'nBASIS

Home » ARTIKEL » PERCAKAPAN PETRUK, GARENG DAN SEMAR TENTANG DEMOKRASI (Bagian 1)

PERCAKAPAN PETRUK, GARENG DAN SEMAR TENTANG DEMOKRASI (Bagian 1)

AKSES

  • 568,513 KALI

ARSIP


Anda kenal Petruk, Gareng dan Semar? Jika belum, kinilah saatnya bagi anda mengikuti perbincangan mereka tentang sebuah topik penting, yakni demokrasi.

Konon ada seorang pintar bernama Robert Dahl. Ia orang jauh, Amerika. Orang ini merasa amat yakin dunia ini bisa dirubah lebih baik dan lebih maju untuk semua bidang kehidupan. Ya tatanan sosialnya, ya ekonominya, ya hukumnya. Pokoknya makmurlah, sebagaimana dicita-citakan oleh semua pendiri negara di dunia.

Baik Petruk, Gareng, maupun Semar tidak mengenal Robert Dahl dan sama sekali tidak pernah bertemu. Bahasanya pun lain, bahasa Inggeris. Karena itu Petruk, Gareng dan Semar tak mungkin tahu jalan pikiran Robert Dahl, karena itu hanya mungkin mereka dapatkan jika mereka membaca pikiran tertulis Robert Dahl yang tinggal jauh. Bagaimana mungkin? Bahasanya saja Inggeris (dalam persepsi Petruk, Gareng dan Semar, Robert Dahl itu Londo dan berbahasa Londo).

Si Robert Dahl merasa yakin atas keunggulan demokrasi. Lagi pula ide ini semakin terterima dan kini semakin meluas dianut oleh pemerintahan dunia. Indonesia salah satunya, negeri yang sedang belajar berdemokrasi dengan segala macam catatan menggelikan atau bahkan memalukan. Menggelikan dan memalukan tentu tidak diukur dari alam pikiran Petruk, Gareng dan Semar. Bukan.

Memang, dengan menyimpang jauh dari pengetahuan yang digariskan oleh Robert Dahl, Indonesia kini sedang mempertontonkan dirinya sebagai boneka mainan demokrasi. Elitnya amat sederhana berpikir, dan tak mau repot-repot. Jika anda mengatakannya tidak negarawan, memang ada benarnya. Mereka seakan cuma mampu bekerja dengan kata kunci ”pokoknya”.

Pokonya demokrasilah. Pinomat (paling tidak) namanya saja dulu, soal isinya nantilah. Pinomat kekuasaanya dululah digenggam, soal adil dan berguna buat rakyat, itu masalah nanti sajalah. Pinomat pemilunya saja dululah, soal jujur dan adil perkara nanti sajalah.  Pinomat kewenangan merampok dan korupsinya dululah, soal dosa dan nerakanya kan urusan nanti. Begitulah kira-kira.

Diasumsikan bukan saja demokrasi membantu mencegah tumbuhnya pemerintahan kaum otokrat yang kejam dan licik, tetapi juga menjamin warga negara menikmati sejumlah hak asasi yang umumnya tidak dapat diberikan oleh sistem-sistem yang tidak demokratis. Kebebasan pribadi yang lebih luas merupakan keuntungan lainnya, karena diyakini bahwa pemerintah demokratis dapat membantu perkembangan kadar persamaan politik yang relatif tinggi. Lagi pula fakta hari ini sulit dibantah bahwa negara-negara dengan pemerintahan yang dilabeli demokratis cenderung lebih makmur daripada negara-negara dengan pemerintahan yang tidak demokratis.

Tetapi sebagaimana dapat disaksikan di berbagai belahan bumi ini, kebanyakan dari harapan-harapan itu hanyalah isapan jempol semata. Jeratan sistem dunia yang berakar pada kepentingan kamuflatif negara-negara maju terlalu sukar dibantah, dan mereka hanya menjadikan isyu-isyu central demokratisasi dan HAM sebagai alat untuk lebih memastikan hegemoni. Lho, begitu buruk dan begitu jahat? Tentu saja Obama yang datang baru-baru ini ke Indonesia tidak akan mengakui itu. Ia hanya akan berbicara baik-baik, bahkan memuji enaknya bakso, sate, kerupuk dan emping.

Memang Obama Presiden Amerika itu orang jahat? Tunggu dulu. Ia memang anak angkat Lolo Sutoro. Ibunya pun lama bekerja di Indonesia, konon giat mendorong ekonomi kerakyatan paling tidak di sektor tugasnya di sekitar Yogyakarta. Tetapi Obama orang Amerika. Amerika itu ada di setiap peristiwa kerusuhan bahkan berdarah di dunia ini. Amerika senang jika ada pertempuran. Amerika tak perlu berkawan dengan Iran maupun Irak jika kedua negara itu tak mau bagi-bagi keuntungan hasil minyak, dan apalagi Iran itu konon dituduh mengembangkan nuklir untuk maksud yang tak disukai Amerika. Amerika tak suka ada  nuklir di Iran, tetapi ia sendiri tak boleh diprotes orang, sebagaimana halnya ia tak juga ribut soal nuklir di korea dan juga India.

Nah, sampai di sini Petruk, Gareng dan Semar sudah mulai bantah-bantahan. Mereka berbeda pendapat soal cita-cita ”gemah ripah loh jinawi, toto tentrem kerta raharja”, yang mereka warisi dari para leluhur. Alam fikiran mereka mulai terkondisi saling menyalahkan, di tengah suasana saling ingin lagak pintar dalam fakta keawaman terwariskan turun temurun. Mereka seperti sedang berhadapan dengan VOC yang kabar-kabarnya sedang berusaha mendarat dengan tongkang raksasa di suatu tepi perairan Indonesia dengan nyiur melambai. (bersambung)

 

 

Advertisements

11 Comments

  1. sikapsamin says:

    Weleh..weleh..weleh…

    PETRUK, GARENG DAN SEMAR..?!
    Minus BAGONG..? berarti minus Samin!!!
    Dengan segala hormat, Samin protes keraaasss!
    Ini jelas Jajaran-Panakawan versi Kumpeni/VOC, oleh karena itu dimohon dengan sangat hormat, sebelum dilanjutkan Bagian-II, judul harus mencantumkan BAGONG..! kalau tidak…Samin terpaksa demo dengan Aksi-Bisu!!! No koment.
    He..he..he..ini memang protes terbuka utk Yth. nBASIS…tapi tetap dalam frame persahabatan.

    Tapi betul, dimasa Kumpeni/VOC, tokoh BAGONG sempat dilarang-tampil dalam setiap Pagelaran Wayang, karena dialognya selalu berisi kritik tajam kpd VOC.
    Silahkan klik: http://id.wikipedia.org/wiki/Bagong

    Salam…dari Sangiran
    Saya tunggu episode berikutnya

    ‘nBASIS: ‘nBASIS tidak sedang ingin mengikuti jalan pikiran SBY yang menuduh Ngayogyakartahadiningrat itu tak bagus, bertentangan dengan konstitusi Indonesia. Bukan di situ posisi ‘nBASIS. ‘nBASIS amat menyimak lalulintas pembicaraan tentang itu, reaksi sedulur di Yogya, yang mulai bergeliat antara lain mendatangi DPRD, dan bahkan menggagas referendum.

    Tetapi kang Sikapsamin, modernisasi (westernisasi ya?) kan penuh obsesi hegemoni dan ingin menstandarkan nilai total kesejagatan? Ia mau lindas semua yang dianggapnya tak sesuai keinginannya. Di belahan bumi ini banyak agennya (perhatikan SBY mencaci Yogya). Dimana Bagong? ya dimana Bagong? Kok tidak ikut berbincang? Apa ia sedang mandi, sedang makan siang, sedang makan malam, sedang menjenguk sedulurnya, sedang tidur, sedang sakit? Demokrasi Barat ingin dia absen.

    Jika Sikapsamin ingin Bagong hadir di sini, kira-kira apa kang pendapat dia tentang Robert Dahl dan ungkapan-ungkapan Petruk, Gareng dan Semar dalam bagian pertama ini? Tolong bantu ‘nBASIS, kang !!!
    Salam respek dari Medan. Matur sembah nuwun

  2. sikapsamin says:

    Eh.., iya baru ingat,

    Sekiranya nBASIS memang harus menghormati formasi DALIHAN NA TOLU…ya sayapun harus ikut menghormati juga…

    Silahkan dilanjut…

    ‘nBASIS: ha ha ha. jangan marah dulu juragan. Sikapsamin always the best. ha ha

  3. achoey says:

    Sekeluarga pun sudah berbantah-bantahan ya. Padahal penjajah dah di depan mata 😀

    ‘nBASIS: nah, itulah faktanya

  4. sikapsamin says:

    Maaf nBASIS, saya juga menelusuri keberadaan BAGONG…dimanaaa??

    Nggak tahunya sdh berdua dg Robert Dahl di suatu tempat, berbincang serius kelihatannya.
    Saya curi-dengar BAGONG mengajukan beberapa pertanyaan, a.l. :

    – Saat 11 Sept. 2001 peristiwa Twin-Tower WTC, itu kok sdh disiapkan kamera dg tele-lens dan angel yg bagus, bagaimana bisa begitu?
    Terus robohnya Twin-Tower bisa teratur 100% terkumpul disatu tempat, bagaimana begitu? Serta bagaimana kok bisa muncul rumor ribuan pekerja WTC dari ras tertentu, tak satupun menjadi korban??
    Robert Dahl lama terdiam, tak menjawab, akhirnya BAGONG menimpali pertanyaan berikut :
    – Negaramu Amerika kan mendapat julukan Polisi-Dunia, lantas kapan bisa menangkap dan Mengadili Osama bin Laden??? Kok kelihatannya susah banget, apa karena “bin Laden” family?
    Terlihat Robert Dahl juga tetap terdiam, BAGONG menambah pertanyaan :
    – Saya lihat Amerika sukses memilih “boneka” presiden, apa karena sdh sukses uji-coba di Indonesia th.2004 & th.2009 yl??

    Saya lihat Robert Dahl tetap terdiam, akhirnya BAGONG saya ajak pulang.

    Memang penuh kamuflatif…
    Tapi Samin ingin lebih josss…BIG-LIE

    ‘nBASIS: Terimakasih telah memberi khabar mengenai keberadaan Bagong. Dengan begitu sekarang kita sudah bisa melanjutkan ke perbincangan kedua, sambil mengucapkan belasungkawa kepada Sultan dan segenap warga Yogyakarta atas musibah I (Merapi) dan musibah II (gangguan eksistensi). Semoga solusi terbaik ditemukan. Matur sembar nuwun.

  5. sikapsamin says:

    Tentang Yogyakarta, saya sepakat semoga ada solusi terbaik.

    Tapi dari rekaman “seismograph-kesejarahan” yg ada di Sangiran, kelihatannya memang ada distorsi2(pinjam istilah Kopral ‘Serba Sejarah’ Cepot), hingga perlu koreksi2 agak konprehensif.

    Silahkan dilanjut…

    ‘nBASIS: matursembahnuwun, kang Sikapsamin

  6. […] percakapan petruk, gareng dan semar tentang demokrasi bagian-1) […]

  7. […] percakapan petruk, gareng dan semar tentang demokrasi bagian-1) […]

  8. […] PENGUNJUNG PERCAKAPAN PETRUK, G… on PERCAKAPAN PETRUK, GARENG DAN …PERCAKAPAN PETRUK, G… on PERCAKAPAN PETRUK, GARENG DAN …PERCAKAPAN PETRUK, G… […]

  9. […] percakapan petruk, gareng dan semar tentang demokrasi (bagian-1) […]

  10. […] PETRUK, G… on PERCAKAPAN PETRUK, GARENG DAN …PERCAKAPAN PETRUK, G… on PERCAKAPAN PETRUK, GARENG DAN …PERCAKAPAN PETRUK, G… on PERCAKAPAN PETRUK, GARENG DAN …PERCAKAPAN PETRUK, G… […]

  11. […] seri artikel berjudul ”Percakapan Petruk Gareng dan Semar Tentang Demokrasi” pernah dimuat dalam blog ini. Anda bisa menemukannya dan akan sangat membantu terhadap […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: