'nBASIS

Home » ARTIKEL » NIRWAN RESAHKAN SESUATU TENTANG BUDIONO

NIRWAN RESAHKAN SESUATU TENTANG BUDIONO

AKSES

  • 512,606 KALI

ARSIP


Spesialis Iran dengan pendekatan baru, sarjana komunikasi dengan kekhususan investigative reporting ini sudah beberapa tahun lalu studi lanjut di IAIN. Ya di IAIN. Orangnya gagah, lebih banyak memberi respon dengan tak hanya senyum, melainkan juga tawa kecil. Bahkan seperti mengejek (bagi orang yang tak mengenalnya dekat). Tidak indoktrinatif, amat cair dan elegan —yang terakhir ini saya tak sepenuhnya yakin (lagi) karena makin sering dan menyukai kesendirian, ia banyak berubah. Media menguasasinya. Memang belum, ia belum sampai menderita penyakit “pakar teori komunikasi yang sulit berkomunikasi”. Mungkin sesaat lagi dia akan ke sana, dan tanpa dia sadari ia akan kehilangan banyak karena itu.

Nirwansyah Putra Panjaitan, itulah namanya. Ia beristerikan seorang perempuan lincah, manis, pintar —ini seperti mengikuti Ebiet G.Ade yang punya cita-cita beristeri seorang perempuan selain cantik, lincah dan gesit, tetapi juga cerdik dan pintar. Dulu, termasuk kepada isterinya, semasih kedua sejoli ini kuliah pada jurusan yang sama, saya sering memompa semangat keduanya untuk berusaha sekuatnya untuk sekolah setingginya.

Saya ceritakan bagaimana saya bertemu dengan Mitsuo Nakamura, seorang peneliti dari Ciba University Jepang yang banyak memberi hal-hal baru dari temuannya tentang kehidupan keagamaan di Indonesia. Dalam tugas keilmuan keduanya berkolaborasi. Awal kedatangannya di Indonesia tempo hari, melalui penelitiannya antara lain  Mitsuo Nakamura menghasilkan disertasi Bulan Sabit Muncul dari Balik Pohon Beringin. Hisako, isterinya, menghasilkan thesis Divorse in Java. Banyak pertemuan ilmiah mereka ikuti bersama. Keluarga ilmiah, keluarga akademis, keluarga ilmu pengetahuan. Suami isteri yang membina keluarga ilmiah ini amat faham dengan umat Islam Indonesia, termasuk NU dan Muhammadiyah.

Suatu ketika dalam pengajian Pimpinan Pusat Muhammadiyah di bilangan Menteng Raya Jakarta, seseorang bertanya kepadanya “mengapa Anda tidak memeluk Islam saja”. Dengan santun Mitsuo Nakamura menjawab:

saya sebetulnya sudah muslim dengan m kecil dan memang sudah Islam dengan i kecil, sesuai dengan pengertian sesungguhnya dari kedua istilah itu.

Itu jawaban  Mitsuo Nakamura, sambil menjelaskan serba sedikit agama di negaranya Jepang dan yang dipeluknya.

Saya sebetulnya ingin mensublimasi saja sebuah cita-cita pribadi tak tercapai kepadanya, kepada Nirwansyah Putra Panjaitan. Saya yakin dia bisa menjalani itu, dan menurut saya itu ideal. Dia tidak usah bercita-cita menjadi birokrat, karena akan banyak makan uang haram. Saya kenal orang tuanya yang soleh dan solehah, yang pasti akan marah besar jika misalnya kelak ia menjadi birokrat koruptif. “Jangan asuh cucuku dengan uang haram”, pasti itu yang akan disergahkan orang tuanya. Niwarsyah Putra Panjaitan kini punya Qalam El-One dan Queentitta, generasi penerus yang kuat.

Tentang nama kedua anaknya ini dia punya cerita panjang. Katanya begini:

Queentitta El-Dzarra Kalamanti Dzar: Abu Dzar Al-Ghifari, sosok yang digambarkan Muhammad, “hidup sendiri, berjalan sendiri dan wafat sendiri.” Dia berteriak di depan pintu kekuasaan Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Muawiyah karena ketidakadilan yang melanda fakir miskin, anak yatim dan janda-janda tua, dan karena itu pula dia diasingkan oleh sejarah.

Dia salah satu dari empat pilar Ali ibn Abi Thalib, yang kukuh pendirian dan tak peduli apakah kekuasaan suka atau tidak kepadanya. Dialah yang menjadi sandaran Ali dalam persoalan mustadhaafin, sebuah sematan yang khusus diciptakan untuk dirinya.

Ali Shariati begitu mengangkatnya sehingga menjadi dasar perlawanannya terhadap tesis Karl Marx soal sosialisme. Abu Dzar juga menjadi tonggak perlawanannya terhadap filsafat eksistensialisme Jean Paul Sartre.

Queentitta adalah yang melembutkannya. Seandainya dia seorang lelaki, maka namanya adalah Ahmad Dzar El-Marikh. Marikh adalah Mars, gambaran Dewa Perang ala romawi. Nama itu sangat-sangat keras, jauh mengalahkan Harimurti, si hitam legam yg kukuh dari kebudayaan Hindu. Maka dilembutkanlah namanya dengan sematan “Ahmad” di depannya. Kalaulah ada anak ketiga, maka itulah namanya. Itu pun kalau tak ada perkembangan lain.

Sekarang ia menjadi jurnalis, mampu dengan sempurna menulis banyak bidang.  Tadi malam ia pancing saya dengan keresahannya. Inilah smsnya:

Pandangan sekuler Budiono soal hubungan politik-agama sungguh makin menggelisahkan (bagi) posisi parpol agama dalam koalisi pengusung SBY-Berbudi. Seluruh parpol itu berasaskan Islam, bukannya Pancasila, dan bahkan ada yang sudah jadi negara dalam negara karena Presiden pun mereka (parpol:PKS) mereka punya. Ah.

Waduh. Akan panjang cerita mengenai ini, Nirwan. Panjang. Panjang sekali. Tulislah sesuatu mengenai ini di blogmu, saya akan membaca itu lumat-lumat seperti sebelum-sebelumnya. Itulah yang terpikir ketika membaca sms Nirwansyah Panjaitan.

Sms ini adalah reaksi dari debat cawapres tentunya. Saya tidak menyalahkan Budiono saja, karena menurut saya ketiga cawapres sudah merepresentasikan tipikal pemahaman orang-orang sekuler di Indonesia terhadap agama. Saya setuju bahwa sikap dan pandangan terhadap agama itu akan lebih beresiko kepada SBY-Berbudi ketimbang JK-WIRANTO dan Mega-Prabowo. Itu jika menilik pada konstituen dasar yang mendukung ketiga pasangan itu.

Di kubu SBY-Berbudi itu PKS kan sebagai andalan, ditambah dengan berbagai isyu yang susah diklarifikasi soal keberagamaan keluarga pasangan ini, PKS pun tentu akan semakin kelimpungan memberi penjelasan kepada konstituennya tentang Budiono. Ini problem baru, setelah pertanyaan kritis konstituen PKS dan kalangan muslim lainnya tentang keislaman Ani Yudhoyono.

Saya bisa terima. Namun, menurut hemat saya, pendapat Budiono sama dan sebangun dengan pendapat Prabowo maupun Wiranto.

Justru yang menjadi pertanyaan, dengan maksud apa pertanyaan itu diajukan oleh Komaruddin Hidayat. Karena referensi pengalaman empiris bernegara di Indonesia Nur Cholis Madjid “Cak Nur” memang pernah merekomendasikan Islam Yes, Parpol Islam No. Mungkin memang Komaruddin Hidayat termasuk murid Cak Nur. Simaklah, banyak sekali yang takut kepada SM Kartosuwiryo, takut kepada NII, takut kepada Alqaeda, dan akhirnya mereduksi ketakutan itu dengan berusaha menutup tak tuntas “kelopak mata” (agar semakin kecil daya tiliknya) untuk Islam. Barat memang mengajarkan keagamaan di seberang, dan kenegaraan di seberang lain. Itulah keberagamaan yang semakin trend agar “memenuhi syarat” menjadi orang modern.

Agama (termasuk Islam) memang semakin tunduk pada hegemoni yang menyeragamkan. Jadilah ke seremoni, jadilah ke urusan pribadi. “Belilah pakaian jilbab yang baru karena kita akan menghadiri perhelatan keagamaan (Islam). Marilah kita ke pesantren agar mereka pilih kita. Buatlah jaringan zdikir-zdikir agar dengan saluran relasi keagamaan itu mereka semakin kuat menerima dan memilih kita”. Agama pun direndahkan dalam posisi itu.

Entropi (kekeroposan) Pancasila seperti yang dikongreskan di UGM Yogyakarta pada peralihan bulan ini adalah masalah yang sama dihadapi oleh agama. Akan masih adakah korupsi jika agama menjadi way of life? Tetapi pertanyaannya di sini justru bukan mengenai hal itu.

Akan bagaimanakah agama jika Pancasila menjadi way of life? Akan bagaimanakah Pancasila jika agama menjadi way of life? Jenis perebutan yang bagaimana jika keduanya dipertarungkan menjadi sama-sama way of life. Jika ada lebih dari satu way of life maka tentu way of life yang sesungguhnya, jika ada, sudah pasti disandiwarakan. Inilah hipokritas pemimpin keagamaan di hadapan keraksasaan kekuasaan. Tidak ada lagi yang berbicara tentang itu, bahkan Piagam Jakarta, untuk sebagian orang-orang ini, dianggap tabu dibicarakan.

Stigma atas dasar konsep pemahaman terhadap faham nasionalisme

Parpol agama tak nasionalis? Bagaimana sejarah pembentukan opini ini, dan mengapa diabadikan sampai sekarang? Parpol agamakah yang mengabadikannya, mengaminkannya atau kesediaannya dalam bentuk perilaku yang menyesuaikan dengan kehendak peristilahan itukah yang meligitimasi secara empirik?

Mengapa banyak sekali murid-murid Zainuddin MZ “sang ustaz sejuta umat” yang menyayangkan ketika ia masuk parpol Islam? Hah? Murid mentitahkan sesuatu ultimatum keagamaan kepada gurunya sendiri  dalam bidang yang justru menjadi keahlian gurunya itu? Guru apa itu? Atau murid apa itu? Ah.

Itulah juga yang terjadi ketika AA Gymnastiyar dari Bandung kawin berpoligami. Banyak sekali murid-muridnya menyayangkan. Prilaku kedua tokoh ini perilaku Islam (masuk parpol Islam dan kawin poligami) tetapi disayangkan dan dinasehakan bahkan menjadi dijauhi oleh murid-murid dalam kajian Islam. Islam aneh, atau umat Islam aneh, atau guru-guru Islam aneh. Pilihlah hanya dua.

Kehidupan  keagamaan bahkan faham keagamaan di Indonesia sudah semakin mendekat pada posisi ditentukan oleh orang-orang yang tak tahu agama, atau bahkan pada tingkat tertentu menyintuh batas demarkasi sebagai musuh agama.

Jikalau Pancasila bisa dikukuhkan (setidaknya diindoktrinasikan) sebagai way of life, tidak pada pidato dan tidak cuma di atas kertas-kertas seperti dituduhkan oleh Komaruddin Hidayat tadi malam, mengapa sebuah agama tidak bisa menjadi way of life? Banyak yang tahu Islam rahmatan lil alamien dan itu bisa diterjemahkan dan ditafsirkan amat luas, amat kontektual oleh orang seperti Komaruddin Hidayat. Jadi, mengapa ia bertanya seperti itu? Mengapa?

Setelah Masyumi dan Parmusi, maka hari ini hanya ada PKS yang memiliki potensi untuk sesuatu yang baru tentang Islam dan politik di Indonesia. Ucapkanlah selamat tinggal kepada PPP, PBB, PKNU, PKB, PBR, apalagi ya? Berhentilah berharap sesuatu kepada PAN karena ternyata ia hanya ingin seperti Partai Demokrat, atau sesungguhnya ingin seperti Golkar, tak lebih tak kurang. Sayangnya saat Golkar sudah metamorfose semakin  sempurna ia pun tetap berobsesi seperti Golkar dengan karakteristik yang sudah ditinggalkan oleh Golkar itu.

Karena karakterisrik pemahaman keislaman itu saya jamin PKS tidak akan all out mendukung SBY-Berbudi. Tidak akan.

Nirwan, beritahulah saya jika sudah menulis Budiono di Blogmu. [Shohibul Anshor Siregar, Koordinator Umum ‘nBASIS]



1 Comment

  1. nirwan says:

    “…Orangnya gagah.” itu yang menarik hahahaha😀

    ‘nBASIS: iyalah. gagah. tetapi. resah. dia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: