'nBASIS

Pengembangan Basis Sosial Inisiatif & Swadaya

MENCARI AKAR MILISI-MILISI LOKAL

leave a comment »


Selama urusan-urusan makro tidak dapat diperbaiki, maka hanya standar ganda yang memungkinkan pemberian label-label buruk terhadap milisi-milisi lokal di berbagai Negara

Sebuah forum yg akan diselenggarakan oleh NUS meminta makalah dengan 4 pertanyaan kunci. Pertama, Apa alasan dan motivasi politik untuk pengembangan milisi? Apakah milisi terhubung ke lembaga pendidikan agama? Jika demikian, bagaimana hubungan ini mempengaruhi lembaga-lembaga pendidikan dan teologi mereka? Kedua, Bagaimana anggota kelompok ini mengalami partisipasi mereka dalam milisi dan bagaimana cara mempengaruhi rasa religiusitas? Apa jenis praktik keagamaan, disiplin dan pelatihan yang dilakukan dalam kelompok-kelompok?

Ketiga,  Milisi di banyak bagian Asia Tenggara telah dituduh berperilaku kriminal dan melakukan pelanggaran HAM, sebagai konsekuensinya, bagaimana religiusitas telah digunakan oleh milisi untuk merekrut atau membenarkan tindakan mereka? Apakah ada sumber-sumber legitimasi kekerasan di wilayah tersebut? (seperti nasionalisme, etnis, dll). Mengapa milisi beberapa kekerasan sementara yang lain mempertahankan peran yang relatif damai dalam masyarakat? Apakah ada perbedaan antara milisi “religius” dan jenis-jenis milisi di Asia Tenggara? Keempat, Bagaimana keberadaan non-negara milisi mempengaruhi persepsi masyarakat lokal atas otoritas negara?

Dari TOR yang disampaikan tampak tendensi mempersepsikan agama sebagai dalang paling bertanggung-jawab atas ketidak-nyamanan ini. Saya merasa pendekatan seperti ini sudah jamak dan lazim bagi pihak-pihak tertentu. Mencoba menelusuri akar permasalahan, jelas membutuhkan tidak saja serentang waktu, melainkan juga kesediaan berkompromi dengan diri sendiri agar tidak tendesius.

Tata Dunia. Menaruh perasaan curiga atas belanja dunia terhadap persenjataan perang dan persiapan untuk itu adalah awal yang baik untuk memahami masalah ini. Milisi-milisi lokal dan sepak-terjangnya hanyalah fungsi dari ketidak-adilan sosial yang mendunia, yang jawabannya bakal tak akan pernah ditemukan sama sekali pada hiruk piruk dan berbagai bentuk pertumpahan darah, termasuk peran agama-agama tertentu yang oleh banyak pemerhati dianggap sah untuk dipersalahkan.

Para komprador dalam negeri tidak memiliki pilihan selain mempertahankan kemapanan dan memperjuangkan ambisi sebagai pelayan. Di antara para komprador dalam sebuah negeri juga lazim terdapat rivalitas dan rasa kecemburuan dalam memperebutkan akses terbaik kepada pamong-pamong internasional mereka. Hal ini lebih dari cukup untuk menjelaskan mengapa hukum dan adat istiadat lokal selalu harus dikorbankan, karena saling klaim sebagai pewaris memang tidak cukup sama sekali. Sejarah para local big boss dan kemaharajalelaanya selalu dapat dijelaskan dengan cara ini.

Di sebuah desa kecil di Sumatera Utara, Sibulan-bulan, Kecamatan Purbatu, Kabupaten Tapanuli Utara, beberapa waktu lalu konflik telah memuncak karena munculnya kesadaran baru tentang nilai dan sistem sumber serta pengelolaannya. Dua LSM yang sama-sama berinduk di luar negeri, dan tragisnya sama-sama dibiayai oleh toke yang sama, memilah masyarakat dengan isyu dan kepentingan berbeda. Propaganda satu LSM yang ingin melestarikan hutan di sekitar blok Barat DAS Batangtoru pada intinya ingin mempertahankan keanekaragaman hayati dan lebih khusus ingin menjanjikan habitat yang favourable bagi komunitas orang hutan yang tersisa. Mereka akan menjadikan hutan sebagai lingkungan haram akses bagi masyarakat. LSM lain mencari pengikut untuk menolak dengan argumen bahwa sejak dahulu kala masyarakat tidak pernah mengingkari persahabatannya dengan hutan. Pembalakan hutan dengan mesin bukan ulah masyarakat, karena dengan menikmati serpihan-serpihan kulit kayu di hutan perawan, masyarakat sudah bisa hidup sejahtera. Mereka juga mempunyai data bahwa semua hutan di Sumatera yang pernah dinyatakan sebagai hutan lindung, kenyataannya telah menjadi lahan pembalakan hutan secara diam-diam oleh kekuatan-kekuatan deskturktif yang tidak sulit untuk dijelaskan.

Ibarat upaya mempertahankan dan atau memulihkan metabolisme tubuh, olah raga dan asupan gizi serta pemantangan gaya hidup buruk adalah kuncinya. Olah raga ekstrim yang bahkan membahayakan diri sendiri harus diterjemahkan dalam rangka pentingnya menggapai metabolism yang prima.

Selama urusan-urusan makro tidak dapat diperbaiki, maka hanya standar ganda yang memungkinkan pemberian label-label buruk terhadap milisi-milisi lokal di berbagai Negara.

Shohibul Anshor Siregar. Koordinator Umum  ’nBASIS

Written by nbasis

February 12, 2012 at 8:39 am

Posted in ARTIKEL

Tagged with , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 32 other followers