'nBASIS

Home » ARTIKEL » SAYA TIDAK PERNAH PERCAYA KPK

SAYA TIDAK PERNAH PERCAYA KPK

AKSES

  • 556,237 KALI

ARSIP


Muhammad Thariq dari Harian Waspada meminta komentar soal bantahan KPK tidak profesional (konon mereka bekerja sesuai alat bukti meski banyak kasus korupsi yang belum terungkap). Bagaimana pula komentar tentang pendapat partai terutama JK yang mengkritik KPK. Posting ini didasarkan pada pertanyaan-pertanyaan jurnalis  itu.

Saya tidak pernah percaya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Bukan cuma karena ia secara empiris telah terbukti amat lamban dan dikenal cenderung mengutamakan metode tebang pilih dalam bekerja. Dalam perjalanannya ternyata KPK menjadi amat politis dan selalu menyesuaikan irama dengan arus umum politik yang trend.

Dalam proses rekrutmennya KPK tidak memiliki filosofi yang kuat sama sekali. Selama ini KPK dianggap lebih cocok diisi oleh orang-orang dari lembaga penegak hukum seperti Kepolisian, Kejaksaan, Kehakiman dan Pengacara. Pada umumnya orang-orang dari institusi ini sukar dijamin tak tersandra oleh rekam jejak hitam di masa lalunya.

Jika mau sungguh-sungguh, keterampilan beracara hanyalah salah satu unsur yang memang diperlukan, tetapi tidak mutlak dan jangan dijadikan sebagai prasyarat utama. Perang melawan korupsi terbukti tidak efektif jika hanya mengandalkan kepandaian beracara. Bukankah beracara itu relatif mudah dipelajari dalam waktu singkat, katakanlah 2 bulan?

Artinya, selama KPK diisi oleh orang-orang yang tersandra oleh masa lalu yang hitam, maka tak ada yang dapat diharapkan dari KPK kecuali sekadar sandiwara politik.

Abdillah dan Syaukani. Bagaimana kisah Walikota Medan 2005-2010 Abdillah bisa menjadi terpidana karena kasus mobil pemadam kebakaran (damkar) adalah salah satu bukti nyata kinerja KPK yang tebang pilih. Jika damkar yang menjadi soal, mestinyalah berhulu ke pemerintahan Megawati yang Menteri Dalam Negeri (waktu itu) ialah Hari Sabarno. Kepala Daerah hanyalah pihak-pihak yang mengamini kemauan pusat yang oleh karena itu tidak mesti terpidana duluan jika hulu persoalan tidak boleh disentuh hukum.

KPK itu terkesan harus dijolok untuk bekerja di luar terget tebang pilih yang ada dalam agenda mereka, dan itu teramat sulit. Bisa saja energi politik dan sumber daya akan habis untuk kepentingan menjolok tadi, dan jumlahnya dapat saja lebih besar dari kerugian negara yang dikorupsi pejabat. Lihatlah kasus Syamsul Arifin yang disangkakan mengkorup uang negara lebih dari 100 milyar. Bandingkan pula dengan Syaukani yang jumlah korupsinya jauh di bawah tuduhan kepada Syamsul Arifin. Tetapi keduanya berbeda nasib. Malah Syamsul Arifin ditengarai tidak akan masuk dalam daftar tersangka KPK jika bukan karena dijolok oleh komponen masyarakat di Sumatera Utara. Begitu pun tidak ada tanda-tanda penuntasannya hingga kini.

Sambil Menyelam Minum Kopi. JK dan kubu Golkar jelas merasa terganggu jika orang-orangnya menjadi tersangka korupsi. Mengingat Golkar adalah penguasa lama yang orang-orangnya banyak mengisi lini strategis pemerintahan dan kekuasaan politik, maka menjadi tidak mengherankan jika dari kalangan ini banyak yang menjadi tersangka dan bahkan terpidana korupsi.

Tetapi kasus terakhir yang melibatkan beberapa kader Golkar di antara 26 tersangka penyuapan travellers Cheque untuk kasus pemilihan Deputy Senior Gubernur BI tahun 2004 telah dimanfaatkan menjadi bukan cuma konsolidasi internal antara lain dengan mengimbau Surya Paloh “kembali ke kandang”. Tetapi juga dengan kentara telah mengingatkan SBY akan bahaya besar yang bisa mengancamnya jika semakin gesit melakukan sesuatu yang mempersulit Golkar, terutama soal reshuffle kabinet itu. Harap difahami, dalam “negara kepartaian berbasis kartelitas” sesungguhnya jabatan atau kekuasaan eksekutif itu adalah cita-cita luhur tertinggi semua kekuatan politik yang untuk itu dapat saja menghalalkan segala cara.

Diyakini bahwa untuk hal ini Golkar akan mencari instrumen politik yang bisa memaksa SBY tidak terlalu galak. Ya… peace lah, begitu. Di antara instrumen politik itu tentulah soal yang kemaren diurungkan menjadi bukan masalah penting, yakni Century Bank Gate yang menggelapkan lebih dari 6 triliun rupiah itu. Padahal semua orang tahu jika kekuatan oposisional memiliki keseriusan yang tak dapat dibargainingkan, kasus Century Bank Gate adalah merupakan pengantar untuk memojokkan SBY-Budiono dengan impeachment.

Jadi Golkar saat ini bolehlah disebut sambil menyelam minum kopi. Tetapi jelas hal itu tidak terpuji sama sekali karena pada hakekatnya telah membarter keadilan dan keniscayaan hukum yang diinginkan oleh banyak orang di negeri ini.

Partai-Partai Papan Tengah dan Gurem. Diprediksi hanya PKS sajalah  dari kalangan partai papan tengah dan gurem yang kelak mampu selamat dari dampak powersharing dengan SBY. Ini berdasarkan pengalaman empiris KIB Jilid I. Meskipun telah muncul kontroversi sikap masyarakat luas atas metamorfosis PKS yang sudah meninggalkan asas Islam, tetapi kreasi dan konsistensinya dalam kaderisasi serta seni perlawanan yang unik terhadap penguasa sembari memberi signal-signal melegakan bagi masyarakat, PKS diyakini tidak akan terlindas begitu saja.

Banyak elit partai yang direkrut menjadi menteri dan secara pribadi menjadi kaya raya dari korupsi, tetapi partainya malah terpuruk dalam pemilu 2009. Itulah yang dialami oleh PAN, PPP, PKB, PBB dan lain-lain.

Pengerdilan di tingkat pusat secara otomatis akan diikuti keterpurukan di daerah. Mengapa demikian? Sudah pasti, karena kepartaian di Indonesia adalah sebuah rumus arogansi kepusatan yang tidak memberi sebilah asa bagi penguatan aspirasi lokal.

Sebutlah satu contoh, Partai Amanat Nasional (PAN). Dengan kebobrokan pemerintahan yang ditengarai akan semakin parah ke depan, dan yang dianggap juga merupakan bagian dari tanggungjawab PAN yang di dalamnya tokoh simbol Amien Rais malah tampak berdiri kukuh mengamini, maka degradasi yang pesat diramalkan akan terjadi. Ketua Umum PAN Hatta Rajasa memiliki andil besar mengingat koalisi yang dianggap begitu besar ditentukan olehnya terutama dalam pembentukan KIB II.

Di tingkat lokal seperti Sumatera Utara bahkan akan semakin suram karena diplomasi orang kuat Syamsul Arifin yang adalah Ketua Golkar Tingkat I Sumatera Utara mampu membuat Hatta Rajasa “menghibahkan” jabatan Ketua DPW PAN kepada adik kandung tokoh yang kini sedang menjabat Gubernur Sumatera Utara itu. Naifnya, banyak orang PAN merasa beruntung mendapatkan adik kandung Syamsul Arifin sebagai Ketua. Padahal ditilik dari berbagai sudut pandang, PAN malah sudah memerosotkan diri menjadi semacam kelinci percobaan buat Golkar. Jika tetap dengan pandangan naif itu, PAN akan ditinggalkan oleh tidak saja  basis utama (warga Muhammadiyah) tetapi juga akan sangat tidak menarik bagi komunitas lain.

Obsesi Hatta Rajasa menjadi Presiden manakala perjuangan SBY kandas memperpanjang masa jabatannya melalui amandemen ke 5 UUDNRI, atau mungkin saja menjadi Wakil, banyak mempengaruhi semua langkah-langkah aneh ini. Barangkali saja Hatta Rajasa akan berusaha mencari rumus baru apakah melalui parliamentary treshold yang akan mendegradasi partai-partai tertentu namun bisa digandeng untuk berada satu gugus melawan gugus lain, serta tawaran lain (konfederasi) yang dianggap aneh karena diketahui bermaksud mengumpulkan kekuatan partai gurem di belakangnya, akan tetap dianggap sebagai semacam mission impossible. Anehnya, Amien Rais pun mengamini saja. Barangkali inilah sebuah akhir yang menyedihkan buat Amien Rais.

Korupsi menjadi musuh nomor 1 di negeri ini, dan jika gerakan oposisional partai politik semakin kerdil dan malah sebaliknya semakin mematut langkah untuk menghamba “di ketiak” kekuasaan SBY, sudah barang tentu akan menjadi cap buruk yang membuat partai-partai peserta koalisi dari papan tengah dan gurem semakin terpuruk dan tak dapat tertolong. Hatta Rajasa sendiri tampak sangat menyadari kemustahilan partainya mendongkrak suara pada pemilu mendatang yang oleh karena itu ia berusaha mencari cara yang tentu saja tidak dengan mudah dapat diterima oleh pesaing.

Shohibul Anshor Siregar, Koordinator Umum ‘nBASIS

Advertisements

5 Comments

  1. kota solo says:

    jujur saya tidak tahu apa2 tapi kalau saya melihat sosok Syamsul Arifin kelihatnya tidak mungkink kalau dia itu doyan korupsi,,, hanya menebak2 saja lho saya hehehehe

    ‘nBASIS: banyak yang berkeyakinan seperti Anda dan menganggap KPK itu terlalu memaksakan. Tetapi KPK sudah punya bukti dan malah sudah pula meningkatkan status tersangka.

  2. […] SAYA TIDAK PERNAH PERCAYA KPK […]

  3. A. Syafruddin Rangkuti says:

    Masalah percaya tidak percaya pada KPK Hak progratif seseorang. Yang pasti KPK bisa buktikan kinerjanya walaupun blm sesuai harapan..krn para politisi masih lbh mementingkan kelompoknya.Di Era Demokrasi ini banyak ketahuan para Koruptor. Berarti pemerintah berhasil membongkarnya.Di era sebelumnya tdk ada kelihatan koruptor, bukan berarti tdk ada koruptor..tapi krn tdk mampu membongkarnya.


    ‘nBASIS:
    sedikit banyaknya (secara minimalis) dia sdh bekerja. itu maksudnya barangkali.

  4. […] Saya tidak pernah percaya KPK […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: