'nBASIS

Home » ARTIKEL » Catatan Lama Yang Tak Terurai: HORMAT KAMI UNTUKMU

Catatan Lama Yang Tak Terurai: HORMAT KAMI UNTUKMU

AKSES

  • 564,816 KALI

ARSIP


  • Tidak ada pemikiran soal gizi. Dengan nasi dan garam, lazim orang-orang merasa selera makan tak pernah mengendur. Ketika semua orang tak berbeda dalam kesederhanaan, maka solidaritas pun terpupuk.
  • Tak banyak sukubangsa di Indonesia yang memiliki aksara sendiri. Kami di sini mempelajari Si Sia-Sia (aksara Batak) didukung oleh pelajaran budaya seperti umpama dan tortor Batak yang dinamis itu.
  • Bagaimanakah kemampuan kami bertanding memenangi kejuaraan MTQ dihadapkan dengan siswa-siswa dari Tapanuli Selatan dan Sumatera Timur? Tetapi kami punya semangat.
  • Salah seorang puteri Kepala Sekolah kami diberi nama Zakiyah sebagai sebuah penghormatan dan terimakasih kepada Dr Zakiyah Daradjat yang banyak membantu pengembangan sekolah di Peanornor.

KETIKA berlangsung pertemuan alumni pendidikan Peanonor tanggal 2-3 Juli 2011 lalu di kompleks sekolah itu (Peanornor, Tapanuli Utara, 18 km dari kota Tarutung), banyak kenangan seperti muncul kembali di ruang memori. Bertemu dengan teman-teman masa remaja ini, saya merasakan ada yang begitu cepat menua dimakan beban hidup. Ada yang rasanya begitu awet muda dan nyaris tanpa perubahan bermakna, kecuali pada bentuk tubuh yang semakin tambun dan mulai tumbunya beberapa helai warna putih di kepala. Padahal saat kami bersama-sama di sini adalah antara tahun 1971 sampai tahun 1974. Cukup lama sudah.

Makan Selalu Terasa Kurang Kenyang. Tak seperti saat sekarang, sekitar tahun 1970-an daerah ini bercuaca cukup dingin, terutama pada malam dan pagi hari. Jika hari hujan, tentu bertambah dingin. Kondisi itu selalu merangsang nafsu makan, hingga tubuh remaja yang sedang bertumbuh akan selalu merasa tak pernah kenyang. Tidak ada lauk-pauk yang disajikan, atau tepatnya komunitas siswa di sini hanya masak sendiri seadanya dan tanpa kejelasan menu. Berbeda dengan pondok-pondok pesanteren lainnya yang biasanya diberi makan massal melalui dapur umum yang dikelola, di Peanornor ada kemandirian yang serupa dengan keadaan di Pesanteren Mustafawiyah Purbabaru Panyabungan. Bahkan di sini tempat tinggal pun dibuat sendiri-sendiri oleh siswa. Jadi ada ratusan rumah-rumah kecil di Mustafawiyah.

Bagaimana para siswa mandiri ini mencukupi kepentingan lauk-pauk, tentulah sebuah kisah yang dapat membuat orang-orang yang pernah belajar di sana merenungi sebuah fakta yang seolah kemustahilan. Paling-paling siswa ini menerima kiriman khusus dari orang tua mereka secara berkala dan dengan kiriman uang itu mereka akan berbelanja ke pasar terdekat di Onan Hasang (ibu Kota Kecamatan Pahae Julu). Apa yang mereka belanjakan di luar kebutuhan kegiatan kelas dan kebutuhan pribadi seperti minyak rambut, sabun, sikat dan odol gigi, tentulah bahan-bahan lauk-pauk. Pada hari pekan Jum’at mungkin saja mereka membeli sayuran seperti sawi selain ikan laut sejenis gulamo (saya tak tahu bahasa Indonesia apalagi bahasa Latin jenis ikan ini).  Hanya ikan laut gulamolah yang bisa bertahan sampai pekan depan. Jadi mereka lebih mungkin makan sayuran pada hari Jum’at sore dan Sabtu pagi sebab bahan itu tidak mungkin diabadikan sampai beberapa hari ke depan.

Karena semua siswa tampaknya tunduk pada kondisi yang sama, maka tidak ada orang yang merasa lebih miskin. Pada kondisi itu beras merah yang beraroma harum menjadi satu-satunya nilai plus dan itu selalu mungkin ada sebagai bekal dari para siswa dari daerah Kecamatan Pangaribuan.  Bagaimana gerangan penilaian orang sekarang tentang kesehatan para siswa ini yang mestinya dipenuhi gizi 4 sehat 5 sempurna agar menjadi orang-orang berprestasi sebagai pewaris masa depan?

Tetapi itulah kenyataan. Akan ada beberapa siswa yang berhasil “merazia” kebun warga sekitar yang tak berpenduduk banyak itu dan menggondol secara “haram” hasil tanaman untuk dikonsumsi seperti daun ubi, jipang, cabai dan jenis dedaunan lain. Itu cukup dimasak rebus tanpa bumbu penyedap. Ada garam, ya itu sudah ok. Paling bergensi jika sayuran dicampur dengan air tajin. Tiba urusan memasak renting-ranting kayu attarasa (saya juga tidak tahu nama pohon rapuh ini dalam bahasa indonesia apalagi Latin) di sekitar pondok akan dipungut. Karena hari hujan, sasaran adalah kayu api dari rumah guru dan penduduk sekitar. Bukan tidak ada kerja yang diwajibkan untuk ini. Akan tetapi masalahnya sering pada kecermatan membagi waktu.

Sesekali terutama hari libur akan ada siswa yang berinisatif mandehe, sebuah penamaan untuk upaya menangkap ikan di perairan-peraian kecil yang mengairi sawah dan kolam di sekitar lingkungan sekolah dengan tanpa alat tangkap sama sekali. Terkadang jika memungkinkan kerja berkelompok, air akan dibendung terlebih dahulu, dan untuk penggalan atau bagian lain dikeringkan. Seberapa banyak ikan di wilayah yang dikeringkan akan digondol habis. Pulang ke asrama akan menjadi pesta besar dan terkadang tanpa solidaritas. Bagaimana mungkin membagi sejumlah ikan tangkapan di tengah kerumunan ratusan siswa yang sama-sama lapar? Dalam keadaan itu sering menjadi terbentuk semacam klik yang menuntun solidaritas berdasarkan kesamaan pikiran dan tentu juga lebih mudah berdasarkan kesamaan daerah atau kampung asal. Saya tidak pernah menyaksikan dan mengalami ketegangan akibat klik ini. Saya sendiri selalu berusaha membaur dan pernah mengunjungi kampung halaman teman-teman yang berbeda dan jauh dengan memanfaatkan hari libur.

Selalu lapar meski dengan keadaan serba kekurangan. Sering kejadian diawali sebuah hayali kenikmatan makan, beberapa orang bercerita tentang selera dan kemampuannya makan. Pernah dan sering terjadi beberapa kelompok mengatakan mampu menghabiskan  sejumlah tertentu nasi dan jika tidak mampu dihabiskan akan bersedia mengganti dua kali lipat. Sekelompok menanak berasnya dan menyajikannya untuk dimakan kelompok lain. Ada loose dan ada win, dan itu peluang yang sama saja. Tetapi keadaan itu sudah membentuk sebuah budaya ingin kenyang dan ingin menikmati di tengah ketiadaan sumber. Tak seorang dapat membantah itu.

Sesekali akan ada ajakan bekerja di sawah penduduk lokal atau ke tempat guru. Itu sebuah peluang perbaikan gizi. Tetapi orang atau guru akan selalu memilih tenaga yang kuat dan terampil untuk diajak bekerja di sawahnya. Jadi itu bukan untuk semua orang, dan seingat saya, saya hanya pernah mendapat kesempatan sekali untuk memipil padi saat panen. Ya Allah, betapa nikmatnya menu yang disajikan saat itu di rumah keluarga Bapak Wakkary Simamora. Seorang junior bermarga Ritonga saat itu bahkan tersedak karena tak sabar ingin melahap lebih banyak dari makanan yang disajikan.

Mungkin karena sama-sama merasakan maka sering seseorang meminta sebagian kecil dari nasi teman yang lain. Ada istilah khusus untuk ini, yakni “mangatim”. Saya pun tidak tahu dari mana asal istilah ini, tetapi sekarang lebih saya maknai sebagai bentuk solidaritas di antara sesama orang-orang yang lapar.

Banyak yang menyimpan piring dan peralatannya secara baik, tetapi banyak juga yang melemparkannya begitu saja di semak-semak dekat asrama yang nanti diambil lagi saat diperlukan.

Si Sia-Sia. Selain Jawa, tak banyak suku bangsa di Indonesia yang memiliki aksara tersendiri. Batak memiliki aksara yang abjadnya disebut Si Sia-Sia. Guru kami untuk bidang ini bernama Chairuddin Aritonang, seorang muda yang energik dan lugas. Dalam usianya yang masih belia itu, guru yang lebih sering memerankan diri sebagai teman inilah yang amat berjasa memperkenalkan Si Sia-Sia kepada kami. Tidak hanya mengajarkan aksara Batak, beliau juga mengajarkan kata-kata bijak dari zaman dahulu yang dalam bahasa Batak disebut Umpama.

Belakangan saya banyak berurusan dengan aksara Batak. Misalnya ketika akan membaca dan menterjemahkan naskah-naskah tua Batak untuk kepentingan penelitian setelah menjadi mahasiswa. Saya dapat membedakan mana aksara Batak Mandailing, Karo Dairi dan Batak Toba sendiri meski saya hanya lebih terbiasa dengan aksara Batak Toba. Itu jasa bapak Chairuddin Aritonang.

Seakan melengkapi pelajaran ini ada pelajaran praktis yang dibawakan oleh Bapak Azir Panggabean, yakni tor-tor Batak. Sebetulnya tak masuk dalam kurikulum, melainkan sekadar persiapan khusus untuk menghadapi acara ulang tahun kenegaraan di ibukota Kecamatan. Selain tortor saya bersama beberapa orang adalah penabuh drumb band  satu-satunya di Kecamatan Pahae Julu, dan kami memerankan pernainan kami dengan begitu bangga meski belakangan saya tahu irama yang kami tahu amat tak sempurna dibanding apa yang saya saksikan di Medan dan kota-kota besar lainnya.

Saya kuasai irama dan lagu tortor itu, juga gerakannya yang dinamis  meski saya tak termasuk orang yang dianggap cukup mewakili pada pementasan di Kecamatan. Saya tahu sebabnya, karena sejak awal ayah saya menganggap hal-hal seperti itu bukan urgensi dan biarkan itu menjadi perhatian orang yang tak berpikir tentang perjuangan. Itu yang saya ingat dari ayah saya yang konon adalah aktivis Masyumi itu. Jadi perasaan saya begitu berjarak, meski secara pikiran saya terpaksa juga menguasai tortor. Eh, saya ingat sekarang bahwa ayah saya juga tidak suka melihat saya belajar main catur dan merokok. Tidak cuma membuang waktu, tetapi menurutnya juga menyandera pikiran dan bathin. Itu argumen ayah.

Juara MTQ Kabupaten. Di sekolah ini kami tak mempunyai guru seni qiraah dalam arti keindahan lagunya. Kami digenjot untuk faham mahraj (penyebutan dan konsonan setiap kata demi kata dan kalimat) dalam Al-qur’an sekaligus berusaha menterjemahkan serta mendiskusikan pengertiannya. Saat itu kami tidak memiliki kitab Al-quran berterjemah. Juga tidak memiliki guru bahasa Arab yang cukup. Hafalan ayat-ayat pendek lazim dalam semua lembaga pendidikan agama, dan kamipun sering berlomba untuk kemampuan itu ditambah hafalan hadits-hadits shahih.

Ketika duduk di kelas 1 saya mendapat kehormatan untuk mewakili sekolah mengikuti MTQ di Kabupaten. Kabupaten Tapauli Utara yang sekarang tentu amat berbeda dengan tahun 1970-an. Saya pun menang dan menjadi duta ke MTQ tingkat Provinsi yang diselenggarakan di Sibolga. Taslim Siregar, seorang anggota Kepolisian Pahae Julu ikut sebagai peserta kelas dewasa. Pimpinan rombongan adalah Kepala Departemen Agama Kabupaten Bapak Suhaili Murad.

Ustaz Naposo AbdulManaf Panggabean menyertai saya. Beliau amat tahu bahwa saya adalah “ayam sayur” dalam pertandingan itu. Tetapi beliau selalu memberi motivasi dalam banyak sekali kesempatan sebelum tampil. Ia percayakan sepenuhnya kepada sya bagaimana saya akan tampil. Beliau  mendorong hal yang lebih substantif: ” ini ibadah dan kita adalah hamba-Nya yang wajib selalu memberi pengabdian”.

Beliau amat yakin saya hadapi forum itu dengan baik tanpa rasa gentar sedikit pun. Setelah pulang kembali ke sekolah, sekolah sedang libur. Saya ingat benar ustaz Abdul Manaf Panggabean melaporkan missi kami kepada ustaz Abdul Madjid Panggabean dengan memberi banyak pujian kepada saya. Saya tahu beliau berusaha membesarkan hati saya.

Belakangan saya kenal baik dengan Yusnar Yusuf yang menjadi Juara MTQ Tingkat Provinsi di Sibolga dan terakhir menjadi PNS di Departemen Agama. Pada kesempatan itu saya kenal Nur “Ainun, saya kenal juga Bambang Laksono yang belakangan menjadi salah seorang mu’azzin di Mesjid Agung Medan. Tetapi betatapa pun begitu indah liuk-liuk lagu yang meraka lantunkan, saya sama sekali tak pernah tertarik mempelajari itu.

Urutan berapakah saya waktu itu di antara semua peserta MTQ tingkat Provinsi Sumatera Utara? Ah, jangan tanya itu. Kami hanya belajar mahraj, bukan lagu, dan MTQ tak mungkin memenangkan orang yang tak pandai melagukan bacaan, meski guru kami ingin sekali kami menjadi juara agar menjadi bahan promosi efektif yang luas di tengah masyarakat.

Ada sebuah kejadian yang sampai sekarang tak mungkin saya lupakan. Ahmad Zubair Gultom saya anggap lebih baik seni tarik qiraah dari saya. Salah seorang guru saya yang berasal dari Sumatera Barat mengenali jenis lagu itu tetapi sekarang saya sudah lupa namanya. Pak Alwi, guru kami asal Palembang yang dikirim oleh Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) di bawah kepemimpinan Bapak Mohd Natsir yang mengirimnya, adalah seorang ahli qiraah. Banyak siswa yang akhirnya menjadi terlatih di bawah bimbingannya.

Selain Ahmad Zubair Gultom ada Ibrahim Gultom yang juga memiliki kemampuan yang saya kira berada di atas kemampuan saya. Tetapi suatu malam saya dan Ibrahim Gultom dipanggil oleh Kepala Sekolah AM Panggabean ke rumahnya yang diapit oleh blok asrama putera dan blok asrama puteri. Di sana kami berdua diminta untuk membaca Al-qur’an bergantian dan rupanya direkam pada pita kaset. Ada ustaz Nasution waktu itu, seseorang yang mahir bahasa Arab.

Belakangan kami ketahui bahwa rekaman itu digunakan sebagai kelengkapan untuk permohonan ke Direktorat Jenderal Bimbaga Islam yang waktu itu dipimpin oleh Dr Zakiah Daradjat agar sekolah kami diakui sebagai sekolah negeri yang tak perlu lagi ujian negara ke atau mendatangkan penguji dari Padangsidimpuan.  Ampuh resep itu, yang menurut dugaan saya adalah karena hiba dari orang-orang yang mendengar di Jakarta. AM Panggabean amat berterimakasih kepada ibu Dr Zakiyah Daradjat dan sering menceritakan kebanggaannya itu di kelas. Salah seorang puterinya diberi nama tokoh ini, tak lain karena rasa penghormatan yang tinggi.

Saya menjadi duta Tapanuli Utara pada tahun 1971 dalam MTQ tingkat Provinsi. Tahun berikutnya MTQ tingkat Provinsi yang berlangsung di Tebing Tinggi diikuti oleh Ibrahim Gultom setelah memenangi di tingkat Kabupaten.

Masih banyak catatan yang belum teruraikan. Saya sedang menimang kemanfaatannya apakah layak untuk dituliskankarena saat mengerjakan berulangkali saya tanpa sadar larut dalam psikologis yang berujung kesedihan. Kejadian ini tak putus, dan ini tulisan untuk  kesekian kalinya.

Ya Allah  karuniakan kemuliaan kepada segenap guru-guruku dan teman-teman remajaku yang telah menujukkan ketulusan dan kebersamaan dalam menghadapi segala macam rintangan menyusuri lika-liku hidup yang begitu berat.

Shohibul Anshor Siregar (siswa 1971-1974)

Advertisements

4 Comments

  1. yang terpenting kita berusaha yg terbaik, pasti akan jadi lebih baik semuanya

  2. Sakban Ritonga says:

    Alhamdulilah hsil prjuangan di Peanornor dlu tlah kanda nikmatti skrang

  3. begitulah namanya proses kehidupan di MAN Peanornor.

  4. darmansyah says:

    jadi memngingatkan masa masa lalu kita juga semasa di MAN PEANORNOR.
    MAN PEANORNOR semoga selalu jaya dan semoga selalu menciptakan generasi generasi yang berukuah islamiah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: