'nBASIS

Home » ARTIKEL » SOFYAN TAN: Kesenjangan Sosial, Tata Kota & Masalah Kependudukan

SOFYAN TAN: Kesenjangan Sosial, Tata Kota & Masalah Kependudukan

AKSES

  • 538,714 KALI

ARSIP


TIDAK ada salahnya berandai. Andai Sofyan Tan menang putaran II nanti, gerangan perubahan apa yang akan terjadi sesuai janjinya? Perubahan itu sebetulnya bermakna ganda, ada yang bersifat progress (maju) ada pula bersifat regress (mundur). Itulah perubahan.

Dengan orientasi pertumbuhan (growth) pembangunan Indonesia selama ini secara nyata telah menelantarkan nasib mayoritas rakyat. Itu akibat diabaikannya pemerataan (distribusi). Sejak tahun 70-an ini sudah menjadi perdebatan sengit sekaitan dengan pembangunan dunia ketiga. Memang ada kepercayaan yang mengibaratkan pembangunan itu tak ubahnya sebuah gelas yang jika diisi terus menerus akan luber dan meneteskan hal yang perlu diteteskannya ke bawah (trickle down effect theory).


Di Indonesia pakar seperti Sritua Arif tahu betul dimana letak kesalahan itu. Mekanisme pembangunan yang terlalu memperturutkan keinginan negara-negara adi daya dengan ciri padat modal (capital intensive), modern sector, dan berteknologi tinggi (high technologi) memang tak pelak lagi semakin mempertegas ketergantungan negara-negara dunia ketiga.

Salah satu jalan favorite yang dipastikan ialah membagi sistem sumber yang ada ke tangan orang-orang yang jumlahnya terbatas dan diharapkan secepat-sepatnya mampu melakukan return.  Return itulah keniscayaan garapan pada sektor modern, padat modal dan padat teknologi serta memerlukan intervensi ahli asing. Investasi ke sektor kerakyatan seumpama pertanian sawah ladang tentu saja tidak akan menarik bagi pihak asing dan mereka tidak akan mau garap itu. Pemodal lokal juga sama. Ingatlah kegagalan gagalan Soeharto mencetak sejuta hektar sawah di bagian Timur eks lahan hutan lebat yang digunduli oleh tangan-tangan tak bertanggungjawab itu.

Berikutnya semakin dikukuhkanlah fakta bahwa Negara agraris yang mestinya mampu berbicara di tingkat dunia ternyata tak mampu mencukupi pangan untuk rakyatnya. Munculnya kelas sosial baru, kelas pemodal yang mendapat keuntungan besar sementara rakyat diposisikan sebagai penonton, menjadi tragedi yang memastikan ketidak-manusiawiaan pembangunan itu.

Dari dunia ketiga yang miskin seperti Indonesia memang sering muncul kritik pedas sebagai perlawanan. Protes mereka terutama karena suatu negara dan masyarakat harus membedakan pemilikan dan penguasaan secara tegas. Boleh saja bangsa inilah pemilik, tetapi yang menguasai seluruh sistem sumberdaya dan yang mendapat keuntungan besar adalah orang lain. Ini yang menyebabkan kemiskinan struktural, sebagaimana dikritik habis oleh HIPIIS (Himpunan Himpunan Indonesia untuk Pengembangan  Ilmu-ilmu Sosial). Apa itu artinya? Orang bukan karena malas bekerja hingga menjadi miskin. Membanting tulang siang dan malam tetap miskin hanya karena struktur tidak memungkinkannya beroleh uang. Itulah.

Kesenjangan sosial ekonomi yang parah adalah sebagai akibatnya. Dengan jelas Medan bisa dijadikan sebagai contoh yang amat tepat melukiskannya.

Jika Sofyan Tan nanti terpilih menjadi walikota Medan, gerangan apakah yang mungkin dilakukannya untuk merubah keadaan itu? Semoga saja tidak semakin menambah jumlah orang miskin yang semakin tergantung kepada para pemilik modal dan penguasa ekonomi dengan sejumlah keistimewaannya itu. Itu tidak boleh terjadi.

Kota Medan telah tersegmentasi sedemikian rupa sejak Belanda masih di sini. Ada pemukiman khusus untuk orang dari kalangan (etnis) tertentu. Orang Cina menempati inti kota. Studi dari beberapa kalangan menunjukkan kecenderungan tata kota dengan segmentasi itu. Bukan saja kesemrawutan terjadi, namun percepatan peralihan lahan terjadi sedemikian rupa.

Orang Cina sudah menguasai wilayah paling luas inti kota, dan kini sudah semakin meluas ke pinggiran kota. Jika ada orang awam yang memaknai perubahan ala janji Sofyan Tan dengan dibangunnya kota Medan seperti Singapura atau Hongkong, sebetulnya itu bermakna semakin luasnya penguasaan lahan bagi orang Cina dan semakin tergusurnya orang-orang setempat ke pinggiran. “Segila-gilanya” harga tanah dapat mereka beli karena merekalah penguasa ekonomi.

Pemilikan lahan-lahan baru itu malah dimaksudkan untuk perkuatan posisi ekonomi yang sudah amat mapan itu tadi. Terlalu mengada-adakah pengandaian itu jika Sofyan Tan terpilih?

Dengan perhelatan politik seperti pemilihan langsung ini, kira-kira siapakah yang tidak ingin jumlah kelompok pendukungnya menjadi mayoritas? Di kota seperti Medan tidak ada pihak yang mengetahui jumlah orang Cina secara tepat. Malah kota seperti Tanjung Balai tidak menyebut jumlah orang Cina, karena dikategorikan sebagai lain-lain. Tetapi dalam data resmi di kota itu hanya ada disebut jumlah penduduk berdasarkan agama yang di dalamnya angka penganut Budha dicantumkan.

Jika Sofyan Tan terpilih, boleh jadi ia akan menjalankan kebijakan yang mungkin sudah lama ia canangkan, yakni pembuatan Kartu Tanda Penduduk secara proaktif langsung mendatangi rumah-rumah penduduk. Itu kurang lebih menjadi sebuah program pemutihan kependudukan atau mirip seperti program prona dalam pertanahan. Tentulah para pendatang gelap melalui pelabuhan-pelabuhan seperti Teluk Nibung, Tanjung Balai dan lain-lain akan beroleh KTP dan kejadian itu akan berlangsung selama Sofyan Tan berkuasa.

Sekali berkuasa akan memiliki pelung terbesar utuk menang pada pemilukada berikutnya, karena posisi keberuntungan sebagai incumbent. Berapa pertambahan penduduk etnis Cina dalam 10 tahun? itulah pertanyaannya, dan itu untuk modal politik yang lazim dipikirkan oleh setiap praktisi politik.

Jika hal-hal di atas tidak mengandung kebenaran asumtif, maka abaikan saja dan pilihlah Sofyan Tan nanti pada tanggal 19 Juni 2010. Jika Anda merasa asumsi dan pengandaian di atas mengandung kebenaran, maka berpikirlah dalam-dalam.

Eh, jangan lupa: jika Anda diberi sesuatu untuk memilih calon tertentu terima sajalah (apakah itu uang, atau berupa beras misalnya 5 kg dan 2 kg minyak makan) tetapi itu bukan berarti Anda telah menggadaikan hak politik yang amat berharga. Tentukan pilihan dengan kembali ke hati nurani.

Shohibul Anshor Siregar

Advertisements

1 Comment

  1. WL says:

    HIDUP SOFYAN TAN!!!

    ‘nBASIS: support yang baik. solidaritas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: