'nBASIS

Home » ARTIKEL » SEJUTA PELAJARAN DARI SUTAN SJAHRIR

SEJUTA PELAJARAN DARI SUTAN SJAHRIR

AKSES

  • 538,550 KALI

ARSIP


Generasi muda Indonesia makin sedikit saja yang masih tahu siapa Sutan Sjahrir. Padahal, sebagai gambaran tentang kebesaran Sjahrir, kerap sekali orang berpendapat bahwa jika mau jujur, hal ihwal berdirinya Republik ini tidak terlepas dari tiga nama besar yang harus disebut dalam satu tarikan nafas: Soehatsjah (Soekarno, Hatta, Sjahrir).

PERNAH mendengar istilah “bebas aktif”? Bagi saya konsep itu amat mencerminkan kepribadian dan kecerdasan seorang Sjahrir. Dia salah seorang tokoh terdepan dalam perjuangan diplomasi Indonesia, perintis politik bebas aktif yang terkenal itu. Sjahrir memang seorang pemikir, amat humanis, dan last but not least, tokoh sosialis.

Banyak inisiatif Bung Kecil, julukan lain buat Sjahrir, yang sulit dipisahkan dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Runtuhkan pemahaman keliru sekarang juga, bahwa perjuangan memerdekakan Indonesia itu hanyalah rentetan perkelahian heroik bersenjata melawan militer asing. Diplomasi selalu menempati posisi amat penting, termasuk dalam menentukan perang atau damai. Bukankah perang itu sendiri sebuah akhir dari kebuntuan diplomasi yang gagal yang penyelesaiannya kelak juga harus dengan diplomasi?

Mengapa seorang bapak bangsa sekaliber Sjahrir tak begitu dikenal di negeri sendiri? Mari kita berandai. Apabila 3 partai kiri yang pernah tercatat di Indonesia, yakni Partai Sosialis Indonesia (PSI), Partai Komunis Indonesia (PKI), dan Musyawarah Rakyat Banyak (Murba), tidak tergusur oleh zaman, maka sudah barang tentu Sjahrir akan dihormati secara sepadan. Mengatakan hal seperti ini amat disadari dapat semakin kontraproduktif. Orang sekarang tidak bisa membedakan komunis dan sosialis. Apa itu PSI, PKI dan Murba, kebanyakan tak tahu. Kita sering temukan pandangan yang menggeneralisasi secara simplistis: “pokoknya semua itu tak bertuhan”.

Banyak orang berfikir bahwa “jembatan putus” yang menutup peluang Indonesia untuk penghargaan pantas terhadap Sjahrir ialah sikap politik pasca Orde Baru yang berkelanjutan hingga sekarang. Melihat apa yang kerap terjadi sepanjang sejarah umat manusia, maka tidak perlu heran jika distorsi sejarah sudah lama menjadi kelaziman yang terkadang harus disebut zalim.

Ketika orang menginginkan kesuksesan mengejar syahwat politik, selain ia ingin dirinya seindah mungkin tercatat dalam sejarah, ia pun “mendesign” zaman untuk wajib mendewakannya. Kekuasaan pemerintahan sering menjadi modus pilihan. Orang tidak diberi kesempatan mendapatkan referensi lain yang lebih sahih, karena kebenaran adalah kekuasaan. Interpretator (penafsir) tunggal terhadap sesuatu apapun, itu tangan kekuasaan. Begitulah.

MENCARI KENEGARAWANAN

Apakah usaha SBY yang sejak awal banyak memanfaatkan dan mengakomodasi “orang-orang kiri” dalam pengorbitan diri ke pentas kekuasaan dengan sendirinya kelak tidak mendorong tumbuhnya apresiasi yang lebih baik terhadap bapak bangsa Sjahrir? Marilah kita lihat dengan seksama. Tetapi jelas ada keraguan apakah ada kepedulian terhadap masalah yang dikeluhkan.

Sjahrir bukan tipe manusia pendendam (Man Zonder Rancune, begitu kata orang Belanda) dan tak cengeng. Meskipun dalam perlakuan buruk (dipenjarakan Soekarno antara Februari 1962 sampai meninggal akhir tahun 1966) dia tetap meminta teman-temannya membantu Soekarno. Ingatlah sejarah lahirnya konsep Dekon (Deklarasi Ekonomi) yang populer tahun 1964, meskipun ide-idenya dalam Dekon itu diplintir.

Sjahrir itu pelopori Linggarjati. Tetapi serba sulit, apa itu Linggar Jati pun orang sekarang jarang yang tahu. Sekali lagi tampaklah ketak-jujuran sejarah yang menyisihkan Sjahrir. Jika selera “ahli sejarah” sudah lain, bagaimana pula rakyat awam? Pantas orang sekarang selalu dengan perasaan benar berfikir bahwa seolah-olah kemerdekaan Indonesia hanyalah hasil dari perjuangan fisik. Bahkan lebih ekstrim, Indonesia merdeka karena keampuhan bambu runcing.

Apakah mungkin memilih sebuah julukan untuk Sjahrir dari karakternya yang menonjol sebagai seorang humanis, progresif, liberal, sosialis, sosial-demokrat?

Dia memang seorang humanis, seseorang yang getol memperjuangkan human dignity (martabat kemanusiaan). Juga benar untuk mengatakan Sjahrir seorang republikein sosialis. Tetapi pastikanlah, tak ada kaitan substantif dengan partai-partai yang mencopy nama-nama sosialis, demokrat atau republikein yang ada dalam daftar peserta pemilu sekarang.

Satu lagi. Sjahrir pernah memperingatkan bahaya militerisme dan fasisme. Dalam bukunya Perjuangan Kita bahaya itu sudah dia wanti-wanti. Tragisnya dia sendirilah orang pertama yang termasuk korban dari bahaya yang ia peringatkan secara dini. Setelah disakiti oleh fasisme, dia pun meninggal dalam tahanan. Sjarir, man zonder Rancune.

Advertisements

1 Comment

  1. historia66 says:

    bagaimana dengan peristiwa penculikan sjahrir 1946?

    ‘nBASIS: Ya. Itu amat menarik. Anda bersedia menulis itu dan kita muat di blog ‘nBASIS? Kami tunggu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: