'nBASIS

Pengembangan Basis Sosial Inisiatif & Swadaya

KEDONGKOLAN POLITIK: SI REVO DAN SI LUSI

leave a comment »


Pesimisme dan apatisme sedang bernyala-nyala di hati banyak orang, termasuk di Sumut. Memang tidak persis sama dengan kondisi kepemimpinan Mao di China dalam memasuki abad 20 tempohari. Pemimpin begitu berjarak dengan masyarakat sehingga lebih baik disebut buta dan tuli ketimbang disebut mengetahui aspirasi yang berkembang. Orang-orang yang berseliweran di sekitar Mao adalah kalangan yes man.

Masih sangat mungkin terjadi pengulangan praktik lama yang bukan cuma yang halal, tetapi juga setengah halal dan bahkan haram. Etika politik bisa dan biasa dilangkahi. Tampaknya itu tak menjadi masalah besar untuk taraf perkembangan demokrasi Indonesia, tak terkecuali Sumut. Ini andil bersama, pertumbuhannya sebagai budaya tak mungkin tak dipengaruhi langsung dan secara kuat oleh elit yang dilegitimasi dengan proses politik buruk yang identik. Masyarakat harus lebih dewasa menghadapi ketidak-jujuran ini.

Si Revo dan si Lusi. Belum lama ini saya tulis catatan pada dinding akun Facebook saya begini: “Revo dan Lusi (revolusi) akhirnya digugurkan dari nominasi. Pertimbangannya sederhana. Kedua nama ini terlalu hayali. Lagi pula mereka tak mungkin hadir di sini jika tidak punya teman berupa situasi mengeras (structural conduciveness) dan kumpulan orang yang tidak sekadar mencap dirinya oposisi.

Dalam situasi dan kondisi masyarakat yang lebih konsesusisme, tanpa dialog dan diskusi, semakin tak mungkinlah si Revo dan si Lusi hadir. Baik si Revo maupun si Lusi sama-sama memprasyaratkan kehadiran orang-orang cerdas yang militan dan yang tak pernah loja (capek). Masyarakat madani atau civil society berindikasi dasar kecerdasan, kesadaran politik dan gugatan keperiadaan mapan yang buruk. Di sini tidak ada itu. Hanya ada sejumlah nama kelompok yang menyaru civil society, terkadang berburu anggaran Negara, berkongkow ria bersama birokrat culas. Lupakan si Revo dan si Lusi”.

Catatan di atas adalah ekspresi kekesalan saya terhadap keadaan. Respon orang terhadap catatan itu cukup beragam. Kepedulian orang terhadap masalah ini ada di mana-mana.Itu tak cuma terlihat dari kota asal pemberi respon. Kini gugatan itu memang besar dan serius.

Garbage in garbage out. Seseorang mengungkapkan kekecewaannya terhadap keadaan saat diskusi penterjemahan (menjadi bahasa Jawa) sebuah lagu yang saya ciptakan sebagai bentuk kritik sosial (Patangkashon Nasib, 2011). Ia mengingatkan agar tak dengan mudah menyalahkan para elit.Terlalu berharap kepada mereka akan frustrasi. Lagi pula, katanya, mereka itu cerminan dan produk organik masyarakat. Ia berkesimpulan tentang kondisi sekarang dengan sebuah ungkapan bahasa Inggeris “garbage in garbage out”.

Jika input cuma sampah, maka hasil pastilah sampah. Saya merasakan kebenaran ungkapan bahwa kualitas demokrasi dan kepemimpinan tergantung kepada kualitas masyarakat. Agar semua berubah lebih baik harusnya masyarakat yang terlebih dahulu digerakkan. Pertanyaannya siapa yang menggerakkan jika pemimpin menginginkan keabadian kedunguan dari masyarakat yang dipimpinnya? Ia meraup keuntungan dari kedunguan itu.

Proyeksi. Gubsu pernah mengajukan anggaran pembelian helikopter berbiaya 174 milyar. Sebelumnya dialokasikan biaya besar mengganti kantor DPRD Sumut (jadi modus penggantian kantor itu ada dimana-mana).  Alasan rencana pembelian helikopter ialah buruknya jalan dan sulitnya kordinasi.

Rencana itu aneh karena hingga hari ini umumnya hanya Belandalah yang untuk kepentingan kolonialismenya membangun jalan. Menambal-sulam dan merawat yang ada tidak ada kemauan. Bagaimana rakyat bisa membangun ekonomi jika infrastruktur jalan sangat buruk? Itulah pertanyaan penting yang menggagalkan pembelian helikopter 174 milyar itu.

Pada perbincangan bulan November lalu Gatot Pujo Nugroho juga mengakui adanya fakta keburukan infrastruktur itu ditambah disparitas (kesenjangan) antar wilayah yang belum pernah dijawab serius dengan agenda connectivity yang sering dikumandangkan oleh Presiden SBY dalam rencana pembangunan jangka panjang Indonesia.

Masih banyak masalah sangat mendesak untuk dibenahi dan mestinyalah rakyat  lebih menganggapnya sebagai pertimbangan untuk memaksa kandidat berfikir jauh dan mengevaluasi motivasinya untuk bertarung merebut jabatan gubsu. Memang harus ada kepeloporan di antara key person komunitas yang berusaha menjadikan isyu-isyu strategis seperti itu untuk membangun kriteria yang kuat untuk pilihan kandidat yang nanti akan silih berganti menawarkan diri dengan berbagai bahasa dan pendekatan.

Penutup. Pesimisme dan apatisme sedang bernyala-nyala di hati banyak orang, termasuk di Sumut. Memang tidak persis sama dengan kondisi kepemimpinan Mao di China dalam memasuki abad 20 tempohari. Pemimpin begitu berjarak dengan masyarakat sehingga lebih baik disebut buta dan tuli ketimbang disebut mengetahui aspirasi yang berkembang. Orang-orang yang berseliweran di sekitar Mao adalah kalangan yes man. Itu yang membuat orang radikal berfikir tentang pentingnya si Revo dan si Lusi (revolusi).

Shohibul Anshor Siregar. Dosen Sosiologi Politik FISIP UMSU. Koordinator Umum ‘nBASIS. Naskah ini pertamakali dipublish Harian Waspada Medan, Kamis 17 Februari 2012 hlm B5.

Written by nbasis

February 21, 2012 at 1:18 am

Posted in ARTIKEL

Tagged with , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 32 other followers