'nBASIS

Home » ARTIKEL » SURAT KEPADA KOPRAL CEPOT

SURAT KEPADA KOPRAL CEPOT

AKSES

  • 538,550 KALI

ARSIP


Posting terbaru di blognya diberi judul G.I.A.T. Pada salah satu paragraf posting itu ia tulis demikian “G.I.A.T menggeliat, G.I.A.T dengan peluh bukan keluh … G.I.A.T adalah Gerakan untuk Indonesia Alternatif Transformatif … dari kepala buahkan gagasan brilian dari tangan lahirkan tulisan mencerahkan dan dari actie tebarkan harapan masa depan. G.I.A.T adalah perlawanan cerdas bukan perampokan brankas, G.I.A.T adalah terrorist kata bukan terrorist senjata, G.I.A.T  adalah keringat usaha  karena “Tidak ada hal hebat yang tercipta dalam sekejap.” Surat ini adalah sebagai respon atas posting yang amat menggugah itu.

Pak Kopral Cepot Yang Terhormat;

Tulislah barang sedikit tentang sulitnya kita “sebagai Indonesia merdeka” berubah dan bangkit karena Belanda pernah buat 3 hukum di sini (oentoek Belanda, oentoek Timoer Asing dan oentoek Boemipoetra). Mungkin akan sangat bermanfaat untuk memahami Indonesia di tangan SBY, Mega, Gus Dur, BJ Habibie, Soeharto, dan Soekarno.

Jangan-jangan para legislator itu menganggap lembaganya sedang berhadapan dengan Belanda sang penjajah, dan karenanya secara gerilya dan dengan politik boemi hangoes berusaha membocorkan anggaran sebanyak yang dapat dilakukan.

Aneh sekali. Mereka berunding mencari legitimasi untuk membelanjakan anggaran besar melancong ke luar negeri. Rakyat akhirnya menyebut itu melancong karena setelah sekian lama memperhatikan memang akhirnya tak dapat diberi predikat lebih kecuali pelancongan belaka. Hari ini mungkin sudah sah mereka disebut white collar crimers. KPK di bawah kepemimpinan yang baru patut menyorot ini selain Century Bank Gate, dan kepantasan belanja kerumahtanggaan Presiden, serta yang lainnya.

Legislator itu bukan tidak tahu, dan mungkin karena mereka tahu maka muncullah kecemburuan agar tidak Presiden bersama staf eksekutifnya saja yang habiskan anggaran. Begitulah terpuruknya Indonesia, namun SBY masih beri renumerasi setelah bagi-bagi mobil untuk menteri yang amat banyak (Amerika cuma punya 16 kementerian), ditambah lagi dengan wakil menteri. Apa tak besar anggaran Menko? Menko itu apa? Menko itu kakak para menteri yang posisinya antara menteri dan presiden hingga presiden bisa can do no wrong saja; dan jika tak cakap, jika malas, dan jika cuma suka feodal, memang menkolah jawabannya.

Itu besar sekali biayanya dan jujurlah, apa sih kerjanya. Tahukah banyaknya lembaga yang dibentuk? Jika pun Anda tahu dan dapat menyebut satu persatu personalnya, kuyakin Anda tidak mampu menjelaskan keterangan filosofis mengapa itu harus ada semua.

Kepolisian mencatat sejarah. Paling banyak merebut pewartaan. Mengapa ya? Selama ini polisi sudah diplesetkan “(sudah) pol, isi (lagi)”. Hingga kini sudah sah jika orang menyebut hanya 2 polisi yang baik (patung polisi dan polisi tidur). Kemaren dan kemaren-kemarennya mereka belajar ke Australia dan didapatkanlah cara membunuh lebih efektif dan menyebar perasaan takut.

Media mendukung mereka sepenuhnya untuk mengesahkan tindakan-tindakan yang makin lama makin tidak dibenarkan oleh perasaan keadilan rakyat. Sudah tahu kan Kopassus kita akan “main” dengan SAS untuk sesuatu (lagi) dan….. kini sudah untuk kesekian kalinya BHD mewarnai masa akhir jabatannya sebagai Kapolri dengan pemaparan-pemaparan tentang teror dan ingin disebut brilliant dalam prestasi. Salah satu kebanggaannya itu ialah menahan Abu Bakar Ba’asyir yang sudah renta itu.

Aku suka JK berkata kepada Amerika “What can I do for you?” Aku tak suka, malah aku benci kepada siapa saja orang Indonesia yang berkata kepada Amerika “America is my second country”. Jangankan Amerika dan Australia, PBB pun dilawan oleh Bung Karno dan memilih hengkang dari lembaga itu atas nama sebuah harkat, martabat, dan kedaulatan. Tata dunia yang lebih adil memang ada diteriakkan oleh Soeharto setelah amat aman untuk memberi teriakan itu. Ingat Soeharto menjadi big boss negara non blok saat blok sudah sirna dengan berakhirnya era perang dingin?

Bung Karno mesti dilahirkan kembali di Bandung, di Sumenep, di Papua, di Jeneponto, di Sibulan-bulan, dan itu semua Indonesia. Bung Karno yang bukan ayah Megawati, maksud saya. Megawati memang berhak menenggerkan “Soekarno” (tambah putri) di belakang namanya, dan biarlah sampai di situ saja dan jangan berlebih karena memang tak boleh berlebih (jika ia tahu).

Telah kupikirkan dalam-dalam. SBY harus memberi contoh terbaik sebagai negarawan dan bukan sebagai pemilik Partai Demokrat, apalagi sebagai orang Jawa. Pertama, berhenti berpikir dan bertindak tak substantif; Kedua, menjelaskan kepada diri sendiri, keluarga dan grup-grupnya bahwa:

  • Amat diperlukan membangun kembali, dalam bentuk kemoderenan, identitas dan simbol-simbol ekspresif nasional dan kebangsaan yang modern. Tak mengapa orang lahir sebagai orang Jawa, Sumedang, Batak, Minang, Acheh, Manado, Papua, Ujung Pandang. Tetapi ia harus menjadi Indonesia kemudian dan selamanya, tak usah balik lagi memusuhi dirinya sebagai Indonesia karena ia sudah final sebagai Indonesia dan harus setiap hari bersyukur sebagai Indonesia sambil selalu menikmati beeing process Indonesia;
  • Bagaimana cara memperoleh legitimasi kekuasaan, tidak dengan rampok, tipu, sogok merendahkan dan cara-cara barbar;
  • Bagaimana memandang dan memobilisasi seluruh alat-alat kekuasaan negara dengan terukur dan untuk diri sendiri (bangsa), pantangkan untuk kepentingan Obama dan teman-teman dia yang lain, karena ia belum tentu baik untuk Indonesia meski cakapnya baik-baik dengan pilihan kata yang bisa membuat  tertipu;
  • Sistem-sistem sumber dan distribusinya secara adil karena adil itu jalan kemakmuran, tidak seperti diajarkan oleh teman-teman Boediono dan Sri Mulyani dan para Mafia Berkley “beri perut si orang istimewa itu asupan sebanyak-banyaknya hingga ia kentut, muntah dan keringat dan dari kentut, muntahan dan keringatnya itulah kita dapat mengais (trickle down effect). Kusarankan sekeras-kerasnya: berhentilah SBY berpikir tentang citra saja, karena rakyat tak perlu itu. Indonesia tak perlu berpikir memindahkan ibukota dari Jakarta jika distribusi itu memang diperlukan secara sungguh-sungguh.

Kemaren kutuliskan sesuatu dan kuulangi disini dengan maksud aku bukan cuma sedang berbicara kepada Kopral Cepot, Sikapsamin, Christmas Day Gift, Gunawan Maryanto, Alamendah, Kangus, dan Zhuge Liang; tetapi juga kepada SBY, Abu Rizal Bakri, Megawati, Amien Rais, Sudi Silalahi, Yusril Ihza Mahendra dan siapa-siapa lagi yang siap-siap saling bertengkar atau sedang berteriak-teriak keadilan untuk memperdaya rakyat agar tidak tahu bahwa teriakan itu untuk pelurusan kepentingan diri sendiri:

“”….seseorang terpercaya dengan kewibawaan yang tak dibuat-buat mencatatkan dengan tegas sambil bertanya kepada dunia:

“kau tahukah mengapa Tuhan mengabadikan Fir’aun dalam kitab suci?”

dan kini aku mampu menirukan jawaban yang kuterima darinya:

“itu supaya kau tak gentar menggebrak Fir’aun versi zamanmu”.””

Harapan Kopral Cepot seolah dapat kulukiskan begini:

“Janganlah kau menjadi Fir’aun juga, sebab kau kawanku.
Tetapi jika kau akan menjadi Fir’au juga,
maka aku hanya akan berteman dengan cacing,
dengan dedaun,
dengan Sinabung yang sedang batuk,
dengan debu Galungung yang nanti menghampar.

Hatur Taratengkyu, all.
Shohibul Anshor Siregar, Koordinator Umum ‘nBASIS

Advertisements

6 Comments

  1. kopral cepot says:

    terus terang saya “merinding” membacanya …. “Lahaola walaquwwata Illabillah”

    ikan-ikan kecil belajar berenang
    kelaut lepas melepas rasa tertindas
    burung-burung pipit keluar sarang
    melayang terbang, terbangkan angan-angan

    ‘nBASIS: mari mempersatukan tangan-tangan kecil kita karena hanya itulah yang kita punya. mohon maaf foto anak Indonesia yang berharap dengan bendera di tangan itu dipindahkan ke sini tanpa parmios”

  2. Mas Batin says:

    jadi inget pernah baca wawancara jurnal sosialis “Kritik” dgn Goenawan Muhammad, GM mengatakan….”Redefinisi Indonesia. Indonesia selama ini didefinisikan dengan Jawa. Arogansi dan kekakuan generasi terdahulu dengan memutlakkan definisi Indonesia dengan Jawa telah menelikung lahirnya generasi baru yang cerdas dan mampu memaknai Indonesia sesuai semangat jamannya. Karena itu perlu diberikan kesempatan pada setiap generasi untuk memberikan nama pada ruang geografisnya dengan tetap mengusung Indonesia yang lebih menyeluruh, tidak hanya Jawa.”

    Mungkin sebelum jadi generasi GIAT, kita hrs meredefinisi dlu apa itu Indonesia….

    ‘nBASIS: Mas Bathin “Suara Bawah Tanah” hadir di sini. itu suatu kehormatan besar. Terimakasih telah memarkirkan pemikirannya di sini, dan semoga makin banyak yang tahu tentang redefinisi Indonesia itu. Sekali lagi terimakasih.

  3. sikapsamin says:

    mari…
    kita rantas rantai belenggu reformasi
    karena ternyata mengulang-formasi
    “kolonial – timur asing – pribumi”

    itulah neo-kolonisasi

    kami berhak mandiri
    kami berhak mengatur diri sendiri
    kami bertekad…berdikari

    Salam…JASMERAH

    ‘nBASIS: menghunjam untaian katanya. Sikapsamin bertitah. Terimakasih.

  4. […] pewarta sejarah sebagai sebuah kado harapan disaat serbasejarah menginjak usia dua tahun, harapan seorang bapak pada anak, wejangan dosen pada mahasiswanya dan pertalian bathin  saya dengan nBasis sejak komentar beliau […]

    ‘nBASIS: Tks Serbasejarah

  5. Kopral Cepot says:

    dua tahun sudah……….

    ‘nBASIS: semoga bukan peredaran waktu yang sia-sia tanpa makna. insyaa Allah

  6. chaerul arif says:

    Subhanalloh…..nice post kang….kunjungan perdana…salam hangat dari sayahnyah utk anda…ijin kopi pais utk sayahnyah sebarkan di FB….:-)D

    ‘nBASIS: salam hangat. salam hangat. terimakasih atensinya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: