'nBASIS

Home » ARTIKEL » PARA ARTIS “MASUK” SENAYAN

PARA ARTIS “MASUK” SENAYAN

AKSES

  • 564,592 KALI

ARSIP


“SAYA Hermy dari Harian Medan Bisnis, ingin berbincang dengan Anda seputar masuknya para artis ke Senayan. Banyak kalangan menengarai hal itu akan mengakibatkan kemerosotan kinerja DPR. Bagaimana pendapat Anda?”

Hermy menyampaikan pertanyaan itu melalui saluran telefon dari kantornya akhir minggu lalu. Dengan senanghati saya awali jawaban saya dengan mengatakan bahwa saya tidak tahu persis persentase jumlah artis dalam komposisi keanggotaan DPR hasil pemilu 2009. Tampaknya Hermy juga tidak persis tahu angkanya.

Tetapi saya kira ada baiknya saya bercerita dulu keadaan satu dasa warsa lebih yang lalu. Periode normal yang terakhir (sebelum setengah periode yang berakhir karena reformasi), di Sumatera Utara ada 2 orang Guru Besar Hukum masuk DPRD Sumut melalui Golongan Karya (waktu itu belum disebut partai). Selain kedua Guru Besar Hukum itu, masih ada Guru Besar yang lain, juga direkrut oleh Golkar melalui pemilu. Waktu itu seorang wartawan mengajak saya bertukar fikiran, apakah nanti DPRD Sumut tidak akan berkinerja lebih baik dengan masuknya para Guru Besar itu?

Saya menolak pendapat itu, bahkan mengatakan dengan tegas jika ada Guru Besar yang mau diajak Golkar memasuki lingkaran politik yang amat sentralistik dan penuh instrumen pengendalian kebebasan berekspresi itu, sebetulnya dunia kampus sedang mengalami krisis yang dahsyat. Bosan dengan habitatnya sendiri, lantas mengembara ke habitat lain yang membuatnya teralienasi (terasing), begitulah analoginya.

Saya amat sepakat lagu kritik tajam Iwan Fals terhadap DPR. D-4, Datang, Duduk, Diam, Duit. Di sela-sela rumus D-4 itu masih juga tidur saat sidang tentang nasib rakyat. Akhirnya lantunan lagu dari Slank yang tak kalah pedas melengkapi penggambaran buruk tentang perikeadaan DPR yang selain diisi oleh orang-orang partai yang dikendalikan oleh kepemimpinan oligarkik, juga secara kelembagaan sudah lama kehilangan sifat-sifat kepembelaannya terhadap rakyat.

Pada awal reformasi memang ada sebuah iklim perkuatan politik lembaga legislatif untuk semua tingkatan. Namun setelah semuanya berakhir, kita pun menyadari perkuatan posisi yang cuma berlangsung sebentar itu tak pernah untuk pembelaan terhadap rakyat. Ada loyalitas partai yang memustahilkan penjelmaan orang-orang di Senayan itu menjadi wakil rakyat.

Tidak ada hal penting yang terjadi di kolong langit Indonesia. Rezim boleh berganti, agenda dan kadar akuntabilitas tetap tak berubah. Maka siapa pun yang masuk di DPR, ia akan tertelan sendiri oleh sistem yang belum tereformasi itu. Inilah landasan pertama untuk memahami permasalahan.

Kedua, jika ada asumsi bahwa para artis yang terpaksa meninggalkan habitatnya karena tampaknya begitu mudah masuk ke Senayan dengan bermodalkan popularitas itu menempati posisi kualitas sumber daya manusia paling rendah dibanding orang-orang yang berlatar belakang profesi lain, maka sebetulnya dengan sistem pemilu yang amat buruk sekarang ini harus disadari bahwa orang-orang paling bodoh dari profesi lain pun tampaknya tak terhambat melenggang ke Senayan. Teman saya dengan begitu geram malah berkata “garbage in garbage out“. Tak tahu tulis baca sekali pun bisa masuk dengan resep dekat dengan elit partai, punya uang untuk ditabur, dan pengaruhi aparat pelaksana pemilu agar jangan mengganggu suara (jika kebetulan berhasil memperoleh banyak), atau menambah suara jika kenyataan tidak memenuhi jumlah yang diperlukan. Keburukan model rekrutmen politik yang trend di indonesia saat ini bukan cuma terjadi untuk legislatif, bahkan juga diawali oleh lembaga eksekutif.

Lalu marilah kita periksa satu persatu. Di antara para artis itu ada Ikang Fauzi. Ada Primus, Ada Eko Patrio. Ada Nurul Arifin. Ada “Oneng” Diah Pitaloka. Mandra dan Qomar bukanlah orang-orang bodoh, hanya saja mungkin selalu harus memerankan seperti orang-orang kelimpungan sesuai scenario lawakan yang mereka ciptakan. Dedi “Miing” Gumelar itu pastilah orang pintar. Begitu mampu meramu informasi politik yang amat samar sekalipun menjadi kritik yang mencecar lewat guyon. Mereka bukan orang-orang sembarangan. Jiwanya mandiri, ethos kerjanya tinggi, dan pantang menyerah. Hanya saja jika akan dipaksa membuat makalah berstandar diktat konvensional seperti mahasiswa semester 3 di kampus, mungkin saja mereka akan kewalahan. Tetapi mereka tidak harus mengetik sendiri buah pikiran mereka, karena presiden dimana-mana pun hanya mengendalikan orang lain untuk menggenggam kekuasaan, tidak mengetik sendiri setiap naskah yang hendak ditandatanganinya menjadi hukum.

Hal yang patut diwanti-wanti dari mereka ini ialah bagaimana jika iklim Senayan menulari mereka dan mengotori watak mereka yang bersih? Ini sebuah masalah besar.

Sebelum mereka jenius Rano Karno dan Marissa Haque sudah pernah menjajal dunia politik yang amat liar itu. Marissa Haque ternyata melawan ketika merasa dizholimi oleh elit partainya. Kini mungkin sudah saatnya mengevaluasi Rano Karno yang sudah menjadi Wakil Kepala Daerah, lalu pada gilirannya Dede Yusuf.  Bukankah Sophan Sophiaan telah lebih dari cukup membuktikan bahwa idealisme tetap menjadi nomor satu walau apa pun taruhannya?

Memang kejadian serupa bukanlah fenomena khas Indonesia. Sebuah Negara paling kuat di muka bumi ini pun (Amerika) pernah dipimpin oleh seorang aktor (Ronald Reagen) dan suksesinya tidak seburuk yang kita alami di Indonesia.

Saya juga pernah mendengar keluhan yang dikemukakan dengan cara yang amat halus. “Jika pelawak sudah masuk ke DPR, maka itu tanda-tanda kehancuran sebuah negara“. Boleh jadi ya. Tetapi itu bukan kesalahan para artis dan pelawak itu. Bahkan kehadiran mereka mestinyalah sebuah teguran yang dahsyat. Coba dibayangkan mereka serentak berkata “jika semua urusan yang amat rumit ini segera beres, kami pun akan secepat itu kembali ke habitat kami. Kami muak dengan kalian semua”.

Shohibul Anshor Siregar

Advertisements

4 Comments

  1. Awal Yang Baik Pemerintahan SBY Yang Kedua; Terlibat Skandal Century ?Ditulis dalam Politik tagged Bank Century, Boediono, SBY, skandal century, sri mulyani pada 8:30 pm oleh yuliputri

    Presiden SBY sudah menegaskan tak akan mencampuri urusan Bank Century, sebab itu wilayah Menteri Keuangan Sri Mulyani dan Bank Indonesia. Apakah ini indikasi bahwa sebenarnya SBY mengetahui soal pengucuran dana Rp 6,7 triliun sebagai ‘penyelamatan’ bank bodong itu?

    Konfirmasi langsung dari Mensesneg yang menyatakan bahwa Presiden SBY menerima laporan dari Menkeu soal Bank Century pada 13 November 2008, di tengah kehadiran presiden dalam pertemuan G-20 di Washington, AS. Pertanyaan publik: Apakah SBY tahu soal Bank Century dan memberikan perintah untuk menyuntik dana itu?

    Kalaupun SBY mengizinkan dan memberi perintah atas hal ini, sebenarnya patut dipahami karena beberapa alasan. Pertama, para deposan besar yang digosipkan di komunitas perbankan adalah Sampoerna dan Hartati Murdaya. Sumber internal yang tidak dapat dikonfirmasi menyatakan bahwa Sampoerna punya penempatan per November 2008 sekitar Rp 1.895 miliar, sedangkan Hartati punya hanya sekitar Rp 321 miliar.

    Seperti diketahui keduanya adalah penyumbang logistik SBY dalam Pemilu 2009. Sampoerna sejak beberapa tahun lalu mendanai penerbitan salah satu koran nasional yang menjadi corong SBY, sedangkan Hartati merupakan host tetap acara-acara besar SBY di Kemayoran. Amat wajar bila sumbangan mereka tidak hanya sebatas hal tersebut di atas, apalagi pada saat itu waktu menjelang pileg 2009.

    Kedua, dengan peran PPATK dan aturan soal pencucian uang yang semakin ketat, maka cara paling mudah untuk ‘mengesahkan’ sumbangan demi kepentingan pemilu bagi SBY adalah dengan skema Bank Century ini. Dengan suntikan dana dari LPS, maka deposan besar dapat menarik uangnya dari Bank Century.

    Dengan sedikit cara pencucian dapat diatur agar seolah-olah memang ada placement besar di masa lalu oleh para deposan besar ini di Bank Century, lalu ditarik oleh mereka dan disalurkan sebagai dana pemilu. Praktek yang berbeda tapi dalam skema ketrampilan yang mirip adalah cessie Bank Bali pada masa lalu, ketika kekuasaan menarikkan deposito (atau tagihan) mendapatkan fee yang waktu itu akan digunakan Golkar oleh Akbar Tandjung. Jadi apakah SBY mengetahui dari awal soal Bank Century ini?

    Jika kita membaca tulisan di atas, nampak ada indikasi kuat SBY juga mengetahui, bahkan ‘mungkin’ menyetujui bail-out Bank Century. Tidak mungkin Menteri Keuangan, walaupun didukung Bank Indonesia, berani membuat kebijakan seperti itu tanpa persetujuan presiden. Apalagi, kemungkinan besar Wapres Jusuf Kalla tidak setuju. Tentu, dalam teori bargaining power, Sri Mulyani mau berhadapan dengan wapres karena dia telah didukung oleh presiden.

    Salam Kasih.

    ‘nBASIS: Dalam posting di atas nama Anda dan suami anda juga disebut. Tetapi Anda berkomentaro soal lain, sesuatu yang begitu penting. Mungkin saja dugaan Anda benar, dan sekiranya memang benar, apakah ada mekanisme untuk klarifikasi? Anda akan berfikir tentang impeachment?
    Terimakasih.

  2. deltapapa says:

    politik,…. oh ….. politik

    ‘nBASIS: kata pepatah, tangan mencincang bahu memikul. itu juga politik, pertanggungjawaban publik. resah dan membiarkan begitu saja orang bersalah, tidak patut menurut negara. eh, posting ini tentang para artis yang masuk “Senayan” lho, berubah arah komentar karena komentar mbak Marissa soal Century yang memang akhirnya menjadi perhatian nasional. terimakasih.

  3. dul says:

    kalo gue kaga ngarti..bank century soalnya gue bukan nasabah

    nBASIS: sebuah pendapat. patut dihargai. empati kepada para nasabah saja mungkin tidak cukup, melainkan juga tanggungjawab sebagai bangsa.

  4. goni says:

    mendingan bikin bank baru, repot2 amat

    ‘nBASIS: sebuah pendapat. perlu dihargai. yang repotnya belum-belum nanti malah sudah kepikiran bank yang akan didirikan itu mau dikorup.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: