Home » ARTIKEL » HARMONI BERBASIS TOLERANSI

HARMONI BERBASIS TOLERANSI

AKSES

  • 376,690 KALI

ARSIP


Saya tidak merasa terpaksa mengemukakan hal terakhir ini. Harmoni dan toleransi pasti akan saling bertabrakan sesamanya jika tak duduk pada proporsi yang benar. Harmoni apa jika 15 % warga Negara “merampas” 85 % kekayaan Negara dengan dominasi abadi yang tak pernah terusik karena sistem dibakukan untuk memelihara kemapanan buruk itu? Toleransi apa yang bisa diwujudkan di tengah ketidak-dilan? Amat tak realisitis dan tak toleran penggagas harmoni dan toleransi yang menyedihkan ini. Itulah catatan terakhir saya dari dialog ini

Sebuah forum dialog yang menyentakkan kesadaran nurani berlangsung Jum’at sore, pekan lalu. Saya ada di antara 5 pembicara dan seratusan audiens, dan pada gilirannya dengan sangat sungkan berbicara hampir tanpa ekspresi. Saya rasakan moderator telah menggiring pembicaraan ke arah penghukuman atas mayoritas yang olehnya disebut sering bertindak anarkis dan tidak toleran di sini, di Indonesia. Rumah ibadah tak diizinkan berdiri, tambahnya. Tak sedikit pun ia ingin membicarakan Rohingya yang warganya kini banyak berstatus stateless (takberwarganegara), sama seperti dunia Barat yang bungkamnya saja yang layak menjadi berita. Ia juga tak hendak berbincang tentang nasib saudara-saudara Palestina, sama seperti Barat yang menganggapnya sebuah kesepian rasialistik dan diskriminatif belaka. Semua itu untuk upaya pengesahan pemikirannya tentang kejam dan bengisnya mayoritas muslim Indonesia. Saya jelas tak setuju.

Biarkan Data Berbicara. Kasihan sekali penghukuman semacam ini mesti terjadi karena tak tahu data. Tetapi inilah sebuah data dari pihak paling kompeten (Kemenag) tentang pertumbuhan rumah ibadah di Indonesia selama periode 1997 sampai 2012. Gereja Katolik bertambah dari 4.934 buah menjadi 12.503 buah (153%). Gereja Protestan tumbuh dari 18.977 buah menjadi 45.909 buah (150%). Wihara bertambah dari 1.523 buah menjadi 7.809 buah (368%). Ada pun Pura Hindu mencatat pertumbuhan dari 4.247 buah menjadi 25.431 buah (475,25%).

Berapa jumlah pertambahan mesjid? Ternyata masjid yang pada tahun 1997 tercatat hanya tumbuh sekitar 62 % saja. Tahun 1997 jumlahnya 392.044 buah, dan pada tahun 2012 menjadi 643.843 buah. Dilihat dari persentase pertumbuhan ini maka jelas bahwa pertumbuhan paling rendah dalam rumah rumah ibadah umat Islam dibanding dengan pertumbuhan rumah ibadah non muslim yang semuanya tumbuh 150 % ke atas, sangat tak relevan untuk tuduhan ketidak-toleranan Islam. Jadi mengapa kebengisan dalam intoleransi Islam untuk disharmoni saja yang dicercakan secara luas?

Jangan tanya apakah Eropa dan Amerika mengizinkan mesjid tumbuh di atas 100%. Di New York, belum lama ini, untuk membangun sebuah mesjid saja sudah diprotes keras dan harus dihubung-hubungkan pula dengan bahaya ancaman terorisme. Malah waktu itu ada orang yang berjanji melakukan pembakaran Al-quran sebagai pertanda kebenciannya terhadap Islam sambil menggalang opini seperti bola salju.

Dengan membombardir dengan kecaman atas mayoritas umat Islam sebagai umat bengis penuh kebencian, secara psikologis ia (umat Islam) akan cuma menunaikan energinya untuk kesibukan mencari apologi. Juga menyalahkan diri sendiri atas sesuatu yang sesungguhnya tak dilakukannya sambil tak berupaya merintis progresivitas. Hal lain yang membuat umat menjadi amat depensif, termasuk dalam hal membenahi kekurangan-kekurangannya terutama dalam hal kemiskinan dan kebodohan, tentulah ditimpakannya kepada dirinya isyu-isyu mematikan seperti terorisme. Terorisme dan perburuannya telah menyentuh titik nadir pemandulan untuk pembelaan diri, dan mungkin sekaligus berhenti berkreasi.

Ketika saya masih kecil dan masih merangkak, jelas Mario Teguh dalam salah satu episode motivasionalnya, saya diperkenalkan oleh ayah dengan api yang membakar lilin. Panas. Untuk seterusnya ayah saya tak perlu menjaga saya secara berlebihan. Beliau cukup meletakkan lilin yang tak menyala di depan pintu kamar saya, saya pun takut mendekat. Jadi, kata Mario Teguh, heran juga mengapa saya bisa menjadi motivator handal jika dihubungkan dengan cerita awal kehidupan tadi. Mekanisme itulah agaknya yang kini menimpa umat Islam Indonesia. Sesuatu yang besar telah membingkai dan memojokkannya dalam sebuah demarkasi yang tak menguntungkan masa depan.

Lakum Dienukum Wa Liyadien. Abdillah, mantan Walikota Medan, dengan tanpa keinginan disebut mahir tentang tafsir Al-qur’an berusaha membentang harmoni dalam batas yang aman sesuai ketegasan ajaran. Bagimu agamamu, dan bagiku agamaku, tegasnya dalam forum dialog ini. Itu lebih dari cukup untuk memupuk harmoni, jika yang dimaksudkan oleh orang-orang sebagai gangguan seriusnya ialah perilaku keberagamaan (deviatif).

Abdillah pastilah tahu, berdasarkan pengalamannya sebagai pemimpin, mengurusi dan memahami sebaik-baiknya agama sendiri adalah sekaligus menjadi benteng yang amat tegas untuk tak saling mencerca dan apalagi saling menista di antara sesama pemeluk agama yang berbeda secara majemuk. Itu pulalah penuturan identik dengan bahasa yang berbeda dari RE Nainggolan maupun Parlindungan Purba. Mereka berdua ini orang dari dua agama berbeda (Protestan dan Katholik) dalam forum ini. Keduanya malah menegaskan mengetahui (kognisi) dan mengamalkan (apeksi) agamanya bukan melalui pendidikan formal keagamaan seperti sekolah kependetaan, melainkan diwarisi sedemikian rupa dengan belajar informal dan nonformal sebagai seorang pemeluk Protestan dan Katholik.

Lalu kesepakatan apa lagi yang harus dibuat untuk ditindak-lanjuti dari forum dialog ini? Maksud saya, janganlah berfhenti sekadar berteriak harmoni dan toleransi. Berangkatlah menggagas derivasi ide dalam praksis-praksis yang mempergandengan bukan hanya bahu, tetapi juga angan, pikiran dan asa yang baik untuk Indonesia bhinneka ini. Lakukan semua itu dengan niat baik dan hanya dengan kejujuran pula.

Sejarah dan Masa Depan Tuhan. Dengan bahasa dan gaya Niel Amstrong, saya melukiskan sebuah kecurigaan besar bahwa hingga kini kita telah menuliskan sejarah dan masa depan tuhan di luar kehendaknya. Saya sadari akan banyak orang yang kurang faham kemampuan manusia membuat sejarah dan masa depan Tuhan. Persepsi kita tentang agama dan Tuhan telah mengekspresikan sesuatu yang kita anggap perlu dilakoni untuk mempertegas ketuhanan, keagamaan dan dengan segenap sejarah dan masa depannya.

Mari konfrontir hal itu dengan fakta-fakta empiris yang berserakan di sekitar. TV mana yang tak mengeksploitasi hasrat hedonitas bahkan untuk sesuatu yang kerap diidentikkan dengan jalan menuju Tuhan? Media mana lagi yang belum mengeksploitasi perempuan dan kerawanan-kerawanan posisinya dalam bisnis pesat mereka yang meraup keuntungan material besar? Anda kan masih juga mendengar kabar pada bulan Ramadhan ini tentang orang-orang yang menderita berdesak-desakan menunggu antrian sinterkelas berjubah kesalehan berderma dan bersedekah? Mengapa serendah itu memahami kata-kata dan maksud Tuhan untuk kebaikan sesama sebagaimana salah satu surah dalam al-qur’an (al-Maun) memintanya tegas?

Barangkali Tuhan telah kita posisikan sebagai hanya penjawab setiap keluh dan kesah kenaifan-kenaifan kita. Tidak diragukan lagi, Tuhan telah kita persempit untuk hadir di haribaan karena keperkasaan berhala-berhala baru yang kita rebut paksa dalam bentuk jabatan, akses mencuri harta Negara, simbol asesoris mutakhir untuk penanda terbaik bagi posisi kelas sosial dan lain sebagainya.

Dari Diri Yang Satu. Dalam forum ini saya petik sepotong ayat untuk menegaskan sebuah seruan yang ditujukan untuk seluruh umat manusia. Bahwa kita semua memang berasal dari diri yang satu, tercipta bersuku-suku dan berbangsa-bangsa untuk saling kenal di antara sesama dalam kemajemukan itu.

Tetapi jaminan Tuhan hanyalah kedekatan (taqwa), bukan yang lain. Karenanya janganlah ajaran multikulturalisme merangsek maju untuk ambisi mempersatukan secara total dengan mengagamakannya secara lebih terlembaga. Itu obsesi salah, sebagaimana gagasan pemersatuan dengan paradigma melting pot (wajan peleburan) yang tak memberi penghargaan atas taqdir.

Bukankah Jawa harus tetap Jawa, Arab tetap Arab, Cina tetap Cina, Ambon tetap Ambon dan semua lentong bahasanya hidup terus dengan hak-hak penuh tanpa kekurangan penghargaan agar kebhinnekaan tetap terwujud? Lagi pula, teosentrisme memang mesti mendemonstrasikan sesuatu yang bukan sekadar ornamen luaran belaka. Siapa yang pernah berdoa agar dirinya ditaqdirkan sebagai lelaki, atau sebagai anggota dari salah satu suku-bangsa yang ada? Jika masih ada keanggap-remehan atas pemberian (given) itu, tentu karena hasratnya membuncah untuk menggugat Tuhan. Itu pun kalau ia percaya ada Tuhan. Itu catatan saya yang pertama.

Catatan kedua tentang pemahaman yang mendiskreditkan dan terlanjur lazim. Pendiskreditan agama dalam berbagai bentuk sebagai biang anti harmoni dan toleransi akan dengan sendirinya menceritakan keberagamaan dan kadarnya bagi subjek-subjek tertentu. Adalah juga kadar keberagamaan yang amat tak menggembirakan jika muncul kegairahan berusaha menafikan agama dalam kehidupan yang luas, tak terkecuali dalam politik. Ketentuan-ketentuan lokal semisal perda syari’ah hanya akan kita anggap bahaya besar yang mengancam jika kita memang tak membiarkan tuhan yang benar memperkenalkan diri (hidayah) ke dalam sanubari. Tak mengapa, sebab tak akan ada tangisan tuhan untuk sebesar apa pun keingkaran.

Nah, sesuatu yang kerap diributkan dalam politik, perlulah ditinjau kembali atas nama agama dan kejujuran beragama. Realitas apakah rupanya yang sudah diperdapat Indonesia jika faktanya partai agama diyakini masih menjadi sebuah alternatif perjuangan? Amerika kontemporer saja masih mengakui pentingnya keyakinan seseorang kandidat presiden atas sebuah agama (yang dipeluknya). Untuk apa? Antara lain ya untuk keterpilihan (electability).

Penutup. Saya tidak merasa terpaksa mengemukakan hal terakhir ini. Harmoni dan toleransi pasti akan saling bertabrakan sesamanya jika tak duduk pada proporsi yang benar. Harmoni apa jika 15 % warga Negara “merampas” 85 % kekayaan Negara dengan dominasi abadi yang tak pernah terusik karena sistem dibakukan untuk memelihara kemapanan buruk itu? Toleransi apa yang bisa diwujudkan di tengah ketidak-dilan? Amat tak realisitis dan tak toleran penggagas harmoni dan toleransi yang menyedihkan ini. Itulah catatan terakhir saya dari dialog ini.

Naskah ini pertamakali diterbitkan oleh Harian Waspada Medan, Kamis 16 Agustua 2012 hlm B9

About these ads

2 Comments

  1. Monang says:

    bisa tolong disebut siapa yang 15% tersebut Pak Sohibul?
    apakah yg 15 % benar2 merampas 85%? Sepertinya anda terlalu mendramitisir menjadi lebih buruk. Yang merampas kekayaan alam indonesia ini tidak lebih dari 1% (pemilik modal) dan yang 1 % tersebut tidak mewakili 15 % yang anda klaim itu. kalo berbicara fakta gunakan dengan benar, anda seorang dosen, kenapa masih senang mengeneralisasi suatu masalah. Yang 15 % tidak semuanya pemilik modal, dan yang 85 % juga ada yang termasuk dalam kelompok pemilik modal.

    Pertumubuhan mesjid tidak sebesar agama rumah ibadah yang lain? statistik anda melupakan kenyataaan bahwa banyak mesjid yang dibangun tidak menggunakan IMB tidak didata karena pada waktu dibangun tidak dipersulit karena lokasinya daerah mayoritas agama tersebut. Jadi baiknya perbaiki dulu data pembangunan mesjid tersebut baru bisa ngomong. Hitung dulu mesjid yang dibangun tanpa ijin biar data anda lebih akurat.

    Lucu juga anda menggunakan contoh pertambahan Pura dan Gereja yang kesannya melebihi pertumbuhan Mesjid. Anda sekali lagi melupakan LOKASI pertumbuhan bangunan2 rumah ibadah tersebut. Pura bertambah banyak yah di Bali, apakah anda pernah liat pura bertambah di Aceh? di Sumatra Barat? Gereja bertambah banyak di daerah yang mayoritasnya Kristen. apakah pernah ada pertambahan Gereja di Sumatra Barat atau Aceh? Fa

    Anda berbicara seolah-olah 15% adalah kaum pemilik modal dan beragama sama, anda salah. ada suatu daerah di timur yang banyak SDA (EMAS) yang masyrakatnya termasuk kelompok 15%,namun mereka sendiri tidak menikmati pembangunan yang didapat dari SDA daerah sendiri, bahkan masih banyak tidak membaca di daerah terssebut,

  2. Hendra S says:

    Fakta yg jelas adalah soal kenyataan paling menyedihkan dimana selama ini Islam terkesan slalu “diadudomba” oleh pihak2 tertentu, sehingga fenomena benturan sesama muslim srg pula menghiasi kehidupan dan bahkan berita2 di media massa….Walaupun pertumbuhan rumah ibadah Muslim dan Non Muslim (contoh rumah ibadah umat Buddha) mmg tidak sebanding, tp yg jelas umat muslim menggunakan rumah ibadah minimal sehari 5 x (berbeda dengan yg lain yg mgkin hanya digunakan 1 xseminggu). Artinya, klu pertumbuhan mesjid jauh berbeda namun hal itu dirasakan lumrah, krn 1). sbg umat mayoritas, 2). digunakan lbh sering…Tks

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 4,940 other followers

%d bloggers like this: