'nBASIS

Home » ARTIKEL » PROTES KETIDAK-ADILAN LEWAT SENANDUNG (1)

PROTES KETIDAK-ADILAN LEWAT SENANDUNG (1)

AKSES

  • 512,316 KALI

ARSIP


“Teriakan Slank tentang korupsi cukup tegas. Lebih pada keinginan mendidik generasi Slankers yang anti korupsi ketimbang melampiaskan sinisme”

Ahad malam beberapa pekan lalu sebuah maskapai Alitalia dari Paris menuju Roma diserang oleh seorang penumpang dengan tuntutan memutar tujuan penerbangan ke Tripoli, Libya.  Penyerang yang cuma bersenjatakan gunting kuku ini dengan mudah diringkus. Ia tak hendak melukai siapa pun. Pesawat berpenumpang 131 orang itu mendarat mulus di bandara Fiumicino, Roma.

Banyak modus untuk meneriakkan keadilan tentang Libya yang diperlakukan begitu buruk oleh Amerika dan sekutunya. Di antara cara itu mungkin ada yang masuk akal dan ada pula yang tidak. Ada jalan diplomasi dan ada pula jalan lain. Tetapi penyerang berkebangsaan Kazakhstan itu telah memilih sesuatu untuk didengar oleh dunia. Memang ada juga analisis yang menduga bahwa serangan yang amat tidak masuk akal itu adalah pekerjaan musuh Libya untuk menarik simpati dunia bahwa Amerika dan sekutu sudah benar menyerang Libya sebagai negara teroris.

Bono dari U2. Dalam konser di Milan vokalis ini amat memukau saat melantunkan senandung “Miss Sarajevo” yang diakhiri pembacaan hidmat pasal ke 3-6 dari 30 pasal The Universal Declaration of Human Right:

  • Article 3: Everyone has the right to life, liberty and security of person;
  • Article 4: No one shall be held in slavery or servitude, slavery and the slave trade shall be prohibited in all their forms;
  • Article 5: No one shall be subjected to torture or to cruel, inhuman or degrading treatment or punishment;
  • Article 6: Everyone has the right to recognition everywhere as a person before the law.

Ratusan ribu histeris sambil tepuk-tepuk tangan untuk lagu yang diawalinya dengan mengepalkan tangan kirinya ke depan sejajar bahunya, sembari menyampaikan sebuah pidato ringkas sebagai pembukaan beriring melodi melankolis, demikian:

We’d like to dedicate this next song to those who lost their lives in London last week, and who are maimed and injured today. We would like to turn our song into prayer. The prayer is that we dont become a monster in order to defeat a monster. That’s our prayer toninght.

Itu mengulangi sukses pelantunan senandung-senandungnya yang berpesan untuk dunia yang dipenuhi jiwa-jiwa sempit. Saat menyanyikan senandung “One” bersama penyanyi kulit hitam Mary J.Blige, Bono sungguh menyentuh dengan bahasa yang amat kuat “Love is Higher Law “ (cintalah hukum tertinggi). Itu yang hilang dari permukaan bumi, yang tak tergantikan oleh industri persenjataan dan pasukan yang semakin berjiwa robotik.

Belum lama seorang penyanyi Indonesia yang sair-sairnya banyak memprotes ketidak-adilan telah mendahului kita. Dialah Franky Sahilatua yang sejak usia muda kebanyakan memberi seruan. Banyak kelompok pengunjuk rasa sering menganggap ia perlu hadir menyemangati protes. Ia tampaknya manusia sederhana, yang resah dan selalu berbicara untuk keadilan. Tentu saja kelompok Bimbo tidak mungkin dilupakan. Pada masa perang dingin (cold war) mereka pernah merilis sebuah senandung yang memberi himbauan kepada kedua pemimpin adi daya dunia, Reagen dan Breznev. Belakangan Breznev digantikan oleh Andropov, dan Bimbo merubah lagu itu untuk menyesuaikan keadaan. Senandung ini juga direkam dalam 3 bahasa (Indonesia, Inggeris dan Rusia) serta disertai partitur yang mungkin dimaksudkan agar pemusik istana memainkan senandung itu untuk kedua pemimpin.

Konon alunan heavy metal Band dari vokalis Dave Mustaine lewat senandungnya beserta rangkaian wawancaranya dengan media yang dengan berani menuduh PBB sebagai lembaga kekejian dan bertanggungjawab penuh dalam mendorong peristiwa 11 September yang menghebohkan itu. Ini kemudian telah menimbulkan debat panjang yang berawal pada tahun 2006 lalu. Kelompok ini tidak sedang mencari popularitas. Pengembaraan pemikirannyalah yang menuntunnya sampai begitu tegas menduduh PBB demikian buruk. Hal yang dilakukan oleh Dave Mustaine bisa mengasosiasikan pikiran kepada Bung Karno yang dulu dengan lantang menyerang ketamakan lembaga dunia ini dan bahkan dengan gagah berani keluar dari PBB meski pun kemudian kembali lagi sebagai anggota. Atas nama Negara-negara yang diperlakukan tidak adil Bung Karno memang terkenal sebagai tokoh peneriak dan pejuang keadilan, bersama Sun Yat Sen, Tito, Yose Rizal, Nehru dan lain-lain.

Belakangan menjelang kejatuhan Soeharto memang ada semacam teriakan kecil, di antaranya tentang restrukturisasi PBB apalagi terkait dengan hak veto Negara-negara yang diistimewakan dalam Dewan Keamanan PBB.  Seakan tiada pilihan di dunia yang makin tak adil, bukan saja dalam kebijakan moneter dan permodalan pembangunan serta arah pengembangan ekonomi harus dituntun secara keras. Eksploitasi sumber daya alam yang amat tidak adil juga dipaksakan. Buruk dan menyedihkan, tetapi itulah Indonesia di bawah kepemimpinan yang silih berganti setelah Bung Karno.

Bob Geldof.  Konser besar yang pernah digagas Bob Geldof juga berdasar seruan kemanusiaan ketika segalanya sudah semakin tak peduli. Kemajuan memundurkan banyak di sisi terluas. Persenjataan semakin canggih sebagai alat permusuhan untuk saling bunuh. Teknologi yang semakin canggih tak menjanjikan kesejahteraan. Ada yang memang harus dihentikan, cuma tidak ada yang tahu bagaimana caranya.

Orang ini pernah  membantu Perdana Menteri Inggris Tony Blair terkait dengan program yang diperlukan oleh sebuah Komisi Khusus untuk Afrika.  Ketika dirasakan  bahwa Afrika memerlukan  perubahan yang mungkin harus dimulai dengan meningkatkan tata kelola pemerintahan dan memerangi korupsi, dan bahwa dunia kaya perlu mengulurkan tangan, ketika itu pula mental imperialisme bekerja.  Para pemimpin dunia tidak mengambil perhatian serius untuk menyelamatkan Afrika dan Geldof kecewa berat.

Anda pernah mendengar senandung Bongkar? Alunan yang gagah berani penuh perlawanan itu adalah khas Iwan Fals. Ia juga kadang bernyanyi tentang Cinta. Juga tentang filosofi dan kontemplasi yang sarat makna. Almarhum Rendra dan Setiawan Djodi serta Sawung Jabo adalah partner kerjanya untuk album Kantata Taqwa dan Kantata Samsara. Pemerintahan level mana yang memahami itu semua?

Telinga Yang Tak Mendengar. Entah berapa banyak kritik lewat senandung telah dirilis oleh penyanyi yang tak kering ide dan kreasi ini. Ia akan tetap bersama orang-orang yang menuntut keadilan dan pengikutnya pun akan semakin banyak setiap saat. Teriakannya memang lebih banyak berasal dari bacaan atas rona lingkungan yang menyesakkan dada. Ia memang lebih berbicara pada beban hidup dalam negeri di bawah idiologi pembangunan yang menganggap keadilan tidak penting.

Testimoni-testimoni dari orang kondang seperti John Perkin bukanlah sesuatu yang baru, dan nanti akan ada lagi penekanan bahwa preposisi yang menempatkan tatanan dunia yang didesign untuk saling memangsa sama sekali bukan isapan jempol dari orang-orang lemah dan bodoh. Washington Concensus untuk apa, sejalan dengan design tata perdagangan dunia di bawah payung proyek globalisasi serta rentetan-rentetannya yang amat mematikan bagi kebangunan bersama. Sebetulnya sangat tak ramah arah perjalanan dunia ini.

Adalah ekonom Sritua Arif yang sudah terlalu banyak memberi peringatan keras tentang bahaya ketidak adilan dengan minusnya agenda pemerataan dari pola pembangunan yang dianut. Mahbubul Haq dari Pakistan adalah rekannya sepikiran. Orang-orang Berkley yang menguasasi kebijakan ekonomi dan pembangunan Indonesia tempohari rupanya terlalu perkasa untuk diberi peringatan. Himpunan Indonesia untuk Pengembangan Ilmu-Ilmu Sosial (HIPIIS) tidak menemukan alasan untuk tidak menerima konsep yang dikembangkan oleh dedengkot mereka Tajuddin Nur Effendi tentang kemiskinan struktural. Banyak wajah kemiskinan, dan salah satunya ialah kemiskinan struktural. Negara mendesign pembangunan mengenyampingkan pemerataan. Hasrat perolehan keuntungan melalui pertumbuhan (growth) yang mengorbankan mayoritas.

Penutup. Cerita tentang para komprador di negara berkembang adalah sisi lain yang tak kurang menyedihkannya. Dengan penghambaan tak bermartabat sama sekali, orang-orang yang diuntungkan oleh backing keuasaan internasional ini telah mengkhianati negara dan bangsanya dengan bertindak sebagai pelayan imperialisme modern sambil korupsi memusuhi negaranya sendiri.

Apakah Slank terlalu lancang ketika berteriak tentang ini? Biarlah orang selalu berdendang cengeng tentang cinta seperti Briptu Norman, dan mengukir keuntungan di dalamnya. Tetapi Slank bukanlah grup yang kekurangan inspirasi untuk konstruksi sebuah konsep. Mereka itu kumpulan pemikir kritis yang menyelami makna kehidupan dan melantunkan keresahannya tentang fakta yang mereka sendiri tak mungkin merubahnya dengan petikan gitar dan alunan senandung yang meski disalurkan lewat sound berkekuatan puluhan ribuan watt.

Teriakan Slank tentang korupsi cukup tegas. Lebih pada keinginan mendidik generasi slankers yang anti korupsi ketimbang melampiaskan sinisme atau kebencian kepada yang masih doyan korupsi sambil berteriak penuh kepalsuan tentang pentingnya pendidikan karakter bangsa dan Pancasila. Tertawai sajalah lakon-lakon ini, karena memang lebih pantas ditertawakan.

Penulis: Shohibul Anshor Siregar, Koordinator Umum ‘nBASIS

(Dimuat pada harian Waspada tanggal 19 Mei 2011)


3 Comments

  1. […] senandung yang muncul sebagai respon atas situasi umum yang prihatin, dan itu tampaknya sudah lazim sepanjang sejarah. Senandung-senandung itu berbicara dengan banyak gaya. Ada yang langsung menohok […]

  2. […] Protes ketidak-adilan lewat senandung (1) […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: