'nBASIS

Home » ARTIKEL » PPP DI ANTARA PARTAI BERBASIS PENDUKUNG MUSLIM

PPP DI ANTARA PARTAI BERBASIS PENDUKUNG MUSLIM

AKSES

  • 535,235 KALI

ARSIP


Benarkah kini tak sedikit orang Indonesia yang memandang PPP menjadi amat istimewa karena memilih tetap bertahan sebagai partai Islam? Keistimewaan itu, jika mau, masih bisa ditambah lagi dengan mengatakan ”cuma satu-satunya partai warisan masa lalu yang berhasil menyeberangi zaman (Orde Baru ke reformasi)”.

Golkar sudah bermetamorfosis menjadi terus terang sebagai Partai (bukan Golongan lagi). PDI sudah jauh bermetamorfosis antara lain dengan mementingkan penambahan P di belakang nama (PDIP). Tetapi jika sekiranya banyak hal masih belum berubah pada kedua partai Orde Baru Golkar dan PDIP, maka PPP tercatat pernah bertikai keras secara internal dalam hal penggantian lambang.

Penggantian lambang yang bukan cuma sekadar desain grafis itu tidaklah sederhana. Lambang (simbol) itu memang sesuatu (design) yang menerangkan sesuatu (nilai) dan kerap tidak untuk ditawar. Karena itu pula indikasi kuat keterkaitan dengan konsep jatidiri dan harga politik di depan kekuasaan tidak dapat dibantah, betapapun pahit mengenangnya. Jangan-jangan malah lebih tepat harus dijelaskan sebagai tanda-tanda krisis besar.

Dalam hal penerjemahan diri sebagai partai aliran, cobalah bandingkan eksemplaar (kinerja) PPP dengan PKS yang sudah bermetamorfosis menjadi partai terbuka karena memandang ekslusivitas berbasis aliran sudah tak zamannya lagi. Atau partai terbuka PAN yang secara formal sejak awal hanya mencukupkan landasan moralitas agama dalam kinerja politik dan perjuangannya.

Hasil-hasil apa yang amat dapat diperbandingkan dari ketiga partai papan tengah yang sama-sama berbasis pemilih muslim ini? Tentu bukan cuma PPP yang amat perlu memerincinya.

Tantangan Besar PPP 2014. Klaim sebagai satu-satunya partai Islam bisa tak bermakna apa-apa jika PPP tetap tidak membuka diri untuk elaborasi sistematis dan apalagi enggan menata diri menjadi partai modern. Karakteristik partai selamanya hanya akan lebih dilihat oleh publik melalui etalase kinerja politik dan peran advokasional terhadap keprihatinan nasib rakyat, bukan pada platform yang disandang atau kedalaman narsisme instrumen kampanye. Orang malah akan semakin mampu dengan lugas menuding jika wakil-wakil terbaik dari partai tidak memberi gambaran reputasi yang memadai. Ukurannya ternyata tidak pada internal partai, apalagi kabinet (secara keseluruhan) yang kini sering mengklaim sesuatu prestasi tanpa kejelasan fakta.

Harus segera disadari bahwa makin sumir fakta yang diklaim sebagai keberhasilan akan makin memperjelas posisi dan jarak dengan masyarakat. Lagi pula PPP tidak boleh lupa, demikian juga PAN, bahwa satu-satunya partai yang lolos dari ”pitingan” kekuasaan SBY pada era 2004-2009 adalah PKS yang kini seakan sudah meneguhkan ancang-ancang untuk melompati pagar Sekretariat Gabungan Partai Politik yang amat tak produktif itu.

Memang jika disadari tentu klaim sebagai satu-satunya partai Islam di negeri yang berpenduduk mayoritas muslim amat menantang terlebih terhadap semangat sekularisasi yang mewabah mulai dari lapangan politik praktis sampai ke dapur-dapur akademis, tak terkecuali yang berbasis kajian Islam. Adalah tantangan eksistensial bagi PPP untuk membuktikan kesalahan tesis para sekularis internasional maupun nasional termasuk Nurcholis Madjid dan para pengikutnya yang berasumsi kuat bahwa dunia modern tidak akan memberi tempat yang layak bagi partai berbasis aliran (agama). Kita tahu cendekiawan ini pernah mempopulerkan motto ”Islam Yes, Partai Politik Islam No”.

Kini setidaknya tersedia dua tantangan besar. Pertama, menegaskan secara eksistensial bahwa Islam, tidak salah lagi, memang rahmatan lil ’alamin (rahmat untuk alam) yang, baik ditinjau dari aspek ajaran maupun dari aspek ruang (tempat), selalu bersifat ethernal dan aktual. Islam bukannya sebuah kisah masa lalu tentang Arab Badui atau gembala-gembala qibas di sela-sela kabilah nomad yang tak bermasa depan. Islam juga bukan seperti difahamkan banyak orang yang hanya memiliki kompetensi memperbanyak frekuensi mobilisasi orang-orang di lapangan terbuka untuk do’a-do’a artifisial politik seperti lazim terjadi di Indonesia selama ini. Lebih buruk lagi jika Islam cuma dianggap urusan ibadah spesifik belaka, kematian, perkawinan atau bancaan (kenduri) untuk sunatan yang ditingkahi irama gambus padang pasir yang sukar difahami. Tantangan ini jelas menghendaki prasyarat idiologis dan instrumentatif.

Agar tidak terjebak dalam dilema ”komersialisasi Islam”, PPP tidak cuma harus memperkuat pemahaman dan cita-cita keislamannya. Tetapi juga wajib mempersiapkan prasyarat kemenangan agar tidak berakhir pada dilema ”gantang asap”. Dari sisi ini, jika PPP menyadari, ia mengemban sebuah missi idiologis dan historis. Kedua, PPP tak cuma memerlukan sistem dan aparatur yang tangguh, tetapi juga citra baru yang memupus segala macam ketidak-indahan yang pernah menjadi catatan banyak orang. Ini amat tidak mudah, dan jika kemampuan dalam bidang ini amat lemah, akhirnya nasib akan berakhir pada penguburan diri sendiri karena berbedanya secara diametral antara nilai harapan (value of expectation) dan nilai kemampuan (value of capability).

Rivalitas sesama partai berbasis komunitas muslim tentulah akan semakin keras dengan penjurusan kepada isyu-isyu kejujuran beragama dan kemampuan profesionalitas mewujudkan praksis-praksis Islam yang tidak berhenti pada kegandrungan membual. Singkatnya, pemilu 2014 akan menjadi ujian bagi partai Islam untuk mempertimbangkan secara serius apakah akan mengikuti langkah PKS atau sebaliknya membuat partai-partai yang sesikap dengan PKS kembali ke khittah (Islam) dengan menanggung malu.

Saya sadar bahwa gagasan-gagasan besar seperti yang saya kemukakan di atas tidak menjadi pokok bahasan dalam Musywil VI PPP Sumatera Utara. Musywil ini diprediksi hanya akan lebih fokus kepada penyelesaian dan pencarian format kepengurusan bersifat konformitas, penorehan rancangan yang amat umum tentang program pemenangan pemilu 2014 untuk tingkat lokal, dan hal-hal lain yang tidak begitu substantif. Dalam hal konformitas ini, rekrutmen PPP tampak tidak saja belum akan beranjak dari musykilnya menjabarkan nilai-nilai Islam dalam penentuan figur terbaik.

Fundamentalisme dan Modernisme. Tahun lalu Pew Research Center yang berpangkalan di Washington DC, Amerika Serikat, melaporkan hasil survey mereka yang mendeskripsikan opini penduduk muslim di berbagai Negara (Indonesia, Mesir, Nigeria, Jordania, Pakistan, Libanon dan Turki) tentang besaran pengaruh Islam dalam kehidupan politik. Tepatnya, mereka mentabulasi rinci opini responden tentang positif atau negatifkah peran yang dimainkan Islam dalam kehidupan politik tersebut.

Sebanyak 38 % responden di Turki berpendapat bahwa Islam berperan positif, sedangkan 31 % berpendapat sebaliknya. Responden dari Mesir menunjukkan 85 % yang menyatakan positif, tetapi jumlah yang menyatakan negatif cuma 2 %. Angka resistensi itu paling kecil di antara negara yang disurvey (Lebanon 32 %, Jordania 14 %, Nigeria 10 % dan Pakistan 6 %). Ini amat berbeda dengan Indonesia yang menunjukkan angka 6%, sedangkan 91 % menyatakan Islam memainkan peran yang positif dalam kehidupan politik.

Variasi Islam fundamentalis atau modernis tak luput dari pertanyaan survey Pew Research Center kali ini. Hasilnya, 42 % responden di Indonesia melihat ada pertarungan antara Islam fundamentalis dan modernis di Negara mereka. Sedangkan 54 % merasa yakin bahwa Islam Indonesia berwajah modernis, dan 33 % menyatakan fundamentalis. Nah, akan bagaimanakah sikap PPP dan partai-partai berbasis pendukung muslim lainnya? Persiapan pemilu 2014 sudah di ambang pintu. Fastabiqulkhairaat.

Shohibul Anshor Siregar. Dimuat oleh harian Waspada, Kamis 24 Februari 2011

Advertisements

2 Comments

  1. zarini says:

    TV One menggalakkan adu domba! Kenapa ya orang2 kita yang partainya menganut satu azas, Pancasila, justru tidak ber-Pancasila dan kejam serta menzalimi sesama. Mau muntah aku ketika menyaksikan acara di TV One, anggota partai PPP membenci sesama anak bangsa kita yang kebetulan terlahir memeluk Ahmadiyah. Apa salah mereka, bukankah kita semua terlahir tidak berdosa dan tidak mungkin pindah sebuah agama atau keyakinan karena kita dilahirkan dari agama atau keyakinan yang dipeluk orangtua kita? Kalau orangtua kita Ahmadiyah pasti kita akan menjadi ummat Ahmadiyah pula. Orang2 PPP itu berkampanye agar PPP mendapat dukungan, padahal itu partai warisan Orba.

    ‘nBASIS: media itu adalah aktor politik meski terkadang ia seolah tak (misalnya) berpartai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: