Home » ARTIKEL » MAHASISWA ITU MAU BAKTI SOSIAL

MAHASISWA ITU MAU BAKTI SOSIAL

AKSES

  • 386,207 KALI

ARSIP


Kamu tahu gak, lebih sulit membangun masyarakat ketimbang menurunkan Walikota, Bupati, Gubernur dan Presiden atau membubarkan DPRD dan DPR?

Mahasiswa itu minta sembako kepada saya. Saya tanya untuk apa? Katanya mau disumbangkan ke desa tempat mereka melakukan bakti sosial. Saya sedih. Hari gini mahasiswa masih senaif itu? Siapa dosenmu, nak? Kampus mana tempat kuliahmu, nak?

 Bakti sosial kok dipersepsikan seperti itu? Ini saran saya:

(1) Tentukan lokasi.
(2) Buat studi pendahuluan untuk menentukan isyu apa saja yang akan ditelaah dan diselesaikan.
(3) Buat instrumen pendataan.
(4) Lakukan investigasi.
(5) Lakukan konsultasi dengan pemimpin masyarakat. Minta saran-saran mereka.
(6) Rumuskan ide-ide yang dianggap menjadi langkah terbaik untuk solusi masalah.
(7) Bawa masalah itu ke pemerintah (mungkin Camat, Bupati dan DPRD dan seterusnya).
(8) Buat laporan final. Jika dianggap perlu lakukan publikasi media massa.

Mahasiswa datang ke masyarakat untuk bakti sosial atau apa pun namanya janganlah menambah masalah ketergantungan masyarakat (social dependency). Jangan pula meniru kebiasaan orang-orang tertentu mengumpul sembako dan pakaian bekas dengan pakai seragam dan malah sering memaksa-maksa orang, lalu mendistribusikannya kepada orang yang dianggap miskin (di desa).

Ingatlah, kemiskinan tidak pernah selesai dengan cara seperti itu. Kecuali dalam keadaan bencana, upaya tanggap darurat apa pun bisa dilakukan untuk menyelamatkan nyawa manusia. Mahasiswa harus berfikir lebih komprehensip ketimbang “yang lain-lain” itu.

Prinsip mahasiswa yang melaksanakan bakti sosial itu mestinyalah to help people to help themselves. Membantu orang agar orang yang dibantu itu mampu membantu dirinya sendiri secara mandiri.

Merasa tak puas lalu mereka bilang kepada saya: “pak, biasanya sulit untuk berjumpa dengan Bupati dan DPRD tanpa ada surat audensi atau tanpa ada orang dalamnya. Jadi bagaimana dengan mahasiswa yang tidak mempunyai orang dalam?”

Lihatlah betapa awamnya mahasiswa ini. Surat audiensi saja ia masalahkan. Ia takut sama “orang dalam”. Ia menganggap Bupati dan DPRD itu sebagai apa hingga ia takut tidak akan dilayani?

Lalu saya pun menjawab: “Memang tidak ada hal yang mudah di dunia ini. Tapi rasanya dengan usaha keras dan sungguh-sungguh serta dilatari niat yang baik insyaa Allah tidak ada yang tak mungkin. Karena itulah ada bakti sosialmu itu. Kamu tahu gak, lebih sulit membangun masyarakat ketimbang menurunkan Walikota, Bupati, Gubernur dan Presiden atau membubarkan DPRD dan DPR?”

 

 

Shohibul Anshor Siregar

About these ads

1 Comment

  1. Benar sekali apa yang ditulis oleh Bang Shohib ini…jangan-jangan mahasiswa saya yang datang itu….yang selalu nambah PR masyarakat bukan malah membantu….ini jadi perenungan saya untuk lebih intens mendampingi generasi muda kita agar lebih cerdas dengan isu sosial….bukan jadi sinterklas… (mumpung baru seminggu bertugas mendampingi mahasiswa…terima kasih atas masukannya) ..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 4,969 other followers

%d bloggers like this: