'nBASIS

Home » ARTIKEL » HOW GREEN YOUR VALLEY, HOW RICH YOUR COUNTRY, BUT HOW POOR YOUR PEOPLE

HOW GREEN YOUR VALLEY, HOW RICH YOUR COUNTRY, BUT HOW POOR YOUR PEOPLE

AKSES

  • 729,147 KALI

ARSIP


Amien Rais sedang menjelaskan akar masalah bangsa yang belum keluar dari mentalitas inlander hingga menghamba menggadai kedaulatan dalam idiologi corporatism yang memalukan. Empat pembedah utama bukunya berjudul ”Agenda Mendesak bangsa, Selamatkan Indonesia”[1] tekun menyimak. Mereka, Ikhwan Azhari, antropolog  dari Pascasarjana Unimed, Nur Ahmad Fadhil Lubis dari IAIN, Syawal Gultom dari Unimed dan John Tafbu Ritonga, ekonom dari USU, sebelumnya telah membacakan naskah mereka secara bergantian. Suasana amat hening, dan akan kedengaran seandainya 2 ekor kepinding berkejaran di bawah kursi yang bersesakan.

Tiba-tiba terdengar suara setengah berteriak di antara seribuan audiens:“Slaven Volk !!!” Amien Rais pun berhenti dan memandang orang itu sejenak, untuk kemudian melanjutkan ceramahnya kembali. Orang yang menginterupsi itu duduk tenang di salah satu kursi terdepan di blok kiri, sambil menggoyang kaki kanan yang ditenggerkan di atas kaki kiri, mengangguk amat perlahan dan dengan tatapan tajam ke arah Amien Rais yang berdiri di podium. Orang ini ingin menegaskan mentalitas inlander  versi Amien Rais itu adalah bangsa budak (slaven volk)[2].

PEMIMPIN YANG TIDAK MENYANDERA BANGSA Jika semua pemimpin Indonesia adalah orang yang resah atas keterbelakangan rakyatnya, maka tidak mungkin nasib berkepanjangan dalam derita begini. Terkadang amatlah dibutuhkan seseorang yang resah sepanjang hidupnya meski selalu berusaha menutupi dengan tingkah kompensasional dan bahkan lakon yang sampai batas mengejek diri (bangsa) sendiri. Ini hal yang sulit untuk dilakukan, tentu saja. Tetapi keresahan seorang pemimpin hendaknyalah bukan terletak pada berapa puluh digit sisa depositonya di bank, dan seberapa banyak kekayaan negara yang akan dicurinya lagi besok pagi[3].

How green your valley, how rich your country, but how poor your people[4]”. Itu yang mesti selalu hadir dalam benaknya, memburunya saat duduk, berdiri, berjalan dan bahkan sampai saat tidur seperti menyesali dan menyumpahi diri sendiri. Indonesia kita ini masih belum menyelesaikan revolusinya secara sempurna.

Hitunglah berapa juta lagi yang terbiasa hidup 8 jam tidur pulas, 8 jam bekerja malas-malasan, 8 jam istirahat sambil ngerumpi, berjudi togel atau menghadapi papan catur.  Tak bisa berdamai dengan keadaan dan tak kunjung tibanya kebijakan yang merubah nasib, sejumlah orang berjanji kepada diri sendiri untuk berjihad di mancanegara, dan sebagian mereka memang dikirim pulang dalam peti mati[5]. ”How green your valley, how rich your country, but how poor your people”.

Tetapi berapa ratus ribu elit politik yang kebanyakan waktunya dihabiskan untuk berpikir membuat kejahatan terhadap negara. Mungkin juga mimpi orang inipun penuh adegan kejahatan terhadap masyarakat. Biasanya, dalam ritus keagamaan yang ia jalani batinnya pun lebih sering dikuasai kejahatan yang menghalanginya “bertemu” tuhan. Jika nanti terlambat taubat, maka tuhanpun tidak akan “mengenalnya” kecuali sebagai pengikut setan[6].

Dalam pikiran pemimpin yang selalu fokus pada upaya menggagas Indonesia bermartabat mestinya sering hadir “wajah terburuk” Indonesia. Indonesia yang berhenti terus-menerus berayun di antara gagasan-gagasan lama dan gagasan-gagasan baru, dan berhenti terkatung-katung tanpa arah yang jelas di antara kedua ufuk itu. Ia harus segera mendapatkan kepastian untuk berdiri sebagai pemimpin sebuah bangsa yang berdaulat.

Percaya kepada datangnya wangsit akan mengantarkannya ke alam lain yang meniscayakan kesungsangan rumus fisika termasuk me-nolkan graffitasi bumi. Wangsit yang ditunggu akan memiringkan Tugu Monas 45 derajat namun tetap tak rebah ke tanah. Wangsit yang dinanti akan memaksa Obama datang memohon ampun ke Blitar atau ke Jalan Asia-Afrika di bandung karena merasa bersalah telah membebani masyarakat dunia dengan darah dan air mata. Wangsit yang ditunggu akan memunculkan perubahan nasib yang pinasti dalam gemah ripah loh jinawi, cukup dengan mengarahkan telunjut sebagai isyarat keinginan terhadap apa saja sembari berdalil kun fa yakuun.  Wangsit itu segera saja akan tiba, karena Joko Bodo sudah bilang begitu. Wangsit itu akan segera tiba karena Ki Gendeng Pamungkas sudah tahu, bahkan sebelum Mbah Maridjan wafat, bahwa selama ndok bumi (istana Yogyakarta) masih tegak, erupsi ndak bakalan wani (berani) menyisir pemukiman. Sungai-sungai akan sungsang melawan arusnya yang sudah berusia jutaan tahun, karena wangsit sudah tiba[7].

Gareng, Petruk, semar dan Bagong[8] harus angkat bicara. Kemana saja mereka? Mereka wajib menegaskan bahwa harus ada lead, harus ada sikap, harus ada pilihan. Akan ada resiko dari setiap sikap, dan sejarah telah dipenuhi oleh catatan tentang hal-hal seperti itu. Itu sebabnya Hamengku Buwono IX saat Seminar Angkatan Darat di UI pada tahun 1966 mengingatkan problematika Indonesia dengan menyebut The Leader, The Man and The Gun.

Hari ini ucapan dan lakon orang besar terasa semakin penting karena tergerusnya idiologi dengan pragmatisme dan formalisme nasionalisme yang amat memalukan di antara elit bangsa. The Leader, The Man and The Gun menandakan bahwa Indonesia tidak sekadar butuh tiwul, dengke na niura, gatgat, holat, gudeg, Fizza, kerupuk, emping dan bakso[9] untuk ganjal perut. Juga tidak sekadar menegaskan perlunya kemilau warna-warni sandang pembungkus tubuh berikut jas dan dasi. Tegak di antara bangsa-bangsa tidak dibuktikan oleh Bung Karno dengan sekadar seremoni di Bandung pada tahun 1955[10]. Ia tidak sekadar mengajak semua orang menghargai hidup dan membangun martabat masing-masing tanpa mengorbankan siapapun. Ingatlah sebuah kontroversi besar Indonesia ketika keluar dari PBB di bawah kepemimpinan Soekarno.

Ahmadinejad bukanlah seorang emosional ketika menantang Obama debat terbuka di depan media soal akar masalah kerumitan dunia internasional dan menegaskan satu-satunya solusi hanyalah mengakhiri dominasi Amerika plus kapitalisme yang sudah bersejarah ratusan tahun. Kalian bicara apa? Nuklir? Mengapa saya tak bisa sedangkan kalian mencari keuntungan dalam nuklir? Apa yang kalian tahu tentang terorisme selagi kita tak bisa membedakan Osama dan Obama? Apa yang kalian fahami tentang rasisme selagi Israel dengan perdana menteri pembunuh terlatih, dengan perlindungan PBB dan badan-badan dunia lainnya serta aliansi-aliansi lain di bawah hegemoni Amerika masih tegak menghambat dialog? Itu kemarahan Ahmadinejad yang secara serius ingin digantikan oleh Amerika dengan boneka mereka sebagaimana diperagakan di berbagai belahan bumi lain tak terkecuali di Timur Tengah.

Seseorang perlu berintifadah[11] layaknya rakyat yang terzolimi di palestina, atau seperti tindakan cerdas yang dilakukan seorang wartawan tv Al-Baghdadia dengan melemparkan kedua sepatunya ke arah Bush 14 Desember 2008 lalu di Irak, sambil meneriakkan makian di antaranya ”mampus kau, raja rampok”[12].

Pemimpin sejati harus menangis saat rakyatnya tak dapat sekolah. Ia tak boleh puas memuji diri dan memancing pujian kultus individu untuk dirinya. Biarlah angka-angka statistik sekadar cocok untuk introductory dalam menentukan entry point menyelesaikan pekerjaan serius menanggulangi kemiskinan rakyat.[13] Filosofi bernegara tetaplah harus diasah setiap waktu agar tak bisa terjebak dalam kenaifan seperti tragedi menggantung dasi di leher pada saat celana dan baju belum dimiliki, sebagaimana tergambar pada dilema Ujian Nasional  yang penuh penipuan diri. Lagi pula siapa yang percaya terhadap ujian jika ijazah pun lazim diperjualbelikan?[14] Pemimpin yang tahu prioritas tidak sekadar berdiri paling depan pada setiap seremoni dan dengan senjata ampuh birokratisasi menggenggam psikologis banyak orang tak ubahnya pion di atas papan catur.

Perhatikanlah canggungnya demokrasi kita yang boleh disebut feodal saat dipimpin Soekarno maupun Soeharto. Apalagi pada zaman Soeharto, Pemilu berulangkali diselenggarakan di masa itu dengan tetap tak memberi hak-hak dasar untuk memilih kepada rakyat. Itu sebuah keterkatung-katungan yang amat banyak merugikan bangsa ini sejak dahulu. Hingga hari ini pun tradisi ini dianggap kebesaran dan terus-menerus diulangi di bawah kendali instrumen-instrumen politik yang mencerminkan si bolis na burju yang terus menerus membangun kekuatan dengan jahatokrasi[15]. Tegaskanlah bahwa Indonesia tidak mempunyai data politik (pemilu) hingga hari ini, melainkan sekadar mempunyai data klaim politik[16].

Betapa lama kita terkatung-katung di antara pilihan unitaris atau federalis. Akhirnya federalis tidak unitaris pun tidak. Jika hati nurani paling jujur ditanya, federalis itu adalah kecenderungan mutakhir dari capaian berpikir manusia abad ini tentang demokrasi dan pemerintahan. Itu  jelas.

BELAJAR KEPADA BANGSA-BANGSA BESAR Indonesia, begitulah mestinya pemimpin Indonesia berkata, bisa bangkit jika mau belajar sungguh-sungguh kepada 5 negara terkemuka di dunia. Mari kita periksa.

Jerman. Negara yang seolah memang ditakdirkan untuk menjadi pelopor dalam penciptaan semua keperluan yang menopang kehidupan manusia. Bangsa ini adalah sang jenius sekaligus pencipta yang tiada tara. Boleh ditambah lagi predikat lain seperti seniman atau artis paling unggul. Di belahan bumi mana akan kita temukan seniman sebesar Mozart, Bethoven dan Goethe? Sebutlah yang sederhana sebilah pisau Solingen, itu buatan Jerman. Kita akan lihat dalam daftar produk dunia meniru model pisau Solingen. Mercedes Benz, itu buatan Jerman. Kalau saya tidak salah, Al-quran cetakan pertama saja dibuat di Jerman. Dunia wajib berterimakasih kepada bangsa yang sombong ini. Kenanglah letzeplin yang menjadi ide dasar kapal terbang itu. Siapa pencipta keretaapi dan kemajuan farmasi? Siapa yang bisa mendahului zaman kejayaan buyer?

Inggeris. Pada perang dunia kedua, kalau kita pelajari baik-baik, kita akan tahu sendiri bahwa dalam satu segi perang itu sesungguhnya adalah sekaligus menguji kehebatan Jerman dan Inggeris. Semua alat persenjataan yang digunakan, baik alat pemusnah maupun alat pertahanan, pada umumnya adalah made in Germany atau made in England. Tetapi Inggeris adalah keturunan manusia akuntan terbaik dunia. Orang Jahudi dan orang Arab yang paling pelit di dunia saja merasa harus menyimpan uangnya kepada bangsa ini, di Bank of England. Inggerislah yang punya mas London yang hingga hari ini tetap dijadikan standar internasional. Poundsterling, mata uang Inggeris, begitu kuat. Rupiahmu, bolehlah turun naik sesuka negara besar. Tetapi Inggeris jangan harap. Bacalah koran sepanjang masa, temukan apakah fluktuasi poundsterling pernah seperti rupiahmu ini? Itu berkat kemampuan akuntansinya yang tiada tara. Katakanlah perang meletus hingga semua porak poranda. Inggeris tidak akan bereaksi apa pun sebelum menyelesaikan perhitungan akuntansi dari semua rencana tindakannya terhadap perang yang sudah berkecamuk itu.

Amerika. Bangsa ini adalah barbar modern. Saya tidak salah sebut: barbar modern. Ia punya 3 wajah yang ketampilan masing-masingnya sama frekuensinya setiap hari (the good, the bad dan the ugly). Wajah Amerika yang baik bukan saja harus dilihat dari pidato-pidato manis dari para pemimpinnya. Di balik retorika itu percayalah Amerika sedang memangsamu tanpa ampun dan dalam lakon itu ia pun masih tetap percaya diri meyakinkan dunia bahwa ia sedang memperjuangkan keadilan dan persamaan hak untuk kebaikan dunia. Barbar modern ini mengaku bapak demokrasi dunia, karena itu akan selalu hadir dan menjadi sebab-musabab pertumpahan darah di mana pun di dunia ini. Catat itu. Perhatikanlah plastisitas sikap politiknya terhadap Indonesia dalam masalah Timor Timur. Indonesia dipaksanya menyembah sesukanya. Sekarang barbar modern itu sedang memimpin war on terrorism, yang membuat kita juga wajib menyeka keringatnya di mana-mana.

Tetapi Amerika itu telah mencontohkan sebuah penghormatan yang amat tinggi kepada pahlawannya sekaligus menjadi temali emosional yang mengikat seluruh bangsa. Bayangkan, mungkin semiskin-miskin orang Amerika bisa diasumsikan mampu memiliki uang US $ 1. Di atas uang US $ 1 itu, anda tahu,  dibubuhkan gambar Presiden Amerika Serikat. Presiden Amerika Serikat itu hanya satu sampai kini, dialah Presiden pertama George Washington. Anda menyadari tentunya, orang-orang besar di masa lalu, itulah sejarah. The history just biography of the great man. Geroge Washington adalah Presiden Amerika sepanjang zaman, sedangkan yang lain itu cuma pengganti. Itulah filosofinya.  Fahami ini secara filosofis. Itulah Amerika.

Jepang. Mereka ditakdirkan sebagai bangsa peniru yang baik. Mercedes Benz mereka buat bentuk duplikatnya dari bahan kaleng-kaleng, tetapi secara ekonomis amat laris di dunia mengingat dunia ini memang 2/3 dihuni orang miskin yang dimangsa oleh tak sampai 1/3 lainnya. Jadi Jepang itu menyerang begitu dahsyat pasar produk yang tadinya diungguli oleh negara produsen awal dengan prototype yang akhirnya terhempas dibabat habis oleh Jepang dengan barang-barang imitasinya. Jepang bisa saja meletakkan nasibnya pada takdir yang menyatakan bahwa memang mereka tak pernah dijajah oleh bangsa mana pun sementara semua belahan bumi bagian Timur pernah takluk pada kolonialisme. Saya yakin, ini juga berpengaruh besar atas nasib Jepang sampai hari ini dengan ajaran Tokugawanya yang terkenal itu. Orang sering salah melihat Jepang dengan konsep harakiri. Fatalisme itu sebuah jalan yang penjelasannya tak cuma ada pada samurai panjang yang tajam.

Memang sepintas agak tak masuk akal: suatu bangsa yang memiliki harga diri tinggi kok menjadi bangsa peniru. Para antropolog dunia perlu menjalaskan itu kepada masyarakat dunia di belahan lain. Tetapi yang jelas kekalahan Jepang pada perang dunia kedua tidak sia-sia secara hikmah. Seorang insinyur kapal terbang akhirnya mengalihkan semangat yang tersisa dari perang dunia kedua yang amat menyakitkan itu menjadi aktivitas industri otomotif, dan salah satunya ialah mobil daihatsu yang mesinnya kokoh itu.

Di hatinya tentu orang Jepang memiliki agenda membalaskan dendam kekalahan perang yang begitu menyedihkan. Itu akan tetap berkobar dengan semboyan Djimmu amaterasu omikane (Kamilah keturunan Dewa Matahari), atau Kaizen Gemba (perbaikan yang harus berlangsung terus menerus).

Cina. Cina itu orang yang memperjuangkan hasratnya sampai berhasil dengan tanpa setitik waktu rasa puas atau lebih baik mati bunuh diri. Bertahan saja baginya adalah kekalahan dan oleh itu Cina akan menentukan dunia lebih tunduk lagi kepadanya kelak. Karena kita di Indonesia, yang berdekatan pula dengan Malaysia dan Singapura, kiranya amat sangat faham kegairahan Cina sebagai negara atau pun sebagai bangsa.

Kelima bangsa unggul itu amat kuat dan aktualisasinya pada pembentukan negara begitu jelas. Begitu kuat dan begitu tangguh. Kemungkinan mereka hanya bisa runtuh jika mereka tidak menyadari bahaya yang mengancam mereka dari dalam, bukan dari luar. The great civilization never go down unless it destroy from within. Itu rumusnya. Itu yang saya dengar dari Thomas Carlilie.

SIAPA AKAN MERETAS DOMINASI? Saya ulangi: “how green your valley and how rich your country, but how poor your people”. Ambillah yang baik-baik dari kelima bangsa terkemuka sepanjang sejarah itu. Indonesia pasti maju. Tetapi itu amat sangat tergantung kepada the leader, the man and the gun, untuk mengutip (lagi) Hamengkubuwono IX.

Bandingkan apa yang dibuat negeri ini untuk dirinya agar putus hubungan dengan sejarah sebagai budak. Korupsi meraja lela, dan tampaknya tak pantas lagi dibicarakan saat ini: waisting time selagi tak ada komitmen pemimpin tertinggi[17]. Siapa yang percaya KPK kalau Japolha (Jaksa, Polisi dan Hakim) saja tak bisa diperbaiki?[18] Apakah pengabadian lembaga extraordinary KPK ini akan ditunjuk sebagai bukti kemajuan memberantas korupsi? Naif sekali itu.

Saya melihat bahwa bangsa ini cukup parah dalam perilaku korupsi, sudah tanpa moralitas sama sekali. Bagaimana para pemimpin untuk setiap level mengambili uang yang ada dalam kekuasaannya? Itu kan tak ubahnya seseorang yang memindah-mindahkan uang dari kantong kiri ke kantong kanan dalam tubuh yang memakai baju yang sama. Atau mencuri uang dari lemari yang satu untuk dipindahkan ke lemari yang lain dalam rumah sendiri. Mengapa orang mau mencuri hartanya sendiri? Hal itu hanya bisa terjadi karena pejabatnya bukan orang Indonesia dalam arti yang sesungguhnya. Karena ia bukan orang Indonesia, maka ia pun ingin mencuri harta benda bangsa ini untuk di bawa ke tempatnya seperti Belanda pernah merampok kita selama 3,5 abad. Ini sebuah pertanyaan serius untuk para pemimpin, siapa mereka sesungguhnya.

Saya ingin menyerukan kepada pemimpin Indonesia dan segenap yang menggenggam kekuasaan yang dengan itu pernah amat terlanjur menyiksa rakyat. Jika pun ada kekhilafan sebagai anak bangsa, pilih apa yang dilakukan oleh mantan Presiden Korea: bunuh diri. Itu amat jantan, dan itulah “merah putih” terbaik. Ajarkan kepada bangsamu bahwa tak sepeser pun harta negara dan bangsa ini yang boleh bergeser ke kantong orang yang tak mustahak. Lebih baik mati dalam arena tobat ketimbang dicatat sebagai budak versi baru dengan modal stolen asset.

“Apa kau kira Tuhan itu goblok sepertimu?” Itulah yang selalu hadir dalam pikiran mantan Presiden Korea hingga memilih bunuh diri sebagai jalan tengah untuk memberi pertanggungjawaban kepada negara, bangsa, dunia dan Tuhan. Terimakasih, kawan. Kau telah memberi pendidikan bagi para pencuri penguasa sistem.

Nah, keluar dari perbudakan, mesti mampu mengambil nilai-nilai terbaik dari kelima bangsa terbaik itu. Dibutuhkan harga diri, dan bukan saja keberanian dan kepandaian untuk tegak sebagai bangsa di tengah pergulatan yang amat kejam pada abad ini. Saya melihat itulah yang ditunjukkan Mahmud Ahmadinejad[19] kepada dunia. Ia ingin merubah dunia, dan dunia Barat jelas keberatan. Perhatikan apa yang dilakukan oleh aliansi barbar itu di sana, juga di Mesir, di Tunis dan di Libya sambil meyakinkan komprador dungu di sekitar Timur Tengah itu yang lama-kelamaan tak risih lagi dengan kucuran darah di Palestina, tetangga dekat mereka. Rakyat Timur Tengah  ingin dibuat kacau dengan mempergunakan sejumlah agen luar mau pun lokal sebagai budak untuk menginterupsi perkembangan Timur Tengah[20].

Saya hendak berseru kepada dunia: Mahmud Ahmadinejad tak boleh sendirian dalam pertarungan mempertaruhkan martabat dan idiologi ini. Harus lebih banyak kepalan tangan ke udara menyerukan kejujuran, keadilan dan saling menghargai. Saya merasa Mahmud Ahmadinejad bukan saja berdiri tegak mewakili dirinya sendiri, rakyat Iran, dan  warga muslim dunia. Tetapi ia telah menyuarakan dengan begitu berani penderitaan terbaru produk kekejaman dunia yang dipimpin Amerika dan negara jahat lainnya. Apa yang diperbincangkan dalam konferensi Asia Afrika di Bandung tempo hari, pada dasarnya itu jugalah suara Mahmud Ahmadinejad. Omong kosong tuduhan tentang penyalah-gunaan nuklir itu. Ibaratkanlah pagi ini kita ingin makan burung goreng dengan cara menangkap dengan ketapel. Semua lidah di dunia tahu enaknya burung. Lidah Amerika, lidah India, lidah Korea, lidah Jepang, lidah Iran, lidah cina. Semua boleh tangkap dan pergunakan ketapel masing-masing dengan sebuah aturan. Nah, mengapa semua orang ingin makan burung tetapi hanya Amerika yang boleh memakai alat tangkap seperti ketapel? Jika ingin punya ketapel, sogok ke Amerika dulu, serahkan lidahmu dulu untuk dipijaknya barulah boleh memiliki ketapel yang ukuran kekuatan tembakannya sudah ditentukan oleh Amerika. Siapa Amerika itu? Sombong benar dia. Itulah yang dimarahi Mahmud Ahmadinejad. Ikut dia. Dukung Mahmud Ahmadinejad.

AGENDA SATRIO PININGIT Semua agama samawi mengenal konsep idiologi ratuadilisme (mesiah) yang kemudian banyak memicu gerakan-gerakan millenarian berbasis kepercayaan yang kuat terhadap keyakinan agama yang bersifat imperatif. Di dunia ketiga gerakan-gerakan atau pemikiran serupa ini dikenali sebagai bentuk-bentuk perlawanan yang terkait dengan penderitaan di bawah kekejaman sistem penjajahan. Sejarah terus berlanjut, dan pemikiran-pemikiran kompensasional seperti ini terkadang memiliki unsur drive, speed dan power dari gerakan yang mengkombinasikan dua ufuk diametral dalam sebuah sikretisme yang amat aneh, yakni pride dan MC. Alam pemikiran mitis selalu bisa, dan lagi pula fakta hari ini belum pernah seorang manusia yang sudah bersosialisasi mampu hidup tanpa mitos. Biarkan saja itu dalam pembimbingan rasional.  Sekar Madji Kartosoewirjo pendiri Negara Islam Indonesia (1949) itu pun punya sebilah keris yang dijuluki Ki Dongkol dan sebilah pedang yang dijuluki Ki Rompang yang oleh masyarakat pendukungnya dianggap sakti, padahal ia sendiri tahu kedua benda itu hanyalah senjata biasa.

Marilah kita lihat Indonesia masa lalu, masa kini dan masa depan. Saya tawarkan variable-variable Satrio Piningit yang teridiri dari:

(1)   Identitas (penciptaan) bersama yang sarat nilai (baik yang bersumber dari nilai-nilai primordial, nilai sakral, nilai personal maupun nilai sipil), yang dibarengi dengan pengkuhan oleh norma dan pembangunan simbol-simbol ekspresif. Kita dapat memperbandingan bekerjanya semua unsur-unsur itu dalam catatan sejarah, misalnya bagaimana identitas sakral dan politik begitu penting dalam membangun Israel kuno, bagaimana konsepsi Kristianitas, identitas dan tatanan politik,  sekaligus menjadi citra umum dalam sejarah  Roma, bagaimana landasan agama menjadi sebuah model nasionalisme modern di Iran, Idiologi dan identitas yang selalu diperkuat baik di Eropa, Amerika, Asia maupun Afrika.

(2)   Pengorganisasian alat-alat kekuasaan yang efektif  sekaligus mengharuskan kita belajar lagi lebih banyak tentang konsep kekuasaan politik, tipe-tipe sumberdaya politik (fisik, ekonomi, normatif, personal dan keahlian) serta penggunaan kekuasaan politik.

(3)   Penegakan wewenang yang sah dalam prosesnya telah mengantar Indonesia sebagai murid terakhir demokrasi tanpa substansi. Indonesia hanya tahu Prosegur tetapi gagal memahami nilainya. Kerena itu perlu dipelajari sungguh-sungguh konsep wewenang politik, sikap-sikap terhadap wewenang, legitimasi, serta konsekuensi-konsekuensi politik dari legitimasi.

(4)   Produksi barang dan jasa. Indonesia belum memiliki desempatan menerapkan sendiri model-model hubungan antara sistem politik dan ekonomi. Itu karena Indonesia lebih mungkin melakukan sesuatu kebanyakan bukan karena kemauannya melainkan karena ketergantungannya lepada dikte asing.  Fungsi-fungsi pemerintahan dalam ekonomi dan kebijakan-kebijakan ekonomi sesungguhnya harus relajar banyak lepada guru yang lain, China misalnya.

Keyakinan-keyakinan politik, struktur-struktur politik, rekrutmen orang-orang amanah dan kebijakan yang adil amat perlu difurifikasi mengawali semua langkah. Kita ingin politik aníllala sebagai artikulasi kepentingan publik, kita ingin terwujud pola pengoperasian negara yang baik, kita ingin kebijakan didasarkan pada asumsi pemihakan yang kuat atas kesejahteraan rakyat. Singkatnya, kita ingin memanusiakan Marusia Indonesia, membangsakan bangsa Indonesia dan menegarakan negara Indonesia dalam aktualisasi diri yang optimum.

Dengan segala penghormatan atas ketinggian segala macam pola pikir dan budaza nusantara, saya ingin tegaskan bahwa ramalan Joyoboyo akan mengantar kita ke sebuah permusuhan dengan urusan-urusan aktual yang menjadi kewajiban kita hari ini. Berdirilah secara realistis, fahami ketertinggalanmu, beri penyadaran kepada rakyatmu dan berpuasalah dari korupsi dengan memulai hidup sederhana.

PENUTUP: LONG LIFE EDUCATION Marilah meluangkan sedikit waktu untuk mengikuti cermat perkelahian besar yang pernah terjadi di bumi ini dan menggunakannya sebagai patron analisis untuk kejadian-kejadian di belakang hari. Kenalilah dengan amat baik ketauladanan para nabi yang merubah dunia. Jangan sungkan menyebut Engels, Marx, Lenin, Gevara, Jilas dan lain-lain. Sekali melupakan Ibn Khaldun (Afrika) yang kaya pemikiran, kita akan memihaki ilmuan Barat yang tanpa penghargaan terhadap hak intelektual yang begitu banyak menyadur Ibn Khaldun saat mereka akan membangun berbagai disiplin ilmu-ilmu social di kampungnya.  Pemihakan kepada kiri maupun kanan mestinya tidak membuat kita malas memburu sejarah orang-orang paling kanan maupun paling kiri sepanjang sejarah. Para perintis peradaban baru yang berpengaruh dalam sejarah Barat adalah ibarat tonggak baru yang mematahkan sejarah tonggak lama di Timur.

Pada tataran ini kita wajib menjadi cendekiawan organik yang tak perlu merasa harus dihitung karena (hanya saja) tak mementingkan tradisi akademik yang baku dan kaku serta tak punya pangkalan institusional seperti kampus atau LIPI. Kita menjadi mahasiswa abadi saja dan profesor emiritus di sebuah universitas paling terbuka sepanjang sejarah. Kita gerakkan naluri keluruhan untuk tetap menjadi pewarta kebenaran biarpun akan menjadi wartawan tanpa surat kabar. Kita wajib menjadi negarawan paling agung di sebuah negeri paling berjaya sepanjang sejarah, yakni negara konstruksi kontinum Indonesia. Terimakasih.

Daftar Rujukan

Adas, Michael, 1988, Ratu Adil, Tokoh dan Gerakan Milenarian Menentang Kolonialisme Eropa, Jakarta: Rajawali.

Andrain, Charles F, 1992, Political Life and Social Change (terj), Yogyakarta: Tiara Wacana.

Beaty, Andrew, 2001, Variasi Agama di Jawa Suatu Pendekatan Antropologi, Jakarta: Murai Kencana.

Glennon, Lorraine, 1995, Our Times, The illustrated History of 20th Century, Atlanta: Turner Publishing, Inc.

Goulet, Denis, 1977, The Uncertain Promise, Value Conflicts in Technology Transfer, New York: IDOC & Overseas Development Council.

Perret, Daniel, 2010, Kolonialisme dan Etnisitas, Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

Hall, D.G.E., 1988, Sejarah Asia Tenggara, Suranaya: Usaha Nasional

Szentes, Tamas, 1976, The Political Economy on Underdevelopment, Budapest: Akademiai Kiado.

IDEA, 2000, Democratization in Indonesia, Stockholm.

McGuire, Meredith B, 1981, Religion: The Social Context, California: Wadsworth Publishing Company

Mestrovic, Stepan G, 1992, The Coming Fin De Siecle, New York: Routledge.

Preston, PW, 1986, Making Sense of Development, New York: Routledge & Kegan Paul.

Rais, M.Amien, 2008, Agenda Mendesak bangsa Selamatkan Indonesia, Yogyakarta: PPSK Press.

Robinson, Richard & David S.Goodman, 1996, The New Rich in Asia, New York: Routledge.

Scheltema, AMPA, 1985, Bagi Hasil di Hindia Belanda, Jakarta:Yayasan Obor Indonesia.

Shor, Jr, James F, The Social Fabric, Dimension and Issues, American Sosiological Association Presidential Series.

Thrupp, Sylvia, 1984, Gebrakan Kaum Mahdi, Bandung: Pustaka.

Turner, Bryan S., 1991, Religion and Social Theory, London: SAGE Publication.

Van Randwijck, Mr S.C.Graaf, 1989, OEGSTGEST Kebijakan Lembaga-lembaga Pekabaran Injil yang Bekerjasama 1897-1942, Jakarta: BPK Gunung Mulia.

Weber, Maxmilian, Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme (terj), Yogyakarta: JEJAK


[1] Buku ini banyak berbicara tentang ketidak-beresan dalam pengelolaan Negara di Indonesia, zambrud khatulistiwa,negeri dengan kekaaan alam yang mungkin terkaya di muka bumi,negeri dengan tanah yang subur luar biasa, dilambangkan dengan kibaran bendera gula kelapa. Juga tentang ketidak-bersikapan untuk kedaulatan di tengah kecamuk internasional yang mengancam bangsa-bangsa baru. Ketika memberi komentar terhadap buku ini seseorang pernah menyebut “Saatnya kita tinggalkan 7 dosa dunia! Kekayaan tanpa kerja, Kesenangan tanpa nurani, Pengetahuan tanpa watak, Perdagangan tanpa moralitas, Ilmu tanpa kemanusiaan, Ibadah tanpa pengorbanan, dan Politik tanpa prinsip. Sayangnya metamorfosis M.Amien Rais setelah terbitnya buku ini membuat pertanyaan besar bagi banyak pihak termasuk penuli naskah ini.

[2] Bagi Ichwan Azhari akar masalah bukannya mentalitas Inlander itu, melainkan budaya feodalistik Jawa.

[3] Ambrose Bierce menyindir “Politik adalah suatu perjuangan kepentingan yang menyamar sebagai persaingan prinsip. Juga penyelenggaraan masalah-masalah masyarakat untuk kepentingan pribadi. Elit politik Indonesia kontemporer berada pada sasaran teguran ini.

[4] Koes Plus: “Tongkat Kayu dan Batu Jadi Tanaman.

[5] TKI Indonesia dijuluki pahlawan devisa tanpa diberi perlindungan di negeri orang.

[6] Indonesia kerap merajai peringkat Negara terkorup di dunia. Memang ada pelanggaran HAM massal berusia lama (setua NKRI) dengan tak diberikannya nafkah yang cukup bagi PNS. Memang bukan PNS saja yang korupsi, tetapi jika setiap tanggal 15 atau 20 mereka sudah kehabisan uang, tentulah negara harus faham mengapa mereka korupsi. Sekali korupsi pembiasaan akan muncul. Tadinya menyelamatkan perut sejengkal, akhirnya menyelamatkan keturunan 7 generasi.

[7] Irrasionalitas tak terkait dengan pangkat dan jabatan serta profesi. Belakangan nativisasi itu begitu menggila, didukung oleh media yang ingin dapat untung besar.

[9] Tiwul adalah makanan darurat yang untuk sebagian masyarakat menjadi menu utama, terbuat dari bahan-bahan berkarbohidrat selain nasi. Dengke na niura, sejenis makanan berbahan dasar ikan di Toba. Gatgat, gulai daging dari Tanah Karo. Holat, masakan khas Padangbolak berbahan dasar ikan. Gudeg, makanan khas Yogya. Kerupuk, emping dan bakso, makanan Indonesia yang dipujikan oleh Obama yang dinyatakannya dalam pidato saat kunjungannya ke Indonesia.

[10] Konferensi Asia-Afrika.

[11] Boleh sebut symbol perlawanan orang lemah berhadapan dengan penindasan orang kuat.

[12] Orang ini bukan orang bodoh, tetapi dengan kesadaran tinggi atas invasi dengan dalih pemusnahan senjata pemusnah massal yang penuh kebohongan itu, ia merasa tindakannya benar. [sebuah media online menyebut “Muntazer al-Zaidi jumped up as Bush was holding a press conference with Iraqi Prime Minister Nuri al-Maliki on Sunday, shouted “It is the farewell kiss, you dog” and threw two shoes at the US leader.]

[13] Data statistic amat diperlukan sebagai clue. Banyak substansi permasalahan dapat disembunyikan oleh sebuah pemerintahan bersenjatakan statistic.

[14] Gugatan terhadap UAN kandas. Jalan terus dan pemerintah senang dengan capaiannya dalam bidang ini. Padahal jaminan kejujuran ujian dipatahkan oleh pertimbangan citra sekolah dan pertimbangan kemestian anak (apalagi orang miskin) untuk bersekolah kembali di kelas yang sama atau mengikuti ujian kembali dengan konsekuensi waktu dan biaya. Di tengah buruknya aparatur, kejujuran apa yang bisa diminta?

[16] Sekadar illustrasi ketiklah “money politik pemilukada” dan “money politik pilpres” di mesin cari Google. Juga ”kecurangan pemilukada” dan ”kecurangan pilpres”. Anda akan tahu beda kedua perhelatan itu. Minta juga Google mencari ”korupsi APBN” untuk membandingkan dengan ”korupsi APBD”.


5 Comments

  1. TOP. Ngomeng nyampah to?

    ‘nBASIS: nyampah? mudah-mudahan tidak.

  2. Dina says:

    Panjang sekali….

    ‘nBASIS: dianjurkan sekali membaca cepat meski sekilas saja. ha ha

  3. sikapsamin says:

    INDONESIA….. =========
    THE ONE AND ONLY
    21st.CENTURY WORLD’s WONDER

    based on ‘quote’ :
    HOW GREEN YOUR VALLEY,
    HOW RICH YOUR COUNTRY,
    BUT…HOW POOR YOUR PEOPLE.

    arranged & designed, by :
    *si bolis na burju*

    reprod./translated by :
    *s.a.siregar & nBASIS*

    =====================================

    Samin: “wuah…saya cari ke-mana2, jebhul disini to GONG. Terus lagi ngapain kelihatannya serius tapi menyungging senyum?”
    BAGONG: “seneng aku,…dlm artikel diatas namaku dicantumkan, walau huruf kecil. Nha… sebagai ungkapan hormat, ini saya coba membuat Cover-Buku yg akan saya persembahkan kpd pak S.A.Siregar, semoga beliau berkenan.”
    Samin: “wah.., mbok mawas diri. Coba baca lagi, itu kan forum para ilmuwan papan-atas. Ada Pascasarjana, dari IAIN, USU dsb.
    Lha kita2 ini..? Cuma DO aja bukan dari UNDIP atau UGM,..tapi dari UGD. Kelas “slaven volk”.
    Ngaca GONG ngacaaa..!
    BAGONG: “slaven-volk…nhaaa iya, siiip… Malah akan BAGONG tambahi DO’A slaven-volk, sebagai penutup buku, kira2 begini :
    = lembah ngarai negeriku…
    ijo royo-royo, gemah ripah loh jinawi…
    tata titi tentrem…kerta raharja…
    namun kami sadar sadarnya…ya Allah,
    semua dariMU, semua milikMU…ya Allah,
    dengan tangan tengadah…
    kami harus memohon kepadaMU…

    kamipun ikhlas dan pasrah…
    bahwa kebodohan…adalah cobaanMU,
    bahwa kemelaratan…hanyalah cobaanMU,
    termasuk…kekayaan melimpah-ruah…
    semuanya…hanyalah cobaanMU…
    demikian yang kami dengar…
    dari berbagai da’wah…

    Samin: “sudah2 GONG, itu nanti bukunya tidak jadi dibedah…malah langsung di-sobek2…”

    ‘nBASIS: kang Samin amat jernih. suwun

  4. menue says:

    Your style is very unique in comparison to other people I have read stuff from.
    I appreciate you for posting when you’ve got the opportunity, Guess I’ll just book mark this page.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: