'nBASIS

Home » ARTIKEL » SOFYAN TAN DAN “ARWAH GUS DUR”

SOFYAN TAN DAN “ARWAH GUS DUR”

AKSES

  • 512,606 KALI

ARSIP


Pada Mu Negeri Kami Berjanji… Pada Mu Negeri Kami Berbakti…Pada Mu Negeri Kami Mengabdi… Bagi Mu Negeri Jiwa Raga Kami… Ingat No.10..Duet Pasangan Multi Etnis… Duet Pasangan Pelangi..Milik Anak Bangsa INDONESIA – Dr.SOFYAN TAN & Ir.NELLY ARMAYANTI,M.SP – Calon Walikota & Wakil Walikota Medan 2010-2015 – yg akan membawa Perubahan bagi Kota MEDAN….

AKUN Tim Relawan Sofyan pada facebook kira-kira 10 jam yang lalu mencatatkan kalimat di atas dengan respon dari jaringannya sendiri. Empat orang menyatakan like it, dan ada 9 komentar yang menunjukkan dukungan. Hasudungan Rudy Yanto Sitohang 3 jam lalu menjadi pemberi komentar terakhir berbunyi “mari kita dukung dngan sepenuh hati…demi jiwa raga kami….”

Pencarian informasi yang berakhir dengan penemuan catatan di ataslah yang pertama saya lakukan setelah pamitan pulang seseorang yang menemui saya di rumah (Minggu sore, semalam). Ia seorang yang saya kenal cukup lama. Pernah menjadi calon anggota legislatif daerah, dan selain masih aktif pada sebuah partai politik gurem, ia juga seorang wartawan. Sebelumnya saya telah pernah menulis pada blog ini tentang Sofyan Tan yang saya anggap menjadi salah satu di antara kejutan politik tahun 2010 di Sumatera Utara (https://nbasis.wordpress.com/2009/10/06/sofyan-tan-menuju-medan-1/)

Kunjungannya sore itu membawa sebuah proposal penulisan buku Gus Dur di mata tokoh Sumatera Utara. Gus Dur, ya Guru bangsa yang mantan Presiden RI dan yang meninggal hampir 100 hari yang lalu.

Pagi ini saya baca serius seluruh isi proposal itu. Mulai dari gambar sampul, warnanya, illustrasi, rencana daftar isi buku yang akan ditulis, dan lain-lain. Beberapa yang menarik perhatian saya  adalah:

  • Proposal yang ditinggalkan untuk saya ternyata bertuliskan alamat Drs.H.Rahudman Harahap. Ada nama yang serupa dengan nama salah seorang calon Walikota yang sekarang maju padaPemilukada kota Medan 2010 itu? Memang dalam proposal itu sasaran yang akan dimintai pemikiran juga agak kabur.
  • Proposal itu bertanggal 20 Pebruari 2010, tetapi dalam penjelasan durasi kegiatan disebutkan 4 bulan (26 Januari – 2 April 2010). Sedangkan Surat Keputusan penghunjukan Panitia yang dibuat oleh 2 lembaga penanggungjawab bertanggal 11 Februari 2010.
  • Dua lembaga penanggungjawab proyek ini ialah Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN) Sumatera Utara dan Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Sumatera Utara. Lembaga yang disebut terakhir adalah salah satu pihak yang terang-terangan mendukung usaha pemenangan Sofyan Tan dalam pemilukada kota Medan 2010.
  • Ada sejumlah nama penting yang saya kenal didudukkan dalam pekerjaan ini (Penasehat). Mereka adalah Brilian Moktar, Tan Sri, The KIa Coh, Vincent Wijaya, J.A.Ferdinandus, Maratua Simanjuntak, dan sejumlah nama lainnya termasuk Sofyan Tan (siapa lagi kalau bukan salah seorang calon Walikota Medan 2010-2015). Pada jajaran operator dan pelaksana lapangan terdapat nama-nama lainnya dari kalangan NU.
  • Dasar pemikiran penulisan buku ini bertolak dari rasa kagum atas keberanian dan kemauan  politik Gus Dur yang dalam masa pemerintahannya yang singkat itu berhasil memberi pembelaan kepada Khonghucu dengan mencabut Inpres Nomor 14 Tahun 1967 dan mengeluarkan Kepres Nomor 6 Tahun 2000 yang antara lain mengatur penyelenggaraan kegiatan keagamaan, kepercayaan dan adat istiadat Cina. Tahun Baru Imlek juga ditetapkan sebagai hari libur nasional (fakultatif). Gus Dur tak cuma pernah menghadiri perayaan Imlek Tingkat Nasional.

Sebelumnya, kepada teman yang menemui saya di rumah itu, saya sudah mempertanyakan tujuan proyek ini dan dia menolak dugaan saya bahwa pemenangan Sofyan Tan menjadi misi utamanya. Tak saya yakini argumen yang diajukannya kepada saya dan sembari akan berusaha memenuhi permintaannya (menulis tanggapan terhadap Gus Dur) siang ini, saya dulukan menulis posting ini. Sebuah posting yang dapat merupakan penilaian atas usaha kreatif Sofyan Tan menuju Medan 1.

Dukungan Kolektif Cina dan Upaya Menjaring Komunitas Pemilih Muslim. Proyek ini saya nilai menggambarkan dukungan kolektif warga Cina di Medan terhadap pencalonan Sofyan Tan, atau setidaknya usaha mendapatkan dukungan kolektif Cina.  Secara bersamaan tentu dimaksudkan untuk meraih dukungan dari kalangan pemilih muslim.

Tetapi saya tidak menemukan nama sahabat saya Indra Wahidin, tokoh yang pernah maju bersama Sofyan Tan dalam pemilu untuk mendapatkan kedudukan di DPD yang jatahnya cuma 4 kursi untuk Sumatera Utara. Ada pun Brilian Moktar tentu tidak perlu dihitung dalam upaya kolektivisasi dukungan ini, karena memang satu partai dengan Sofyan Tan. Mungkin Sony Firdaus, politisi  lain yang duduk di legislatif daerah, yang partainya mendukung figur lain, lah yang dapat disebut suatu fakta keberhasilan kolektivisasi dukungan yang dilancarkan oleh Sofyan Tan ini.

Adakah yang tahu persis berapa banyak orang Cina yang memiliki hak pilih di Medan? Saya sudah lama tidak percaya terhadap data BPS tentang ini. Sama seperti data BPS tentang komposisi penduduk berdasarkan agama di beberapa daerah lain yang sudah lama saya amati. Di balik pekerjaan deskripsi statistis itu saya curigai terdapat juga pandangan politis yang mempengaruhi hasil pendataan. Karena itu sukarlah melakukan kalkulasi. Prediksi berdasarkan data  kurang  valid tentu amat dipertanyakan akuraditasnya.

Tetapi saya cukup yakin jika semua orang Cina di Medan memilih pasangan nomor urut 10 ini pada pemilukada kota Medan 2010, ditambah dengan pendukung yang dirajut oleh Nelly Armayanti, kemenangan pasangan kombinasi (etnis, agama dan gender) ini seakan sudah di ambang realita. Hanya saja buruknya iklim politik dalam pengalaman pemilukada yang sering terekspresi dengan amburadulnya DPT dan intervensi terlarang dari jajaran birokrasi, akan menjadi ancaman serius dalam hal ini bagi Sofyan Tan – Nelly Armayanti dan juga pasangan lain. Bedanya, pada komunitas pribumi (jika istilah ini masih diperkenankan dipakai) masih terdapat kemauan untuk memprotes kecenderungan by design dalam keburukan penyelenggaraan pemilukada, yang tentu ada perbedaan barang sedikit jika dibandingkan dengan kadar reaksi dari kalangan pemilih Cina.

Sulitkah mendapatkan dukungan orang non Cina bagi pasangan ini? Daya tarik Nelly Armayantilah yang akan lebih menentukan itu. Sama seperti Afifuddin Lubis di sisi Rudolf Matzuoka Pardede yang sempat dituduh menerima 5 milyar rupiah untuk posisi Wakil, Nelly Armayanti juga dianggap oleh sebagian orang telah mengorbankan hal-hal yang dianggap tak pantas. Itu tentu pandangan subjektif. Tetapi pandangan subjektif itu selalu muncul dari endapan memori pengalaman empiris orang-orang dalam interaksi multi-etnis di kota majemuk Medan.

Tentu saja dengan eliminasi KPUD terhadap pasangan bakal calon Rudolf Matzuoka Pardede – Afifuddin Lubis keuntungan besar dengan sendirinya hadir pada pasangan Sofyan Tan – Nelly Armayanti jika dipercaya bahwa pengaruh mantan orang nomor 1 PDIP di Sumatera Utara itu masih kuat pada komunitas PDIP, dan tidak akan melakukan pemihakan ke pasangan lain dalam perhelatan pemilukada 2010 ini.

Dalam kaitan itulah mungkin proyek penulisan buku tentang Gus Dur dimunculkan oleh “pialang politik” yang segera direspon terburu-buru oleh pentolan-pentolan di balik pasangan ini. Mereka tak mengapa mengalokasikan ratusan juta rupiah untuk menugasi operator dalam permainan itu dan menambah lagi dengan ratusan juta rupiah  untuk launching yang nanti didekatkan saatnya dengan hari pemberian suara. Sebagaimana acara deklarasi berbalut tasyakkur Rudolf Matzuoka Pardede dan puteranya Salomo Pardede saat mengawali gerakan merebut Medan 1 tempohari, launching buku hasil proyek “kaget” ini akan ramai pengunjung. Itu pasti. Dibantu oleh publikasi media dan pengiriman buku-buku itu (kelak) kepada kalangan yang luas, kira-kira dampaknya  yang diperhitungkan oleh para penggagas proyek dapatlah dilukiskan.

Sekilas saja mungkin para pentolan di balik Sofyan Tan – Nelly Armayanti yang mengetahui pengaruh Gus Dur di Sumatera Utara, khususnya Medan. Mungkin saja pihak keluarga “namboru” boru Sinaga, dukun yang berdomisili di sekitar Teladan, akan mendukungnya mengingat hubungan lama dengan Presiden yang “nyeleneh” itu. Begitu juga beberapa yang lain. Tetapi fakta kebesaran Gus Dur di tengah komunitasnya NU dan kalangan Islam Jawa Abangan di tempat asalnya, amatlah berbeda dibandingkan dengan di Medan. Tidak usah, mestinya, tergiur dengan nama-nama besar seperti Maratua Simanjuntak yang semua orang sudah tahu kadar pengaruhnya, untuk tidak mengulangi eksperimen yang pernah dibuat oleh Alamsyah Hamdani dan kawan-kawan ketika mengamanahkan sebuah organisasi sayap PDIP ke pundak  Anwar Nur Siregar. Semestinya pentolan-pentolan di balik Sofyan Tan – Nelly Armayanti membaca kritis peran-serta Gus Dur dan pengikut-pengikutnya  ketika secara resmi mengusung RE Siahaan menjadi calon Gubernur Sumatera Utara tahun 2008 lalu agar jangan seperti arang habis besi pun binasa.

Sebagai bahan perbandingan, menurut laporan salah seorang anggota tim pemenangan Bahdin Nur Tanjung – Kasim Siyo yang diposting pada akun Koran Politik&Hukum, Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (PC NU) Kota Medan, Kamis (18/03) sore sudah bersilaturrahim dengan pasangan yang dipopulerkan dengan sebutan BK 4 ini, bertempat di Sekretariat Jalan Palang Merah No. 80 Medan.  Dikemukakan dalam pertemuan itu bahwa NU Kota Medan telah membentuk Forum Ummat Islam Bertasbih sebagai wadah penyaluran aspirasi warga Nahdliyyin agar tidak berserak ke mana-mana dan dapat diarahkan untuk satu tujuan yang bermanfaat sehingga suara warga Nahdliyyin menjadi satu, kuat dan diperhitungkan yang  mengagendakan usungan BK 4.  Dalam pertemuan itu ada Ir H Wahid, M.Si,  Drs H Amas Muda Siregar, MM, Drs Muin Siregar, Drs H Sokon Saragih, MA, M. Ali Husin Parinduri, S.PdI, Drs Maraimbang Daulay, MA, H. Irwan Ananda, Saipul Siagian, SPdI, M.Si, dan Thamrin Harahap.

Pasangan Sofyan Tan – Nelly Armayanti pada satu sisi dapat disebut sebuah terobosan politik yang progresif. Namun pertanyaannya, akan dimanakah dan akan bagaimanakah “arwah Gus Dur” memberi peneguhan dan dukungan dalam konteks urusan ini (proyek penulisan buku Gus Dur Di Mata Tokoh Sumatera Utara)?

Sofyan Tan – Nelly Armayanti amat perlu hemat energi.

Shohibul Anshor Siregar


5 Comments

  1. Nunuk Sanhaji says:

    Sebagai ummat Muslim saya sejak lama memandang Pemilihan Kepala Daerah adalah bagian dari Muamalah ma’annas (perbuatan dunia atau tugas horisontal) yang tidak harus dicampur aduk dengan Muamalah ma’Allah (tugas Vertikal).

    Saya tak kenal Ibu Nelly tapi saya kenal dgn Sofyan Tan, yang menurut saya adalah pribadi yang baik dan kapabel untuk memimpin.

    Dalam pemahaman saya : pemimpin daerah dipilih bukan karena dia seiman dengan pemilihnya, tapi yang memiliki kemampuan tanpa perlu membandingkan dengan siapapun juga.

    Mohon judul tulisan Sofyan Tan dan Arwah Gus Dur dapat dipertimbangkan untuk diganti karena :

    1. Sofyan Tan bukan Gus Dur dan sama sekali tak ada kolerasinya dengan Gus Dur.
    2. Dikhawatirkan menimbulkan multi tafsir kaum muslim terutama NU.
    3. Hindari hal-hal yang bersifat tendensius agar lebih bermartabat, Terima kasih.

    Nunuk Sanhaji
    Baitul Muslimin Indonesia Sumut
    Warga kota Medan yang mengikuti Muktakmar NU di Makassar dan pendukung Sofyan Tan sebagai Walikota Medan

    ‘nBASIS: Pendapat pribadi Anda tentang pemilukada amat menarik dan amat politis serta potensil mengundang polemik. Kedekatan Anda dengan Sofyan Tan (melalui BMI yang onderbow PDIP itu) ketimbang Nelly Armayanti juga tak kurang menariknya. Terimakasih atas komentar Anda meski, mohon maaf, permintaan Anda tak mungkin dipenuhi. Salam bagi seluruh Nahdhiyyin yang sedang bermuktamar. Semoga menghasilkan keputusan yang memihak maslahat umat.

  2. […] saya terbitkan sebuah posting berjudul  SOFYAN TAN DAN “ARWAH GUS DUR” yang ketika masih dalam proses editing langsung saja mendapat tanggapan berupa protes dari seorang […]

  3. Gultom says:

    Saya juga seorang Muslim dan saya membaca Quran surah Annisa ayat 138 dan 139. Awalnya saya pikir tak masalah kita pilih orang seperti Sofyan Tan untuk memimpin kota Medan, tapi setelah membaca Ayat Tuhan yang harus tetap dipedomani oleh seorang muslim maka pilihan itu tidak akan pernah saya lakukan.

    ‘nBASIS: Terimakasih atas tanggapannya.

  4. […] sering dikenal “nyeleneh” itu. Begitu juga beberapa yang lain. Tetapi fakta kebesaran Gus Dur di tengah komunitasnya NU dan kalangan Islam Jawa abangan di tempat asalnya, amatlah berbeda dibandingkan dengan di […]

  5. […] Memang pada musim kampanye pemilukada kota Medan tahun lalu, saya didatangi oleh seorang teman lama yang bermaksud mewawancarai saya untuk dijadikan sebagai salah satu isi buku tentang Gus Dur. Dalam hati saya berkata “inilah rupanya buku yang dimaksudkan dulu”. […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: