'nBASIS

Home » ARTIKEL » ENAM PASAL KEKHAWATIRAN BAGI SBY

ENAM PASAL KEKHAWATIRAN BAGI SBY

AKSES

  • 557,706 KALI

ARSIP


Seorang juara tinju sejati sekaliber Tyson pun konon setiap akan bertanding tetap saja mengalami detik-detik awal mencemaskan. SBY pun bisa kehilangan kendali. Itu bisa terjadi pada siapa saja.

trio indonesiaDengan deklarasi pasangan JK-WIN maka satu kekhawatiran kubu SBY sudah pupus. Tidak ada lagi kekhawatiran terpaksa melawan kotak kosong. Boleh dikatakan langkah-langkah menuju pilpres tampak lancar-lancar saja. Paling tidak dari apa yang diberitakan media. Tetapi kemungkinan SBY saat ini sedang pusing juga. Apa yang membuatnya khawatir?

Pertama, bagaimana jika mayoritas, apalagi semua, warga Negara yang golput atau yang digolputkan tidak mau memilih SBY pada pilpres. Apalagi ditambah konstituen yang pada pemilu legislatif kemaren tidak memilih partai nomor 31 atau orang-orang yang dicalonkan oleh partai itu. Ingat, sakit betul rasanya jika hak konstitusional diabaikan apalagi dengan tanpa alasan yang sama sekali tidak masuk akal. Ingat juga bahwa dengan hiruk-pikuk koalisi ini banyak sekali konstituen yang merasa muak terhadap elit politik yang membangun koalisi untuk tujuan pilpres.

Kedua, bagaimana jika JK-Wiranto benar-benar mendapat simpati yang terus-menerus makin meluas dan membesar karena semakin disadari telah terzdholimi oleh proses “perceraian dengan SBY” yang mau tidak mau dikaitkan dengan sikap SBY yang terasa semakin kurang etis meski selalu diungkapkan dengan kesan penuh kesantunan. Komunikasi politik pasangan ini semakin menyentuh dan hari-hari ke depan pasti semakin terbuka rahasia-rahasia pemerintahan SBY-JK yang menempatkan JK dalam ranah image yang makin bagus.

Ketiga, bagaimana jika Prabowo Subianto benar-benar lolos dari bottle neck hingga berhasil menjadi salah seorang Calon Presiden dan belajar dari pengalaman pemilu legislatif kemaren dapat menemukan teknik jitu mengalahkan siapa pun pesaing? Wajar saja SBY merasa lawan yang sesungguhnya adalah Prabowo. Belum pernah tercatat dalam jajaran pemerintahan secara langsung kecuali dalam jajaran kemiliteran, Prabowo jelas berbeda dengan Mega dan JK. Ranah sorotan Prabowo dalam tema-tema kampanyenya pada pemilu legislatif jelas berbeda dengan tokoh-tokoh lain. Tentu begitu sukar dibayangkan, bagaimana jika Prabowo setelah resmi menjadi capres berhasil pula menjadi solidarity maker baru menarik sejumlah partai tertentu yang sudah sempat masuk di “kantong” SBY karena faktor kecewa. Tanda-tanda repositioning dan pembubaran blok-blok sampai sejauh ini sudah mulai muncul makin jelas. Amat dipercaya bahwa musuh terberat SBY saat ini ialah dirinya sendiri ketika akan menentukan dari “kantong” sendiri sebuah nama yang paling aman, tentu untuk dirinya (secara subjektif) sebagai Capres.

Keempat, bagaimana jika isyu ketidak-beresan penyelenggaraan pemilu legislatif diblow up oleh semua lawan politik dengan sistematis hingga menjadi dosa politik yang dianggap harus ditimpakan ke pundak SBY? Sampai saat ini rakyat masih membiarkan KPU dan pemerintah saling lempar tanggungjawab. Titik sorot ini bisa berkembang dan bisa pula amat liar.

Kelima, bagaimana jika karena kesalahan dalam menetapkan calon wakil menyebabkan eksodus sejumlah partai yang tadinya sudah di dalam “kantong” SBY. Pola koalisiyang dibangun sampai sejauh ini tak bergeser dari karakter avonturisme pencari kekuasaan yang giatnya untuk urusan soal “dagang sapi”. Dominasi watak transaksional memang susah ditutupi. Jika ternyata partai tertentu tidak happy dengan pola yang dijanjikan, tentu ia bisa lompat secepat kilat dari “kantong” SBY.

Keenam, bagaimana setelah memenangkan pilpres akan mengkristal partai oposisi yang akan melahirkan iklim politik yang lebih menyulitkan dibanding periode kepresiden pertama? Sangat mungkin kelak setelah bagi-bagi kekuasaan akhirnya disadari oleh partai-partai yang tidak mendapat posisi bagus dalam pemerintahan, dengan dimotori oleh partai pengusung capres kalah, diputuskan posisi berdiri secara berseberangan dengan pemerintah sebab jika bertahan sebagai pengikut seperti beberapa partai yang semua orang sudah tahu, pasti akan merugikan untuk hasil pemilu 2014. Diputuskan untuk menjadi kritis kepada kebijakan pemerintah karena rakyat benar-benar membutuhkan itu.

Meskipun partainya sudah keluar sebagai pemenang pemilu legislatif 2009, secara teoritis tidak ada jaminan bagi SBY otomatis akan menang dalam pilpres. Wiranto sudah mengalami hal itu, diusung oleh pemenang pemilu tetapi kalah dalam pilpres. Megawaty juga sudah mengalami hal itu, meski kasus berbeda. Hal yang menguntungkan tentunya bahwa ada pengalaman empiris bahwa ketika lembaga survey jauh-jauh hari memprediksi Partai Demokrat akan keluar sebagai pemenang, akhirnya diikuti pula oleh fakta di lapangan.

Masih ada kekhawatiran lain? Tentu mungkin saja masih ada, baik terhadap sesuatu kemungkinan yang bisa diperhitungkan secara dini, maupun yang tak terduga. Misalnya, siapa yang menyangka akhirnya SBY tampak amat kewalawan dan menjadi amat emosional ketika merasa harus memberi tanggapan terhadap pidato-pidato para pesaing di tempat lain. Tak ada orang yang pernah menghitung ini, dan kemungkinan makin parah masih akan sangat mungkin ke depan.

Tak ubahnya seorang juara tinju sejati sekaliber Tyson yang konon setiap akan bertanding tetap saja berhadapan dengan detik-detik awal yang mencemaskan, SBY pun bisa kehilangan kendali. Hal-hal seperti itu bisa terjadi pada siapa saja.

Possibly related posts: (automatically generated)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: