program-program khusus seperti Maduma (EWP Tambunan) dan Marsipature Hutana Be (Raja Inal SIregar).  Disparitas memang sudah menjadi semacam “janji suci” bagi pemerintah dengan sistem pembangunan yang dianut, karena rezim amat percaya kepada teori trickle down effect  yang mereka copy paste saja 100 % dari kisah-kisah pembangunan di Barat.

GPN tak sekadar berusaha bertanya kepada nasib, Katanya, disparitas itu fakta tak menyenangkan. Ini tidak mudah sama sekali. Karenanya di tengah keterbatasan dana pembangunan, pilihan prioritas menjadi strategi keterpaksaan belaka. Membayangkan distribusi yang adil di tengah kondisi seperti itu memang terasa seolah ketidak-mungkinan. Tetapi GPN menawarkan pengembangan simultan potensi agraria dan kelautan yang menuntut tidak saja investasi uang, tetapi juga harus diawali dengan pemetaan permasalahan, potensi dan perencanaan terukur.  Tak mungkin melaksanakan semua itu jika rakyat sama sekali tidak tahu. Mereka harus care, dan karena itu keterbukaan informasi tak mungkin ditunda lagi.

Dalam mainset saya, kata GPN, harus dikejar kesiapan dan sinergitas triple P yang adalah merupakan singkatan dari Public (dalam arti pemerintahan), Private (dunia usaha), dan People (orang, civil society), Sesuatu memang harus diawali dengan political will.  Dari sisi pemerintahan kita akan mengaktifkan forum koordinasi pimpinan daerah termasuk di dalamnya pelibatan aparatur. Perjalanan otonomi pemerintahan daerah di Indonesia memang antara lain mengekspresikan sisi buram buruknya koordinasi pemerintahan.

Dari segi private atau dunia usaha, GPN menjelaskan,  sangat diperlukan stimulus bagi pelaku ekonomi. Barangkali kelak menjadi keharusan mutlak menciptakan iklim usaha yang kondusif yang kemungkinan besar pula meminta pentingnya langkah deregulasi. Sedangkan dari sisi people sangat penting mendorong seluruh potensi rakyat untuk ikut terlibat secara penuh. Mereka bukan cuma objek, melainkan juga sekaligus subjek pembangunan. Mereka tentu terpaut dalam berbagai segmen, termasuk pemilahannya berdasarkan keteladanan dalam berbagai pemangku kepentingan. Gerakan massif menuju perubahan saya bayangkan bisa berlangsung secara akseleratif, kata GPN dengan penuh keyakinan.

Reformasi Birokrasi. GPN memandang semua ini sebagai sebuah proses mendorong perubahan. Ini hanyalah sunnatullah (hukum alam), tegasnya. Dalam perubahan itu tak ada sesuatu apa pun kecuali kebajikan. Kebajikan pasti berbuah kebajikan lain, itu pasti. Kembali kepada disparitas dalam konteks penempatan skala prioritas, salah satu prioritas yang ditempatkan secara menonjol dalam program tahun 2012 ialah Reformasi Birokrasi dan tata kelola. Prioritas ini sudah harus menukik, dan tak zamannya lagi berlari dari satu ke lain retorika. Salah satu di antara inti reformasi birokrasi itu ialah dibangunnya tak sekadar juklak dan juknis untuk semua urusan, termasuk standar operasional pelayanan berikut sanksi bagi pengabaian-pengabaian pelayanan yang sudah ditentukan. Benar, sanksi bagi penyia-nyiaan urusan pelayanan publik.

Jika ini sudah dibangun, maka eliminasi korupsi pada gilirannya akan terjadi. Dapatlah dibayangkan kesia-siaan kampanye pusat dan daerah selama ini tentang pemerintahan yang baik dan bersih tanpa keterukuran pelayanan ini. Marilah kita petik sebuah contoh. Bahwa secara eklektif penyertaan modal kepada BUMD dapat diyakini dapat mendorong akselerasi pertumbuhan ekonomi daerah. Namun  sebagaimana diketahui bahwa BUMD kita sekarang ini tidak semua berada dalam keadaan sehat dan mungkin disehatkan. Oleh karena itu sangat diperlukan kehati-hatian, dan BUMD itu tak boleh menjadi dosa politik penguasa karena para pengendalinya meronta untuk memenangkan interest-interest pribadi yang bertentangan dengan prinsip good corpoorate governance.

Social Capital. Sebelum dialog dengan GPN, saya sudah mempersepsikan bahwa sebetulnya saat ini sedang berlangsung sebuah fenomena GPN berupa proses eskalasi meski agak lambat. Ia mulai memperoleh perkuatan posisi social capital-nya. Tentu saya tidak boleh mengenyampingkan adanya suara-suara penentangan yang masih berlanjut, termasuk karena ketidak-ihlasan elit yang bermuara pada rivalitas khas yang hanya ada pada era politik pasca reformasi. Juga saya sadari bahwa birokrasi belum sepenuhnya dapat dikendalikannya sesuai langkah yang ia kehendaki untuk semakin mendekatkan provinsi ini dengan kondisi yang diproyeksikan oleh visi yang ditetapkan.

Apakah GPN sendirian? Suka atau tidak, sesungguhnya sejak awal ia pun disertai oleh orang dan atau kekuatan yang GPN sendiri tidak memilihnya. Bagaimana mungkin berteman tanpa diawali dengan proses seleksi? Itu tidak megherankan, bahwa proses politik di Sumatera Utara dan pada umumnya di Indonesia bukanlah sesuatu yang lazim wajib diketahui oleh seseorang yang didudukkan sebagai wakil dalam sistem pemerintahan nasional maupun lokal seperti GPN. Posisi ketiadaan rotan dalam kekalutan politik telah membuat GPN wajib tampil, dan aspirasi masyarakat memang tidak diperlukan sama sekali untuk itu.

Penutup. Mungkin saja saat ini pun GPN sedang ditemani oleh orang-orang yang sama sekali tak memiliki modalitas apa pun untuk memungkinkannya mampu memimpin Sumatera Utara dengan  success story yang dapat dicatat oleh generasi kemudian. Mungkin itu yang menyebabkan GPN pernah terjebak dinobatkan menjadi Gatot Koco dalam fragmen yang eksklusif kesuku-bangsaan saat Syawalan lalu. Baliho-baliho besar yang berserakan memampangkan wajahnya memembuat GPN seperti sedang mengumumkan tentang sesuatu yang sudah diketahui publik, bahwa ia kini menjadi orang nomor satu dalam pemerintahan Sumatera Utara.  Itu tak perlu terjadi lagi.

GPN tentu harus faham bahwa sebagian (di antara) orang yang “menari-nari” merebut perhatian di sekitarnya bukanlah orang yang sejalan dengannya merebut obsesi itu.

Dipublikasikan pertamakali oleh Harian Waspada Senin 9 Januari 2012,hlm C6.

About these ads

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 4,990 other followers

%d bloggers like this: