'nBASIS

Home » ARTIKEL » HARI INI ADA 4 WAWANCARA: SEMUA PEMUDA SAAT INI ADALAH PAHLAWAN SUNGGUHAN

HARI INI ADA 4 WAWANCARA: SEMUA PEMUDA SAAT INI ADALAH PAHLAWAN SUNGGUHAN

AKSES

  • 538,596 KALI

ARSIP


[Bagian Ketiga dari Empat Tulisan]

Berilah saya sebuah sanggahan untuk menolak pemahaman saya bahwa anak muda umur 17 sampai 35 tahun hari ini adalah pahlawan sungguhan. Berilah saya ketegasan bahwa pemuda bukanlah selamanya mereka yang berada pada organisasi formal berlabel pemuda dengan keinginan yang kuat bukan untuk sesuatu dalam wilayah kepemudaan. Berilah saya saran agar secepatnya perubahan politik dan perombakan struktural berjalan untuk lebih memihak kepada kepentingan masa depan bangsa.

Baik. Baik. Apa pertanyaanya? Sebaiknya rekam saja pernyataan-pernyataan saya agar tidak salah kutip. Itu lebih bagus. Itu jawaban pertama memenuhi permintaan wawancara seorang jurnalis dari Harian Medan Bisnis Medan. Saya tak tahu namanya, dan saya lupa pula menanyakannya diujung perbincangan.

Sesuatu yang harus kita sepakati lebih awal dalam perbincangan ini ialah bahwa setiap zaman memiliki tantangannya sendiri, dan tantangan itu bisa amat spesifik. Katakanlah heroisme dan keterpujian para pemuda yang berhasil mendeklarasikan Soempah Peemoeda pada tahun 2008. Itu sebuah mahakarya yang menjawab tantangan pada masa itu dan irreversible (tak dapat diulang-ulang) sifatnya. Betulkah agaknya?

Jadi kalau saat ini masih ada anak muda umur 17 tahun yang bebas dari rokoh, bebas dari pengaruh segala macam jenis narkoba, bebas dari bentuk-bentuk pelanggaran kesucian pernikahan seperti yang dituduhkan terhadap Ariel dan Luna Maya, bebas dari kebringasan khas yang sering terwujud dalam berbagai bentuk deviant behaviour seperti balapan liar, tawuran, pembentukan komunitas khas perkotaan bertampang aneh dengan kehidupan mengandalkan alat musik seadanya dan suara paspasan di persimpangan, maka mereka itu adalah pahlawan sungguhan. Jika akan memberi gelar untuk kepahlawanan yang sungguh-sungguh itu, bayangkanlah kesulitannya. Bagaimana mengatur tata caranya, pengemasan politiknya, pembiayaannya, dan lain sebagainya.

Jengkal-jengkal wilayah mana lagi (khususnya di perkotaan) yang masih bebas dari pengaruh rokok dan segala jenis narkoba? Di tengah ketidak-jelasan yang sudah demikian lama tentang siapa pengedar narkoba dan siapa yang benar-benar berperang melawan narkoba, siapa pecandu narkoba dan siapa yang diposisikan (oleh hukum) pecandu narkoba, maka bukankah begitu dahsyat perjuangan para anak muda itu untuk bisa bebas dari semua kegilaan dan kecentang prenangan social order itu? Maka akuilah mereka itu semua sebagai pahlawan, dan tidak perlu harus disuruh berbaris-baris untuk sebuah ceremoni untuk menandakan ketundukannya pada kegandrungan beracara-acara sesuai protokoler negara di pusat maupun di daerah.

Di antara sekian banyak permasalahan besar yang kiranya patut disifat-daruratkan (selain korupsi), tentulah amat layak masalah narkoba. Beberapa tahun lalu pabrik terbesar narkoba ditemukan di beberapa tempat di sekitar ibukota negara. Hal yang mengherankan temuan-temuan itu terkesan diposisikan sebagai prestasi bagi pihak menemu dan akan tetapi besaran masalah selalu tak pernah berkurang. Instrumen pendukung kebijakan dan program perlawanan preventif dan represif selalu dikesankan makin canggih. Hasilnya, paling tidak diukur dari perasaan subjektif masyarakat, tidak juga membawa perubahan yang lebih menyamankan. Dimana letak kesalahannya? Maka dengan tak usah menjawab pertanyaan itu, catatlah satu hal bahwa semua anak muda yang bebas dari pengaruh destruktif alat pembunuh dan perongrong besar itu semuanya adalah pahlawan. Mereka jelas-jelas telah menyiapkan diri untuk menjadi pemegang estafet generasi, berapa pun angka rata-rata rapor mereka di sekolah yang mungkin boleh jadi lebih rendah dari angka rapor politik Patrialis Akbar, Sudi Silalahi dan bahkan SBY sekalipun. Banggakanlah mereka dengan tanpa harus menghilangkan betapa monumentalnya sumpah pemuda tahun 1928. Banggakanlah mereka jika pun masih harus menganggur karena memang mereka 1000 kali bakal tidak mampu mencipta lapangan kerja di tengah kelimpungan negara mewujudkan keinginan yang sama.

Siapa Pemuda. Jika ada kesediaan bersepakat bahwa pemuda itu tidak harus lebih berkonotasi politik (parktis) ketimbang edukatif, maka kita terima pulalah fakta yang tak terbantahkan hampir sepanjang sejarah bahwa kegamangan dan ketidak jelasan persepsi tentang pemuda adalah sebuah pengabadian by design. Tetapi jika pemuda tidak hendak dibatasi dalam usia, bayangkanlah sebuah kesulitan besar untuk sebuah bangsa.  Mari kita tanya siapa yang lebih berkeinginan mengabadikan kekacauan ini dan mengapa tujuan pendek yang amat pragmatis itu dianggap sebagai opsi kebijakan struktural. Kenaifanlah landasan untuk eksistensi kesulitan ini, bukan yang lain. Betapa besar kerugian jika posisi kepemudaan tidak pernah diketahui dengan jelas di sebuah negeri.

Langkah-langkah politik dan perubahan struktural apa gerangan yang diperlukan untuk memperbaiki kondisi ini? Dengan tanpa harus terburu-buru memberi jawaban, silakan disedilik dulu usia berapa Bung Karno dan Bung Hatta saat memproklamirkan Indonesia. Usia berapa Newton merumuskan temuannya.  Thomas Alpha Edison, dan bahkan Karl Marx. Tidak pada usia renta dengan beban-beban nyata yang memandulkan idealisme, dan juga bukan pada saat kesepuhan yang lebih diwarnai oleh keluhan demi keluhan akibat ketuaan menyertai dengan angka toleransi asam urat yang terlampaui, gula darah, tekanan darah, kolesterol, esteroporosis, dan penyakit khas manula lainnya.

Setiap saat umat manusia bertambah dengan deret ukur, begitu kata Robert Malthus. Penumpukan permasalahan sudah pasti akan lebih membebani, bagi masyarakat keseluruhan mengingat selebihnya cuma tumbuh dengan deret hitung. Jadi, silakan melangkah tanpa harus pamit kepada meneteri pemuda dan olah raga.

Pembinaan. Konsepsi pembinaan adalah kesulitan yang hadir bersamaan dengan ketidak jelasan persepsi. Jika negara dan rezim berkuasa hanya menginginkan pemuda tak lebih sebagai pijakan politik pelanggeng kekuasaan, maka itu sebuah pengorbanan tanpa hati burabi dan tanpa tanggungjawab masa depan. Seorang Menteri Pendidikan zaman Orde Baru pernah berucap bahwa mahasiswa (tentu pemuda) tidak boleh diperlakukan sebagai menara air yang siap diarahkan sesuka hati kemana diperlukan berdasarkan kepentingan subjektif dan sesaat. Itu bukan saja riskan, melainkan penuh ketak-bertanggungjawaban.

Pembinaan pemuda seyogyanya tak menyimpang dari filosofi gerakan besar human investment yang tidak tenggelam oleh yel-yel hampa. Ini rumit, apalagi ketika akan berbicara tentang biaya pembinaan pemuda. Tetapi mari bayangkan sebuah pengandaian berikut ini.

Setiap instansi pemerintahan sudah pasti memerlukan data akurat untuk dapat disebut secara berftanggung jawab menjalankan programnya. Semua instansi itu memerlukan uapdating data-data jika benar-benar ingin bekerja sesuai permasalahan dan tuntutan zaman dengan penuh amanag dan akuntabilitas.

Nah, libatkanlah pemuda dan mahasiswa di situ. Biarkanlah dari sana mereka dapat uang sembari menghindari sejauh-jauhnya peninabobokan dengan sumbangan-sumbangan yang tak akuntabel sebagaimana lazim dalam perilaku politik anggaran dan pengelolaan anggaran mulai dari pusat pemerintahan sampai ke daerah.

Para guru besar dari perguruan tinggi dapat terlibat penuh keasyikan dan pengabdian dengan tingkat keterandalan data yang dihasilkan sesuai standar akademis yang mutakhir. Tetapi jelas, keleluasaan birokrasi berkorupsi ria akan tereliminasi di sini. Maka dipastikan tidak akan ada kuping birokrat yang akan mampu mendengar gagasan seperti ini. Mengapa? Tidak lain karena negeri ini adalah negara korupsi yang giat mengajak rakyatnya ke neraka.

Shohibul Anshor Siregar

Advertisements

3 Comments

  1. […] Tagged with APBD LANGKAT, GATOT PUJONUGROHO, GUBERNUR SUMATERA UTARA, KPK, SYAMSUL ARIFIN « HARI INI ADA 4 WAWANCARA: SEMUA PEMUDA SAAT INI ADALAH PAHLAWAN SUNGGUHAN […]

  2. […] semua pemuda saat ini adalah pahlawan sungguhan […]

  3. […] semua pemuda saat ini adalah pahlawan sungguhan […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: