'nBASIS

Home » ARTIKEL » TIANG GANTUNGAN UNTUK SOFYAN TAN

TIANG GANTUNGAN UNTUK SOFYAN TAN

AKSES

  • 564,592 KALI

ARSIP


SIAPA yang tidak tahu Sofyan Tan bersedia digantung? Itu jika ia terpilih (jadi Walikota Medan melalui pemilukada  19 Juni 2010 nanti) dan korupsi. Semua tahu itu. Tetapi hanya sedikit yang tahu unsur kebohongan janji itu. Mengapa?  Tidak ada sanksi pidana “gantung” bagi koruptor di Indonesia. Ini tak lebih dari sebuah permainan kampanye untuk menarik suara.

Tetapi marilah dibayangkan saja dulu. Akankah Sofyan Tan (nanti, misalnya) setelah divonis sah secara meyakinkan melakukan korupsi, lalu sebelum persidangan ditutup ia memohon agar kepadanya diberlakukan hukuman gantung? Bayangkanlah, di depan kantor Walikota Medan dipajang sebuah tiang gantungan dan di sana terjuntai jasad Sofyan Tan yang “mungil” itu. Meski dengan seragam Walikota Medan lengkap dengan topinya, ia sudah tak bernafas lagi. Ribuan orang menontonnya di sekeliling halaman. Hampir tanpa air mata, karena kebanyakan orang cuma bertepuk-tepuk tangan dengan puas. Begitukah? Bagaimana wajah Nelly Armayanti kala itu? Berseri-seri? Tidak usah dibayangkan terlalu jauh, meski jika seorang walikota dinyatakan berhalangan tetap, apalagi sudah dihukum gantung, yang akan maju mengganti memang wakilnya.

Sebagai calon pejabat publik Sofyan Tan perlu dilindungi agar tidak berbohong terus. Rakyat pasti susah jika pejabat sekelas walikota terbiasa berbohong. Oleh karena itu ia perlu disodori jalan terbaik agar terhindar dari kasus pembohongan publik. Caranya tak lain, yakni mempersiapkan “tiang gantungan lain” untuk Sofyan Tan dan calon Wakilnya Nelly Armayanti. “Tiang gantungan lain” itu tak perlu hadir secara fisik, karena mungkin itu hanya berlaku nun di kejauhan sana, di sebuah negeri antah baranta. Mari kita minta mereka berdua  berjanji di depan rakyat, menandatangani komitmen yang isinya untuk kebaikan semua.

Pertama,  Sofyan Tan dan calon wakilnya dengan sungguh-sungguh harus menyatakan komitmen  untuk mengikuti Pemilukada Kota Medan 2010 putaran II tanpa money politic dalam berbagai bentuknya. Dengan bermain money politic pada dasarnya Sofyan Tan telah membuat seribu tiang gantungan untuk dirinya. Itulah hakekatnya.

Putaran II pemilukada Kota Medan 2010 harus bermartabat, tidak merendahkan dan menghina orang miskin dengan pemberian dalam bentuk apa pun. Sungguh sedih nasib bangsa bekas jajahan Belanda ini jika hak-hak politiknya ditukar dengan sejemput pemberian jahat yang pantas disebut sebagai si bolis na burju (setan berpura-pura baik).

Tekad seluruh bangsa tentulah tidak ada legitimasi politik bagi pasangan mana pun yang terpilih dengan faktor-faktor non-elektoral. Sofyan Tan dan wakilnya harus terhindar jauh-jauh dari persoalan buruk itu yang amat merendahkan martabat bangsa ini.

Kedua, komitmen menjalankan pemerintahan berdasarkan paradigma tafaqquh fiddien (patuh kepada tuhan) wa tafaqquh finnas (setia kepada rakyat). Adalah sebuah jaminan yang tak perlu diragukan bahwa orang yang bertuhan secara baik dan benarlah yang takut korupsi. Selain itu kesetiaannya kepada rakyat tidak boleh diragukan sedikitpun. Itulah sebab mengapa dalam ketentuan persyaratan calon kepala daerah ditekankan sekali integritas para calon yang boleh dipilih.

Ketiga, komitmen perang baru terhadap KKN dengan mengawali pembuatan peta korupsi lokal. Dalam pembuatan peta korupsi lokal itu dilibatkan para stakeholder mewakili institusi pendidikan tinggi, keagamaan, LSM, Kepolisian, Yudikatif dan Legislatif.

Satu pekan setelah dilantik akan memusyawarahkan secara bersama dengan DPRD Kota untuk mengambil keputusan tentang rumusan usul perubahan UU anti korupsi dengan penegasan keniscayaan pemberlakuan dua hal, yakni metode pembuktian terbalik dan hukuman mati bagi pelaku tindak pidana korupsi. Jadi sekarang menjadi jelas apa yang paling maksimal bisa dilakukan oleh Sofyan Tan, bukan berbohong menggantung diri melainkan berusaha bersama seluruh kekuatan masyarakat untuk merubah ketentuan perundang-undangan tentang sanksi korupsi.

Perubahan bersifat Struktural.  Selain soal tiang gantungan yang penuh kebohongan itu, Sofyan Tan juga berhasil digaungkan sebagai calon walikota yang akan merubah kota Medan. Bahkan orang awam ada yang berkata “biarlah dicoba dulu sekali ini, agar kota Medan berubah seperti Singapura atau Hongkong”.   Orang awam itu tentu tidak tahu negeri Singapura. Juga tidak tahu bagaimana negeri yang bernama Hongkong itu. Memang karena ketidak-tahuanlah, karena keawamanlah, mereka seolah menjadi terbius menyedihkan.

Perubahan bersifat struktural amat diperlukan, dan pembangunan adalah untuk manusia dan haruslah manusiawi, tidak boleh tak berkeadilan. Pembangunan dengan mementingkan pertumbuhan sebagai tujuan sudah terbukti begitu buruk, hingga mayoritas rakyat tereksploitasi dalam kemiskinannya sementara segelintir orang hidup mewah.

Terkadang miris juga perasaan sebagai bangsa, orang-orang kaya terbiasa mengeluarkan kebutuhan beberapa ekor ternak peliharaannya di rumah (anjing herder dan unggas misalnya) setara dengan kebutuhan ratusan bahkan ribuan warga miskin. Karena itulah perlu mengajukan diktum berikut agar tidak ada lagi warga negara istimewa karena hak-hak yang tak dapat “dimoderasi” dalam menguasai mutlak sistem-sistem sumber yang ada:

Pertama, komitmen membangun keseimbangan ekonomi berbasis kerakyatan dengan keserasian interaksional di antara pelaku ekonomi kecil, menengah dan besar dengan parameter yang benar-benar terukur. Tidak boleh hanya janji. Harus bisa dipertanggungjawabkan antara lain dengan menilik pada struktur APBD.

Selain itu tentu amat penting di kota Medan yang jumlah buruhnya amat besar, untuk menjamin agar Upah Minimum Kota (UMK) diperjuangkan hingga memenuhi standar hidup layak. Politik perburuhan di Indonesia sampai saat ini adalah genderang kemenangan bagi pemodal yang tak pernah usai. Negara malah ditundukkan pada kemauan pemodal. Tetapi mereka lupa dunia usaha tanpa buruh adalah angan-angan belaka. Sofyan Tan harus digiring ke arah  pemihakan yang adil seadil-adilnya terhadap buruh, jangan lagi eksploitatif seperti selama ini.

Kedua, komitmen pengalokasian anggaran pendidikan sebesar 20 % dari total ABPD sesuai dengan ketentuan Undang-Undang dan dijabarkan secara teknis dengan mengutamakan peningkatan mutu interaksi kurikuler, bukan pada belanja tak langsung yang berhenti pada penyerapan anggaran oleh birokrasi pendidikan. Peningkatan mutu guru menjadi suatu keniscayaan dengan upaya peningkatan kompetenti dan kesejahteraan. Dengan dana publik untuk pendidikan inilah pengembangan sumberdaya masyarakat secara pasti dapat dilakukan dengan terukur. Berbagai Negara telah membuktikannya dengan cukup berhasil.

Ketiga, komitmen pemberdayaan puskesmas dengan melengkapi peralatan standar dan penempatan dokter yang berdedikasi. Kesehatan masyarakat bukanlah komoditi politik sebagaimana terbiasa dilakukan oleh semua rezim dan para kandidat Kepala Daerah dengan berbagai macam program dadakan seperti berobat gratis. Pemimpin dengan ketegaan terhadap tingkat kesakitan masyarakat sambil mengkorup dana perbaikannya dan sembari menjadikannya sebagai komoditi politik untuk memperbesar pengaruhnya, sesungguhnya adalah musuh besar sebuah bangsa.

Keempat, komitmen memperjuangkan pembentukan komda HAM dalam waktu satu tahun pertama setelah dilantik. Pelanggaran HAM yang begitu merajalela wajib dihentikan. Menurut UU mungkin prioritas adalah mendirikan KOMDA HAM untuk provinsi. Sofyan Tan dan Wakilnya harus berusaha keras untuk itu.

Kelima, komitmen melakukan perbaikan infrastruktur (jalan, jembatan, parit, gedung sekolah, dll) tanpa korupsi. Kesenjangan klasik pembangunan kota (Utara dan Selatan) diakhiri dengan kebijakan penyeimbangan pembangunan dan investasi di kedua wilayah.

Penutup. Pada dasarnya komitmen ini amat bagus untuk semua pasangan calon. Bahkan apabila KPUD Kota Medan memiliki political will berdasarkan komitmen pembangunan nasional dalam arti seluas-luasnya, dengan mengindahkan semua ketentuan yang berlaku, penyelenggara pemilukada itu dapat menyodorkan komitmen ini menjadi dokumen resmi para calon.

Komitmen ini bersifat mengikat kepada semua pasangan, dan apabila kelak di kemudian hari terabaikan akan berakibat hukum kepada pasangan sesuai ketentuan yang berlaku.

Tetapi amat penting, seorang pejabat publik hendaknya tidak punya bakat berbohong agar seribu tiang gantungan tak perlu dihadirkan.

Sekarang secara psikologis masyarakat kota Medan mulai terasa berada pada kebimbangan memilih di antara dua pasangan calon yang tersisa. Pasalnya adalah keraguan atas kualitas, kapabilitas dan integritas pasangan-pasangan tersisa ini. Kira-kira jika digambarkan orang sedang akan berfikir tak memilih Rahudman Harahap-Dzulmi Eldin karena Sofyan Tan nanti bisa digantung jika korupsi, dan juga sedang gambling ingin mendapatkan walikota yang bisa merubah Medan menjadi Singapura atau Hongkong, betapa pun ilusi ini amat naif.

Oleh karena itu patut juga ditambahkan sebuah komitmen lagi berbunyi “tidak akan ikut dalam pemilukada periode berikut”.

[Posting ini disiapkan, awalnya, untuk memenuhi permintaan sebuah harian lokal Medan. Dengan pertimbangan kemanfaatan disebar hingga kemungkinan beberapa media memuatnya, termasuk ‘nBASIS]

Shohibul Anshor Siregar

Advertisements

6 Comments

  1. Vera says:

    nBASIS,
    Negri ini sudah banyak orang2 yg pintar bicara juga mengkritik orang lain, sementara diri sendiri belum tentu banyak berbuat untuk masyarakat. Anda, adalah salah satunya! Saya tidak membela siapapun di sini. Bila Anda bisa mengajukan syarat2 di atas kepada seorang Sofyan Tan, ataupun calon2 lain, kenapa tidak Anda sendiri saja yg maju jadi walikota? Sofyan Tan bisa saja berbohong seperti yg Anda bilang, tapi pernyataan Anda juga tidak dijamin adalah sebuah kejujuran! Jangan asal mengatasnamakan Tuhan sebelum segala sesuatunya bisa dipertanggung jawabkan.

    ‘nBASIS: Pernyataan Anda “Negri ini sudah banyak orang2 yg pintar bicara juga mengkritik orang lain, sementara diri sendiri belum tentu banyak berbuat untuk masyarakat. Anda, adalah salah satunya!” sangat disesalkan. Anda jangan berpikir bahwa Anda wajib diikuti meski pun Anda merasa lebih tinggi dari orang-orang yang Anda anggap rendah. Buanglah perasaan tinggi hati itu jauh-jauh.
    Anda lupakah bahwa Sofyan Tan itulah yang mau jadi Walikota dan bermanuever isyu tiang gantungan? Cara berfikir Anda yang amat dangkal telah merusak kemurnian wacana di sini.
    Anda jangan salah, ‘nBASIS juga mengajukan hal yang sama [klik di sini]dan malah mengadakan semacam uji publik kepada para calon. Sofyan Tan diperlakukan sama dengan calon lain.
    ‘nBASIS hanya berusaha melindungi Sofyan Tan dari tingkah bohong dan berusaha “menuntunnya” ke sebuah mekanisme yang paling maksimal. Tahukah Anda resiko jika seorang pejabat publik suka berbohong? Semestinya Sofyan Tan dan Anda patut berterimakasih atas upaya ini.

  2. […] diplomasinya ia berusaha merelatifkan perbedaan-perbedaan yang dianggap sebagai sekat selama ini. “Kampanye dengan isyu Tiang Gantungan” cukup menghebohkan, tetapi kemudian menjadi kontraproduktif tatkala “kebohongan” tak […]

  3. Vera says:

    Jangan langsung memvonis orang lain tinggi hati dengan beranggapan pengetahuan yg lain dangkal, sama dengan mengatakan diri sendiri pintar. Anda pembuat berita yg dibaca publik seharusnya bersikap netral dalam memberi jawaban. Sudahkah?

    ‘nBASIS:Anda memulai (pada komentar pertama) dengan kalimat ini “Negri ini sudah banyak orang2 yg pintar bicara juga mengkritik orang lain, sementara diri sendiri belum tentu banyak berbuat untuk masyarakat. Anda, adalah salah satunya!”.
    Anda begitu cepat lupa telah mengawali segalanya dengan vonis dan sekarang Anda menuduh ‘nBASIS memvonis. Baca kembali secara cermat, itu vonnis dan ungkapan kesombongan.
    ‘nBASIS tetap berusaha netral meski kita tentu sulit menemukan ukuran netralitas itu untuk semua orang.
    Terimakasih.

  4. Boh Manokku says:

    Wah luar biasa, kita tidak boleh memvonis orang, betul,betul,betul..makanya Artike soal Rahudman selingkuh itupun harus diklarifikasi, cuma sayang nBASIS kalau boleh buat data berimbang, 5 ons = setengah kilo, artinya harus ada pembahasan pandangan soal Rahudman juga dalam hal ini… kurang berimbang jadinya, makanya ada yang curiga ini enggak netral..

    ‘nBASIS: Anda berharap ‘nBASIS membicarakan hal apalagi di bawah judul “Tiang Gantungan” milik Sofyan Tan ini? ‘nBASIS khawatir orang menilai Anda aneh dengan sengaja memanfaatkan kesempatan ini untuk “black campaign” tentang Rahudman. Anda harus jujur dan lebih hati-hati.
    Ketika ‘nBASIS menulis Sofyan Tan: MENUJU MEDAN 1? banyak yang menuduh ‘nBASIS dibayar untuk mengkampanyekan Sofyan Tan hingga hujatan begitu banyak dan tak perlu ditampilkan. Begitu juga ketika ‘nBASIS mengingatkan Sofyan Tan-Nelly agar lebih “hemat energi” [klik di sini], protes juga bertubi-tubi. Sama halnya saat ‘nBASIS mengajukan draft komitmen para calon [klik di sini], juga penuh cercaan. Tetapi itu sebuah resiko saja.
    Jadi tidaklah sesederhana yang Anda katakan, atau mengungkapkan dengan cara lain apa pun, misalnya 10 itu adalah 9 – 1 + 2.
    ‘nBASIS ingin mengajak agar semua objektif dan jujur. Jangan mengumbar sesuatu yang tak perlu. Terimakasih

  5. Sahabat Semua Suku says:

    Bagi teman-teman yang membaca semua tulisan di n Basis, jangan emosi dan kalap ya??? nBasis itu memang nggak suka dikritik. Tahu nggak sifatnya syaithon. Nggak suka dikritik, senangnya dipuji-puji terus.Padahal tujuan kita mengkritisi adalah biar nBasis itu netral dan selalu objektif. Cuma sja nBasis belum tahu cara mengukur netralitas dan objektifitas. Jadi bingung deh nBasisnya !!! Hehehehe

    ‘nBASIS: ha ha, tukang serunya duluan kalap. Ha ha, murahan itu bos !! Terimaksih juga.

  6. Sahabat Semua Suku says:

    cape deh….ha ha juga deh

    ‘nBASIS: hingga komentar terakhir ini Anda tidak pernah masuk ke substansi melainkan hanya berselara agitasi. itu yang membuat Anda capek. istirahatlah. Terimakasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: