'nBASIS

Home » ARTIKEL » Sofyan Tan: MENUJU MEDAN 1?

Sofyan Tan: MENUJU MEDAN 1?

AKSES

  • 545,203 KALI

ARSIP


  • Orang Cina dalam pentas politik di Kota Medan bukan hal baru, bagaimana bisa Anda berfikir tentang Medan tanpa Tjong Ah Fie?

  • Seberapa besar peluang Sofyan Tan ditilik dari kombinasi faktor-faktor jamak seperti imej umum tentang orang Cina sebagai pemilik modal yang unlimited di Medan dan trend politik transaksional yang berkembang di tengah masyarakat  serta ketidak profesionalan penyelenggara Pemilukada?

sofyan tanANDA mengenal Sofyan Tan? Tokoh Cina asal Medan berusia 50 tahun ini adalah seorang dokter yang oleh banyak temannya secara kelakar sering disebut ”dokter yang sudah lupa operasi”. Mungkin itu disebabkan aktivitasnya yang jauh dari keahlian profesional yang ia miliki sebagai dokter.

Awalnya tokoh yang banyak terlibat dalam berbagai organisasi lokal sampai nasional ini tampak lebih tertarik dalam bidang pendidikan. Pertama-tama sebagai guru di SMA tempatnya pernah belajar, yakni SMA Sutomo (1980-1986). Sewaktu masih kuliah ia pernah menjadi Asisten Dosen pada Laboratorium Physiologi FK-UMI Medan (1981-1985). Pada saat yang hampir bersamaan (1984-1985) ia menjadi Guru Biologi di SMA PKMI Pematang Siantar. Tetapi, pada tahun 1984-1988 ia tercatat menjadi Ketua Yayasan Perguruan Brigjend Katamso Sunggal dan sejak tahun 1987 Ia menjadi Ketua Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda yang terkenal dengan pola pembaurannya itu.

WIKIPEDIA mencatat bahwa karena jasa-jasanya Sofyan Tan mendapatkan penghargaan Fellow Ashoka Fellowship TAUKE CINA MEDANuntuk Hubungan Antaretnis dan Pendidikan dari Washington (1989), dan Anugerah Wiyata Mandala dari Gubernur Sumut, Rizal Nurdin, untuk bidang pendidikan pada tahun 2002.

Sejak tahun 2004 Sofyan Tan tampak berhijrah haluan perjuangan dengan terjun dalam politik. Ia menjadi salah satu dari 172 orang Cina Indonesia yang mencalonkan diri untuk menjadi anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Belum lama ini ia menjadi pengurus teras PDIP Sumatera Utara.

Bagaimana peluangnya jika maju menjadi salah satu calon Walikota Medan melalui pemilukada 2010? Ini suatu hal yang amat menarik. Diketahui orang Cina di Medan sejak reformasi 1999 mengalami bentuk partisipasi politik baru dengan tidak cuma menjadi pemberi suara, melainkan juga menawarkan diri sebagai tokoh perwakilan. Dalam konteks ini Sofyan Tan tidak sendirian. Paling tidak ada Indra Wahidin, juga seorang dokter. Perlu dicatat bahwa apa yang dilakukan oleh generasi belakangan bukanlah sesuatu yang asing dan tanpa rujukan, sebab semua orang tahu bahwa Kota Medan juga tidak bisa dipisahkan dengan sebuah nama besar Cina Tjong Ah Fie.

Pada periode ini di legislatif lokal ada Brilian Moktar yang terpilih melalui pemilu 2009. Juga ada Sony Firdaus. Ini sekadar menguatkan argumen bahwa orang Cina di Medan secara politik memiliki obsesi perwakilan sendiri dan mampu mewujudkannya lewat mekanisme pemilu. Namun jika dibanding dengan jumlah orang Cina di Medan, orang yang berhasil masuk ke legislatif melalui pemilu berbasis suara terbanyak tentu amat sedikit dibanding jumlah etnis ini.

Penyatuan Cina untuk sebuah pilihan politik tertentu tentulah tidak mudah di Medan. Akar sejarah yang panjang dalam soal pembauran yang begitu rumit bisa menjadi salah satu penghalang. Padahal, diperkirakan, jika semua orang Cina di Medan bersedia menjadi pemilih bagi calon yang muncul dari etnis mereka, secara teoritis bisa menang terutama jika calon yang maju paling sedikit 5 pasangan. Harus disadari pula bahwa orang Cina secara politik jauh lebih nalar dibanding rata-rata orang pribumi. Ini tentu sebuah modal politik.

Jika dihubungkan dengan trend politik transaksional yang menggejala di tengah masyarakat, dan rendahnya kinerja pelaksana pemilukada, imej tentang orang Cina sebagai pemilik modal unlimited tentu saja menjadi faktor kemudahan lain yang harus dihitung. Hanya saja kembali kepada masalah penyatuan pilihan politik warga Cina, mungkinkah saat sekarang?

 

 

Shohibul Anshor Siregar

 

Advertisements

3 Comments

  1. […] Awalnya ‘nBASIS menganggap Sofyan Tan akan dapat menang “secara sulit” satu putaran hanya jika cuma dialah satu-satunya pasangan “pelangi” dan tentu saja dengan syarat lain yakni pasangan yang bertarung tak kurang dari 5 pasangan.  ‘nBASIS sudah menulis tentang ini beberapa bulan lalu dan amat yakin tak akan bisa menang jika harus memasuki putaran kedua. [silakan klik disini]. […]

  2. […] Pencarian informasi yang berakhir dengan penemuan catatan di ataslah yang pertama saya lakukan setelah pamitan pulang seseorang yang menemui saya di rumah (Minggu sore, semalam). Ia seorang yang saya kenal cukup lama. Pernah menjadi calon anggota legislatif daerah, dan selain masih aktif pada sebuah partai politik gurem, ia juga seorang wartawan. Sebelumnya saya telah pernah menulis pada blog ini tentang Sofyan Tan yang saya anggap menjadi salah satu di antara kejutan politik tahun 2010 di Sumatera Utara (https://nbasis.wordpress.com/2009/10/06/sofyan-tan-menuju-medan-1/) […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: