Home » ARTIKEL » AJARAN SANG AMURWABUMI: Sumber Acuan Nilai-Nilai Pendidikan Karakter Bangsa

AJARAN SANG AMURWABUMI: Sumber Acuan Nilai-Nilai Pendidikan Karakter Bangsa

AKSES

  • 364,841 KALI

ARSIP

Goodreads


NASKAH ini adalah Pidato yang disampaikan SRI SULTAN HAMENGKU BUWONO X pada Penganugerahan Gelar Doctor Honoris Causa Bidang Seni Pertunjukan  di depan Rapat Senat Terbuka  Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Slasa Wage,  27 Desember 2011 (1 Sapar Wawu 1945).

Adalah juga suatu kehormatan bagi saya pribadi beserta Kerabat Keraton Yogyakarta, karena dalam kurun waktu hanya berselang dalam satu minggu, saya memperoleh berkah berupa Penganugerahan Gelar Honoris Causa dari dua Perguruan Tinggi yang terkemuka. Dari UGM untuk bidang Kemanusiaan, dan hari ini, dari ISI Yogyakarta untuk bidang Seni Pertunjukan, yang sesungguhnya, di antara kedua bidang itu ada keterpautannya.

Rapat Senat Terbuka ISI Yogyakarta Yang Terhormat,

PIDATO di hadapan Bapak-Ibu sekarang ini adalah rangkuman kristalisasi-elaboratif terhadap materi yang tertera di dalam buku. Artinya, ada pemadatan materi di sana-sini, tapi juga, rincian di beberapa bagiannya. Karena bersifat rangkuman, tiada sekat-sekat lagi dalam bahasannya, tapi padu-padat terangkum dalam satu kesatuan.

Kesenian, memang belum built-in menyatu dalam strategi politik kebangsaan. Menurut adat Jawa, kesenian bahkan sering disebut klangênan, yakni kebutuhan setelah faktor primer dan sekunder terpenuhi. Padahal sejarah menunjukkan, pertumbuhan berbangsa masyarakat Eropa-Amerika sesungguhnya berbasis pada kemampuan mengembangkan aspek kesenian dalam arti luas, yang melandasi seluruh strategi politik-kebudayaannya.

Kalau kita petik pelajaran dari Renaissance Eropa, dapat disimpulkan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi diletakkan sebagai bagian dari kemajuan kebudayaan. Renaissance adalah kelahiran kembali masa keemasan budaya klasik, budaya Yunani dan Romawi kuna. Masa itu ditandai oleh kehidupan yang cemerlang di bidang sains, filsafat, seni maupun kesusastraan yang memberikan pencerahan Eropa dari kegelapan intelektual. Inspirasinya justru datang dari kalangan seniman. Misalnya oleh Leonardo da Vinci dengan lukisannya “Monalisa”, dan Michel Angelo dengan karya patungnya “Pieta”.

Kemerosotan berbangsa boleh jadi oleh sebab elite politik kita tidak tumbuh dalam tradisi berkesenian. Padahal, jika seorang individu mengalami pendidikan kesenirupaan, tidak selalu untuk menjadi perupa, tetapi melatih daya kritis mata terhadap dunia visualnya. Pendidikan sastra, tidaklah semata untuk menjadi sastrawan, tetapi agar setiap individu menyadari berbagai aspek dalam ruang kehidupan. Demikian juga pendidikan seni pertunjukan tidaklah semata untuk menjadi penari, pemain teater atau film, tetapi mengajak individu bangsa mengalami dunia sensitivitas terhadap kemanusiaan.

Hal yang berbeda, tumbuh pada sosok para negarawan kita masa silam. Misalnya Syahrir dan Tan Malaka, yang dikenal mencintai rakyatnya, mereka bertumbuh dalam dunia tonil dan bacaan kebudayaan yang pluralis. Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang tumbuh di lingkungan sarat budaya tradisional, namun memiliki sifat inklusif, mencipta seni tari dengan mengambil ragam seni etnik yang lain. Sementara Hatta, yang dikenal mencintai demokrasi, dalam proses perkawinannya memberikan sebuah buku yang ditulisnya sendiri sebagai hadiah pernikahan. Apalagi Soekarno, tumbuh dalam disiplin arsitektur dan mencintai berbagai bentuk kesenian, baik populer, klasik, maupun kontemporer.

Dengan kata lain, selama kesenian belum menjadi bagian dari proses bertumbuh individu kaum elite dan kebijakan politik, maka proses berbangsa akan kehilangan humanismenya, kehilangan ruang publik dan pelayanan publik serta produk-produk publik yang menumbuhkan kebangsaan.

Yang dikhawatirkan lahir dari situasi semacam ini adalah elite politik yang bermain politik tanpa memahami kemanusiaan, berbagai tontonan yang populer tanpa menumbuhkan peradaban, dan pertumbuhan berbangsa yang meningkatkan konsumerisme tanpa produktivitas dan daya saing. Yang tersisa tinggal kaum elite yang mencari jabatan, perdagangan yang monopolistik, kesenian yang penuh kekerasan dan vulgar, serta ruang publik yang sarat premanisme. Pada akhirnya, kebudayaan yang merupakan keutamaan bangsa sebagai cara berpikir, bekerja, dan bereaksi hanyalah dipenuhi kekerasan dan amuk, fisik atau pun simbolik, seperti yang seringkali terjadi sekarang ini.

Sejarah berbangsa mencatat, penekanan pada aspek ekonomi dan politik semata telah membuktikan hanya menghasilkan kelimpahruahan sementara yang penuh gejolak, kekerasan dan kekerdilan tanpa disertai sense of urgency dari para elite kita. Agaknya, inilah pekerjaan rumah kita yang tidak ringan! Termasuk bagi kalangan seniman, baik seniman-intelektual yang tumbuh di kampus-kampus, maupun seniman-praktisi yang berkarya di tengah-tengah masyarakat.

Rapat Senat Terbuka ISI Yogyakarta Yang Terhormat,

SEJARAH dunia juga mengajarkan, bahwa pengelolaan kebudayaan populer tidak bisa dilepaskan dari aspek kebudayaan klasik. Ketika industri budaya populer menjadi jenuh, maka unsur-unsur karya-karya lama dihidupkan kembali dengan berbagai nilai tambah, baik dari aspek teknologi hingga estetik serta peran barunya. Dalam proses ini terdapat pembelajaran kembali proses kreatif, analisis ruang budaya dulu dan kini, sekaligus pertemuan antargenerasi, media ruang memori kolektif yang penting dalam proses membangsa.

Misalnya film Pearl Harbour hingga Titanic atau rekaman ulang lagu-lagu lama Koes Plus. Susastrâ Jawa juga memiliki pertalian antarzaman. Jalur benang merah itu tampak terentang, seperti “Bharâtâyudhâ karya Mpu Sedah dan Mpu Panuluh di Abad ke‑12 dengan karya Yasadipura I di Abad ke-18.

Atau “Sêrat Niti‑sastrâ” oleh Sultan Agung, “dicetak ulang” dengan beberapa sisipan oleh Ranggawarsita, seperti yang tertera dalam buku. Terbukti, karya-karya seni dihidupkan kembali dengan karya-karya alusi, agar terbaca oleh generasi yang kemudian, sehingga tetap bisa melacak dan merekam jejak sejarah kebudayaan bangsanya dengan memberi makna dan ruh baru.

Lalu, di manakah letak koordinat kesenian kita? Artinya, seberapa besar apresiasi bangsa ini terhadap keseniannya sendiri? Apresiasi berarti kegiatan mengartikan dan menyadari sepenuhnya seluk-beluk karya seni, serta sensitif terhadap gejala estetis dan artistik, sehingga mampu menikmati dan menilai karya seni dengan semestinya. Dalam apresiasi, seorang penghayat sebenarnya sedang mencari pengalaman estetis.

Pengalaman estetis, menurut Albert R. Candler, adalah kepuasan kontemplatif atau kepuasan intuitif. Yakob Sumardjo (2000) menjelaskan, pengalaman seni adalah keterlibatan aktif dengan kesadaran yang melibatkan kecendekiaan, emosi, indera dan intuisi manusia dengan lingkungan. Dalam proses itu unsur perasaan dan intuisi lebih menonjol dibandingkan nalar.

Manusia berpikir, berperasaan dan bersikap dengan ungkapan simbolis. Manusia tidak pernah mengenal dunia secara langsung, kecuali melalui simbol, dan simbol ini bermakna pembebasan dan perluasan pandangan. Artinya, sebuah ide jika dinyatakan dengan simbol, ide itu menjadi multi interpretable. Selain animal symbolicus, manusia juga homo creator, manusia adalah mahluk berkreasi.

Menurut Soren Kierkegaard[1], seorang filsuf eksistensialis, hidup manusia mengalami tiga tingkatan, estetis, etis dan religius. Dengan kehidupan estetis manusia mampu menangkap dunia dan sekitarnya. Kemudian dia menuangkan kembali rasa kekagumannya ke dalam karya seni. Dalam tingkatan etis, manusia mencoba meningkatkan kehidupan estetisnya dalam bentuk tindakan manusiawi, dengan bertindak bebas dan mengambil keputusan yang dapat dipertanggung-jawabkan bagi sesama.

Akhirnya, manusia semakin sadar bahwa hidup mesti memiliki tujuan. Segala tindakan kemudian dipertanggung- jawabkan kepada yang Maha Tinggi, Tuhan Yang Maha Esa.

Dalam perjalanan sejarah umat manusia, telah terbukti bahwa seni sebagai kreasi manusia tidaklah berdiri sendiri. Dia adalah simbol dari sejumlah gagasan, ide, imajinasi, atas responnya terhadap alam sekitar yang diolah dari getar perasaannya. Sebetulnya dalam berkarya seorang seniman tidak saja bekerja sebagai abdi alam, tetapi juga mencari makna dirinya sendiri, agar apa dilakukan memiliki arti yang dapat dipertanggung-jawabkan, sebab tatkala manusia melahirkan kreasi pada benda-benda alamiah itu, batinnya pun semakin terbuka.

Demikian juga BêdhâyâSang Amurwâbumi” ini, tercipta atas dasar “isyarat” yang saya terima secara religius dalam suatu proses kontemplatif yang sangat pribadi (personalized), tingkatan ketiga dari hipotesa Kierkegaard. Yang saya tangkap bukan sosok “Sang Amurwâbumi”-nya, tokoh kontroversial Ken Arok yang sifat-sifatnya penuh premanisme.

Dengan menyandang gelar Sri Rajasa Bhatara Sang Amurwabumi, barulah proses awal “menjadinya” “Sang Amurwâbumi” yang sesungguhnya, setelah menyerap ajaran “Delapan Ajaran Kebenaran” dan “Sepuluh Kesempurnaan Laku”. Tetapi sebelum paripurna, keburu terbunuh oleh anak tirinya, Anusapati. Karena itu, dalam konsep filosofis disebutkan, bahwa kedua ajaran itu melekat pada sosok yang “dipersonifikasikan” oleh “Sang Amurwâbumi”. Artinya, saya lebih mementingkan “the song, not the singer”.

Wujud sebuah karya seni adalah representasi pengalaman-pengalaman estetis seseorang, ketika dia mencoba mencari jawaban atas apa yang ada di balik gejala yang ditangkap oleh inderanya. Oleh sebab itu, dalam melihat sebuah karya seni masalah bentuk dan isi karya adalah masalah yang saling berkait. Bentuk adalah segala hal yang membicarakan faktor intrinsik karya, mulai unsur, struktur, simbol, metafora dan lain sebagainya. Sedangkan persoalan isi mempertanyakan nilai kognitif-informatif, nilai emosi-intuitif, nilai gagasan, dan nilai-nilai hidup manusia.

Untuk lebih memahami pengalaman religius itu, ada baiknya dibaca melalui satu penggal bait yang dicuplik dari Sêrat Déwâ-Ruci, berikut ini[2]:

Badan njâbâ wujud kitâ iki//Badan njêro munggwing jroning kâcâ// Ananging dudu pangilon//Pangilon jroning kalbu//Yèku wujud kitâ pribadi//Tinitah jro panyiptâ//Ngêrêmkên pandulu//Luwih gêdé bêrkahirâ//Lamun janmâ wus gambuh ing badan batin//Sasat Srirâ Bathârâ

Dalam psikologi Jawa ciptâ dan râsâ itu menyatu, dengan sosok gambar-wayangnya adalah Arjuna, sedangkan karsâ-nya dilambangkan Bima. Orang Jawa yang lebih mementingkan ciptâ-râsâ, akan mengambil lakon “Arjunâ-Wiwâhâ” sebagai acuan hidup. Sedangkan kalau yang dominan karsâ-nya, yang akrab dengan persoalan-persoalan filsafat, akan mendalami serat Sêrat Déwâ-Ruci dengan Bima sebagai tokohnya[3].

Bêdhâyâ Hèrjunâ-Wiwâhâ”, setting temporalnya memang berbeda dengan BêdhâyâSang Amurwâbumi”, karena berkaitan dengan pawiwahan Jumênêngan pada 7 Maret 1989 (koreksi tanggal, tertulis di buku 8 April 1998). Sedangkan Bêdhâyâ Harjunâ-Wijâyâ” dipergelarkan saat pahargyan Tumbuk Agêng 7 April 2007 pada masa ketidakpastian akan nasib KeIstimewaan DIY. Artinya, setiap karya cipta seni itu punya konteks dengan waktu.

Untuk pemahaman lebih lanjut, saya mencoba membandingkan sosok “Sang Amurwâbumi” dengan “Sri Kêrtanêgârâ” yang secara badan wadhag ada kemiripannya. Kertanegara adalah penganut agama Siwa-Buddha sekte Tantrayana yang taat.

Ritualnya dengan melakukan “ma-lima” secara total dengan maksimalisasi kepuasan nafsu duniawi sebagai media-antara agar sampai ke haribaan Tuhannya. Sedangkan monumen simboliknya berupa patung Jâkâ-Dholog, yang berarti pribadi jantan yang bertekad kokoh, tak tergoyahkan (maliging râsâ), ora katut pangrâsâ (panging-râsâ/kêdhêr).

Patung itu mensintesekan sikap bhairâwâ-anorâgâ (perkasa di luar, lembut di dalam). Sikap duduk atau silanya (mudrâ) menunduk ke bumi (bhumi sparsâ mudrâ), yang mencerminkan watak patriotisme “Sang Amurwâbumi”: “setia pada janji, berwatak tabah, kokoh, toleran, selalu berbuat baik, dan sosial”.

Jika kembali pada ajaran yang diekspresikan dalam konsep filosofis BêdhâyâSang Amurwâbumi”, tidak lepas dari situasi kegamangan akan kevakuman kepemimpinan saat bêdhâyâ ini tercipta di tahun 1990-an itu, yaitu perlunya kita menggali dan mengkaji konsep kepemimpinan Jawa dari piwulang lama. Tetapi, mengapa tidak menggunakan saja ajaran “Asthâ Brâtâ” yang sudah mapan dan diterima khalayak Jawa?

Ajaran “Asthâ Brâtâ” terkandung dalam pesan Rama kepada Wibisama, bahwa untuk menjadi raja bijaksana, seharusnya mengikuti delapan laku utama yang melekat pada sifat-sifat delapan dewa. Ajaran itu termuat dalam teks Sêrat Râmâ Jarwâ Mâcâpat, Nitisruti dan Râmâyânâ Kakawin Jâwâ Kunâ.

Untuk menjawab pertanyaan introspektif tadi, ada dua pendapat tentang keberadan nilai dalam sebuah karya seni. Ada yang bependapat, nilai seni sebuah karya terletak pada benda dan senimannya. Namun dapat pula pencarian hakekat seni dilakukan dari aspek penerima seni. Dalam komunikasi seni ada tiga unsur utama yang terkait, yaitu seniman, benda seni dan publik seni. Bersatunya unsur-unsur komunikasi seni ini dalam satu peristiwa seni akan melahirkan apa yang dinamakan pengalaman seni.

Jika yang ideal ini terjadi, komunikasi seni akan berjalan sehat. Namun dalam masyarakat yang terbuka terhadap informasi nilai, persoalan komunikasi seni ini tidak lagi mudah terjalin, sebab adakalanya nilai seni yang diterima dan dipahami senimannya tidaklah selalu sama, bahkan berbeda jauh dengan nilai seni yang diterima dan dipahami masyarakat atau publik seni.

Dengan pemahaman seperti itu, saya mencoba mendekatkan karya cipta bêdháyá sebagai “benda seni” yang sarat simbol-simbol yang multi interpretasi, agar berada dalam kesamaan platform dan persepsi dengan ”publik seni”. Produk-produk seni akan selalu hidup, jika dihidupi oleh dua hal, apresiasi maupun kritik. Seni tanpa kritik dikhawatirkan akan mandeg dan tumpul kreativitas. Dan saya, menerima keduanya dengan lapang dada.

Ibaratnya sebuah eksperimentasi ramuan obat, yang belum tentu bisa menjawab secara tuntas. Tetapi, catatan ini harap dianggap bahan dasar yang perlu dikaji dan diuji secara cermat oleh mereka yang peduli. Layaknya mengumpulkan batu yang terserak untuk merekonstruksi bangunan candi, perlu penataan oleh para ahli dengan menumpuk dan merekatkannya. Jika terdapat lubang, dengan merapatkannya, atau jika miring, dengan menegakkannya, jika konstruksinya goyah, dengan menguatkannya, bahkan jika perlu, mengganti batu-batu rapuh dengan batu yang lebih kompak.

Rapat Senat Terbuka ISI Yogyakarta Yang Terhormat,

JIKALAU demikian, bagaimana kita menangkap ajaran “Sang Amurwâbumi” sebagai salah satu sumber acuan nilai-nilai pendidikan karakter bangsa? Untuk menjawab pertanyaan itu, ijinkanlah saya mengutarakan terlebih dulu sebagian sêrat-sêrat piwulang dan pitutur luhur yang kita miliki.

Sejak dulu para pujangga sudah berusaha menggali naskah-naskah lama yang berisi ajaran etika, dengan menggubah dan merevitalisasi isi dan bahasanya disesuaikan dengan zamannya. Telah diterbitkan berbagai karya sastra yang mengajarkan etika, seperti: Sêrat Wulang Rèh, Sêrat Wulang Sunu dan Sêrat Wulang Putri karya Sri Paku Buwono IV (1768-1820). Demikian juga, Sêrat Wêdhâtâmâ karya Sri Mangkunegara IV (1853-1881) dan Sêrat Wulang Putrâ karya Nyi Adisara, pujangga wanita masa Sri Paku Buwono IX (1861-1893).

Pada umumnya isi ajarannya bersumber pada etika dan filsafat Jawa beserta larangan-larangannya dengan mengacu pada ajaran leluhur dinasti Mataram, Panembahan Senapati dan Sultan Agung, dengan premis dasar: dunia ideal adalah dunia harmoni lahir dan batin.

Seseorang harus memelihara watak “rèh“, bersabar, dan “ririh“, berhati-hati, seperti Wulang Rèh mengajarkan. Berbohong, kikir, dan sewenang-wenang haruslah dijauhi. Padahal sekarang ini kebohongan publik sudah jamak tanpa pelakunya merasa malu. Mengurangi makan-tidur adalah latihan utama untuk memperoleh kewaspadaan batin, agar tingkah-lakunya menjadi “dêdugâ”, dipertimbangkan masak-masak sebelum melangkah, “prayogâ”, dilihat baik-buruknya, “watârâ“, dipikir mendalam sebelum mengambil keputusan, “rêringâ”, berkeyakinan benar akan keputusan itu.

Dalam Sêrat Wulang Putrâ, keutamaan laku ditambahkan agar “satiti“, dikaji secara teliti, teratur dan berhemat; “anut ombaking jaladri“ mengikuti tata-cara yang umum, dan “têpâ sarirâ”, tenggang rasa. Dalam Sêrat Wulang Putri, misalnya, agar meresap ke dalam batin, pendidikan etika seorang putri diajarkan dengan cara nêmbang, sebagai sasaran antara menuju pendidikan mengasah pikiran, mengolah rasa dalam bertata-krama, dan bersosialisasi.

Dalam hal menyembah kepada Allah juga sangat ditekankan untuk dijalankan. Hal ini menegaskan bahwa setiap tindakan orang Jawa memiliki konsekuensi agamis sebagai agêming aji[4].

Sehingga jika ajaran “Sang Amurwâbumi”, yaitu “Hastâ Karmâ Pratâmâ“ dan “Dâsâ Paramitâ“ akan diterapkan sebagai acuan pendidikan karakter bangsa, untuk saling melengkapinya, tetap harus dikaitkan dengan ajaran-ajaran lama tersebut. Ajaran “Hastâ Karmâ Pratâmâ“ atau “Delapan Ajaran Kebenaran”, pada intinya adalah adanya satunya kata dengan tindakan, atau satyâ-wacânâ. Artinya, kesemuanya itu harus didudukkan pada kebenaran yang sejati. Hal ini dianggap penting, karena saat ini sering terjadinya ketidakjujuran, bahkan kebohongan publik, yang sangat kasatmâtâ, atau setidaknya bisa kita rasakan aromanya, meski dengan berdalih di balik bukti hukum.

Sedangkan ajaran “Dâsâ Paramitâ“, atau “Sepuluh Kesempurnaan Laku”, adalah karakter yang harus melekat pada diri seorang pemimpin. Dan bisa dianggap melengkapi ajaran kepemimpinan “Asthâ Brâtâ” tadi.

Sesungguhnya, garis kepemimpinan tidak cukup hanya oleh kelangsungan “darah” saja, melainkan diperlukan syarat rumasuk-nya wahyu sebagai bukti lulusnya laku. Secara lebih konkrit, kelestarian turun (suksesi, regenerasi) yang bisa menjaga nama baik leluhur, bukan semata soal bibit yang baik (prestise), melainkan harus diikuti dengan prestasi. Ini sejalan dengan prasâpâ Sultan Agung Hanyakrakusuma dalam Sastrâ Gendhing. Bahwa faktor keturunan bukan hanya dipahami secara biologis atas dasar pewarisan, tetapi lebih secara kultural-spiritual, intinya adalah tékad-nyawiji, yang akhirnya harus dibaktikan bagi kesejahteraan Rakyat, Nusa-Bangsa dan Dunia, serta Sang Maha Pencipta.

Selain itu, BêdhâyâSang Amurwâbumi” sebagai wujud Jogèd Mataram berakar pada konsep dasar, “sawiji, grêgêt, sêngguh, orâ-mingkuh“. “Sawiji“ adalah konsentrasi atau penjiwaan total tanpa menjadi tak sadarkan diri atau in-trance; “grêgêt“ –semangat atau dinamika batin tanpa menjadi kasar; “sêngguh“ –penuh percaya diri namun low profile, tanpa menjadi sombong; “orâ-mingkuh“ –pantang mundur dengan tetap menjaga disiplin diri.

Keempat unsur itu bersifat paradoksal, karena jika salah dalam mengekspresikan “sêngguh“, misalnya, seorang penari bisa terkesan tinggi hati, tidak mencirikan karakter khas Jogèd Mataram. Ternyata, konsep baku Jogèd Mataram itu ada koherensinya dengan inner realism-nya Konstantin Stanilavsky yang mendasari penghayatan total seni peran.

Seorang penari yang mampu menguasai empat baku senitari itu dengan sempurna, dapat dikatakan secara kultural-spiritual telah mencapai tingkatan “manunggaling kawulâ-Gusti“ oleh menyatunya penguasaan lahir-batin. Dari keempat konsep baku Jogèd Mataram ini pun dapat kita serap ajaran-ajaran yang bisa diterapkan dalam pendidikan karakter bangsa.

Tinggi-rendahnya peradaban dapat dilihat dari etika yang dijalankan oleh masyarakat-bangsa. Bagi masyarakat Jawa, etika kerap disebut pêpali, unggah-ungguh, subâ-sitâ, tâtâ-krâmâ, tâtâ-susilâ, budi-pêkêrti, wulang-wuruk, pranatan, pituduh, pitutur, wêjangan, wulangan, wursitâ, wêwarah, wêdharan, dugâ-prayogâ, wêwalêr, pitungkas. Orang Jawa dinilai berhasil hidupnya kalau dapat betindak êmpan-papan, dengan menempatkan diri dalam unggah-ungguhing bâsâ, agal-alusing râsâ, jugar-gênturing tâpâ.

Para pemimpin Jawa sejak dulu memahami benar tentang arti penting pendidikan karakter ini. Oleh karena itu, pujangga Kraton diberi tugas khusus untuk menyusun tata-tertib sosial yang mengikat semua warga. Butir-butir pendidikan karakter yang merupakan kearifan lokal itu hendaknya dikaji dan digali dengan pendekatan ilmiah, sehingga layak dijadikan referensi bagi para ilmuwan, cendekiawan, budayawan, dosen, mahasiswa serta khalayak luas.

Rapat Senat Terbuka ISI Yogyakarta Yang Terhormat,

DIPERLUKANNYA pendidikan karakter, karena adanya kecemasan akan hilangnya karakter bangsa yang adiluhung, ramah, suka menolong, jujur dan nilai-nilai keutamaan lainnya. Kecemasan itu dengan sangat tepatnya digambarkan oleh A.D. Pirous, seniman terkemuka dan Guru Besar Emeritus ITB, dalam lukisan karyanya, The Nightmare  of Losing[5], dengan sisipan sesanti: “You lose wealth, you lose nothing. You lose health, you lose something. You lose character, you lose everything”. Tampaknya ini ada kesesuaiannya dengan pepatah Jawa: “Kélangan sakèhé rájá-bráná atêgês orá kélangan ápá-ápá. Kélangan nyáwá iku têgêsé mung kélangan sêparo. Kélangan kapêrcayan iku têgêsê kélangan sakabè[6].

Karakter berkaitan dengan kekuatan moral, berkonotasi positif, bukan netral. Jadi, ‘orang  berkarakter’ adalah orang punya kualitas moral tertentu yang positif. Peterson dan Seligman, dalam Character Strength and Virtue menyatakan, kekuatan karakter dipandang sebagai unsur psikologis yang membangun kebajikan (virtues). Salah satu kriteria utama dari ‘character strength’ adalah karakter tersebut berkontribusi besar dalam mewujudkan sepenuhnya potensi dan cita-cita seseorang dalam membangun kehidupan yang bermanfaat bagi dirinya dan bagi orang lain.

Pendidikan untuk pembangunan karakter pada dasarnya mencakup pengembangan substansi, proses dan suasana atau lingkungan yang menggugah, mendorong dan memudahkan seseorang mengembangkan kebiasaan baik. Kebiasaan ini tumbuh dan berkembang dengan didasari oleh kesadaran, keyakinan, kepekaan dan sikap orang yang bersangkutan. Dengan demikian, karakter bersifat inside-out, dalam arti, bahwa perilaku yang berkembang menjadi kebiasaan baik ini terjadi karena adanya dorongan dari dalam, bukan karena paksaan dari luar.

Proses pembangunan karakter dipengaruhi oleh faktor khas, disebut faktor bawaan (nature), dan faktor lingkungan (nurture). Faktor bawaan berada di luar jangkauan masyarakat untuk mempengaruhinya. Jadi, dalam pembangunan karakter, fokus perhatian kita pada pembentukan lingkungan, di mana peran pendidikan sangat sentral,  karena karakter adalah kualitas pribadi seseorang yang terbentuk melalui proses belajar.

Untuk membangun karakter bangsa kita harus bergegas membangun basis kesejahteraan yang kuat, yaitu masyarakat yang cerdas, berkarakter kuat, yang kohesif dalam kebhinnekaan, dengan lembaga-lembaga pemerintahan yang bersih serta efisien, yang terbentuk dan terakumulasi melalui pendidikan. Dalam hal ini, perguruan tinggi punya posisi strategik.

Sebuah bangsa bisa bertahan hidup dan berkembang jika bangsa tersebut memiliki kemampuan integrasi internal dan adaptasi eksternal yang diperbarui terus-menerus. Kemampuan integrasi internal mencakup kemampuan membangun dan menjaga kohesivitas. Kohesivitas ini dimanifestasikan dalam berbagai bentuk, seperti kuatnya rasa persatuan, kemampuan menemukan platform bersama di tengah perbedaan, bekerjasama secara kreatif, mengatasi perselisihan secara damai, rasa saling percaya antarkelompok, rasa saling menghormati di antara kelompok berbeda, mengedepankan kepentingan bersama daripada kepentingan kelompok.

Dengan adanya kohesivitas, suatu bangsa menjadikan kebhinnekaan sebagai sumber kekuatan dan kreativitas, bukan sumber masalah. Selain itu, dapat melipatgandakan kekuatan karena terbentuknya sinergi di antara kekuatan-kekuatan yang berbeda. Sebaliknya, hilangnya kohesivitas menyebabkan kehancuran. Dalam perspektif integrasi internal ini, pembangunan karakter bangsa adalah usaha sistematik untuk mengembangkan potensi kebajikan yang membuat kohesivitas bangsa terbangun dan terjaga.

Kemampuan adaptasi eksternal mencakup kemampaun mengantisipasi secara cerdas perubahan lingkungan, sehingga bangsa itu berada posisi yang relatif kuat dan mampu berkontribusi dalam membangun masa depan untuk kesejahteraan. Kemampuan adaptasi ekstenal muncul, seperti:  kemampuan untuk maju dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, menegakkan standar etika yang bersifat universal, meningkatkan daya saing ekonomi. Kemampuan adaptasi eksternal yang rendah akan menyebabkan suatu bangsa makin lama makin tertinggal dari bangsa lain. Indonesia sekarang menjurus ke keadaan seperti itu.

Dilihat dari perspektif adaptasi eksternal, pembangunan karakter bangsa adalah usaha sistematik untuk mengembangkan potensi kebajikan untuk menjadikan Indonesia negara yang berdaya saing dan mampu berkontribusi bagi kemajuan dan kesejahteraan dunia.

Dengan peran strategiknya itu, ISI Yogyakarta sebagai Institut yang memiliki ‘penjaga budaya’ Dewi Saraswati sebagai dewi ilmu pengetahuan dan seni, saya yakin dan percaya, bahwa ISI Yogyakarta mampu menerjemahkannya ke dalam program akademik maupun tindakan nyata di tengah masyarakat dalam rangka sumbangsihnya bagi pendidikan karakter bangsa.

Diharapkan juga, apa yang saya sampaikan ini tidak sekadar “menginspirasi” saja, tetapi lebih dari itu, juga untuk “diinternalisasikan” dan “diaktualisasikan”, untuk kemudian, ”digerakkan” menjadi acuan pendidikan karakter bangsa.

Rapat Senat Terbuka ISI Yogyakarta Yang Terhormat,

SEBELUM memasuki bagian akhir dari pidato ini, ijinkanlah saya mengajukan sekadar pesan dan harapan dalam bentuk nanting sarirâ. ”Apakah para êmpu, cantrik dan alumni ISI Yogyakarta yang menekuni disiplin ilmu seni pertunjukan ada yang berminat melestarikan tradisi susastrâ Jâwâ, untuk kemudian, mencoba mengubah karya sastra menjadi koreografi seni pertunjukan yang eksploratif sebagai bentuk counter culture?”.

Momentum hari ini tidak akan bermakna bagi pengembangan seni pertunjukan, kecuali jika kita tidak hanya berhenti dalam merekam jejak para leluhur, tetapi juga menata tindak, dengan memberi “ruh” dan tafsir baru atas naskah-naskah lama, untuk kemudian dikembangkan dalam koregrafi seni pertunjukan seperti diteladankan oleh para pengembang seni pendahulu kita. Yang perlu dipikirkan adalah, bagaimana kita dapat menerjemahkan tradisi bersastra itu ke dalam karya seni pertunjukan, baik yang klasik dari sêrat atau babad, maupun yang modern-kontemporer dari karya tulis sastra modern yang bersumber dari cerita wayang. Sehingga ada pertautan tradisi bersastra dengan seni pertunjukan.

Konsekuensi lanjutannya menjadi sangat indah, jika bisa berlangsung kolaborasi para êmpu dan cantrik-nya bersama para alumni ISI untuk menggarap kandungan isi sêrat-sêrat piwulang itu tidak terbatas hanya sebagai têmbang mâcâpat yang audience-nya terbatas, tetapi menjadi berbagai ekspresi seni pertunjukan, dengan dikemas melalui multi media mutakhir.

Dunia seni lebih cenderung pada kreativitas, gambar, warna, musik, mimpi, dan sebagainya. Sementara teknologi memiliki karakteristik logis, runtut, sistematis, analitis. Meskipun begitu, sebuah karya seni tidak melulu harus terpisah dari teknologi. Keduanya bahkan bisa saling melengkapi dan membentuk sebuah harmoni yang indah.

Mengakhiri pidato ini, ijinkanlah saya mengungkapkan rasa terima kasih yang dalam dan penghargaan yang tinggi, masing-masing Kepada Yang Terhormat Rektor serta Ketua, Sekretaris dan Anggota Senat Institut Seni Indonesia Yogyakarta, yang telah memberikan persetujuan Penganugerahan Gelar Doctor Honoris Causa Bidang Seni Pertunjukan kepada saya.

Ungkapan yang sama juga saya sampaikan kepada Promotor, Ibu Prof. Dr. A.M. Hermien Kusmayati, dan Co-Promotor, Bapak Prof Dr. Y. Sumandiyo Hadi, serta unsur-unsur Institut lainnya, sehingga memungkinkan saya berdiri di depan Rapat Senat Terbuka Yang Terhormat ini.

Saya juga menyampaikan rasa terima kasih atas kesaksian dan kesabaran Bapak/Ibu Tamu Undangan yang terhormat dalam mengikuti pidato ini. Kehadiran Bapak/Ibu itu juga berarti doa yang menjadi kebahagiaan tersendiri bagi kami sekeluarga.

Wasana kata, semoga Tuhan Yang Maha Kuasa berkenan melimpahkan berkah serta rahmat-Nya, sehingga gelar yang tersandang ini mampu saya gunakan bagi sebesar-besar kesejahteraan rakyat. Untuk itu, saya mohon doa restu, agar selalu diberi keteguhan sikap batin, moralitas dan kearifan dalam mengamalkan ilmu di tengah-tengah masyarakat-bangsa dan masyarakat antarbangsa, khususnya di bidang Seni.  Sekian, dan terima kasih atas perhatiannya.


[1] Tjahjo-Prabowo, Apresiasi Seni, FKIP UNS.

[2] Terjemahan bebas kutipan itu kurang lebih adalah: “Badan lahir kita ini, adalah badan di dalam kaca, namun bukannya cermin, melainkan cermin di dalam kalbu, yaitu wujud kita pribadi, yang ditakdirkan di dalam cipta. Sambil memejamkan mata, sungguh lebih besar berkahnya, manakala manusia sudah mengenal dengan betul badan batin, seakan jalmâ kang utâmâ”.

[3] Damardjati Supadjar, Filsafat Jawa untuk Indonesia.

[4] Agama berasal kata “a” (“tidak”), dan “gama” (“rusak”). Jika dipatuhi, tidak membuat masyarakat rusak. Dalam budaya Jawa disimbolkan “busana” (“ageman”), “aji”  (“raja”/“mulia”). Kepemimpinan yang agamis selalu mementingkan kepentingan publik dan menyantuni yang lemah. Inilah ciri-ciri pemimpin yang “berharga” (“aji”) (Dr. Soetrisno R, MSi, Agama Ageming Aji, Lembaga Javanologi Jawa Timur, 16 Mei 2010).

[5] Gede Raka, Pembangunan Karakter dan Pembangunan Bangsa: Menengok Kembali Peran Perguruan Tinggi, Sidang Terbuka MGB –ITB, Kuliah Perpisahan, Kampus ITB, 28 November 2008.

[6] Nurinwa Ki S. Hendrowinoto dkk., Pisowanan Ageng: Sebuah Percakapan, Yogya Forum, Yogyakarta, 2003.


About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 4,934 other followers

%d bloggers like this: