'nBASIS

Home » ARTIKEL » PUISI ABU BAKAR BA’ASYIR, SUSNO DUADJI, DAN ANAK INDONESIA

PUISI ABU BAKAR BA’ASYIR, SUSNO DUADJI, DAN ANAK INDONESIA

AKSES

  • 535,235 KALI

ARSIP


Aku semakin bingung. Maka kutulis pada akun FB-ku demikian “Jika terorisme itu adalah perlawanan terhadap ketidak-adilan, maka alasan apa yang dimiliki oleh dunia untuk tetap menunggu tak adil?” Kususul dengan 2 puisi untuk Abu Bakar Ba’asyir dan Susno Duadji. Indonesia harus diselamatkan, dan aku melengkapi semua keresahan ini dengan puisi ketiga.

PUISI ABU BAKAR BA’ASYIR

Andai sudah ada yang temukan ta’rif terorisme itu.
Andai sudah ada yang mampu memaparkan seluk beluk tuduhan teror dan perburuan manusia yang sedang mewabah itu.

Maka kuyakin kita semua tak akan berhenti meneteskan air mata.
Dan dapat kupastikan bahwa dengan sendirinya moncong senjata pun akan enggan memuntahkan peluru.

Dan kupastikan kita akan dapat memahami kembali makna sebuah kata yang hilang: “damai”
Dan aku yakin sepenuhnya kau tak merasa perlu membenci aku.
Aku yakin sepenuhnya Tuhan tak pernah tidur.

Puisi Susno Duadji: LANGIT RUNTUH DI KEPALAKU

berkali-kali

langit itu telah berkali-kali runtuh di kepalaku
aku merasakan tak ada lagi ketinggian di atas kepalaku

aku tak sedang mengeluh
aku pun tahu
tak memikul langit yang runtuh ini sendirian
aku tahu

anak dan isteriku tak akan mengampuniku selamanya
tatkala kepalaku
tak kuat memikul langit runtuh

jangan
jangan
cucuku yang manis dan lucu itu

kuharamkan menyaksikan kepalaku tak kuat
menjunjung langit runtuh
aku kakekmu
yang sudah berjanji
takkan mundur

satu saat kelak di masa zamanmu meminta
wartakanlah kepada siapa saja
kepada angin
kepada burung
kepada para kuli yang ingin bebas
bahkan kepada para iblis sekalipun

bahwa di sini
di republik ini
ada seorang Susno Duadji
yang berjanji
dan itu kakekmu

dengarkan kakek berkata jujur
seseorang terpercaya dengan kewibawaan yang tak dibuat-buat mencatatkan dengan tegas
sambil bertanya kepada dunia

“kau tahukah mengapa Tuhan mengabadikan Fir’aun dalam kitab suci?”
dan kini aku mampu menirukan
jawaban yang kuterima darinya
“itu supaya kau tak gentar menggebrak Fir’aun versi zamanmu”

Ya Allah
tak ke gunung aku mencari keadilan
tak kata dewa dan dewi yang kunanti di sinii
yang kutahu Dikaulah Yang Maha Tinggi itu

Jika kelak hujan reda dan sungai mengering
gelap malam pun pasti berganti
tibanya mentari pagi menyingsing yang tak terhentikan

maka di hadapanku kini
kugapai ridhoMu ya Allah.

PUISI ANAK INDONESIA

Berilah aku sebuah buku

Yang aku akan sangat ingin membacanya

Karena menceritakan sebuah negeri

Yang tak mau berbohong

Yang tak mau zholim

Yang tak mau mengeluh

Yang tak mau menyembunyikan tangan di bawah

Yang tak mau korupsi

Yang tak mau kehabisan tenaga

Yang tak mau menutup mata

Yang tak mau tidur

Yang tak mau berdosa

Berilah aku sehelai kecil catatan

Yang aku akan sangat ingin mempertahankannya

Tentang sebuah negeri

Yang merasa malu diperdaya

Yang merasa malu berpangku tangan

Yang merasa malu menangis

Yang merasa harus lebih baik mati jika harus tak adil

Berilah aku setetes tinta

Yang warnanya tak pernah pudar

Yang bisa mewarnai jagad raya

Untuk kutuliskan di langit

Untuk menandai kegagalanku berharap

Berilah aku kesempatan

Yang akan membuatku tak akan lagi menyesal seumur hidup

Yang akan membuatku memperoleh barang seserpih rasa bangga

Karena telah merasakan jantungmu berdegup keras

Saat rakyatmu tak lagi makan

Shohibul Anshor Siregar

Advertisements

6 Comments

  1. […] (Puisi Anak Indonesia, Shohibul Anshor Siregar) […]

  2. […] kutuliskan sesuatu dan kuulangi disini dengan maksud aku bukan cuma sedang berbicara kepada Kopral Cepot, […]

  3. sikapsamin says:

    …….puisi sikapsamin…….

    beratus tahun…kami dijajah
    beratus tahun…kami dijarah
    bahkan terfitnah…ditanah terfitrah

    air-mata kami…kering sudah
    keringat kami…terkuras sudah

    yang tersisa tinggalah
    denyut-denyut aliran-darah
    yang makin menggelegak…membuncah

    yang siap tercurah
    mempertahankan tanah tumpah-darah

    tanah terfitrah
    atas ketetapan al illah

    enyahlah engkau…enyahlah
    segala bentuk penjajah..penjarah
    bahkan…agama jahiliyah

    catatan:
    nBASIS yth,
    silahkan dikoreksi/dilengkapi
    dan bila berkenan diberi judul yg sesuai
    hanya ini sekedar goresan uneg-uneg

    salam…JASMERAH

    ‘nBASIS: Puisi Sikapsamin. Hanya itu yang dapat ‘nBASIS sarankan untuk judul puisi yang bagus di atas. Terimakasih telah memberi sumbangan pemikiran filosofis yang menambah semangat anak bangsa untuk bangkit.

  4. […] (Puisi Anak Indonesia, Shohibul Anshor Siregar) […]

  5. […] itu telah ikut mencitrakan dosa-dosa besar atas nama Islam di sini. Seorang tua bangka bernama Ba’asyir yang diperlakukan tak adil akan selalu penting bagi kaki tangan dan petugas-petugas asing yang […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: