'nBASIS

Home » ARTIKEL » SIREGAR: PARTANGGA NA SABOLAS

SIREGAR: PARTANGGA NA SABOLAS

AKSES

  • 512,201 KALI

ARSIP


Indonesia raya tidak berhenti di tangan para pendiri dan pewaris revolusi, apalagi TB Silalahi. Tetapi perut yang lapar mestinyalah dihitung lebih cermat agar gendang bisa berbunyi lebih panjang dan nyaring. Dengan begitulah Indonesia Raya tidak menjadi noktah yang buruk dalam peta dunia. Tetapi catatlah, doktrin partangga na sabolas tak mungkin diabaikan oleh siapapun yang ingin beroleh marga Siregar

Saat tersiar berita (Selasa sore kemaren) bahwa SBY telah dianugerahkan marga Siregar, sebuah kelompok informal Siregar yang berdomisili di Medan dan yang selama ini kerap berdiskusi, kali ini melakukan pertemuan mendadak. Sebagaimana diketahui bahwa untuk pemberian gelar Patuan Sori Mulia Raja (Mandailing, bukan Angkola) kepada SBY sampai saat ini tidak ada kontroversi pemberitaan. Sedangkan untuk penabalan marga Siregar telah dibantah oleh orang istana Julian Pasha.

Siregar itu terdiri dari 4 (empat) bersaudara, yaitu Silo, Dongoran, Silali/Ritonga dan Siagian. Secara kategoris dalam keseluruhan marga Batak, Siregar termasuk dalam salah satu komponen yang disebut Lontung. Di dalamnya tergabunglah beberapa marga besar lain, di antaranya Simatupang, Aritonang dan juga Sinaga. Di sana ada 7 marga induk. Tetapi ada 2 marga dari pihak ipar (Sihombing dan Simamora) yang dalam santun ala Lontung harus disebut seolah segaris keturunan berdasarkan pola patriarchat.

Fifty-Fifty

Diskusi memandang amat perlu mendapatkan informasi yang benar-benar sahih tentang khabar dianugerahkannya marga Siregar kepada SBY dan mengapa kemudian dibatalkan. Masing-masing peserta pertemuan memang sudah memiliki pandangan dan pendirian yang secara garis besarnya boleh disebut tak menolak dan tak menerima. Ya, begitulah. Jika benar SBY telah dianugerahi marga Siregar, maka amat pantas mempertanyakan pihak mana atau Siregar mana yang melakukan itu dan prosedur apa yang sudah dilaluinya untuk tiba pada upacara sakral tersebut.

Selama ini ada beberapa pengelompokan dalam marga Siregar. Pengelompokan paling tua mungkin ialah Patogar yang merupakan singkatan dari Parsadaan Toga  Siregar. Solidaritas patembayan (gemeinshaft) lah yang dipupuk di sini dan boleh dipastikan bahwa nyaris tak akan tersahuti kepentingan-kepentingan politik praktis. Untuk sementara di tengah minimnya informasi, oleh pertemuan diasumsikan bukan kelompok ini yang menjadi pemrakarsa pemberian marga kepada SBY. Bukan kelompok ini yang menjadi contact person bagi TB Silalahi yang tampaknya amat bertanggungjawab atas kehadiran SBY di Balige sekaitan peresmian Museum Batak itu. Gerakan politik seperti ini bukan watak Patogar, itulah kesimpulannya.

Kelompok lain ialah Siregar Se-Dunia. Kelompok ini sedikit agak dinamis memang, dan amat mudah ditandai dengan semangat progresivitasnya hingga terkesan pragmatis dan dengan orientasi kuat kepada gerakan-gerakan pemajuan dalam berbagai bidang. Ini paling tidak jika ditilik dari wacana yang selalu diusung. Ada juga Persatuan Siregar Indonesia. Kelahirannya seolah menjadi balasan (antipoda) bagi organisasi Siregar Sedunia. Aroma rivalitas terkesan kuat memang. Tetapi ini, paling tidak untuk saat ini, masih lebih bersifat lokal Sumatera Utara. Sedangkan organisasi Siregar Sedunia itu lebih berakar di perantauan Jakarta dan sekitarnya.

Orientasi Nilai

Jika seseorang akan diberi marga Siregar, maka semestinya ia tahu serba sedikit tentang Siregar itu sendiri. Misalnya ia dibekali pengetahuan untuk bisa memilih akan diberi Siregar Silo, Dongoran, Ritonga atau Siagian. Dengan mempelajari serba sedikit marga ini tentu ia akan tahu karakter, dan penerimaan psikologisnya akan mengikatnya secara batin yang kelak akan diikuti dengan perilaku-perilaku yang sesuai. Bahwa di antara kelompok Siregar itu ada perbedaan karakteristik dan perwatakan memang tidak dapat dipungkiri. Maka jika ini sebuah pilihan, maka seseorang yang akan menerima penganugerahan itu maunya pilih yang mana?

Selain itu patut ia pelajari kecenderungan-kecenderungan kuat yang dapat disebut menjadi sifat umum Siregar. Nah, dalam konteks ini muncul paparan dengan simpul wacana Siregar Partangga Na Sabolas (Siregar dengan anak tangga 11). Bagi Dharma Indra Siregar, salah seorang sesepuh yang memberi penjelasan tentang filosofi ini, Siregar itu memiliki karakteristik partangga na sabolas yang dapat diringkas dalam pepatah:

Pantun hangoluan (1), teas (tois) hamatean (2), marbou (hou) laho tu tapian (3), ehem laho tu jabu (4), batuk laho tu sopo (5), pahae simanggurak (6), pahulu sitimpulon (7), tampak na do rantos na (8), rim ni tahi do na gogo (rim ni tahi do gogo na) (9), saongi dalan (10), ulosi tungko-tungko (11).

Kredo apa yang dikandung filosofi ini?

Pantun Hangoluan, Teas (tois) Hamatean. Nilai moralitas memiliki keniscayaan mutlak untuk kemaslahatan. Ini tidak bisa ditawar. Sosiobilitas seseorang bukan cuma ia harus dikenal di mana-mana, tetapi juga wajib menjadi bagian penting dan bahkan katalisator bagi dunia dan zamannya. Ibarat sebuah perhelatan politik, Siregar dituntut tak cuma memiliki popularitas, tetapi juga elektibilitas. Kedua hal itu tentu amatlah berbeda. Seseorang bisa amat populer karena sesuatu atau berbagai hal, tetapi belum tentu disuka oleh sebanyak yang mengenal.

Ringkih dalam perilaku dan budi amat dipantangkan. Penerimaan atas norma dan mendukung segala kebajikan yang sudah ada tidak cukup, tetapi juga harus selalu inovatif ke depan, tidak berpangku tangan dan tanpa penghindaran dalam tanggungjawab sekecil dan sebesar apa pun. Jika seseorang akan berperilaku sebaliknya, itu artinya kiamat bagi dia (teas/tois hamatean).

Marbou (hou) di tapian, Ehem laho tu jabu, Batuk laho tu sopo. Tapian (tempat mandi) bisa difahamkan dalam simbol amat luas. Tetapi orang berbersih diri dan dengan tak mungkin tak membuka aurat. Berilah orang yang sedang dalam aktivitas itu sebuah kesempatan kecil untuk mengetahui kedatangan orang lain sehingga tak perlu melihat dan mengetahui bagian-bagian tubuh yang memang harus disembunyikan dari penglihatan orang lain. Aib orang mestilah dikubur dalam-dalam untuk kemudian menonjolkan kelebihan-kelebihannya yang pantas diwarta-luaskan.

Saat akan memasuki rumah (meskipun itu rumah sendiri) berilah salam. Ehem cumalah sejenis suara yang bahkan mungkin lebih sepele dari sign yang dipancarkan sebuah handphone saat kemasukan sms. Aktivitas yang amat privacy biarlah menjadi urusan non publik dan saat belum siap lebih baik orang yang ada di rumah menunda masuknya orang lain. Sikap yang sama dituntut bahkan saat memasuki sopo. Konsep sopo adalah gubuk yang berfungsi mengamankan perbekalan, peralatan dan mungkin juga persenjataan. Bisa saja seseorang sedang berada di situ. Tetapi entah siapa pun itu (boleh jadi seorang pencuri), Siregar menghendakinya untuk diberi kesempatan apakah akan lari atau mempersiapkan alasan apologies tentang mengapa ia berada di sopo itu.

Pahae simanggurak, Pahulu sitimpulon. Bepergian kemana saja mestilah memberi berkah dan perubahan. Ke hilir membawa sesuatu, ke hulu juga demikian. Ia tak boleh menjadi beban bagi orang dan zamannya. Sisi ini memang terasa lebih berkonotasi material. Jadi bedakanlah saat para pejabat turun ke daerah yang kerap menjadi amat merugikan daerah karena orang-orang lokal diwajibkan memberi persembahan korupsional. Partangga na sabolas mengutuk perilaku itu.

Tampak na do rantos na, Rim ni tahi do na gogo (rim ni tahi do gogo na). Masyarakat adalah sebuah pengelompokan sosial manusia degan kontrak tertentu atas dasar kesamaan nilai, norma, budaya dan lokalitas. Hidup yang penuh dinamika dan arus perubahan kerap membuat perbedaan-perbedaan di antara sesama warga. Hadapilah setiap orang sesuai kemauannya dan apa adanya serta tentu saja kesepakatan-kesepakatan diplomatik maupun kerjasama praktis lebih disukai. Hidup memang tidak untuk perang, tetapi tatkala perang itu menjadi satu-satunya jembatan untuk damai, maka partangga na sabolas meneguhkannya untuk ditempuh.

Saongi dalan, Ulosi tungko-tungko. Nilai yang sarat humanisme ini berintikan obligasi moral untuk mewujudkan maslahat umum. Jalan pun harus dipayungi agar tidak menjadi licin. Gundukan pun harus diberi tanda agar setiap orang terhindar dari mara bahaya.

Penutup

Globalisasi adalah sebuah keniscayaan. Tetapi tidak dengan globalisasi itu seluruh manusia di dunia ini akan kehilangan identitas lokal. Seorang Presiden (SBY) pun ternyata memerlukan identitas lokal (achieved) selain yang dia miliki sendiri (given) secara genealogis.

Periksalah kembali basis politik Indonesia, dan dalam hitungan bulan ke depan kehangatan perhelatan menuju suksesi 2014 akan lebih marak. Amat dianjurkan untuk duduk pada makom (tempat) yang tepat agar menjadi tanda bagi yang pantas memberi tanda.

Indonesia raya tidak berhenti di tangan para pendiri dan pewaris revolusi, apalagi TB Silalahi. Tetapi perut yang lapar mestinyalah dihitung lebih cermat agar gendang bisa berbunyi lebih panjang dan nyaring. Dengan begitulah Indonesia Raya tidak menjadi noktah yang buruk dalam peta dunia. Tetapi catatlah, doktrin partangga na sabolas tak mungkin diabaikan oleh siapa pun yang ingin beroleh marga Siregar.

Merdeka. Horas.

Shohibul Anshor Siregar. Posting ini dimuat pada Harian Waspada, Kamis 27 Januari 2011


6 Comments

  1. Amri Munthe says:

    Sebagai orang Batak tulen apalagi sebagai anak boru dari kelompok Siregar (marga paling spektakuler dari suku Batak disusul Tambunan belakangan ini .. he he he..)saya malu karena tidak memiliki wawasan sejauh paparan di atas. Ini membuka cakrawala baru bagi saya.

    Ibu saya Boru Ritonga sedangkan istri saya boru Regar keturunan dari Sipirok.

    Berkaitan dgn penganugerahan marga Siregar kepada sdr SBY meskipun dibantah oleh jubirnya, menurut saya tidak penting. Apalagi penganugerahan itu kelihatannya hanya prakarsa dari sdr TB Silalahi yang dari dulu akrab dengan SBY. Seingat saya, SBY sudah berkali-kali ke daerah Balige. Kedatangan beliau sangat berkaitan dengan keberadaan TB Silalahi.

    Tidak adanya aturan hukum baku dan tertulis tentang penganugerahan gelar raja Batak membuat banyak tokoh Batak memanfaatkannya sebagai wahana pengkultusan seseorang yang dieksploitir untuk kepentingan kelompok.

    ‘nBASIS: (1) saling mengingatkan amat baik bagi sesama. itulah motif posting ini (2) berbahagianlah menjadi keturunan “partangga Na Sabolas” (3) politisasi ini memang menyakitkan.

  2. nirwan says:

    perut TB Silalahi sangat lapar. Dan itu menjadi noktah yang buruk bagi marga silalahi.😉

    ‘nBASIS: itu urusan Silalahilah barangkali.

  3. sikapsamin says:

    EHEM……. (bahkan sebelum menuliskan komentar… alangkah baiknya didahului menulis ‘EHEM’)

    Hasil rekam EHEM dg menggunakan oscyloscope, akan tergambar Frekwensi-Rendah atau Gelombang-Panjang, yg memiliki daya rambat yang jauh dan gema yg mampu mengisi seluruh ruang…

    Dalam sains-modern, para pakar astronomi berteori bahwa awal terciptanya alam-semesta(macro-cosmos) adalah BIG-BANG…

    BIG-BANG ini mungkin bisa dianalogikan dg EHEM dalam skala micro-cosmos…
    Just posibly…who knows? (he he he…samin berbahasa inggris)

    ‘nBASIS: who knows ya who knows. you meant new step? who knows

  4. sikapsamin says:

    EHEM…….

    Maaf tambahan sedikit,
    Ternyata…NAIPOSPOS…tidak termasuk kelompok ‘mainstream’ Batak ya?!?

    ‘nBASIS: ha ha kita tak berpandangan begitu, Mr Sikapsamin. ya, kita tak begitu berfikir meski SBY “pengen” Siregar. ha ha

  5. […] SIREGAR: PARTANGGA NA SABOLAS […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: