'nBASIS

Home » ARTIKEL » KETA KU SIPIROK: GURU NAHUM SITUMORANG DAN SEJUTA NAMA BESAR

KETA KU SIPIROK: GURU NAHUM SITUMORANG DAN SEJUTA NAMA BESAR

AKSES

  • 568,914 KALI

ARSIP


Akankah Bupati baru Tapsel Syahrul M Pasaribu akan mengulangi langkah lamban (keliru?) Ongku P Hasibuan? Ganjaran yang diterimanya sudah jelas

Lajang tua mendiang Nahum Situmorang mengingatkan sesuatu tentang Sipirok. Kala itu, melalui sebuah lagu yang mendunia, ia tak cuma mengapresiasi beberapa tempat seperti Baringin, Sabatolang, Parau Sorat, dolok na timbo (gunung) Simago-mago, Sialagundi, Batuolang, Batuhorpak, dan lain-lain.

Kekencangan angin mamaspas (mendera) bukan saja membuat budaya khas margobak (membungkus diri dengan kain sarung) meski siang bolong. Sipirok bukan saja kaya hasil hutan seperti hayu (kayu), hotang (rotan), bargot (aren) dan hulim (kulit manis). Hutannya dijaga banyak babiat (harimau), gompul (beruang), ulok (ular) dan angka pidong (aneka unggas).

Situmorang tak lupa menggaris-bawahi si Boru Enggan (gadis bermarga Siregar). Untuk mendapatkannya belajarlah marhusip (media sosial remaja dalam menali kasih). Diingatkannya watak calon mertua bermarga Siregar itu. “Malo-malo ma ho mambuat roha ni tulang mi” (pandai-pandailah mengambil hati calon mertuamu itu), kata Situmorang yang mungkin pernah patah hati di sini (hingga akhir hayat melajang). Tetapi si boru Enggan na jogi (jelita) belum tentu mau dipersunting. Ia terkenal punya sikap (pandangan) amat rasional (selalu lebih rasional dari suaminya? ha ha). Paling susah jika perasaan aestetika si boru Enggan sama tinggi-menjulangnya dengan pandangan politik, pandangan ekonomi dan keningratannya yang membuat semakin tak terdekati. Secara simplistis orang menjulukinya na bekbek (garang) untuk menggambarkan karakter itu.

Situmorang pencipta lagu yang berkesempatan “bertanding” membuat lagu Kebangsaan Indonesia itu memang lahir di Sipirok, tahun 1908. Ia anak seorang guru (Kilian Situmorang).

Sejuta Nama Besar. Terlepas benar atau tidak, baru-baru ini ada data di internet yang menyebut salah seorang bermarga Siregar begitu penting kedudukannya dalam jaringan Alqaeda. Menantang bahaya, meneruskan iktikad, dan connect dengan Alqaeda? Ha ha, tak mudah membayangkan itu. Dia Siregar Sipirok. Jangan sekali-sekali ada yang ingin tak mengakuinya (sekali lagi, jika informasi itu benar). Dharma Indra Siregar, The Crown Prince from Sipirok Bagas Godang, memastikannya tanpa rasa penyesalan sedikitpun: Dia Siregar Sipirok, tegasnya.

Dapatkah seseorang di negeri ini melupakan bahwa Lafran Pane pendiri HMI? ia orang Sipirok. Terkait dengan nama besar Sutan Pangurabaan Pane, sebutlah juga Armiyn Pane dan Sanusi Pane. Bukan main, kata Prof.Dr.Agussalim Sitompul, guru besar Al-kalam dari IAIN Yogyakarta (aktivis HMI sering menjuluki ”pustaka berjalan”). ”Saya anggap ada sesuatu yang sama sekali tak terkait dengan magis yang menjadi faktor pendorong munculnya tokoh-tokoh besar Sipirok. Paling tidak kita harus memeriksa akar budaya dan pandangan hidup serta interaksinya dengan dunia luar”, katan Sitompul yang pernah tinggal di Sipirok ini.

Sewaktu mahasiswa (1970-an) saya pernah bergabung dengan tim peneliti kerukunan umat beragama. Salah satu daerah samplenya Bunga Bondar. Saya bertemu seorang muda yang gagah, tak bisa berbahasa selain Inggeris. Ia kelahiran London. Oleh kerinduannya kepada sejarah nenek-moyang, anak muda ini pulang kampung, sebuah sudut terpencil di negara berkembang yang tak mengenakkan dalam pandangan peta dunia. Dia bermarga Siregar.

Arifin M Siregar, mantan Gubernur BI, penandatangan uang resmi (rupiah) pernah menggerutu: Di Eropa dan Amerika banyak orang bermarga Siregar yang amat sukses. Jika kalian melihat saya ini orang sukses, ternyata masih nomor urut terakhir bila dijejerkan berdasarkan kekayaan dengan mereka itu. Gurubesar. Akuntansi dari USU Munaf Hamid Regar pasti mengakui, dan tentu punya data lebih banyak dari saya.

Saya ingin menguji memori dengan harapan dikoreksi oleh tokoh-tokoh besar Sipirok. Masih ingat Mr Luat (residen Sumatera Timur)? H Muda Siregar (Walikota Medan kelima)? Abdul Firman (Mangaraja So Angkupon) anggota volksraad? Abdul Rasjid (Batavia Centrum)? dr Ildrem (tak mudah melupakannya jika berfikir tentang USU)? Dr Gindo Gubernur Militer Sumatera Timur Selatan bermarkas di Padangsidempuan (1947)? Bankir Omar Abdalla? MO Parlindungan pembuat buku heboh Tuanku Rao? Hariman (Malari 1974) yang “menginterupsi” Soeharto dalam singgasana Orde Baru-nya yang didukung habis militer? Raja Inal mantan Pangdam Siliwangi (kemudian menjadi Gubsu)? Jauh di atas yang disebut terakhir ini masih ada Tunggal Harun Parlindungan yang menjadi pejabat nomor satu dari kalangan pribumi di lingkungan perusahaan perkebunan milik Belanda di Sumatera Timur RCMA (Rubber Cultuur Maatschapijj Amsterdam). Masih banyak yang lain.

Bukan Faktor Given. Masih ingat nominator miss universe Zivanna Leithisa Siregar? Selain faktor given (takdir) orang ini juga memiliki kecerdasan mumpuni untuk bisa berkompetisi di forum kontroversial (banyak yang suka dan banyak yang protes) mendunia itu. Kiprah orang Sipirok tampak tidak selalau amat identik dengan capaian berdasarkan faktor-faktor non prestasi. Seorang antropolog Barat yang lama meneliti (antara lain menghasilkan buku tentang ”manghobar”) pasti tahu itu. Jika akhirnya dinobatkan menjadi boru Regar, itu bukan kebetulan. Dialah Susan Rogers (Siregar). Para pemilik success story dari Sipirok itu bukan tokoh-tokoh yang berlindung di balik solidaritas kesemargaan dangkal, atau yang sibuk membentuk panitia pemugaran tambak (tugu) dalam simbolisme ketinggalan zaman.

Sipirok kini tengah berjuang untuk mengikuti UU pemekaran No 37 dan 38 Tahun 2007 yang di antaranya menunjuk Sipirok sebagai ibukota Tapsel dan harus direalisasi dalam 18 bulan setelah pemekaran itu diundangkan. Ongku Parmonangan Hasibuan tidak mampu melaksanakannya, sampai ia harus berbeda pendapat secara keras yang mengakibatkan wakilnya mengambil langkah mufaraqah (berpisah) dengan membawa jabatan wakil Bupati berkantor di Sipirok.

Akankah Bupati baru Tapsel Syahrul M Pasaribu akan mengulangi langkah lamban (keliru?) Ongku Parmonangan Hasibuan yang meninggalkan defisit anggaran yang begitu besar itu? Ganjaran yang diterima Ongku Parmonangan Hasibuan sudah jelas (kalah dalam pemilukada meski sebagai incumbent), yang menurut banyak kalangan termasuk pembangkangannya terhadap klausul ibukota yang memicu resistensi besar itu. Syahrul M Pasaribu harus memikirkannya secara serius.

Dimuat pada harian Medan Bisnis 8 Desember 2010, hlm 2

Advertisements

6 Comments

  1. Effan Zulfiqar says:

    Tulisan yang sangat bagus dan penuh nuansa. Meskipun agak sedikit narcis..hehehe. Bagi saya pribadi Sipirok mempunyai banyak arti dan kenangan, tapi itu dulu. Yang saya ingat Sipirok adalah wilayah yang sejuk tapi sekarang sudah berubah menjadi panas, karena “harangan”nya sudah habis dijarah. Tidak ada lagi aneka pidong di sana, mulai dari rata-rata (cucak hijau), sandang garigit (kutilang emas), pitcala tano (kacer), pitcala batu (murai batu). apalagi babiat (harimau). Harangan sudah habis, bahkan bargot (enau) yang merupakan tanaman lokal yang pada zaman Alm Raja Inal pernah dicoba dikembangkan lagi sudah mulai hilang. Bargot menjadi lambang Sipirok untuk “diagat” sebagai bahan “gulo bargot” (gula merah) kini sudah tidak ada lagi. Dulu berton-ton gula bargot dari Sipirok dibawa bus “Sibual-buali” ke hampir seluruh kota di Sumatera dan Jawa, termasuk hasil bumi, hulim (kayu manis), gota (karet),tanaon (kemiri). Bahkan beras “sipulo” dari Sipirok sangat terkenal. Semua yang saya ceritakan ini bagi kita sekarang tinggal kenangan. Yah kita berharap Sahrul M Pasaribu bisa membangun kembali nilai-nilai lokal dan kekuatan lokal yang ada di Sipirok tanpa menggulang kesalahan yang dilakukan Ongku P. Hasibuan. Hidup Siregarrrrrrr….

    ‘nBASIS: maafkan jika terasa narcis yang betapapun saya heran juga kira-kira dimana letak narsisnya itu. ha ha. Tetapi jika pak Effan tahu (1) saya bukan orang Sipirok (2) saya memang bermarga Siregar, tetapi tentang boru enggan (putri regar) itu bukan saya yang menceritakan, melainkan lagu Nahum (3) memang ada beberapa literatur standar yang memberi perhatian atas begitu kecilnya Sipirok dengan begitu banyaknya tokoh kaliber yang berasal dari sana.

    Ternyata pak Effan lebih tahu (daripada saya) tentang kekayaan stwa dan lain-lain hasil alam itu, terlebih soal unggas dengan macam nama itu. Saya pun baru kali ini tahu bahwa sinonim lajo itu tanaon (kemiri). Terimakasih pak Effan Zulfiqar Harahap.

  2. sikapsamin says:

    Bagi Samin…artikel ini sangat mengasyikan,
    Banyak kata2 bahasa Batak yang bisa menambah wawasan ke-Nusantara-an saya…

    Tentang Siregar…sejauh yang saya ketahui memang cool dan cenderung impressionist…

    Tapi apa beda Siregar Sipirok dan Non Sipirok?
    Sepertinya alamnya memang sejuk ya?…

    Salam

    ‘nBASIS: Siregar yang mana yang menjadi sample untuk kesan cool dan cenderung impressionist itu, kang Sikapsamin? ha ha.
    Siregar di berbagai tempat (Sipirok dan non Sipirok dan yang lain) tentulah (konon) punya kesamaan “trait”, namun mereka akan berbeda karena adaptasi dan perubahan oleh banyak variable lain seperti pendidikan dan sebagainya. Ini tentu lazim pada diri siapapun, kan begitu kang Sikasamin?

  3. Teringat mengenai “Poken Aek” memang sangat disayang, sepertinya tidak mendapat perhatian sedikitpun dari Pemerintah. Padahal poken aek itu ibarat seperti “Landong” bagi setiap orang, bukan saja sebagai pemanis juga sebagai ciri khas/tanda pengenal, bahwa desa itu bernama “Bagas Nagodang Sipirok” salah satu desa dari parmarga Siregar. Dan dari belakang poken aek itu ada siregar yang “siap duel” termasuk antara siregar, dan beliau ini telah mengharumkan nama bangsa. Beliau adalah….. (bersambung)

    ‘nBASIS: kapan sambungannya tiba? Masih mencari bahan tentang “juara duel from Sipirok itu?”. Hubungi Rahmat Panutur Siregar, sang pelatih di balik sukses itu. ha ha

  4. […] keta-ku-sipirok-guru-nahum-situmorang-dan-sejuta-nama-besar […]

  5. sanggam says:

    Nahum S konon lahir di Sipirok, sampai usia berapa tahunkah almarhum disana ? Trimakasih…

  6. […] memiliki catatan SDM yang sangat luar biasa dengan sumbangannya kepada bangsa dan Negara. Apakah saat ini track record itu masih terpelihara, atau malah makin […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: