'nBASIS

Home » ARTIKEL » Mengintip Kiprah Kampanye Untuk Sofyan Tan: LEMBAGA PEMBERDAYAAN MUBALLIGH SUMATERA UTARA

Mengintip Kiprah Kampanye Untuk Sofyan Tan: LEMBAGA PEMBERDAYAAN MUBALLIGH SUMATERA UTARA

AKSES

  • 564,592 KALI

ARSIP


ANDA pernah mendengar nama organisasi Lembaga Pemberdayaan Muballigh Sumatera Utara? Tahu pengurusnya? Tahu kapan itu didirikan? Tahu dimana alamat sekretariatnya (jika ada) ? Syukurlah kalau Anda tahu.

Akhir-akhir ini memang ada saja lembaga atau wadah dadakan yang terbentuk begitu saja, mungkin untuk mengakomodasi sesuatu keinginan yang sulit “diletakkan di bagian mana di tengah masyarakat” mengingat makomnya memang sulit ditemukan.

Berselancar di antara lorong kontroversi sempit dan pragmatis, terkadang cuma itu sajalah  keterangan laten yang menyertai asbab annuzulnya. Namun ini tidak untuk mengatakan bahwa wadah Lembaga Pemberdayaan Muballigh Sumatera Utara sama dengan yang dilukiskan itu.

Tetapi bagi yang tidak tahu tidak mungkin berharap akan dapat informasi tentang wadah itu dari selebaran yang designnya mengatasnamakan mereka.

Simaklah, beri judgment, bagus apa tidak, benar apa tidak. Tetapi yang sudah jelas tujuannya politik. Untuk memenangkan pasangan Sofyan Tan-Nelly Armayanti.

Selebaran ini dibagi-bagikan menjelang sholat jum’at di suatu tempat di sudut kota ini. Secarik kertas ukuran folio bertulis timbal balik. Bersamaan dengan selebaran ini juga (satu paket tampaknya) disebarkan sebuah terbitan tabloit yang (tampaknya, melihat isinya) berafiliasi dengan sebuah partai politik. Koran ini secara formal diusung dengan bercitrakan Islam.

Banyak pertanyaan untuk ini. Tetapi tentulah tidak untuk semua pertanyaan selalu tersedia jawaban, paling tidak untuk saat ini.  termasuk misalnya : mengapakah sampai begini buruk cara melakukan pemihakan politik?

Mungkin, ini mungkin, sebuah dugaan saja tentunya, jika Sofyan Tan tahu, dan tidak hanya ingin menang dalam pemilukada, ia pasti akan marah besar karena model kampanye ini. Tetapi entahlah pula. Siapa tahu.

Juga tidak begitu jelas, apakah ia tahu atau tidak tahu bahwa cara ini sudah tidak (lagi) mengindahkan Islam.

Shohibul Anshor Siregar

Advertisements

3 Comments

  1. Hendra Silitnga says:

    Bila sy membaca tulisan bapak ini, sy sbg umat Muslim sangat terperanjat. Yah…jelasnya juga kecewa berat!! Mohon maaf bila sy salah tafsir, sy lht kondisi ini terkesan umat muslim sdh ada gap-gap atau klmpk2nya yg terkesan sengaja dikondisikan.
    Pertanyaan saya :
    1. Mengapa ada tokoh agama Islam bgtu gmpngnya digiring ke ranah politik??? (Pdhl itu jls bukan domain mereka)???
    2. Apakah boleh tidak seakidah melakukan itu terlalu jauh???
    4. Apakah akidah membenarkan memilih yang lain???Bgmn nanti bila ada tepung tawar haji atau acara lain, siapa yg melakukannya???
    5. Sudah terujikah Sofyan Tan-Nelly? Siapa yang tahu?
    6. Sy curiga ada kepentingan phk luar utk………???(Mklm krna Indonesia sbg negara mayoritas Muslim begitu getol membela Palestina dll)

    ‘nBASIS: kemiskinan (cuma) berjarak setipis kulit bawang dengan kekafiran. kemiskinan material yang disertai kemiskinan moral selalu lebih parah. sebagai negara bekas jajahan Indonesia amat mudah jatuh ke tangan penjajahan baru yang mewarisi dari penjajah-penjajah sebelumnya.

    pada level yang berbeda ada juga intelektual yang bisa kaya raya (secara material) dari “komoditi” agama sambil “mengendarai” agama (Islam) sesuai keperluannya (mungkin ini juga yg buat cak Nur bilang Islam Yes parpol Islam No). tetapi akan ada argumen yang mengatasnamakan plurarisme, multikulturalisme, dan lain sebagainya. itu juga tentulah warisan dari masa lalu, sebagai bangsa yang terinjak hingga tak pernah berkesempatan menggunakan ijtihadnya secara sehat, dan memang bangsa-bangsa seperti ini sulit mendapat pelajaran dari pengalaman mereka sendiri dan agama mereka sendiri.

    jika kita baca salah satu karya guru bangsa kita Deliar Noer tentang ini, kita mafhum bahwa bangsa ini sejak awal memang sdh dihabisi oleh kolonial. mentalitas inlander itu amat berbahaya, bahkan akan sangat kentara ketika mereka mendirikan negara mereka, masjid mereka, rumah tangga mereka, dan apa saja yang menyangkut jatidiri mereka.

    hal-hal serupa ini akan selalu dihadapi oleh the new inladers yang akan menyusul mengambil tanggungjawab generasi ke depan. pada dasarnya mereka itu tak lebih dari sampah politik.

    rabbana ma khalaqta hazda bathila. nashrun minallah wa fathun qarieb.

    Terimakasih atas perhatian Saudaraku, jazakallahu khairan.

  2. […] oleh orang-orang berserban sebagai simbol penerimaan “ulama”. Mereka juga menyebar broshur-broshur dengan pesan […]

  3. Sastra says:

    Agama cuma dijadikan simbol belaka ada-ada saja bapak bersorban tu,ya ….. ????? Masya Allah

    ‘nBASIS: itulah yang terjadi. mau bilang apa kita ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: