Home » ARTIKEL » AKUNTABILITAS, SEBUAH MASALAH SERIUS DALAM MUHAMMADIYAH JELANG ABAD KEDUA

AKUNTABILITAS, SEBUAH MASALAH SERIUS DALAM MUHAMMADIYAH JELANG ABAD KEDUA

AKSES

  • 340,697 KALI

ARSIP

Goodreads


Lagi pula tradisi dan mekanisme ”berdamai” dan ”kekeluargaan” dalam setiap penyelesaian konflik berbasis kehartabendaan dan keuntungan finansial akan semakin membuka peluang penyengsaraan ”titipan” KHA Dahlan ini menjadi  semacam korporasi yang perwajahan religiousnya ternoda

Tanggal 6-9 Januari 2011 ini Muhammadiyah Wilayah Sumatera Utara menyelenggarakan Musyawarahnya untuk ke 11 kali. Agenda utama tentulah menyusun program limatahunan dan memilih kepengurusan yang baru serta hal-hal lain yang dipandang maslahat untuk memajukan organisasi ini.

Menurut Tanfiz Keputusan Muktamar Muhammadiyah ke-46, dalam usianya menjelang 1 abad ini secara Nasional Muhammadiyah mencatatkan sebuah prestasi besar dalam berbagai bidang. Dalam bidang pendidikan hingga tahun 2010 Muhammadiyah memiliki 4.623 Taman Kanak-Kanak; 6.723 Pendidikan Anak Usia Dini; 15 Sekolah Luar Biasa; 1.137 Sekolah Dasar; 1.079 Madrasah Ibtidaiyah; 347 Madrasah Diniyah; 1.178 Sekolah Menengah Pertama; 507 Madrasah Tsanawiyah; 158 Madrasah Aliyah; 589 Sekolah Menengah Atas; 396 Sekolah Menengah Kejuruan; 7 Muallimin/Muallimat; 101 Pondok Pesantren; serta 3 Sekolah Menengah Farmasi. Dalam bidang pendidikan tinggi, sampai tahun 2010, Muhammadiyah memiliki 40 Universitas, 93 Sekolah Tinggi, 32 Akademi, serta 7 Politeknik. Dalam bidang kesehatan, hingga tahun 2010 Muhammadiyah memiliki 71 Rumah Sakit Umum; 49 Rumah Sakit Bersalin/Rumah Bersalin; 117 Balai Pengobatan/Balai Kesehatan Ibu dan Anak; 47 Poliklinik, Balkesmas, dan layanan kesehatan lain. Lalu, dalam bidang kesejahteraan sosial, 421 panti asuhan yatim, 9 panti jompo, 78 Asuhan Keluarga, 1 panti cacat netra, 38 santunan kematian, serta 15 BPKM. Dalam bidang ekonomi, hingga tahun 2010 Muhammadiyah memiliki 6 Bank Perkreditan Rakyat, 256 Baitul mal wat Tamwil, dan 303 Koperasi.

Tetapi Pimpinan Pusat Muhammadiyah sendiri menilai tepat untuk mengatakan bahwa peningkatan jumlah amal usaha tidak dapat menutup kenyataan lain yaitu masalah kualitas amal usaha Muhammadiyah. Rupaya pertumbuhan tidak selalu dibarengi dengan kualitas pengelolaan (akuntabilitas).

Akuntabilitas Pengelolaan

Di Indonesia organisasi-organisasi sosial baik yang berdasarkan keagamaan maupun yang lain kerap menghadapi masalah akuntabilitas yang tak jarang memicu konflik yang luas dan bertele-tele. Muhammadiyah juga tidak sepi dari persoalan seperti itu meski ada kecenderungan kuat untuk diredam dengan cara-cara penyelesaian internal yang seakan memantangkan penindak-lanjutan ke ranah hukum. Ada sisi buruk dan ada sisi baik dari pilihan ini tentu saja.

Pada saat Muktamar ke-46 (Yogyakarta) belum lama ini, seluruh warga Muhammadiyah disadarkan atas fakta yang kurang menggembirakan dalam hal akuntabilitas.  Tanfiz (official report) Muktamar ke-46 tentang Laporan PP Muhammadiyah 2005-2010 yang terdiri dari 3 bagian (laporan, Umum dan Organisasi dan Usul-usul) secara tegas melukiskannya. Setidaknya hal itu tergambar dari bunyi beberapa keputusan yang diambul. Pertama, laporan keuangan PP Muhammadiyah hendaknya menyeluruh dengan memasukkan pendapatan/pengeluaran baik yang bersumber dari dalam maupun dari luar persyarikatan, termasuk laporan keuangan Laziz Muhammadiyah. Tentu amat mudah ditebak apa yang terjadi hingga penegasan ini begitu ditonjolkan.

Kedua, Muktamar ke-46 rupanya memandang perlu melakukan sensus (pendataan) yang menyeluruh tentang anggota, amal usaha, asset, dan kekayaan Muhammadiyah. Jadi cukup mengherankan juga jika Muhammadiyah tidak tahu persis berapa orang yang menjadi pengikutnya dan segenap amat usaha, aset dan bahkan kekayaannya. Data statistik ”abu-abu” tentulah gambaran taraf profesionalitas yang berindikasi rendahnya akuntabilitas.

Ketiga, Muktamar juga memandang penting agar PP Muhammadiyah membuat model evaluasi dan monitoring program serta pelaporan kegiatan sekaligus meminta PP Muhammadiyah menjadwalkan kunjungan/pembinaan ke bawah secara periodik  dan tidak sebatas memenuhi undangan belaka seperti lazim selama ini. Menyusun standarisasi format laporan, melakukan revitalisasi perguruan tinggi dan amal usaha lainnya di daerah juga dianggap prioritas.

Dari gambaran itu Muhammadiyah memiliki ancaman serius seiring pertumbuhan amal usahanya baik dalam sektor konvensional (pendidikan dan sosial), apalagi dalam sektor-sektor baru yang menitik-beratkan komersialitas dan benefit oriented yang sudah ada dan yang sedang direncanakan.

Modalitas

Saat menjadi Ketua Muhammadiyah menggantikan Prof.Dr.HM.Amien Rais yang direlakan oleh Muhammadiyah terjun ke dunia politik praktis, Prof.Dr.Ahmad Syafi’i Ma’arif pernah menandatangani semacam kesepakatan kerjasama pemberantasan korupsi dengan Ketua NU Hasyim Muzadi. Kerjasama itu berakhir dengan kesan seruan kuat kepada pemerintah, namun tidak begitu terasa dampaknya dalam kebijakan penerapan good corporate governance dalam internal Muhammadiyah terutama jika dibandingkan dengan berbagai konflik yang terjadi seputar pengelolaan kehartabendaan dan keuntungan finansial dari amal usaha yang dikelola.

Hingga Ketua Umum Muhammadiyah Prof.Dr.Dien Syamsuddin, MA yang melalui Muktamar 46 berhasil memperoleh legitimasi untuk periode kedua (2010-2015) langkah-langkah konkrit juga belum tampak. Itu akan menjadi sebuah paradoks besar jika dibandingkan dengan sikap yang  terkenal vokal menyuarakan ketidak-beresan dalam tata kelola pemerintahan sebagaimana terlihat dalam demonstrasi damai di Monas pada akhir tahun 2009 yang lalu. Prof.Dr.Dien Syamsuddin,MA dikenal sebagai salah seorang pentolan dalam Gerakan Indonesia Bersih (GIB).

Penutup

Petuah terkenal pendiri organisasi yang berdiri tahun 1912 ini (KHA Dahlan) terkait dengan pengabadian amal dalam Muhammadiyah berbunyi demikian ”Kutitipkan Muhammadiyah kepadamu. Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di dalamnya”.

Pernyataan filosofis itu kini mendapat ujian demi ujian yang amat serius. Lebih jauh, jika akuntabilitas tidak menjadi perhatian penting, Muhammadiyah bisa tinggal label belaka yang secara organik jatuh penguasaannya kepada pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Lagi pula tradisi dan mekanisme ”berdamai” dan ”kekeluargaan” dalam setiap penyelesaian konflik berbasis keharta-bendaan dan keuntungan finansial akan semakin membuka peluang penyengsaraan ”titipan” KHA Dahlan ini menjadi  semacam korporasi yang perwajahan religiousnya ternoda. Bukankah banyak warga tahu persis bagaimana keniscayaan pengelolaan meski terkadang mereka mendiamkan demi konformitas? Tradisi konformitas itu pun akhirnya harus dikategorikan sebagai kendala kultural menggapai kemajuan. Selamat bermusyawarah.

About these ads

4 Comments

  1. ardhan says:

    mekanisme berdamai dalam sebuah penyelesaian konflik, nyaris tidak ada lagi… saya lihat dilapangan ya seperti ini. berdamai justru setalah jatuh ketangan polisi… ah…

    ‘nBASIS: itu juga betul. tetapi kasus yang dijadikan rujukan dalam posting ini terbalik. org dihindarkan dari pertanggungjawaban yang merugikan umat (Muhammadiyah) dengan cara “damai secara adat”. jika kisah kasus serupa ini di”seberangkan” ke ranah hukum pasti punya efek jera juga.

  2. itempoeti says:

    jadi teringat kalimat KHA Dahlan, “Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan cari hidup di Muhammadiyah”

    semoga ini masih tertanam di hati sanubari kader Muhamadiyah.

    ‘nBASIS: harapan besar itu terkadang semakin sulit di tengah ketiadaan keteladanan

  3. Martha Andival says:

    bg itempoeti, kok yg real beda ya… cari hidup ya di Muhammadyah… duh….

    ‘nBASIS: jika telah demikain itu, maka……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 4,918 other followers

%d bloggers like this: