Home » ARTIKEL » MILITANSI DALAM KEBERAGAMAN

MILITANSI DALAM KEBERAGAMAN

AKSES

  • 396,044 KALI

ARSIP


Tulisan ini adalah resensi atas buku karya Albertus Sukojo, MSc berjudul “Militansi dan Toleransi; Refleksi Teologis Atas Rahmat Sakramen Baptis”. Buku setebal 164 halaman terbitan Kanisius, Yogyakarta (Maret, 2012) ini diresensi oleh Rafi’uddin, dimuat dalam dalam Kompas.com edisi Senin, 28 Mei 2012.

Tidak dapat dimungkiri bahwa setiap orang beragama akan menganggap agamanya yang dianutnya paling benar, paling baik dan akan diteima di sisi Tuhan. Anggapan itu memperkuat keya kinan setiap penganut agama terhadap agamanya, diyakini pula agamnya akan memberi keselamatan terhadap dirinya. Bahkan, tidak akan mendapatkan keselamatan orang-orang yang tidak beragama. Karena agama lah merupakan sumber keselamatan.

Buku setebal 164 halaman ini, yang secara khusus pemabahasannya pada penganut agama Gereja-Kristen, mengantarkan umatnya pada pintu keselamatan yang kekal. Siapa yang percaya dan di baptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum. (hlm. 11).

Dalam dunia Gereja, perintah Yesus untuk membaptis telah membuat orang-orang Kristen bergerak pergi ke seluruh dunia dan membaptis sebanyak mungkin orang. Dalam Injil pun juga ditegaskan bahwa pembaptisan harus dilakukan terhadap semua orang demi keselamatan. Oleh karena itu, Gereja menafsirkan sebagai perintah untuk mengkristenkan orang seluruh dunia. Misionaris gereja yang tersebar merupakan sebagai upaya ingin mengkristenkan semua orang. Gereja adalah sumber keselamatan. Pembaptisan adalah jalan satu-satunya untuk sampai pada pintu keselamatan. Benarkah demikian?

St. Thomas Aquinas teolog Kristen sebagaimana diuraikan dalam buku ini berpandangan dan menyakini bahwa keselamatan manusia hanya bisa diperoleh dengan pembaptisan. Karena pembaptisan menurutnya adalah bentuk penyatuan dengan Kristus yang akan memberikan keselamatan. Semenatara di luar Kristus tidak ada keselatan dan orang yang  tidak dibaptis tidak akan selamat dalam hidupnya, baik di dunia maupun di alam kekal kelak.

Lebih lanjut, agar tidak terjebak pada fanatisme Agama Thomas memberi tiga penegasana. Pertama, keyakinan imannya tentang kedudukan Yesus Kritus sebagai satu-satunya jalan keselamatan yang harus diyakini. Kedua, Injil sudah wartakan kepada semua orang, sehingga tidak bisa berdalaih dengan mengatakan belum mendengar berita Injil. Ketiga, Thomas membedakan antara orang yang tidak percaya yang harus disalahkan dan orang yang tidak boleh disalahkan. Dengan ketiga statemen tersebut, Thomas mengklasifikasikan dari sekian orang-orang yang harus mendapat pembaptisan, harus dibaptis. Baptisan menurutnya mutlak perlu bagi keselamatan mereka yang sudah mengetahui berita Injil dan sementara tidak mau dibaptis. Namun, pembaptisan tidak diperlukan bagi orang-orang yang belum pernah mendengar berita Injil. (hlm. 27)

Thomas dalam hal ini sangat tidak menghendaki jika Gereja memakasakan kehendak dan kebebesan setiap orang dalam beragama dan agamanyalah yang paling benar dan memberi keselamatan pada dirinya masing-masing. Namun selaku umat Kriten menyakini penyatuan dengan Yesus Kritus akan memberi keselamatan tanpa ada pemaksaan terhadap kelompok agama lain. Sehingga tidak terjerumus pada fanatisme Agama.

Hidup dalam keragaman, penegasan St. Thomas Aquinas memberi relevansi terhadap fenomena dalam kemajemukan yang ada, khususnya di tanah air Indonesia. Hidup bebas memilih agama yang diyakini, tanpa adanya fanatisme agama akan membentuk siakp toleransi antar umat beragama yang berbeda sebagaimana pesan pokok yang terdapat dalam buku ini yang berjudul Militansi dan Toleransi. Militansi jauh lebih baik digunakan dari pada sikap fanatisme. Militansi masih bisa terbuka untuk toleransi, sementara fanatisme sama sekali tidak ada ruang untuk tolerasni. Hidup beragama tanpa saling mengkafirkan.

Fanatisme inilah juga yang menjadi pemicu lahirnya klaim-klaim kebenaran sepihak. Kebenaran yang hanya diperoleh agama tertentu, akibatnya timbul tindakan represip antar penganut agama untuk menjustivikasi kebenaran agamanya sendiri.

*Rafi’uddin, Peneliti Pusat Studi Qur’an dan Hadits (PSQH) Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 4,990 other followers

%d bloggers like this: