Home » ARTIKEL » KORUPSI? KENAPA TIDAK?

KORUPSI? KENAPA TIDAK?

AKSES

  • 384,574 KALI

ARSIP


illustrasi waspada

illustrasi waspada

Berhubung ada masanya moral dianggap udik dan menentang modernitas, maka ia pun semakin terkukuhkan sebagai makhluk aneh di tengah insan-insan korupsional yang kemampuannya terasah semakin tangguh (berkorupsi) setiap saat

Salah satu wujud metamorfosis korupsi saat ini di hampir seluruh Negara terbelakang ialah munculnya bentuk-bentuk toleransi yang semakin kuat. Ini bersumber dari rasa permissiveness (kemaafan) kolektif karena keajegan fenomena dalam hidup keseharian. Temuan di ranah-ranah tak terduga, atau katakanlah di ranah yang semestinya dipersepsikan menjadi arena pemantangan keras korupsi, tentu ikut mengukuhkan metamorfosis korupsi yang selalu lincah mencari bentuk (adaptasi). Bayangkan saja, di ranah yang secara moral seyogyanya pola tingkah laku anti korupsi  dilembagakan secara kuat, ternyata tak terbukti steril. 

Kerap tak disadari sponsor-sponsor korupsi inherent dalam pioner-pioner pembangunan. Stimulus korupsi pasti ada pada paket bantuan asing, dan itu mungkin menjadi pelajaran pertama. Oleh karena itu, nilai-nilai lokal yang kerap dianggap memberi lahan subur bagi tradisi korupsi, agaknya terlalu dipaksakan sebagai apologi. Gagasan ini, mungkin, hanya dapat muncul dari ilmuan atau orang yang mengajarkan kecerdasan tanpa ideologi dan moral. Sama halnya dengan pendapat usang yang percaya korupsi itu penggerak roda pembangunan.

Memang, hukum tak mesti serta-merta berubah untuk menyongsong kebiasaan baru korupsi itu. Atau, jika pun akan dilakukan juga perubahan, selalu terbukti bahwa tak sesuatu pun perlu dikhawatirkan. Mengapa? Perubahan yang dirancang selalu dapat dikendalikan agar jangan mematikan keabadian niat korupsi. Artinya damailah bersama korupsi, asalkan jangan ketahuan orang lain, atau jika pun ketahuan oleh institusi penegak hukum,  kini telah dikembangkan pula model-model eliminasi efektif atas dampak keterdugaan, ketersangkaan, maupun keterpidanaan akibat korupsi bagi seseorang. Di sinilah keperkasaan koruptor selalu terbukti.  Inilah catatan politik yang paling memalukan dalam pelajaran dan pertumbuhan demokrasi Indonesia.

Jika pada awalnya tuduhan korupsi berjama’ah lebih menunjukkan buruknya kolaborasi memperkaya diri di antara sesama korps tertentu yang acsessfull atas pengambilan kebijakan menyangkut kepentingan publik, kini korupsi berjamaah itu berkembang menjadi kolaborasi di antara pelaku dan semua penegak hukum, sekaligus prosedur dan instrumen peradilannya yang ditumpulkan. Jika tidak, mustahil indikator-indikator persepsi korupsi tetap menunjukkan keparahan yang semakin meningkat. Jika tidak, lembaga baru si superbody seperti KPK tidak perlu ada lagi. Meski ia sudah dikukuhkan sebagai harapan satu-satunya di tengah buruknya penegakan hukum atas korupsi, keampuhannya sudah sangat dipertanyakan.

Tipologi. Siapakah yang membuat program anti korupsi? Dialah orang bodoh yang karena tak mungkin memiliki akses ke korupsi lalu melarangnya. Itu yang saya dengar dari sejumlah anak kecil yang berdiskusi di beranda sekolah mereka saat istirahat pada peralihan pagi dan siang. Meski anak-anak itu tidak menyediakan jawaban untuk pertanyaan “bagaimana jika si orang bodoh ini disogok dan diumpani berbagai kesenangan ragawi tak cuma pakaian bagus, mobil bagus, rumah bagus, dan malah perempuan-perempuan cantik?”, tetapi mereka cukup jeli dan kritis.

Dalam keterbatasannya, mereka mampu memastikan bahwa sangkin bodohnya, si pembuat program anti korupsi itu dan para pengikutnya yang hanya sedikit mengira bunyi undang-undang (yang sebetulnya hanyalah benda mati) bisa merubah keadaan. Ia kira akan besar perbaikan akibat ketakutan atas ancaman pasal-pasal hukum, apalagi dengan dibarengi oleh satu dua eksekusi terpidana korupsi. Anak-anak itu pun tahu bahwa orang bodoh itu sebetulnya tak diikuti oleh siapa-siapa, kecuali sedikit bersimpati meski tak mau ikut dalam barisan. Maka tak ada pengikutnya sebetulnya, meskipun ia mungkin memiliki sejarah dan reputasi di sekitar perilaku dan kejujuran (moral). Berhubung ada masanya moral dianggap udik dan menentang modernitas, maka ia pun semakin terkukuhkan sebagai makhluk aneh di tengah insan-insan korupsional yang kemampuannya terasah semakin tangguh (berkorupsi) setiap saat.

Anak-anak itu tentulah tak bisa memaparkan ramainya orang yang dapat disebut penggemar lelang kesempatan dengan pengorbanan terukur, telah memastikan jaringan korupsi bukan lagi sekadar ancaman atas keuangan sebuah negara. Ia telah menusuk jantung pertahanan paling vital, dan dengan begitu selesailah sejarah sebuah bangsa ditulis dengan catatan gelap dan gulita. Bukankah umumnya orang selalu ingin bersenang-senang sambil menggantang hari esok yang lebih baik terus-menerus untuk dirinya, keluarga, anak dan cucu-cucunya? Obsesi itu yang paling banyak bersemi di benak orang, meski tak semua. Tipe ini ada komandannya yang semakin hari memiliki banyak pendukung. Tipe ini selalu berkata benar. Berbicara tentang kejujuran. Bersikukuh anti korupsi. Tetapi tipe ini tak menyadari bahwa semua orang sudah tahu bahwa ia selalu berbohong. Namun karena keberanian untuk membantah kebohongannya tidak kunjung tiba di persada tanah airnya, ia pun akhirnya dikurung oleh setan dalam ketidak-tahuan dan keyakinan penuh tak diketahui orang hidup terus-menerus dalam kebohongan dan dosa-dosa.

Pencaci-maki korupsi, baik karena sadar begitu dahsyatnya dampak korupsi atau karena sekedar ikut-ikutan seperti rombongan demo yang tak solid tentang sesuatu padahal impian partisipasinya hanyalah untuk segenggam recehan yang dihadap-hadapkan langsung kepada posisi objektif kemiskinan plus kebodohannya. Berteriak tanpa alasan, itulah tepatnya. Ini tipe ketiga. Jumlahnya banyak, sesuai fluktuasi korban yang disia-siakan dan ditelantarkan oleh para koruptor dengan keperkasaan dan kepiawaian membawa secara tak sah hak-hak publik ke rumahnya, ke bank-nya atau ke isteri-isteri rahasinya yang bertabur. 

Ketiga tipe ini tak mungkin disatukan, karena takdir mengurus nasib mereka untuk saling menentang sesama. Akan selalu ada peluang berganti posisi. Bukankah revolusi atau yang semacamnya (reformasi, misalnya) kerap hanya menggeser orang yang berada di barisan paling belakang ke urutan paling depan dengan mekanisme pergiliran berdarah atau adem ayem?  Tidak bisa dipungkiri, pengharapan dan do’a masing-masing orang yang berada dalam semua tipe ini selalu berbeda. Itu karena mereka memiliki tuhan dan agama yang berbeda. Tuhan bagi tipe pertama pastilah berbeda sosok dengan tuhan bagi tipe kedua dan ketiga. Jangan hiraukan jika semua komunitas dari ketiga tipe kerap menggunakan simbol dan ritus yang sama. Ritus dan simbol itu kerap tidak mencerminkan jenis agama dan tuhan yang diyakini.

Cermin. Marcos dan Imelda itu pada dasarnya diusir dari negaranya. Saat kejadian besar yang merubah politik di Filifina, bukan hanya ada cerita tentang wajib dibunuhnya seseorang yang kemudian menjadi sebuah momentum yang memicu gerakan massal mengusir penguasa sendiri (Corazon Aquino). Imelda Marcos kehilangan ratusan pasang koleksi sepatunya, sedangkan Reza Pahlevi terbirit-birit lari ke wilayah bendungan Aswan saat pembalasan tiba untuknya di Negara yang dikuasainya cukup lama (Iran).

Zurongji itu mengumumkan organ-orang tubuh koruptor yang dieksekusi mati untuk didonorkan kepada orang-orang yang membutuhkannya. Karena itu dalam mekanisme eksekusi tentulah selalu akan dihindari agar organ penting seperti jantung, ginjal dan lain-lain terlindungi agar bisa dimanfaatkan bagi orang yang masih menimba harapan kebaikan.  Mungkin juga ada yang berfikir bahwa yang berbahaya hanyalah jika pencangkokan otak terpidana mati korupsi dilakukan untuk seseorang yang bukan koruptor. 

Pasti ada yang marah atas perlakuan itu, atas nama HAM dan entah apa lagi. Zurongji tak peduli itu. Uruslah-urusanmu dan kini tak seorang pun boleh mengurusi urusanku, di negaraku.

Ada mungkin hak-hak istimewa para mullah. Tetapi saya yakin bukan itu yang membuat Mahmud Ahmadinejad menjadi begitu lantang melawan korupsi. Ia tidak ingin dicemooh oleh perasaan keadilan paling jujur. Tak memilih kemunafikan sebagai jalan hidup, karena ia yakin itu selalu menjadi bencana sepanjang masa. 

Salam reformasi, para pemimpin. Sesuatu perlu dipelajari dari China dan Iran tanpa menunggu revolusi anti korupsi tiba. Tak seorang di antara kita yang suka melihat darah. Darah hanya mungkin tumpah ketika orang yakin satu-satunya jalan hanyalah marah.


Shohibul Anshor Siregar. Naskah ini pertamakali diterbitkan oleh Harian Waspada Medan, Senin 13 Mei 2013, hlm B7.

About these ads

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 4,968 other followers

%d bloggers like this: