'nBASIS

Home » ARTIKEL » KOMUNITAS ISLAM DAN POLITIK

KOMUNITAS ISLAM DAN POLITIK

AKSES

  • 512,316 KALI

ARSIP


Mengapa begitu mudah Sofyan Tan menggiring beberapa orang yang mengatasnamakan Islam memberi legitimasi keumatan kepadanya dan membuka front yang reaksioner terhadap umat Islam lainnya? Hal ini tidak bisa dijelaskan cuma dengan mendaftar nama-nama siapa yang fotonya dimuat pada begitu banyak baliho bersama Sofyan Tan dengan serban itu, dan mendata orang-orang yang dibawa oleh Maulana Pohan kepadanya (Sofyan Tan). Ada intelektual yang bertanggungjawab di balik itu,  sebuah komunitas yang dapat disebut amat pragmatis yang sedang gambling (berjudi) dengan pura-pura mengusung gagasan multikulturalism.

Bukanlah orang-orang berserban itu yang mampu berbicara bahwa Ibn Thaimiyah pernah berkata begini, Nur Ahmad Fadhil Lubis berkata begitu, Al-quran berbicara seperti ini, piagam Madinah berbukti seperti itu, dan seterusnya. Intelektual di balik oknum-oknum berserban itu adalah terpelajar yang terbaratkan, yang tidak memahami akar permasalahan. Mereka hanyalah kaum pragmatis yang tidak segan berlari ke sana dan berlari ke sini untuk memperebutkan sejemput keberuntungan material dan politik dengan tak peduli pengorbanan umat Islam.

Siapakah yang sanggup berkata tidak ada kaitan antara aqidah dengan politik dan pemerintahan? Merekalah intelektual teralineasi yang bosan dengan tradisinya dan juga kemiskinannya, hanya karena tidak mampu menterjemahkan Islam dalam aplikasi utuh. Terpelajar yang lebih terbaratkan itu (di antara komponen lainnya) disinyalir oleh para analis Barat sebagai komprador yang bercita-cita menggadaikan bangsa dan negaranya demi isyu modernisasi atau semacamnya. Itu sudah lama sekali, terhitung mulai dicetuskannya gagasan Marshall Greeen pasca Perang Dunia II. Isyu-isyu terkait penolakan neolib adalah derivasi dari problem kompradorisasi ini.

Islam dan Keislaman di Indonesia. Di Medan dan pada umumnya di Indonesia hubungan komunitas Islam dan komunitas politik selalu saling memanfaatkan meski dalam posisi yang amat tidak seimbang. Bukan cuma partai Islam seperti PKS dan PPP dan yang lainnya yang memerlukan kedekatan dan legitimasi dari komunitas Islam. Bahkan partai yang menyatakan diri nasionalis seperti PDIP yang mayoritas pengurus dan anggota legislatifnya non muslim pun memerlukan wadah kedekatan dengan komunitas Islam.

Ketidak-seimbangan itu akan terus berlangsung sebelum ada sebuah institusi politik (parpol) Islam yang kuat dan menjadi mayoritas. Ketika itu terjadi kelak (sampai kapan kita tidaklah tahu), akan ada kejujuran memperjuangkan secara tulus aspirasi dan segenap kepentingan komunitas Islam tanpa bias. Mungkin pikiran ini yang ada dalam komunitas politik PKS. Partai-partai Islam yang lain sudah tidak mungkin bicara politik pembelaan Islam karena sumberdaya yang amat lemah dan kehilangan peminat. Mereka telah memberi contoh ketak-dewasaan berpolitik, dan secara empiris eliminasi terhadap posisi mereka adalah degradasi kepercayaan komunitas Islam kepada mereka. Tangan mencincang bahu memikul, begitulah kira-kira.

Partai-partai yang mengklaim diri sebagai nasional religius apalagi yang menyatakan diri sebagai nasionalis amat tidak mungkin berbuat untuk itu karena memang platformnya berbeda.

Ketika awal Orde Baru Golkar inginkan legitimasi kuat tidak cuma untuk mendukung pembentukan dan perkuatan jaringan hingga eksistensinya menjadi superior, tetapi juga melancarkan program sekularisasinya, umat Islam dianggap menjadi target terpenting. UU no 8 tahun 1985 tentang asas tunggal adalah ekspresi terkuat dari kekhawatiran sekaligus obsesi negara yang dikendalikan oleh birokrat, militer dan plutokrat agar Islam tidak sulit diatur. Perhatikanlah saat itu HMI melawan separo hati (kongres 15 di Medan?) dan PII memilih menjadi gerakan bawah tanah sebagai sikap resmi tidak mengakui UU keormasan itu. Sedangkan Muhammadiyah adalah kelompok umat Islam terakhir yang ditunggu memberi pengakuan, dan itu terjadi.

Kasus-kasus seperti mundurnya buya HAMKA dari Ketua MUI (karena pemaksaan fatwa tentang kodok), penentangan Muhammadiyah atas policy mencabut libur ramadhan yang berdampak keterancaman subsidi biaya pendidikan dari negara, merebaknya tindakan-tindakan pelecehan terhadap pelajar dan mahasiswa berkerudung di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi negeri dan non muslim (jadi bayangkanlah, di Eropa kejadian serupa terjadi hanya berbeda jarak waktu terpaut hitungan jari), adalah sejumlah contoh penting lainnya yang melukiskan bagaimana mainstream politik berusaha menaklukkan dan sekaligus menunggangi komunitas Islam. Tetapi banyak keberhasilan yang dapat dicatat sebagai penaklukan dan penunggangan mainstream politik kepada komunitas umat Islam, di antaranya UU perkawinan yang anti Syari’ah itu.

Komunitas yang Lemah dan semakin lemah. Beberapa hari lalu ke sebuah stasiun tv Jakarta datang beberapa wakil pemuda Islam antar negara yang akan melangsungkan semacam kongres. Rama Pratama dari PKS menyampaikan tujuan forum mereka dalam bahasa Indonesia. Utusan dari Jerman berbahasa Inggeris begitu pun dari negara lainnya. Tiba giliran dari negara Timur Tengah yang berbahasa Arab, seseorang menterjemahkannya ke dalam bahasa Inggeris.

Bukan cuma secara politik Islam amat lemah di Indonesia, tetapi juga secara kultural. Setiap orang dianggap aneh jika tidak mahir berbahasa Inggeris, namun dianggap tak apa-apa tak bisa memahami bahasa Arab, bahasa agamanya sendiri, meski pun sebagai muslim yang baik harus menggunakan bahasa itu paling tidak 5 kali sehari dalam sholatnya.

Di Sumatera Barat, di kampung leluhur Nelly Armayanti, adalah sebuah fakta bahwa para pemimpin pemerintahan  (dianggap sudah seolah menjadi hukum tak tertulis) harus sekaligus menjadi tokoh agama. Mereka bisa berkhutbah dan memang kebiasaan itu bukan untuk kepentingan politik. Memang mereka beragama dan terus menerus belajar tentang agama mereka. Adatbasandi syara, syarat basandi kitabullah. Itu mottonya.

Dengan kejadian tsunami Aceh semakin mudah untuk akses Barat dan memiliki agenda tersendiri di sana. Sofyan Tan disebut-sebut mendirikan Rumah Sakit di sana tak lebih dari sebuah strategi Barat memasuki wilayah paling sulit ditaklukkan sepanjang sejarah.

Seremoni Islam tidak akan kurang sepanjang masa dan memang itu dipentingkan oleh rezim berkuasa. Biayailah MTQ, biayailah ceremoni zdikir massal, biayailah proyek-proyek seperti Ramadhan Fair, dan seremoni lainnya.

Selama komunitas Islam tidak bergerak memasuki wilayah ilmu pengetahuan dan teknologi dengan kekuatan risetnya yang unggul, selama itu pula ia akan menjadi korban. Lembaga-lembaga keagamaan yang ada akan selalu dijadikan sebagai pemberi legitimasi politik yang menyedihkan.

Katakanlah hari ini umat Islam heboh tentang kandungan minyak babi dalam produk makanan tertentu. Dr Delyuzar Harris yang salah seorang calon Wakil Walikota Medan 2010-2015 itu, sebagai salah seorang pemrakarsa Laboratorium bahan Makanan milik MUI, pasti tahu bahwa selama umat Islam tidak merebut proses industri, selama itu pula ia akan menjadi konsumen untuk barang-barang makanan yang potensil dipertanyakan kehalalannya. Dr.Delyuzar Hariis pasti berkata keras, kita jangan cuma tahu memperdagangkan produk yang dibuat oleh orang lain.

Agenda umat Islam bukan cuma mendirikan institusi ilmu pengetahuan dan teknologi serta riset yang kuat. Tetapi juga memasuki wilayah-wilayah strategis seperti industri. Semua itu tidak bisa dijawab oleh seremoni dan kegilaan  tasabbuh (adopsi) tak kritis peradaban asing sambil meninggalkan jati diri.

Shohibul Anshor Siregar


4 Comments

  1. nirwan says:

    Ini tulisan serius, super serius… meminjam istilah amien rais … “amat sangat” serius .. baru ini tulisan nbasis seserius ini.

    ‘nBASIS: Anda pendatang baru di blog ini? Selamat datang. Ahlan wa sahlan.

  2. ahmad khairuddin says:

    Politik Sara Memang tidak bisa dihindari. Berbagai fenomena tentang kekuatan dalam memperebutkan suara selalu berurusan dengan SARA (agama, etnis, ras dan antar golongan) dan itu menjadi ukuran penting dalam mentabulasi kekuatan.
    Hidup yang bersatu…..

    ‘nBASIS: ya, munafik orang yang mengatakan SARA itu tak penting.Terimakasih.

  3. kadal kecil says:

    Bagaimana mau bisa percaya dengan orang yang tak bisa “menaklukan” hatinya sendiri, sehingga dia menjadi “halal” ketika mengucap asalamualaikum kepada Islam, dan yang menjawab salamnya pun tidak haram hukumnya.

    ‘nBASIS:Diperlukan waktu lama untuk mengulang-ulang agar bisa memahami kalimat filosofis Anda. Terimakasih, kadal kecil.

  4. nirwan says:

    blog ini biasanya menulis yang ringan-ringan dengan gaya yang berat. Tidak tahu juga mengapa itu terjadi.

    Salam


    ‘nBASIS:
    tentu hanya ahli yang bisa menilai seperti itu. Blog ini memang diusung oleh orang-orang pemula yang sedang belajar dalam banyak hal. Karenanya keterbatasan di mana-mana amat kentara. Tetapi kan tidak ada halangan berkarya bagi pemula? Jika sudah ada UU yang melarang orang tak kualified berkarya, kami segera akan tutup. Terimakasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: