'nBASIS

Home » ARTIKEL » JANGAN PILIH SAYA LAGI

JANGAN PILIH SAYA LAGI

AKSES

  • 545,772 KALI

ARSIP


Dokumen ini tayang sejak 15 Desember 1990 pada Majalah Tempo Online. Semula sama sekali tak tertarik, dan tak ada niat untuk mencermati.  Namun setelah mencoba membaca  sampai pada baris kedua, rasa ingin tahu semakin besar: “Siapa gerangan yang sedang bertutur ini?”

Kisah ini tampaknya ditulis sendiri oleh KH AR Fachruddin dengan gaya amat khas untuk menjadi alasan yang kuat agar diperkenankan oleh seluruh  warga Muhammadiyah untuk tidak ikut lagi memimpin Muhammadiyah setelah 22 tahun diamanahkan untuk tugas itu.  Maksud itu pun tercapai.

KH AR Fachruddin orang yang amat bersahaja, dan ia memang rakyat kecil. Di depan rumahnya (Jln Cik Di Tiro, Yogyakarta), konon keluarganya berjualan bensin eceran, bukan SPBU. Luar biasa memang. Sukar dibayangkan. Sebagai Ketua PP Muhammadiyah sejak 1968,  di tengah trend kemakmuran amal usaha Muhammadiyah tertentu, untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-harinya seorang pemimpin puncak berjualan bensin literan. KH AR Fachruddin sendirilah yang sering melayani pembeli dan menuangkan bensin literan itu ketika para mahasiswa membelinya.

SAYA lahir pada 14 Februari 1916, di Clangap, Purwanggan, Yogyakarta. Ayah saya, Kiai Haji Fakhruddin, seorang lurah naib (penghulu) dari Pura Pakualaman. Meskipun demikian, tidak berarti saya akrab dengan Pura Pakualaman.

Ayah saya mungkin dianggap kiai di desa tempat kami tinggal, sehingga dijadikan penghulu di Pakualaman. Yang mengangkat ayah saya jadi penghulu bukan Paku Alam sekarang — Paku Alam VIII, Gubernur DIY — tapi kakek Paku Alam VIII. Sedang ibu, Nyai Fakhruddin binti Kyai Haji Idris, putri seorang bekas penghulu juga di Pakualaman. Dari 11 bersaudara, kalau tidak salah saya nomor tujuh. Saya lupa tepatnya nomor berapa, karena kakak dan adik saya sudah meninggal semua. Yang masih hidup tinggal saya sendiri.

Kakak saya ada yang namanya Asma. Salah satu anaknya adalah Prof.Dr. Baroroh Barried, guru besar Fakultas Sastra UGM. Jadi, Prof.Dr. Baroroh Barried itu keponakan saya. Kakak saya setelah itu ada yang namanya Wakiah, lalu Uromah. Seterusnya saya lupa.

Rumah kami terletak di selatan masjid Pakualaman. Tapi kemudian, ayah pindah ke Purwanggan. Ketika itu usia saya 7 tahun dan sekolah di Standard School Muhammadiyah, Bausasran. Setelah tidak jadi penghulu (1923-1924), usaha Ayah jatuh, sehingga beliau berdagang batik. Usaha ini pun jatuh. Lalu beliau pulang ke desa aslinya, Desa Bleberan, Kelurahan Banaran, Kecamatan Balur, yang beribu kota di Brosot, Kabupaten Kulonprogo.

Pada 1923, Kabupaten Kulonprogo — masuk wilayah Kesultanan, sedang Kabupaten Adikarto milik Pakualaman. Kabupaten Adikarto terdiri dari empat kecamatan, yaitu Balur, Panjatan, Petungan-Wates, dan Temon. Sekarang, setelah Kabupaten Kulonprogo dan Kabupaten Adikarto dijadikan satu, dengan nama Kabupaten Kulonprogo yang beribukota di Wates, keempat kecamatan tersebut menjadi satu dengan nama Kecamatan Adikarto. Karena itu, saya pindah ke SD Muhammadiyah Krenggan, Kotagede. Waktu itu, kalau tidak salah, saya kelas 3 SD.

Di Kotagede, saya ikut Mbakyu dan suami yang masih sepupu kami. Beda usia saya dengan mbakyu saya itu empat tahun (waktu dia kelas 5, saya di kelas 1 SD). Saya tamat kelas 5 SD tahun 1928. Waktu itu, SD Muhammadiyah hanya sampai kelas 5. Malah, ada anak yang kelas 4 SD sudah meneruskan ke Normal School Muhammadiyah.

Kemudian saya masuk Madrasah Mualimin Muhammadiyah Yogyakarta. Dua tahun di Mualimin, Ayah memanggil untuk pulang ke desa. “Tidak usah sekolah dulu, ngaji saja,” kata ayah waktu itu. Saya pulang dan mengaji dengan Ayah, di pondok-pondok Desa Bleberan. Meskipun asli Yogyakarta, Ayah dulu belajar di Pondok Termas, Pacitan. Waktu itu banyak orang Yogya yang mondok di Termas, seperti Kiai Badrowi.

Setelah dua tahun mengaji dengan ayah, tahun 1932 saya melanjutkan pendidikan di Sekolah Guru Darul Ulum Muhammadiyah, Sewugalur, Kulonprogo, selama tiga tahun. Kemudian, saya masuk Tabligh School Muhammadiyah, belajar sebagai mubalig (propagandis) selama setahun. Pada tahun itu juga, saya dikirim oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah (Hoofbestuur) ke Palembang sebagai guru SD Muhammadiyah Cabang Talangbalai, Tanjungraja (sekarang Ogan Komering Ilir). Di sana, saya mendirikan Mustomuallimin Muhammadiyah, yang setingkat dengan SMP.

Pada 1938, saya pindah ke Cabang Muhammadiyah Kulak Pajeh, Sekayu Musi Ilir (sekarang Kabupaten Muba, Musi Banyu Asin). Kemudian, 1941, saya pindah ke Kantor Muhammadiyah Sungai Batang, di Sungai Gerong, Palembang, mengajar di HIS (Hollandse Inlandse School) Muhammadiyah, yang setingkat dengan SD.

Saya ingat betul, pada tanggal 14 Februari 1942, Jepang menyerbu pabrik minyak Sungai Gerong. Dengan sendirinya, sekolah tempat saya mengajar tutup. Kemudian, saya pindah lagi ke Cabang Muhammadiyah Muara Mranjat, Tanjungraja, Ogan Komering Ilir. Di sana saya mengajar lagi sampai 1943.

Ketika tinggal di Karang Balai, Palembang (1938), saya sempat pulang ke Yogyakarta, untuk menghadiri Muktamar Muhammadiyah. Sampai di Yogyakarta, saya menikah dengan Siti Qomariah. Usianya ketika itu 17 tahun. Ayahnya, Kiai Abu Amar, sepupu ayah saya. Jadi, anak dengan anak, sepupu dua kali. Kami sudah kenal lama dan dijodohkan oleh orangtua. Memang masih kuno, tidak pakai masa pacaran seperti anak-anak sekarang. Dengan sendirinya, saya jatuh cinta setelah menikah. Tentu saja, setelah menikah, saya ajak dia ke Kulak Pajeh. Meskipun demikian, istri saya masih sempat meneruskan sekolah Fatayat (setingkat dengan SMP/tsanawiyah) di Yogyakarta. Fatayat adalah sekolah agama khusus putri bukan Muhammadiyah, yang didirikan orang-orang Muhammadiyah.

Tahun 1943, Wasiyah, anak pertama saya lahir di Tanjungraja, Ogan Komering Ilir. Setelah lulus SMA, Wasiyah masuk Farmasi UGM. Tapi baru dua tahun, dropout kareha aktif di Nasyiatulah Islam. Keluar dari situ, lalu cuma sekolah di tsanawiyah dan ikut ujian guru agama, dan diterima menjadi guru agama SD.

Wasiyah menikah dengan Drs. Sutrisno dari Lembaga Administrasi Negara. Sekarang, suaminya bekerja di BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal). Kemudian, anak saya itu meneruskan di IKIP Jakarta, jurusan bahasa Inggris. Mungkin nggak sesuai, sehingga tidak jadi sarjana. Tapi suaminya kan sudah sarjana. Anaknya sekarang sudah empat orang.

Anak saya nomor dua, namanya Drs. Sukrianto, lahir 1945. Ia lulusan IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, jurusan dakwah. Sekarang Sukrianto bekerja sebagai dosen di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Dari SD sampai SMA, diselesaikan di Muhammadiyah. Anak-anak saya, dari SD sampai SMA, semua di Muhammadiyah. Sukrianto punya lima anak.

Setelah itu, lahir anak nomor tiga, tahun 1948. Namanya Siti Zahana. Suaminya meninggal 4-5 tahun yang lalu. Setelah lulus dari PGA, Zahana meneruskan ke sekolah tinggi, tapi belum selesai. Sekarang Zahana, ibu tiga anak, bekerja di Peradilan Agama.

Tahun 1950, Lutfi Purnomo lahir. Ketika masih tingkat 5 IAIN Yogyakarta dan sudah lulus sarjana muda, Lutfi saya kirim ke Al-Azhar, Mesir, untuk belajar Sastra Arab, tapi gagal setelah tiga tahun di sana. Sekarang Lutfi mengajar di Al-Azhar Kelapa Gading, anaknya dua orang.

Anak kelima, Farkhana, lahir 1953. Setelah lulus Akademi Tekstil UPN Yogyakarta, ia meneruskan ke Sekolah Tinggi Industri Departemen Perindustrian sampai selesai. Sekarang Farkhana bekerja di BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal). Anaknya tiga orang.

Kemudian, lahir Fauzi, tahun 1956. Setelah lulus dari SMA Muhammadiyah Yogya, Fauzi meneruskan ke Fakultas Kedokteran UGM. Lulus dari situ, Fauzi bekerja di Tanjungraja, Palembang, selama empat tahun. Empat tahun di Tanjungraja, Fauzi kembali ke Yogya, mengambil spesialisasi anestesi. Fauzi mempunyai dua anak.

Anak saya terakhir, Wastiah, lahir 1958. Setelah lulus SMA Muhamadiyah, Wastiah melanjutkan ke Mualimat Muhamadiyah. Kemudian, kuliah di Sospol Jurusan Administrasi Negara UGM. Ia punya dua anak.

Dikatakan saya mementingkan pendidikan anak, ya begitulah. Kebetulan, anak-anak saya mau. Alhamdulillah, mudah-mudahan selesai semua. Anak-anak saya lahir kebetulan berjarak 2 sampai 3 tahun, tapi waktu itu belum ada KB. Meskipun demikian, sekarang saya mendorong KB.

MENOLAK JADI LURAH

Saya pulang lagi ke Bleberan, tahun 1944. Waktu itu zaman Jepang Penduduk desa tahu, saya pernah mengajar. Karena itu, Kepala Sekolah Darul Ulum (sekolah saya dulu) meminta saya untuk mengajar. Akhirnya, saya mengajar sambil menjadi anggota pengurus Muhammadiyah Sewugalur. Kakak tertua saya, Syaebani (Mangunsemedi, nama Jawanya), menjabat lurah (kucho) Bleberan. Sedang saya menjabat ketua RT (asacho). Ketua RT bertugas membantu lurah sebagai perjuangan, tidak apa-apa. Jabatan itu saya gunakan sewajarnya. Artinya, sebagai RT, saya turut menggerakkan kerja bakti untuk kelurahan, misalnya.

Tahun 1945, bulan Agustus, Indonesia merdeka. Saya masih di desa. Seperti lazimnya orang Indonesia, saya juga ikut bergerak, masuk menjadi anggota BKR di kecamatan. Barisan pelopor juga ada. Tahun 1946, di desa diadakan penggabungan kelurahan-kelurahan terdiri dari 200-300 kepala keluarga. Kelurahan saya termasuk besar wilayahnya, ada 1.200 kepala keluarga. Di Temon, malah hanya 100 kepala keluarga. Karena itu, desa saya tidak disatukan, hanya diganti lurahnya.

Kakak saya yang menjadi lurah memberi tahu, bagaimana kalau saya yang pegang jabatan lurah nantinya. Saya setuju saja kalau kakak-kakak yang sepuh tidak mau. Kalau kakak-kakak mau, silakan. Saya masih lebih muda walaupun usia saya waktu itu 30 tahun. Waktu pemilihan calon, saya mendapat 900 suara lebih. Jadi, sudah pasti masuk. Kakak ipar saya, Mohammad Darobi carik kelurahan, juga calon lurah, hanya dapat 600 suara.

Untuk jadi calon lurah, paling tidak harus mendapat 300 suara. Saya lumayan ngetop waktu itu. Sebab waktu jadi ketua RT (asacho), saya selalu berhubungan dengan rakyat. Orang melihat saya jujur. Artinya, saya tidak pernah korupsi. Tiap bulan saya mengadakan pengajian dengan nama pengajian rakyat. Bersama kakak saya yang lurah, tiap tahun menggerakkan zakat sampai terkumpul 4 ton yang dibagi saat paceklik. Korban juga tidak saya lewatkan. Satu desa sampai 42 ekor kambing. Saya jadi pimpinan pembagian tersebut. Dukuh-dukuh juga saya datangi. Sehari-hari, orang melihat saya jujur dan mereka bersimpati pada saya. Itu yang membuat saya meraih suara terbanyak.

Yang mau dipilih Lurah, Carik, Kamituo, Jogoboyo, dan Kabayan. Kelima jabatan ini dapat tanah bengkok. Waktu itu ada 12 calon dari 5 yang akan terpilih. Setelah semua calon masuk, diadakan pemilihan lurah yang diurutkan dari usia. Karena paling tua, kakak ipar saya yang ditanya lebih dulu, apa sanggup dan mau menjadi lurah. Beliau mengatakan mau dan sanggup dicalonkan.

Setiap calon ditanya, sampai tiba giliran saya. Saya jawab tidak mau karena kakak saya sudah bilang ya. Kalau dia bilang tidak, ya saya mau. Seperti saya katakan sebelumnya, kalau kakak saya mau, saya tidak mau. Saya masih muda, masih bisa cari pekerjaan yang lain. Waktu itu, semua orang kaget. Demikian juga dengan kakak saya yang bekas lurah. Saat pemilihan lurah, kakak ipar saya berhasil jadi lurah. Saya ditawari jadi carik. Tapi saya tolak karena carik itu harus ngantor dan tekun di kelurahan. Saya pilih jadi kamituo, wakil lurah di bidang sosial. Seperti kesra.

Kami bukan turunan lurah. Kakak tertua saya yang bekas lurah jadi lurah karena terpilih. Bapak saya hanya seorang kiai. Mungkin, anaknya juga dianggap baik. Setengah tahun kemudian, ada ujian naif dari kantor urusan agama kecamatan. Saya ceritakan itu pada kakak tertua bagaimana kalau saya ikut. Setelah kakak tahu pekerjaan naif, dia bilang ndak usah dan menyarankan untuk tetap jadi kamituo.

Tiga bulan setelah itu, ada ujian penghulu dan saya kabarkan lagi pada kakak. Setelah tahu kerja saya bila jadi penghulu, kakak mengizinkan, tapi saya harus mendapat restu dari kakak ipar saya yang sudah jadi lurah. “Kak, saya akan ikut ujian penghulu,” kata saya waktu itu. Kakak ipar saya merestui dan berharap mudah-mudahan saya diterima. Saya selalu minta restu pada kakak-kakak karena ayah sudah meninggal tahun 1931, sebelum saya ke Palembang. Ternyata, saya diterima. Kemudian, saya jadi penghulu di Adikarto (Wates). Waktu itu di Kulonprogo ada 2 kabupaten: di Adikarto, Wates, dan di Sentolo, Kulonprogo.

Saya jadi penghulu (Kepala Kantor Urusan Agama) di Wates, tahun 1947. Tidak lama kemudian saya pindah ke Kulonprogo, Sentolo, juga menjabat kepala KUA. Tiba-tiba, PKI Madiun meletus tahun 1948. Kemudian, terjadi clash dengan Belanda tahun 1949. Tentu saja, saya ikut bergerilya.

MENJADI TOKOH NASIONAL

Akhir 1949, clash dengan Belanda selesai Tahun 50, saya pindah ke kota, menjadi pegawai kantor Jawatan Agama DIY, di Kepatihan. Saya jadi orang kota, dan tinggal di Kauman. Sehingga, saya seperti anak Kauman, meskipun berasal dari desa. Semasa di Kauman, bapak-bapak pimpinan Muhammadiyah saya anggap ayah sendiri. Karena itu, segala perintah mereka, seperti memberi pengajian di kampung-kampung, saya kerjakan.

Mungkin, orang menganggap saya bisa pidato, sehingga saya sering diminta memberi ceramah. Misalnya, memberi nasihat untuk pengantin, atau memamitkan jenazah yang akan diberangkatkan saat ada kematian. Akhirnya, saya sering diutus Muhammadiyah ke ceramah di Kebumen, Pemalang, Klaten, dan cabang-cabang Muhammadiyah di dekat Yogya.

Saya jadi populer di kalangan orang Muhammadiyah. Waktu itu, yang memimpin Muhammadiyah antara lain Kiai Badawi, Kiai Sujak, dan Kiai Muslim. Kemudian, tahun 1952, saya diangkat menjadi Pimpinan Muhammadiyah Kota Madya. Sebagai Pimpinan Muhammadiyah Kota Madya, saya sering memberi ceramah di mana-mana.

Tahun 1953, saya diangkat menjadi Ketua Pimpinan Muhammadiyah DIY. Bersamaan dengan itu, saya diminta menjadi pembantu anggota PP Muhammadiyah, belum anggota PP Muhammadiyah. Tahun 1953, sesudah Muktamar Muhammadiyah di Purwokerto, Buya A.R. Sutan Mansyur yang berasal dari Sumatera Barat, Ketua PP Muhammadiyah waktu itu, tidak dapat datang ke Musyawarah Wilayah Provinsi Aceh di Banda Aceh. Buya Sutan Masyur baru saja pindah di Yogya dan sangat sibuk. Beliau lalu menunjuk anggota PP Muhammadiyah yang lain seperti Kiai Badawi. Kebetulan, bapak-bapak di PP Muhammadiyah tidak ada yang dapat mewakili karena ada pekerjaan lain yang harus diselesaikan.

Buya A.R. Sutan Mansyur lalu bertanya pada saya, bagaimana kalau saya yang berangkat. Karena hanya pembantu, dan bukan anggota PP Muhammadiyah, saya menolak. Tapi Buya A.R. Sutan Mansyur mengatakan, meskipun cuma “pembantu”, kalau ditunjuk dan diperintahkan, saya bisa saja berangkat. Dengan bismilah, saya berangkat sendiri ke Aceh. Sebelumnya, saya singgah dulu di Medan. Ternyata, K.H. Bustami Ibrahim, Pimpinan Muhammadiyah Medan yang ditunjuk Buya A.R. Sutan Mansyur untuk datang ke Aceh, juga berhalangan. Mestinya saya berdua dengan dia, karena beliau lebih tua. Akhirnya, saya benar-benar sendiri ke Aceh. Di sana banyak orang Muhammadiyah yang terkejut dengan kedatangan saya, karena belum kenal. Yang diminta A.R. Sutan Mansyur, yang datang kok A.R. Fakhrudin.

Mereka bertanya macam-macam, misalnya menanyakan riwayat hidup saya. Waktu itu usia saya 37 tahun. Saya diminta Pimpinan Muhammadiyah Aceh untuk menjadi imam saat salat magrib. Seperti dites. Saya bilang, baik, meskipun mereka sudah tua-tua. Saya pun jadi imam salat magrib. Saat salat Jumat, saya juga diminta untuk mengisi khotbahnya. “Boleh,” jawab saya. Saya kan pernah menjadi guru Muhammadiyah di Palembang. Jadi, sudah biasa menghadapi massa. Akhirnya, saya diterima di Musyawarah itu, atas nama PP Muhammadiyah.

Jadi, sejak 1953, boleh dikatakan saya mulai diindonesiakan, tidak hanya diyogyakan. Saya mulai kelihatan di keluarga Muhammadiyah Indonesia karena sering diutus ke seluruh Indonesia, seperti ke Kalimantan atau Padang.

KETUA PP MUHAMMADIYAH

Tahun 1956, ketika Muktamar Muhammadiyah ke-33 di Palembang, saya sudah menjadi anggota PP Muhammadiyah, meskipun cuma wakil ketua. Tahun 1959, pada Muktamar Muhammadiyah ke-34 di Yogya, saya masih sebagai wakil ketua PP Muhammadiyah. Demikian juga tahun 1962, ketika Muktamar ke-35 (setengah abad Muhammadiyah) di Jakarta dan Muktamar ke36 di Bandung, tahun 1965.

Seperti biasanya, Ketua PP Muhammadiyah dipilih saat muktamar. Demikian juga dengan Muktamar ke-37 di Yogyakarta, tahun 1968. Pada pemilihan calon ketua, saya mendapat suara terbanyak. Meskipun demikian, yang terpilih sebagai ketua PP Muhammadiyah dari sembilan calon adalah K.H. Faqih Usman dari Surabaya. Dua hari setelah muktamar, kami delapan orang, selain K.H. Faqih Usman, berangkat ke Jakarta untuk musyawarah. K.H. Faqih Usman juga ada di Jakarta. Secara fisik, K.H. Faqih Usman sehat-sehat saja, bisa jalan-jalan, meskipun suaranya tidak keluar. Beliau sudah menulis pesan yang berbunyi, “Saya akan berobat ke Belanda atas biaya Menteri Sosial, Saudara S. Mintarja, S.H. Selama berobat, PP Muhammadiyah sehari-hari untuk Yogyakarta saya percayakan pada Saudara A.R. Fakhrudin dan Saudara H.M. Jindar Tamimi. Untuk Jakarta, saya percayakan pada Prof Dr. H. Rosyidi dan Prof Dr. Hamka.”

Beliau menulis surat tersebut di rumahnya, Jakarta. Ketika mulai sidang, tiba-tiba ada telepon dari Jalan Subang~ rumah K.H. Faqih Usman, yang memberitahukan bahwa K.H. Faqih Usman meninggal dunia. Sorenya, Buya Hamka yang datang bersama dr. Koesnadi (anggota PP Muhammadiyah di Jakarta), pendiri RS Islam Jakarta, mengatakan ada nasihat Buya A.R. Sutan Mansur, penasihat PP Muhammadiyah. Buya Sutan Mansyur mengatakan, “Yang meninggal bukan Faqih Usman pribadi, tapi Faqih Usman Ketua PP Muhammadiyah, imamnya orang Muhammadiyah seluruh Indonesia.” Karena itu, Buya Sutan Mansyur menyarankan, K.H. Faqih Usman jangan dikubur sebelum ada gantinya. Kemudian, Buya Hamka mengatakan, “Begini saja, ini sudah ada surat, kita anggap saja surat ini sebagai wasiat. ” Dulu, surat tersebut memang bukan wasiat. “Karena itu,” demikian tutur Buya Hamka, “pengganti Faqih Usman, adalah Saudara A.R. Fakhrudin.” Saat itu, tanpa dimusyawarahkan, semua menyetujui. Sehingga saya menjadi pejabat Ketua PP Muhammadiyah tahun 1968.

Dalam sidang Tanwir Muhammadiyah, 1969, di Ponorogo (sidang pimpinan-pimpinan Muhammadiyah seluruh Indonesia), saya ditetapkan sebagai Ketua PP Muhammadiyah. Tahun 1971, ketika Muktamar di Ujungpandang, saya terpilih lagi sebagai ketua PP Muhammadiyah. Tahun 1974, saat Muktamar di Padang, saya masih terpilih sebagai Ketua PP Muhammadiyah, demikian juga pada Muktamar tahun 1978, di Surabaya, dan tahun 1985 di Solo.

Muktamar Desember 1990, saya minta tidak dipilih lagi. Saya sudah tua, ganti yang lain saja yang masih muda. Selain itu, saya sudah 22 tahun menjadi ketua PP Muhammadiyah. Padahal, K.H. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, hanya 11 tahun, dari 1912 sampai 1923. Kiai Ibrahim memimpin dari 1923 sampai 1933. Kemudian, Kiai Hisyam dari 1933 sampai 1937, diteruskan Kiai Mas Mansyur dari 1937 sampai 1942 . Ki Bagus Hadikusumo memimpin dari 1942 sampai 1953. Tahun 1953, pimpinan Muhammadiyah diteruskan oleh Buya A.R. Sutan Mansyur sampai 1959. Setelah itu, K.H. Yunus Anis dari 1959 sampai 1962, diteruskan Kiai Badawi sampai 1968. Kemudian, saya menggatikan K.H. Faqih Usman yang meninggal dunia tahun 1968.

Saya sudah paling lama menjadi Ketua PP Muhammadiyah, karena itu saya minta tidak usah dipilih lagi. Saya tidak akan terpilih lagi karena sudah tidak masuk calon. Terus terang, saya sama sekali tidak menyangka, mengapa saya yang ditetapkan menjabat Ketua PP Muhammadiyah waktu itu. Waktu itu, usia saya 42 tahun. Ilmu agama saya tidak seberapa, apalagi saya hanya lulusan tsanawiyah. Jadi, saya merasa belum pantas memimpin Muhammadiyah. Buat saya, itu tanggung jawab yang sangat besar, bukan kepada Muhammadiyah, tapi kepada Allah. Saya sampai syok dan mengalami stres. Tapi bapak-bapak yang lain mencoba menggembirakan hati saya.

Sampai 1971, setelah Muktamar di Ujungpandang, saya masih stres. Waktu itu saya sudah menempati rumah yang sekarang saya tempati (Jalan Cik Ditiro). Pernah, malam hari, saat mengimami salat keluarga dan enam orang anak kos kami di musala rumah, Al Fatihah yang saya baca putus-putus. Saya merasa hampir meninggal dan berpikir, apa perlu saya beri tahu mereka kalau saya sudah hampir meninggal. Kalau tidak saya beri tahu, alangkah terkejutnya mereka. Tapi kalau saya beri tahu, tentu tambah pingsan Akibatnya, salat saya tidak selesai, biasanya kultum, itu tidak. Saya hanya mondar-mandir.  Saya bilang pada istri saya kalau saya tidak apa-apa. Dia lalu mengajak jalan-jalan keluar Sampai di depan rumah, saya diajak naik becak, kemudian saya minta ke rumah Pak Jindar, kemenakan saya, di Kauman. Belum sampai di sana, tiba-tiba saya ingin kembali saja dan mampir di PKU Muhammadiyah. Barangkali masih ada dokter, jadi bisa tanya saya sakit apa. Belum sampai di PKU, pikiran saya berubah lagi. Kami kembali ke rumah. Saya pun pernah istirahat di rumah mbakyu saya, di Desa Srandakan.

SELALU OPTIMIS

Selama jadi pimpinan, saya berpendirian, ~memang betul saya ketua pimpinan, tapi bukan ketua yang wardeh (penuh), karena saya merasa bukan orang yang tepat. Saya menjalankan pimpinan secara kolegial. Tidak pernah saya mengganggap saya sendiri. Segala sesuatunya selalu saya musyawarahkan, sampai perkara sekecil apa pun, insya Allah selesai. Sehingga saya tidak pernah merasa sendiri bila ada persoalan. Saya juga selalu optimistis, tidak pernah pesimistis. Bila orang bilang tidak bisa, saya bilang insya Allah selesai.

Pernah, saat saya berkunjung ke Tuban, datang dua orang pengurus cabang Muhammadiyah di Rengel, Tuban, melapor, cabangnya macet total. Pengurusnya tinggal tiga orang, yang seorang tinggal di rumah. Pengurus lainnya takut. Mereka juga bertanya bagaimana mengatasinya. Setelah tahu letak daerah Rengel dan bisa dijangkau dengan kendaraan, saya memutuskan ke sana esok harinya, setelah salat subuh. Sampai di sana, kawan-kawan PP Muhammadiyah di situ saya minta datang, termasuk kiainya. Datang-datang, sang kiai langsung bilang kalau ia sudah masuk GUPPI (gugus pendidikan milik Golkar). Saya bilang, tidak apa-apa, asal kiai tetap mengajar mengaji. Setelah saya tanya, ternyata mereka tidak takut lagi menjadi pengurus Muhammadiyah. Kemudian saya minta mereka dengan bismilah, datang ke pejabat paling tinggi di Rengel (wedono) dan mengatakan bahwa saya, sebagai PP Muhammadiyah, ingin bersilaturahmi. Jangan pesimistis, kata saya waktu itu. Mohon pada Allah, insya Allah Pak Wedono akan menerima.

Ternyata, Wedono bersedia menerima jam delapan. Satu jam sebelum itu, saya mencari tahu apa dan siapa Wedono itu. Saya jadi tahu kalau Wedono baru saja jatuh dari sepeda motor dan saat itu sudah agak membaik. Kemudian saya ke sana dengan para pengurus. Saya tanya kabarnya, termasuk keadaannya setelah jatuh dari motor, apa sudah dipijatkan. Saya juga tanya bagaimana Muhammadiyah di Rengel. Dijawab Wedono, baik. Waktu itu Rengel baru terserang muntaber. Poliklinik Muhammadiyah ternyata sangat membantu masyarakat di sama. “Mbok dibesarkan,” pinta wedono. Kawan-kawan Muhammadiyah memang bermaksud membesarkan, hanya, butuh bantuan Pak Wedono, jawab saya. Pak Wedono ternyata bersedia membantu. Semuanya lancar dan selesai.

Jadi, saya selalu optimistis, menyerahkan semua pada Allah, karena ini pekerjaan untuk Allah. Segala pekerjaan saya musyawarahkan. Rakyat di desa juga selalu saya datangi dan saya perhatikan. Saya merasa tetap orang kecil meskipun saya ketua PP Muhammadiyah. Sehingga, Buya Hamka pernah seperti memuji saya, Pak A.R. kalau pidato enak sekali. “Maksud Pak Hamka?” tanya saya. Kemudian Buya Hamka menjelaskan, saya tidak pernah ngotot bila pidato. Waktu itu, saya pidato di depan gubernur dan orang banyak. Saya katakan, Muhammadiyah tidak pernah punya maksud dan tujuan tertentu. Muhammadiyah hanya ingin agar orang Islam Indonesia kembali kepada Quran dan hadis. Bapak-bapak silakan mau jadi bupati atau gubernur. Kami tidak akan merongrong.

“Suara Pak A.R. ringan sekali, sehingga mereka tidak tersinggung atau termusuhi. Boleh dikatakan, ini salah satu kepandaian Pak A.R. kata Buya Hamka lagi. “Ah, jangan gitu,” kata saya waktu itu. Muhammadiyah memang tidak punya maksud apa-apa. Kalau bupati dan gubernur membantu Muhammadiyah, kan semuanya akan lancar. Pernah pula saya dan pengurus Muhammadiyah yang lain, seperti Pak Rosyidi dan Hamka, syawalan dengan Presiden Soeharto. Sebagai ketua, saya duduk dekat Pak Harto. Kami saling menanyakan kabar dan kesehatan masing-masing. Pak Rosyidi bilang, kok saya asyik dan intim sekali dengan Pak Harto. Saya jawab, apa perlunya tidak intim. Sehingga, kami banyak bicara keadaan sehari-hari dan saling mendoakan.

Saya kan tidak dengki, tidak punya maksud tertentu atau minta-minta. Seandainya minta, bukan untuk saya pribadi, tapi untuk Muhammadiyah. Karena itu, sering saya katakan pada Muhammadiyah di wilayah-wilayah, “Mari, kita bantu pemerintah Pancasila, pemerintah kita sekarang” Kalau salah, kita betulkan dengan cara yang baik. Jangan memaki-maki. Apa to perlunya mengatakan pemerintah kita kafir atau lainnya. Mereka kan juga muslim. Apabila muslim mereka belum sempurna, mari kita sempurnakan, tapi tidak kita maki-maki. Kalau kita maki-maki pemerintah kita, itu kan menguntungkan pihak ketiga. Pemerintah akan merasa tidak mendapat dukungan dari umat Islam.

Pada pemerintah, apalagi pemerintah Orde Baru, kita jangan menjilat, mereka tidak mau dijilat kok. Tidak usah menjilat atau memuji-muji yang tidak perlu. Tapi juga jangan konfrontatif, yang wajar saja. Karena itu, selama saya jadi ketua, bila ke Kalimantan atau daerah yang lain, selalu saya katakan pada Muhammadiyah Wilayah untuk mencari waktu dan silaturahmi dengan gubernur, bupati, atau camat. Saya juga selalu silaturahmi dengan camat bila berkunjung ke kecamatan. Saya terima kasih sekali pada pak camat dan menitipkan Muhammadiyah di wilayahnya. Kalau kurang baik, tolong dibaikkan, kalau keliru, dibetulkan dan diberi petunjuk. Setelah saya tinggal, tidak terjadi apa-apa atau timbul permusuhan.

Pernah pula saya dilapori pimpinan wilayah Muhammadiyah Pontianak, bahwa musyawarah yang sedang berjalan disetop laksus. Kebetulan saya ada di sana menghadiri teman yang sedang mantu. Sebagai ketua, saya urus musyawarah yang disetop itu, meskipun tidak diperbolehkan pimpinan wilayah. Ternyata, mereka takut digencet bila saya pulang. Saya bilang, kita ndak boleh suudzon. Lalu saya cari tahu siapa Pangdamnya. Kebetulan dari Jawa Timur, kalau tidak salah, namanya Pak Seno, dari RPKAD dan sudah lama tinggal di Pontianak. Dengan mengucap assalamualaikum, saya datangi beliau. Lalu kami bicara dengan bahasa Jawa. Saya dan pimpinan wilayah minta maaf karena bikin repot. Dulu, pimpinan wilayah sudah menghadap, tapi Pangdam sibuk. Waktu itu Pangdam memang sedang sibuk, malah akan ke Medan, karena dipanggil Pangkowilhan. Saya tanya bagaimana musyawarah Muhammadiyah yang disetop. Kata Pangdam tidak apa-apa dan boleh diteruskan. Saya juga diperbolehkan memberi kultum di masjid-masjid di Pontianak. Malah, Pangdam mengizinkan saya mengadakan pengajian di Muhammadiyah cabang Sintan dan Sambas tanpa surat izin, tapi langsung diteleks beliau. Itu setelah beliau tahu, Muhammadiyah hanya silaturahmi dan pengajian.

Sampai di Jakarta, Buya A.R. Sutan Mansyur menanyakan musyawarah yang disetop tersebut. Saya katakan, semuanya sudah selesai dan berjalan lancar. “Mestinya ndak usah diselesaikan, bakar saja, kalau diselesaikan begitu, mereka takut,” kata Buya Sutan Mansyur waktu itu. “Nggak apa-apa kok, Pak, hanya persoalan kecil,” jawab saya. Gayanya lain. Saya tidak begitu. Kejadian seperti itu bukan hanya di Pontianak. Saya pernah memberi tahu Pak Widodo, Pangdam Bukit Barisan, bahwa di Sum-Bar, boleh dikatakan bahwa umat Islam itu Muhammadiyah. Dulu memang Masyumi, setelah peristiwa PRRI, mereka menjadi Muhammadiyah. Saya sarankan, silakan Pak Widodo salat Jumat ke masjid. Di masjid, tak perlu pidato. Datang mengucapkan salam, salat sunat, selesai salat Jumat, pulang dengan assalamualaikum. Insya Allah, umat Sum-Bar akan simpati. Sampai-sampai, seorang pimpinan Masyumi yang paling radikal datang ke Pak Widodo dan berkata, “Baru kali ini kami di Sum-Bar bertemu dengan Pangdam yang bisa sambung dengan rakyat.” Sehingga, ketika Pak Widodo sakit di Kauman, banyak dijenguk orang.

MENERIMA ASAS TUNGGAL

Tahun 1971, Wali Kota Yogya, Soedjono AJ., sebagai utusan pemerintah pusat datang kepada saya. Saya diminta menjadi anggota DPR pusat. Saya tidak tanya dari fraksi mana, sudah jelas karena yang minta pemerintah. Saya katakan, saya baru saja ditetapkan sebagai Ketua PP Muhammadiyah. Kalau saya tinggalkan hanya karena jadi anggota DPR, bagaimana dengan umat saya. Saya kan bisa disangka meninggalkan umat hanya karena di DPR ada uangnya.

Satu bulan setelah itu, Soedjono AJ. datang lagi, meminta saya untuk jadi anggota MPR, karena MPR tidak sering bersidang. Saya katakan, kalau saya sambi-sambi, Muhammadiyah jadi tidak baik. Tolong sampaikan pada pemerintah pusat, saya berterima kasih atas kepercayaan yang diberikan. Tapi saya mohon maaf tidak bisa menerima. Saya katakan juga, saya baru memimpin Muhammadiyah. Negara dan pemerintah ini juga milik kami. Sudah banyak korban orang Muhammadiyah untuk negara dan pemerintah. Insya Allah, selama saya memimpin Muhammadiyah, saya tidak akan berbuat yang tidak baik. Saya akan turut menjaga negara dan pemerintah ini. Tolong, sampaikan ini pada pemerintah pusat.

Sejak itu, saya tak pernah ditanya lagi. Kemudian, tahun 1988, saya dijadikan anggota DPA dan dilantik 14 Agustus 1988. Pokoknya, saya tidak menjilat. Maksudnya, kalau pemerintah salah, kita harus mengingatkan. Caranya, langsung bertemu dengan baik-baik, bukan dengan cara yang tidak baik seperti demonstrasi.

Alhamdulillah, saya selalu bertemu dengan pejabat bila sedang berkunjung ke daerah. Tantangan Muhammadiyah ketika menerima asas tunggal Pancasila, begini ceritanya. Suatu hari, saya lupa tanggal dan tahunnya, melalui radio, saya dengar Pak Harto mengatakan bahwa semua kekuatan sosial politik harus menerima asas Pancasila. Dalam hati saya, waduh apa maksudnya ini. Sampai-sampai saya memanggil anggota-anggota PP Muhammadiyah yang ada di Yogya. Mereka temyata juga dengar bahwa semua kekuatan sosial dan politik termasuk organisasi kemasyarakatan harus berasas Pancasila. Lalu, bagaimana dengan kita sebagai muslim?

Waktu itu, bapak-bapak yang lain bilang, negara kita kan negara hukum. Jadi, tidak usah gelisah lebih dulu. Kalau memang itu akan jadi undang-undang, akan dibicarakan lebih lanjut. Sebelumnya, kita diam saja. Setelah itu saya tenang-tenang saja. Kemudian, ketika pelantikan anggota DPR’MPR yang sekarang ini (1983), Pak Harto mengatakan, maksud asas Pancasila adalah asas bernegara, bermasyarakat, dan berpolitik. Mendengar itu, saya tenang, kalau begitu kan ndak ada apa-apanya.

Bagaimanapun juga, Muhammadiyah bisa berasas Pancasila dalam bermasyarakat, bemegara, dan berpolitik. Umpamanya, orang Islam Malaysia, dari segi Islam, boleh menjadi anggota Muhammadiyah. Dari segi bernegara, tidak boleh. Artinya, di sini kita cuma dibatasi. Sehingga, Muktamar Muhammadiyah di Solo, yang mestinya tahun 1981, mundur. Pertama, karena ada pemilu dan pelantikan presiden. Tahun 1984, saya menghadap Pak Harto, mengharap beliau membuka muktamar di Solo. Pak Harto bilang, insya Allah bisa, asal Muhammadiyah menerima asas Pancasila. Saya tidak mengatakan ya atau tidak. Kemudian kami bicara-bicara, akhirnya saya bilang kalau Pancasila seperti itu ya tidak ada apa-apa. Pak Harto sampai mengatakan, “Pak A.R., saya ini muslim, lho. Tapi, karena negara Indonesia berdasar Pancasila, walaupun saya muslim, sebagai presiden saya penuhi garis-garis Pancasila. Artinya, tidak pure Islam.” “Ya, Pak, tidak apa-apa,” kata saya.

Saya juga bicara dengan pemerintah lainnya, dalam hal ini Menteri Agama Munawir Sjadzali. Seperti yang dikatakan Pak Harto, Pak Munawir juga jelas mengatakan, asas Pancasila adalah asas berpolitik, bermasyarakat, dan bernegara. Dan Muhammadiyah menerima asas Pancasila, dalam berpolitik bernegara, dan bermasyarakat Tapi kalau Muhammadiyah disuruh berasas Pancasila, ya tidak bisa. Muhammadiyah itu dasarnya Islam. Artinya, Muhammadiyah tidak berasas Pancasila. Betul Muhammadiyah berasas Pancalisa, tapi dalam berpolitik, bemegara, dan bermasyarakat, bukan dalam ber-Muhamadiyah.

Pertemuan seperti itu sampai berkali-kali. Kami diundang datang ke Jakarta, kadang Menteri Munawir datang ke Yogya dan kami diundang untuk bicara-bicara. Lama prosesnya, sehingga muktamar yang mestinya tahun 1981 jadi 1985. Setelah itu, Pak Munawir bilang, “Sesungguhnya, saya bermaksud menjadikan Muhammadiyah sebagai pelopor.” Tidak jadi pelopor yang tidak apa-apa. Artinya, yang lebih dulu menerima kan NU. Kita alotnya di situ.

Begitu di muktamar dikatakan asas Muhammadiyah adalah Pancasila, banyak orang Muhammadiyah yang menyatakan keluar dari Muhammadiyah. Kepada yang masih mau mendengarkan, saya jelaskan, asas Pancasila diletakkan bukan untuk mengasasi Muhammadiyah. Muhammadiyah tetap berdasar Islam. Saya sampai mengambil perumpamaan. Begini, sebagai muslim hendak ke masjid untuk salat Jumat mengendarai sepeda motor. Negara RI mewajibkan orang yang naik sepeda motor lewat jalur helm harus pakai helm. Karena lewat jalur helm, saya gunakan helm. Helm tersebut tidak mengubah Islam saya. Niat saya salat Jumat ikhlas dan untuk mencari ridho Allah. Anggap saja asas Pancasila sebagai helm. Sehingga, Pancasila diterima di muktamar.

Saya jelaskan pula bahwa Muhammadiyah tetap bertauhid. Lailaha illallah. Kalau tauhid berubah, semua tidak ada artinya. Soal libur puasa, itu tidak prinsip buat orang Islam. Bukan suatu akidah. Apa kalau puasa harus libur semua. Kan tidak. Semua pekerjaan berjalan wajar. Kalau waktu itu Muhammadiyah menuntut libur, karena sejak zaman Belanda selalu libur. Alangkah lebih baik bila diteruskan. Tapi pemerintah tetap tidak bisa. Jadi, anak SD tetap diliburkan, hanya saja diberi kegiatan yang baik, sehingga tampaknya seperti tidak libur. Maklum, sulit menyuruh anak SD puasa sambil sekolah. Yang besar tidak apa-apa, sebab mereka kuat puasa sambil kuliah.

Saat itu tidak ada dialog dengan Daoed Joesoef sebagai Menteri Pendidikan. Sampai ada masyarakat yang mengatakan ada sekolah Muhammadiyah yang dicabut subsidinya, karena libur puasa. Itu tidak benar, tidak ada.

VERTIGO

Saya terkena vertigo, 21 Agustus 1988. Malam, jam setengah sebelas, saya sedang memimpin sidang pleno pimpinan pusat Muhammadiyah. Tiba-tiba kepala saya merasa ser. Saya terkejut dan menutup mata, lalu saya buka sedikit-sedikit. Ternyata tidak apa-apa. Dalam hati saya bertanya-tanya, ada apa ini. Selesai sidang jam 11, saya langsung ke PKU, minta ditensi. Dokter PKU terkejut melihat tensi saya agak tinggi, 220/ 120. Saya tidak diperkenankan pulang dan harus istirahat di PKU. Baik, kata saya, tapi keluarga saya diberi tahu lewat telepon.

Dua malam di PKU, tidak terjadi apa-apa. Malam itu jam 2, setelah dari kamar kecil, saya berbaring. Belum sampai lima menit, saya sangat pusing dan penglihatan saya berputar. Saya ingin muntah meskipun tidak sampai muntah. Saya juga sudah dipijat. Istri saya pun sudah memanggil dokter. Esoknya, saya dipindah ke ruang ICU, supaya bisa istirahat dan tidak banyak yang menengok. Sehingga, orang lain menganggap gawat, tapi saya tidak merasa apa-apa. Tensi saya sudah normal.

Hampir dua bulan di sana, saya minta tinggal di rumah saja sambil berobat jalan. Dokter mengizinkan. Saya keluar dari PKU, 30 September 1988. Ketika akan pulang, saya tidak bisa jalan, sehingga harus dibantu kursi roda. Saya bilang dokter, saya masuk ke PKU dalam keadaan sehat dan utuh. Keluar dari PKU malah pandangan saya goyang-goyang. Dokter bilang, tensi yang naik biasanya menyebabkan lumpuh. Seharusnya saya bersyukur tidak lumpuh.

Saya berterima kasih sekali dan pulang. Di rumah, saya terima telepon dari RS Gatot Soebroto Jakarta. Sebagai anggota DPA, saya diminta check up di sana, semua biaya ditanggung rumah sakit. Saya ke sana untuk check up. Sampai Desember, saya berobat jalan. Di samping itu, saya juga dirawat di RS Islam Jakarta.

Desember 1989, keadaan saya masih belum baik. Karena itu, RS Islam Jakarta menawarkan saya untuk mengecek penyakit saya di Sydney, Australia, dengan biaya mereka. Kemudian, pada Selasa, 12 Desember 1989, jam 7 malam, saya diantar ke Sydney oleh seorang dokter dari RS Islam dan anak saya yang jadi dokter, kalau-kalau saya dioperasi. Rabu pagi, kami sampai di sana dan istirahat sehari. Sesuai dengan perjanjian, saya diperiksa Kamis, jam 4 sore waktu Sydney. Saraf saya diperiksa. Esoknya, otak saya di-scanning. Hari itu juga, profesor yang memeriksa mengatakan otak saya masih baik. Tidak ada kanker atau tumor, hanya pengapuran. Mereka tidak mau mengoperasi karena saya sudah tua. Sabtu, saya cari tiket untuk pulang pada hari Ahad. Saya hanya diberi obat.

Sekarang ini, obat yang saya minum dari RS Pertamina. Sampai sekarang saya masih berobat Sukar saya katakan kesehatan saya sudah baik. Fisik saya yang lain baik dan sehat. Tensi saya sekarang sekitar 150-160 dan 80. Anak saya yang dokter sering mengukurnya. Bila tinggi sedikit, saya disarankan untuk istirahat, sehingga pengajian di Semarang atau Temanggung terpaksa saya batalkan.

Dulu, kegiatan saya sehari-hari sebagai Ketua PP Muhamadiyah. Tapi masih ada kegiatan saya yang lain. Sejak tahun 1988, saya banyak istirahat karena sakit vertigo. Saya memang merokok sejak 1935, tapi bukan perokok. Meskipun demikian, saya tidak fanatik dengan rokok merek tertentu. Kadang Marlboro, Gudang Garam kretek, atau rokok putih. Satu pak rokok saya habiskan dalam 3 sampai 4 hari.

Saya juga dibebaskan untuk tidak datang ke PP Muhammadiyah. Kadang-kadang, ada telepon dari kantor PP Muhammadiyah, ada surat-surat yang harus saya tanda tangani. Hari-hari tertentu, saya dan Pak H. Mukhlas Abror, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DIY, datang ke RRI untuk rekaman kuliah subuh untuk empat kali siaran. Sekali siaran, memakan waktu 15 menit

Di harian Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta, saya mengisi Mbrik “Pak AR menjawab” setiap Kamis. Wartawan Kedaulatan Rakyat datang ke rumah saya, menyampaikan pertanyaan pembaca, kemudian, saya menjawabnya untuk ditulis kemudian. Sedang di TVRI Yogyakarta, saya hanya sekali-sekali mengisi acaranya pada malam Jumat.

SURAT UNTUK PAUS

Ketika dirawat di R.S. Gatot Soebroto, saya dengar Paus akan datang sebagai tamu negara. Saya memang sedang istrirahat, tapi pikiran saya tidak. Saya mendengar bahwa saudara-saudara dari kaum Kristen dan Katolik banyak yang menjalankan pengkristenan kepada umat Islam melalui pemberian materi. Di Yogya, ada pasangan tunanetra yang kesulitan membayar biaya bersalin ratusan ribu di RS Bethesda, Yogyakarta. Yang laki-laki, asal Sulawesi, kuliah di Institut Masjid Syuhada. Saya tidak tahu mereka cari uang ke mana, karena ternyata tidak ada yang membantu. Seandainya mereka ke tempat saya, tentu saya carikan jalan. RS Bethesda mengatakan, kalau mau gampang, Saudara masuk Kristen, biaya akan dibebaskan. Dengan pikiran akan bebas dari impitan utang, tunanetra masuk Kristen. Karena itu, saya tulis surat kepada Paus. Cara-cara seperti ini yang saya adukan kepada Paus. Tentu Sri Paus tidak suka cara seperti itu. Di Indonesia sudah diatur cara yang baik dalam kerukunan hidup beragama. Ringkasnya, semua hal yang baik saya sebutkan.

Surat tersebut saya tulis dalam bahasa Jawa halus. Paus itu kan pimpinan umat Katolik seluruh dunia, saya berpikir, jangan-jangan dia sudah bisa bahasa Jawa. Surat itu saya namakan “Sugeng Rawuh Sugeng Kondur”. Saya yakin, surat tersebut akan sampai kepada beliau. Sebenarnya, surat tersebut akan saya cetak agak banyak. Tapi akhirnya hanya 2.000, termasuk yang disebarkan pada saudara-saudara kita yang Katolik. Percetakannya tidak berani menulis, di mana surat tersebut dicetak. Tanggapan yang datang macam-macam.

Saya ditelepon Korem apa betul saya yang menulis sendiri surat untuk Paus dan apa maksudnya. Setelah saya jelaskan tidak ada maksud apa-apa, semuanya beres. Tapi di luar, tersebar cerita saya ditangkap Korem. Ada juga orang Katolik yang bilang, Pak A.R. itu orang baik, kok nulis surat begitu. Sekarang Pak A.R. ditahan. Mereka lalu mengadakan misa, memohon pada Tuhan, agar saya lekas dikeluarkan. Tapi tidak terjadi apa-apa. Sri Paus sendiri tidak memberi tanggapan. Entah disampaikan atau tidak.

Lama setelah Paus pulang, saya dengar dari orang Timor Timur, Paus berterima kasih dengan surat saya. Di surat itu, saya beri gambar saya dan gambar Paus. Menurut saya, hendak memancing kerukunan hidup beragama. Memang ada sekitar tiga orang Katolik yang menanggapi lewat surat kaleng. Mereka berkata macam-macam pada saya. Tapi saya biarkan saja. Ada pula surat kabar yang menanggapi, seperti Media Dakwah dan Salam.

 

‘nBASIS ingin menambahkan beberapa terhadap posting ini:

Ulama Jualan Bensin

KH AR Facgruddin

Abdul Rozak Fachruddin

Abdul Rozak Fachruddin

Para Pemimpin Muhammadiyah

Mencari Figur Pemimpin Muhammadiyah

 

Advertisements

2 Comments

  1. nirwan says:

    sejarah muhammadiyah.

  2. […] ustadz tersebut ialah AR.Fachruddin, mengajar di sebuah daerah yang bernama Ulak Paceh.[1] Jarak antara rumah dan sekolah tempat dia mengajar ialah tidak berdekatan. Apabila hendak pergi […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: